23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

I Made Sudiana by I Made Sudiana
September 1, 2024
in Bahasa
Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

Peserta dari Mesir dalam Lomba Berpantun untuk pemelajar BIPA dalam Festival Handai Indonesia 2024

BOLEHLAH kita berbangga pantun berbahasa Indonesia mendunia.

Pernahkah Anda membayangkan orang Sudan atau Mesir berpantun dalam bahasa Indonesia?

Saya secara pribadi, sebelumnya saya tidak pernah membayangkan seorang perjaka Sudan dan seorang gadis Mesir berpantun dalam bahasa Indonesia. Kalau orang Malaysia atau orang Thailand selatan berpantun, saya tidak heran. Di kedua negara yang saya sebut itu ada bahasa Melayu dan ada budaya berpantun Melayu.

Dalam sebuah acara Festival Handai Indonesia (FHI) 2024 yang diadakan di Bali, 25–31 Agustus, terselip Lomba Berpantun pada tanggal 28 Agustus. Saya menyimak dan mencermati pantun-pantun mereka. Mereka adalah warga negara asing (WNA) yang merupakan pemelajar atau siswa Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dari berbagai belahan dunia yang sedang berlaga beradu kebolehan berpantun setelah sekian lama belajar bahasa Indonesia.

Sejumlah 13 orang pria dan wanita dari 9 negara mengikuti babak final Lomba Berpantun serangkaian FHI 2024. Selain Lomba Berpantun, FHI tahun ini menyajikan Lomba Berpidato, Lomba Bercerita, Lomba Berpuisi, Lomba Membawakan Reportase, dan Lomba Bernyanyi. Menurut panitia lomba, dalam babak penyisihan dari keseluruhan mata lomba tercatat 549 orang WNA dari 78 negara ikut serta. Seluruh peserta mengirimknan video dan surat kepada panitia.

Salah satu peserta lomba berpantung pada Festival Handai Indonesia di Bali | Foto: Dok. pantia

Setelah dilakukan penjurian di babak penyisihan, sebanyak 105 orang peserta dari 44 negara masuk ke babak final. Untuk Lomba Berpantun, babak penyisihan diikuti oleh 30 orang peserta.

Sejumlah 13 orang yang masuk babak final Lomba Berpantun terdiri atas peserta dari negara Amerika Serikat, Rusia, Jepang, Timor Leste, Thailand, Kamboja, Malaysia, Mesir, dan Sudan. Luar bisa, dari berbagai belahan dunia, mereka berpantun dalam bahasa Indonesia.

Penampil pertama, peserta dengan nomor undi 1 dari Amerika Serikat. Perserta ini mengenalkan diri dan menyebutkan motivasi mengikuti lomba dengan bahasa Indonesia yang lancar. Selanjutnya, keluarlah pantun demi pantun dengan tema romantis. Pantun diawali dengan pantun pembuka, isi, dan diakhiri dengan penutup.

Semua yang hadir dalam lomba ini bertepuk tangan. Dewan juri yang terdiri atas Adnyana Ole (Komunitas Mahima), Made Sudiana (BRIN), dan Firman Susilo (Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa) menyimak dengan seksama satu demi satu pantun yang dilatunkan peserta pertama. Demikian selajutnya sampai peserta terakhir, yaitu peserta dari Rusia.

Peserta dari Rusia ini tampil bersahaja dengan gayanya yang khas. Ternyata peserta dari Rusia ini juga seorang wartawan dan juga penulis puisi. Peserta terakhir tidak kalah menarik dengan peserta pertama.

Apa yang menarik dari Lomba Berpantun ini?

Banyak hal tentunya yang menarik.

Yang pertama, peserta dari berbagai negara dengan budaya yang berbeda. Mereka sama-sama belajar bahasa Indonesia. Dalam belajar bahasa Indonesia, mereka juga belajar tentang pantun.

Dalam mengikuti lomba FHI 2024 ini mereka juga harus mengikuti kisi-kisi lomba dan kriteria penilaian. Kriteria penilaian terdiri atas (1) isi  yang meliputi struktur pantun dan kualitas gagasan; (2) kebahasaan yang meliputi pelafalan, kosakata, dan penerapan tata bahasa; (3) performa yang meliputi pembawaan dan penampilan; serta (3) spontanitas yang meliputi kemampuan berinteraksi.

Yang kedua, peserta adalah WNA yang belajar BIPA di negara mereka masing-masing atau yang mengikuti kelas BIPA di perguruan tinggi (PT) maupun lembaga BIPA di Indonesia. Mereka sungguh-sungguh belajar bahasa Indonesia dengan berbagai alasan.

Yang ketiga, peserta belajar budaya Indonesia secara luas terbukti dari beragam tema yang disampaikan dalam lomba. Tema lingkungan merupakan tema yang banyak disampaikan oleh peserta, selain cinta.

Para peserta dan dewan juri Lomba Berpantun pada Festival Handai Indonesia 2024 | Foto: Dok. panitia

Yang keempat, sebagian besar peserta membuat pantun sendiri. Hanya satu orang yang mengaku dibuatkan pantun oleh pengajarnya. Salah seorang peserta mengaku membuat sendiri pantunnya dengan bantuan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sebagaian lagi membuat sendiri dan diperiksa oleh orang lain. Hal ini sangat menarik, ini membukatikan mereka serius belajar budaya Indonesia dan sungguh-sungguh pula belajar bahasa Indonesia. Ini terbukti dari pantun yang dibawakan yang tidak memulu pantun dengan kata “jalan-jalan” atau “buah-buahan”.

Serta yang lainnya.

Kalau Anda menonton penampilan mereka, Anda pasti juga terkesima seperti kami.

Perhatikan salah sebuah pantun berikut ini. Sebuah pantun yang sempat saya catat dari peserta berkebangsaan Thiland.

Sungguh berkilau sendok logam
walau sudah dimakan usia
Negeri ini penuh beragam
nuansa keindahan budaya nusantara

Walau secara umum, pantun peserta sudah luar biasa. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, suku kata terakhir baris pertama dan ketiga sudah pas, tetapi tidak demikian dengan bunyi suku kata terakhir baris kedua dan keempat. Jumlah suku kata dalam setiap baris kadang kurang diperhatikan. Akan tetapi, secara keseluruhan luar biasa. Karena mereka memang belajar bahasa Indonesia, aturan kebahasaan mereka taati dengan baik.

Mengenai persamaan bunyi ini, ada hal yang bisa saya kutip dari buku Pantun Melayu terbitan Balai Pustaka sebagai berikut.

Persamaan bunyi cinta dan lintah tiadalah benar.

Pantun:

Dari mana datangnya lintah?
dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta?
dari mata turun ke hati

Pantun ini dicela oleh orang Melayu dan dan dikatakan bukan pantun Melayu. Pantun Melayu begini bunyinya.

Dari mana datangnya lintah?
dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta?
dari mata turun ke hati

Saya ingin mengatakan bahwa sebuah pantun yang baik semestinya megikuti aturan jumlah suku kata dalam tiap baris, dan bunyi suku kata tarakhir yang sama atau mirip dari sisi bunyi bahasa.

Dengan melihat antusias pemelajar BIPA di seluruh dunia yang mengikuti FHI 2024 ini, saya yakin bahasa Indonesia bisa mendunia. Semoga pantun sebagai warisan budaya Indonesia dan bahasa Indonesia mendunia. [T]

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan
Jam Session Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024
Tags: apresiasi sastraBIPAlomba pantunpantun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

Next Post

Ika Agustina, Keterbatasan Bukan Alasan untuk Tidak Berkarya

I Made Sudiana

I Made Sudiana

Lahir di Tabanan tahun 1974. Sekarang sebagai peneliti bahasa di Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali.

Related Posts

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

Read moreDetails

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

by I Made Sudiana
October 16, 2026
0
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

Read moreDetails

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

by I Made Sudiana
October 4, 2026
0
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

Read moreDetails

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails
Next Post
Ika Agustina, Keterbatasan Bukan Alasan untuk Tidak Berkarya

Ika Agustina, Keterbatasan Bukan Alasan untuk Tidak Berkarya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co