2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

I Nyoman Wirata by I Nyoman Wirata
September 1, 2024
in Puisi
Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

SKETSA PENYAIR SAMARGANTANG

biarlah keedanan sejenak
menjadi seekor srigala
meraung
di punggung panggung

Mengunyah bait demi bait
saat membaca sajak
sajak sajak mu

raungmu ruang
seperti
mengundang agar ada
yang datang
dan
bikin ngeri
jika yang datang
yang tak terbayang
berwujud helikopter
sepeda jengki
tanpa pengendara berjalan
di atas trotoar
atau
gentayangan
mewujud kapal capung

Kunyah saja itu bait
dengan nafas pranayama
tak perlu jubah
karena bukan berkotbah
raungmu
sudah cukup memanjangkan
lengan sajak
menjangkau kantung hati
mengeluarkan riuhnya
menukar dengan sepi
Kunyah terus itu bait
yang panjang
agar raung jadi riung lebah
menemu saripati
bunga hidup

Sungguh mati
sebatang pohon pepaya
bila
dipasang di panggung
atau
sebatang umbulumbul
terasa
malam akan jadi
malam opera Calonarang

terbayang tubuh seksi
Manggali
perempuan berambut oranye
kering tak tersentuh shampo

walau
tak tersenyum
giginya nampak

tak telanjang
nafsu lumat di tubuhnya

Ngerehgeh

mirip srigala
birahi di bulan ke 9
di penanggalan kuno
karena
aroma tanah
saat gerimis petang
dengan kaki tunggal
berdiri
memutar
jagat raya panggung
menjadi durga

bali jani 2024

SKETSA BADUT

Di balik topeng karet
aku
tak bisa menebak
Adakah kau
yang kulihat
di kantor pemerintah
Atau di jalanan
sebagai pemulung
membawa lumbung

lelakikah
atau perempuan
atau dua duanya

Takut juga,
jangan jangan
kau ledakkan nanti
hati dan
mati

Jika kesedihan
belum kau bunuh
itu tanda
kau masih
manusia

Di panggung jalanan
anak anak bersorak
berteriak
lucumu bisa bikin
gembira dan takut

takut
bila kehidupan
menjadikan badut
di labirin hidup
dan
bila ada mengatakan
kita senasib:
tentu!
bisa selalu
membuat orang tertawa
hati teriris

tak bisa terus
mewarnai celaka
dengan senyum

Suatu malam
di pesta kesenian
seorang teman
seniman panggung
memainkan monolog badut
berdiri di lingkaran
cahaya lampu sorot
menyoroti kebanalan
sekaligus
jadi wakil rakyat
banal

Tiba
tiba-tiba ingatan pada
badut kebudayaan
yang mengapung
di panggung
bagai kapukapu
tanaman air

Di gang labirin
kampung urban
seribu badut
mudah didapat

pincang jalannya
berat beban memikul tradisi
sekaligus modernisasi

Pagi hari
nalurinya adalah gembala
mengembala anjing
seperti gembala sapi
menyanyi;
oleo..leo..leo
menggiring hati
ke sebuah toserba lalu
dicekik harga harga

Malamnya
nalurinya jerangkong
sepanjang jalan bersiul
tak jemu jemu sambil
berangguk -angguk
mengetuk pintu
siapa tahu
ada yang senasib

Berharap
kesepian menyambutnya
di ruang tamu

24.08.2024

SKETSA HUJAN

Bila air mengalir
anak sungai namanya
Jika
menyasar tubuh
dan wajah
panah hujan namanya
lalu
panah asmara
menimpa tubuh tanah rebah
dan
hujan adalah berkah cinta
dari langit

apa langitmu pernah menitahkan hujan menimpa tanah
jika cinta
kemudian bernanah

Hujan
adalah pembangkit birahi
bagi anjing
karena membau aroma tanah
sesudah hujan

Bagi tanah
hujan adalah
cinta yang ramah
lalu
hamil tanah lalu
benih tumbuh
serta tajuk rencana

Namun
gerimis adalah
hujan yang setengah hati
memberi
Jika lebat
cinta mengundang prahara

Di balik jendela kaca
di malam.minggu
seorang menghujat hujan
sebab hujan
menjelma panah
jantungnya tertusuk
dan
berdarah

Hujan yang petualang
jalang
pelahir anak haram
bernama kesepian

Hujan penyihir
dengan bahasa mengalir
merayu gersang
dengan air katakata
bersajak
di atap-atap rumah
memainkan tambur
berkhotbah:

air di pelimbahan
sama sama lahir dari
cinta langit yang suci

Ah, hujan
Pikiran kami adalah air
tergenang

24.08.2024

SKETSA PENDEKAR PEDANG
PEMBUNUH NAGA

Dalam komik silat
luka paling duka
saat menyadari diri
petualang
tak punya tujuan

serangan kesepian
sulit dihindari
dengan ilmu
meringankan tubuh
dan
yang sudah terkubur
oleh pedang
bangkit
di ruang tamu
seperti migrasi
dari negeri yang jauh
telanjang
dengan belati terhunus
berkarat

sehingga merasa
perlu kembali
belajar bersiasat
menghadapi serangan
dengan hati kosong

Tahun tahun
dengan
pedang kesombongan
terluka juga
oleh serangan
tangan kosong

Ingin bisa bertahan
dengan rasa menyerah
karena lelah
dan
hati
patah
sebab
selalu saja ada
musuh dalam selimut
bernama kenangan
mengancam
dengan senjata rahasia
namun
tetap ada rasa ingin
selalu
membuka pintu hati
agar engselnya tak berkarat
Dengan jurus tulus
mengutus hati yang puisi
sebab
peristiwa
mengandung sabda
dan
semesta
adalah universitas terbuka
mengajarkan
bagaimana cinta
menjadi sejati puisi
bukan sebatas katakata
dan
juga mengajarkan
agar pintar tak hanya
bersilat lidah
menghadapi kekosongan

Apa dengan pedang
pembunuh naga bisa
mengalahkan
naga kutukan imajinasi
yang bangkit
dari laut kesepian

24.08.2024

  • BACA puisi-puisi lainnya
Puisi-puisi Alit S.Rini | Mantra Disko dari Pub Dekat Kuburan
Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit
Puisi-puisi GM Sukawidana | Di Atas Meja Pelukis Made Budhiana
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan

Next Post

Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

I Nyoman Wirata

I Nyoman Wirata

Lahir dan tinggal di Denpasar.Begiat di seni lukis dan nulis puisi serta telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co