25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini

Son Lomri by Son Lomri
August 27, 2024
in Khas
Menelusuri Jejak Pembahasan Pertanian dalam Sastra Dulu dan Kini

Andre Syahreza (narasumber), Made Sujaya (narasumber), dan Iin Valentine (moderator) dalam diskusi “Energi Ibu Pertiwi, Teks Dulu dan Kini” Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

DI Bali, pembahasan pertanian pada teks dulu dan sekarang, dalam hal ini sastra, masih sangat seksi untuk dibahas walaupun setiap era memiliki fokusnya masing-masing. Misalnya, pada zaman di mana Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) masih hidup pada tahun 1960-an, meletakkan petani dan tuan tanah (Kapitalisme) menjadi satu pembahasan yang kuat dalam segi konten perjuangan—humanisme.

Tetapi pada era 1990-an, tema yang sama masih banyak dibahas di Bali, seperti yang dikatakan oleh Made Sujaya pada panel diskusi bertajuk “Energi Ibu Pertiwi, Teks Dulu dan Kini” dalam gelaran Singaraja Literary Festival 2024 di Sasana Budaya, Jumat, 23 Agustus 2024.

“Sajak-sajak penyair Bali didominasi oleh suara keresahan mengenai ludesnya tanah-tanah di Bali, terutama oleh masifnya perkembangan industri pariwisata,” kata Sujaya.

Lebih lanjut, selaku pembicara dalam acara itu, Sujaya menarik terlebih dulu diskusi tersebut pada sejarah Indonesia periode tahun 1960-an, di mana sosok dan nasib para petani, katanya, mendapat perhatian lebih serius dari sastrawan di tahun itu—khususnya pada sastrawan yang terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Suasana panel diskusi “Energi Ibu Pertiwi, Teks Dulu dan Kini” Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

“Dipengaruhi oleh cara pandang realisme sosialis, para pengarang Lekra sangat getol menggambarkan perlawanan kaum tani melawan penindasan, terutama menghadapi tuan tanah,” kata dosen yang mengajar di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia itu saat memaparkan materinya.

Selain itu, perhatian Lekra pada keberadaan perempuan tani juga sangat intens. Para perempuan petani ini tidak saja digambarkan dengan penuh keberanian melawan kekuasaan kaum tuan tanah, namun juga memperjuangkan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki.

“Salah satu pengarang Lekra dari Bali, Putu Oka Sukanta menulis cerpen berjudul Bibi Kerti yang menggambarkan perjuangan perempuan tani Bali memperoleh tanah,” terangnya.

Dalam cerpen tersebut dapat dirasakan bagaimana wacana si pengarang hendak menggambarkan perjuangan Bali memperoleh tanah. “Melalui cerpen ini, pengarang tak hanya mengusung gagasan soal landrefrorm, namun juga mengkritik budaya patriarki yang begitu kokoh dalam kehidupan masyarakat Bali,” ujar Sujaya.

Sujaya berpendapat, jika sastrawan Bali terbilang memiliki sensitibilitas terhadap kehidupan petani dan dunia pertanian. Sebagaimana ia juga menunjukkan yang lain, seperti Panji Tisna menulis sebuah cerpen berjudul “Menolong Orang Menyiangi Padi”—cerpen yang pernah di muat di majalah Damai (1955) itu telah mencolok sekali jika menceritakan kehidupan petani Bali di desa yang kental dengan tradisi tolong menolongnya.

Lebih lanjut, jika gambaran problematika petani dan dunia pertanian dalam sastra memang tak bisa dilepaskan dari karya sastra dalam konteks zamannya. Jika pada era Lekra, problematika petani dan dunia pertanian dihubungkan dengan industry turisme yang haus lahan. Sehingga melatarbelakangi para sastrawan Bali dalam membuat karya yang memuat isu tentang konflik tanah antara petani dan kapitalis pariwisata.

Andre Syahreza (narasumber), Made Sujaya (narasumber), dan Iin Valentine (moderator) dalam diskusi “Energi Ibu Pertiwi, Teks Dulu dan Kini” Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Di Bali, para petani, baik dulu maupun sekarang, barangkali masih tetap sama, belum merdeka secara sosial dan batin. Lihat saja, misalnya, bagaimana villa di bangun di tepi sawah—agar dapat melihat langsung pemandangan indah sekaligus melihat petani bekerja. Secara kapitalistik, petani tereksploitasi—sebagai bahan tontonan para wisatwan di dalam villa atau hotel megah.

Mereka menganggap itu indah, tetapi apakah petani menganggap dirinya indah di tengah dirinya sebagai wisata alam dan profesi? Atau yang lebih ironis, sawah-sawah menjadi villa sebab petani terus dirayu—atau terjebak, atau dijebak.

Melihat fenomena tersebut, Sujaya mengisahkan kembali saat diskusi tentang cerpen “Surga untuk Petani” miliki Gde Aryantha Soethama yang menceritakan tentang memuliakan para petani yang dikaitkan dengan konteks spiritualitas khas Bali di era 1990-an.

Cerpen Gde Aryantha Soethama diadaptasi dari kisah nyata, kata Sujaya. “Yaitu cerita rakyat Bali tentang seorang petani yang tekun akhirnya diterima dengan tangan terbuka oleh penguasa surga.”

Andre Syahreza (narasumber), Made Sujaya (narasumber), dan Iin Valentine (moderator) dalam diskusi “Energi Ibu Pertiwi, Teks Dulu dan Kini” Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri

Walaupun si petani tidak memiliki pengetahuan tentang agama yang kuat seperti halnya seorang pendeta. Seperti halnya Navis, Aryantha Soethama juga mengkritik laku hipokrit orang-orang berjubah agama.

Tokoh petani yang tekun dan suntuk dengan kewajibannya bergelut dengan Ibu Pertiwi digambarkan lebih mulia ketimbang seorang pendeta yang memiliki pengetahuan agama yang luas tetapi minim ketulusan dan kejujurannya.

Artinya gini, konteksnya dengan sekarang, bagaimana isu-isu perihal pertanian, atau tanah sebagai Ibu Pertiwi ini, masih menjadi pembahasan yang laku dalam dunia sastra atau teks, dan bisa menjadi isu krusial sampai saat ini.

Misalnya pada puisi-puisi milik Made Adnyana Ole—penyair yang lahir dari Tabanan itu, juga kerap membuat puisi tentang pertanian atau kehidupan di desa, dan bagaimana para petani hidup di desa. Sangat detail ia menggambarkan melalui sajaknya—dengan sangat sederhana dan padat.

Artinya, di Bali, barangkali pertanian masih menjadi isu sangat seksi dan krusial dalam dunia kesusastraan, tentu di samping kasta jika masih menjadi persoalan.[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film
Merayakan Lontar, Sastra, dan Kebudayaan di Singaraja Literary Festival 2024
Siap-siap, 23-25 Agustus, Singaraja Literary Festival 2024 dengan Tema Dharma Pemaculan
Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Tags: pertaniansastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film

Next Post

Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan

Tribute to Cok Sawitri: Merawat Ingatan, Mengalirkan Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co