2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

I Made Sudiana by I Made Sudiana
September 1, 2024
in Bahasa
Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

Peserta dari Mesir dalam Lomba Berpantun untuk pemelajar BIPA dalam Festival Handai Indonesia 2024

BOLEHLAH kita berbangga pantun berbahasa Indonesia mendunia.

Pernahkah Anda membayangkan orang Sudan atau Mesir berpantun dalam bahasa Indonesia?

Saya secara pribadi, sebelumnya saya tidak pernah membayangkan seorang perjaka Sudan dan seorang gadis Mesir berpantun dalam bahasa Indonesia. Kalau orang Malaysia atau orang Thailand selatan berpantun, saya tidak heran. Di kedua negara yang saya sebut itu ada bahasa Melayu dan ada budaya berpantun Melayu.

Dalam sebuah acara Festival Handai Indonesia (FHI) 2024 yang diadakan di Bali, 25–31 Agustus, terselip Lomba Berpantun pada tanggal 28 Agustus. Saya menyimak dan mencermati pantun-pantun mereka. Mereka adalah warga negara asing (WNA) yang merupakan pemelajar atau siswa Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dari berbagai belahan dunia yang sedang berlaga beradu kebolehan berpantun setelah sekian lama belajar bahasa Indonesia.

Sejumlah 13 orang pria dan wanita dari 9 negara mengikuti babak final Lomba Berpantun serangkaian FHI 2024. Selain Lomba Berpantun, FHI tahun ini menyajikan Lomba Berpidato, Lomba Bercerita, Lomba Berpuisi, Lomba Membawakan Reportase, dan Lomba Bernyanyi. Menurut panitia lomba, dalam babak penyisihan dari keseluruhan mata lomba tercatat 549 orang WNA dari 78 negara ikut serta. Seluruh peserta mengirimknan video dan surat kepada panitia.

Salah satu peserta lomba berpantung pada Festival Handai Indonesia di Bali | Foto: Dok. pantia

Setelah dilakukan penjurian di babak penyisihan, sebanyak 105 orang peserta dari 44 negara masuk ke babak final. Untuk Lomba Berpantun, babak penyisihan diikuti oleh 30 orang peserta.

Sejumlah 13 orang yang masuk babak final Lomba Berpantun terdiri atas peserta dari negara Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Timor Leste, Thailand, Kamboja, Malaysia, Mesir, dan Sudan. Luar bisa, dari berbagai belahan dunia, mereka berpantun dalam bahasa Indonesia.

Penampil pertama, peserta dengan nomor undi 1 dari Amerika Serikat. Perserta ini mengenalkan diri dan menyebutkan motivasi mengikuti lomba dengan bahasa Indonesia yang lancar. Selanjutnya, keluarlah pantun demi pantun dengan tema romantis. Pantun diawali dengan pantun pembuka, isi, dan diakhiri dengan penutup.

Semua yang hadir dalam lomba ini bertepuk tangan. Dewan juri yang terdiri atas Adnyana Ole (Komunitas Mahima), Made Sudiana (BRIN), dan Firman Susilo (Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa) menyimak dengan seksama satu demi satu pantun yang dilatunkan peserta pertama. Demikian selajutnya sampai peserta terakhir, yaitu peserta dari Rusia.

Peserta dari Rusia ini tampil bersahaja dengan gayanya yang khas. Ternyata peserta dari Rusia ini juga seorang wartawan dan juga penulis puisi. Peserta terakhir tidak kalah menarik dengan peserta pertama.

Apa yang menarik dari Lomba Berpantun ini?

Banyak hal tentunya yang menarik.

Yang pertama, peserta dari berbagai negara dengan budaya yang berbeda. Mereka sama-sama belajar bahasa Indonesia. Dalam belajar bahasa Indonesia, mereka juga belajar tentang pantun.

Dalam mengikuti lomba FHI 2024 ini mereka juga harus mengikuti kisi-kisi lomba dan kriteria penilaian. Kriteria penilaian terdiri atas (1) isi  yang meliputi struktur pantun dan kualitas gagasan; (2) kebahasaan yang meliputi pelafalan, kosakata, dan penerapan tata bahasa; (3) performa yang meliputi pembawaan dan penampilan; serta (3) spontanitas yang meliputi kemampuan berinteraksi.

Yang kedua, peserta adalah WNA yang belajar BIPA di negara mereka masing-masing atau yang mengikuti kelas BIPA di perguruan tinggi (PT) maupun lembaga BIPA di Indonesia. Mereka sungguh-sungguh belajar bahasa Indonesia dengan berbagai alasan.

Yang ketiga, peserta belajar budaya Indonesia secara luas terbukti dari beragam tema yang disampaikan dalam lomba. Tema lingkungan merupakan tema yang banyak disampaikan oleh peserta, selain cinta.

Para peserta dan dewan juri Lomba Berpantun pada Festival Handai Indonesia 2024 | Foto: Dok. panitia

Yang keempat, sebagian besar peserta membuat pantun sendiri. Hanya satu orang yang mengaku dibuatkan pantun oleh pengajarnya. Salah seorang peserta mengaku membuat sendiri pantunnya dengan bantuan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sebagaian lagi membuat sendiri dan diperiksa oleh orang lain. Hal ini sangat menarik, ini membukatikan mereka serius belajar budaya Indonesia dan sungguh-sungguh pula belajar bahasa Indonesia. Ini terbukti dari pantun yang dibawakan yang tidak memulu pantun dengan kata “jalan-jalan” atau “buah-buahan”.

Serta yang lainnya.

Kalau Anda menonton penampilan mereka, Anda pasti juga terkesima seperti kami.

Perhatikan salah sebuah pantun berikut ini. Sebuah pantun yang sempat saya catat dari peserta berkebangsaan Thiland.

Sungguh berkilau sendok logam
walau sudah dimakan usia
Negeri ini penuh beragam
nuansa keindahan budaya nusantara

Walau secara umum, pantun peserta sudah luar biasa. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, suku kata terakhir baris pertama dan ketiga sudah pas, tetapi tidak demikian dengan bunyi suku kata terakhir baris kedua dan keempat. Jumlah suku kata dalam setiap baris kadang kurang diperhatikan. Akan tetapi, secara keseluruhan luar biasa. Karena mereka memang belajar bahasa Indonesia, aturan kebahasaan mereka taati dengan baik.

Mengenai persamaan bunyi ini, ada hal yang bisa saya kutip dari buku Pantun Melayu terbitan Balai Pustaka sebagai berikut.

Persamaan bunyi cinta dan lintah tiadalah benar.

Pantun:

Dari mana datangnya lintah?
dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta?
dari mata turun ke hati

Pantun ini dicela oleh orang Melayu dan dan dikatakan bukan pantun Melayu. Pantun Melayu begini bunyinya.

Dari mana datangnya lintah?
dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta?
dari mata turun ke hati

Saya ingin mengatakan bahwa sebuah pantun yang baik semestinya megikuti aturan jumlah suku kata dalam tiap baris, dan bunyi suku kata tarakhir yang sama atau mirip dari sisi bunyi bahasa.

Dengan melihat antusias pemelajar BIPA di seluruh dunia yang mengikuti FHI 2024 ini, saya yakin bahasa Indonesia bisa mendunia. Semoga pantun sebagai warisan budaya Indonesia dan bahasa Indonesia mendunia. [T]

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: apresiasi sastraBIPAlomba pantunpantun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Next Post

Ika Agustina, Keterbatasan Bukan Alasan untuk Tidak Berkarya

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
Ika Agustina, Keterbatasan Bukan Alasan untuk Tidak Berkarya

Ika Agustina, Keterbatasan Bukan Alasan untuk Tidak Berkarya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co