2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siap-siap, 23-25 Agustus, Singaraja Literary Festival 2024 dengan Tema Dharma Pemaculan

Jaswanto by Jaswanto
August 4, 2024
in Khas
Siap-siap, 23-25 Agustus, Singaraja Literary Festival 2024 dengan Tema Dharma Pemaculan

Pementasan musik pada Singaraja Literary Festival 2023 | Foto: Dok. SLF 2023

BELAKANGAN ini banyak orang meyakini bahwa kebudayaan adalah “detak jantung” masyarakat. Karena itulah, keseriusan dalam pembiayaan untuk sektor kebudayaan mesti dianggap sebagai investasi, bukan sekadar biaya pengeluaran.

Untuk itulah, meski belum terlalu lama seperti Amerika Serikat atau negara-negara di Eropa, Pemerintah Indonesia juga mulai mengalokasikan dana kebudayaan untuk membiayai kegiatan-kegiatan kebudayaan seturut amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Oleh sebab itu banyak kegiatan kebudayaan di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kota Singaraja, Bali, yang bergeliat dengan sokongan Dana Perwakilan Kebudayaan yang diwujudkan lewat dana abadi kebudayaan dan kemudian disebut Dana Indonesiana itu.

Di Singaraja terdapat satu festival kebudayaan yang sedang menjadi buah perbincangan di Bali maupun Indonesia. Festival yang dimaksud adalah Singaraja Literary Festival (SLF) yang digagas atau diprakarsai oleh seorang intelektual perempuan progresif, Kadek Sonia Piscayanti, bersama sang suami Made Adnyana Ole, seorang sastrawan, budayawan, sekaligus wartawan senior di Bali.

Lomba baca puisi pada Singaraja Literary Festival (SLF0 2023. Pada SLF 2024, lomba puisi tetap ada | Foto: Dok SLF 2023

Dan satu hal yang menjadi napas SLF adalah Gedong Kirtya, sebuah perpustakaan yang memiliki ribuan koleksi manuskrip daun lontar, prasasti, manuskrip kertas dalam aksara Bali dan Latin, termasuk dokumen-dokumen dari zaman kolonial (1901-1953) yang tersimpan rapi dan terawat dengan baik. Perpustakaan ini didedikasikan untuk Van der Tuuk, seorang ahli bahasa dan kebudayaan yang telah berjasa mengumpulkan naskah lontar (manuskrip) kuno Bali.

“Singaraja Literary Festival kedua ini berupa penyebaran khazanah yang tersimpan dalam manuskrip-manuskrip yang sangat berharga, terutama yang tersimpan di perpustakaan Gedong Kirtya,” ujar Kadek Sonia Piscayanti di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Kamis (1/8/2024).

Singaraja adalah kota bersejarah di Indonesia, pun, sebagaimana dikatakan Sonia, kota yang penuh dengan candi pustaka, dan banyak cendekia yang lahir di ibu kota Kabupaten Buleleng ini. Kondisi ini tidak lepas dari garis sastra yang ada. Singaraja juga memiliki Gedong Kirtya yang harus diaktifkan.

Apa yang dikatakan Sonia memang bukan isapan jempol semata. Sejarah telah mencatat bahwa Singaraja merupakan cikal-bakal mengalirnya pengetahuan dan munculnya pusat-pusat pendidikan di Bali. Tokoh-tokoh pemikir Bali semacam AA. Pandji Tisna, IGB Sugriwa, Nyoman S. Pendit, IGK Ranuh, dan yang lainnya bergaul secara masif dengan Hooykaas yang datang kemudian setelah Van der Tuuk.

Pada masanya kemudian, Hooykaas memiliki program ‘proyek tik’, yaitu mengalihaksarakan aksara Bali ke aksara Latin. Perjalanan ini mengantarkan Hooykaas melakukan hal serupa semisal di Puri Agung Kerambitan—mengingat relasi puri (Puri Buleleng) yang menaungi Gedong Kirtya kala itu sangat kental.

“Untuk itulah Singaraja Literary Festival hendak menghidupkan kembali khazanah pengetahuan dan kearifan sejarah dengan memadukan riset dengan metode studi pustaka dan narrative inquiry,” kata sutradara teater sekaligus akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, itu.

Bukan Sekadar Perayaan

SLF tidak sekadar menjadi ajang perayaan atau pertunjukan. Perhelatan ini telah menjadi katalisator penyampaian identitas kebudayaan, tempat perayaan memori kolektif, tempat pengembangan talenta dan ekspresi kreatif, tempat lahirnya pegiat budaya, dan tempat berkolaborasi serta berinovasi.

Singaraja Literary Festival sengaja diselenggarakan bukan sekadar sebagai perayaan dan atraksi kebudayaan. Festival ini juga menjadi jembatan penghubung antara pengetahuan masa lalu dan masa kini. Pula wadah yang mempertemukan akademisi, seniman, budayawan, peneliti, pelajar, dan masyarakat pada umumnya.

Di sinilah, festival menjadi sarana perekatan kohesi sosial, penggalian potensi-potensi budaya, sekaligus aktualisasi pengetahuan-pengetahuan dalam manuskrip-manuskrip (lontar) di Gedong Kirtya. Lontar mengajak manusia melihat masa kini dan masa yang akan datang dari perspektif masa lalu. Jiwa zaman yang ada dalam daun lontar menitikberatkan manusia kini untuk melihat, mendengar, dan merasakan lebih dalam bahwasanya pengetahuan seperti air, yaitu mengalir dan menyejukkan.

“Maka, naskah-naskah lontar yang ada di Gedong Kirtya, berdasarkan pengalaman kepengarangan penulis pada masa itu, mengintretasi alam semesta. Sederhananya, berada pada masa sekarang merupakan jembatan untuk melihat masa lalu dan meneropong masa depan,” ujar Sonia menjelaskan.

Sonia Piscayanti pada SLF 2023 | Foto: Dok SLF 2023

Apa yang dikatakan Sonia mengingatkan kita pada buku Nancy K. Florida, Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang (2003). Buku ini merupakan hasil penelitian bertahun-tahun Nancy di kraton Surakarta atas naskah-naskah kuno, terutama Babad Jaka Tingkir. Ia berhasil mentransformasikan penelitiannya dalam melihat sejarah sebagai nubuat di Jawa masa kolonial.

Namun, jika pengajar Universitas Michigan itu melihat masa kini dan masa depan dengan menyusuri akar masa silam, maka konseptor SLF boleh dikata sedang memindai cabang-cabang budaya masa depan dengan memaknai dan mengeksplorasi pertumbuhan pohon hayat kebudayaan masa lalu dan era sekarang.

Masa sekarang bukan ruang kosong, kata Raudal Tanjung Banua. Ia terhubung dengan masa silam, sebagaimana dapat dilacak dalam karya mutakhir sastrawan/seniman Bali. Dalam Singaraja Literary Festival kearifan masa lalu dan praktik kebudayaan masa kini tampil bersama-sama. Selain menyelam ke dalam memaknai kearifan lokal, SLF juga membuka diri ke luar, sebagaimana sifat budaya modern yang mengglobal.

Kadek Sonia Piscayanti ingin praktik kebudayaan tersebut—masa lalu dan kini—bisa terangkat dan dikenal banyak orang. “Tidak banyak orang tahu tentang ‘harta karun’ yang tersimpan di Gedong Kirtya,” kata Sonia.

Maka dari itu, lebih dari sekadar perayaan, tujuan Singaraja Literary Festival adalah menciptakan ruang literasi terhadap keberadaan manuskrip atau lontar Bali yang memandang secara luas keberagaman ilmu pengetahuan. Menyatukan generasi Bali dari anak-anak hingga tua untuk menengok, berjabat tangan, bersua kembali dengan Gedong Kirtya sebagai rumah peradaban. 

Aspek penting dari kegiatan ini adalah menyuarakan kembali ilmu pengetahuan yang ada dalam lontar (manuskrip) dengan pendekatan kekinian—anak-anak dan remaja. “Maksudnya adalah, membuat ruang sesuai dengan jiwa zaman, seperti permainan, teknik bercerita yang membuat lontar terasa sangat dekat dengan kita,” terang Sonia.

SLF menyasar generasi muda maupun masyarakat luas, terutama dalam konteks Indonesia yang berfokus pada literasi, pemaknaan terhadap manuskrip klasik. Secara khusus, festival ini hendak menelisik, menggemakan, dan mendekatkan kembali khazanah budaya lontar di Bali sebagai sumber pengetahuan.

Menginjak Tahun Kedua

SLF diselenggarakan untuk pertama kalinya pada September 2023. Ya, tahun ini baru yang kedua kalinya. Tetapi, meski baru saja menetas, tak butuh waktu lama SLF untuk beradaptasi dan luwes menjaga keseimbangan—meski tentu mesti diuji waktu—di tengah banyaknya festival di Bali yang jauh lebih dulu diselenggarakan.

“Pada Singaraja Literary Festival 2023, kami fokus kepada pengaktifan kembali ruang publik Gedong Kirtya. Dan sekarang sudah mulai masuk lebih dalam—dengan melakukan kajian dan respons atas manuskrip yang tersimpan,” ujar Sonia.

Tahun ini, SLF memacak tema “Dharma Pemaculan: Energi Ibu Bumi”. Dharma Pemaculan merupakan salah satu lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya. Lontar ini secara keseluruhan berbicara tentang seluk beluk pertanian. Namun, sejatinya, Dharma Pemaculan berbicara tentang relasi manusia dengan semesta, alam, dan sesama manusia.

Tanah diibaratkan seperti ibu yang memiliki rahim, mengandung benih, melahirkan, lalu merawatnya. Padi yang ditulis dalam lontar tersebut menjadikan tubuh tanah selayaknya manusia—mengalami dan merasakan sebuah proses.

“Dengan mengambil tema Dharma Pemaculan, inisiasi ini berupaya menelusuri kembali ragam pertanian yang tertuang dalam lontar dan menghadirkan kembali dalam bentuk pementasan kebudayaan, pameran, lokakarya, pertunjukan alihwahana sastra ke teater dan film,” beber Sonia.

Tak hanya itu, Sonia melanjutkan, SLF juga menerjemahkan karya sastra berbahasa Jawa Kuna ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan sekaligus aktivasi cagar budaya yang berperan sebagai ruang publik.

Dalam SLF ke-2 yang akan dilaksanakan tanggal 23-25 Agustus 2024, juga diadakan lomba membaca puisi untuk peserta SD dan SMP se-Buleleng. Pengisi acara di lokakarya menulis, diskusi, pengisi acara (pertunjukan), termasuk juga penata lanskap, melibatkan sosok/kelompok dari luar Bali, bahkan luar negeri. Tentu saja pengisi utama tetap pengamat/pelaku/komunitas Bali sendiri.

Sesi diskusi pada SLF 2023 | Foto: Dok. SLF 2023

Dalam konteks kesenian, SLF memilih kesenian sezaman (kontemporer) maupun avant-garde. Artinya, SLF tidak punya persoalan teknis dengan tradisi-modern yang dalam sejumlah kasus bisa jadi perdebatan melingkar. Singaraja Literary Festival tinggal start, karena basis berpijaknya sudah jelas, sembari berbagi peran dengan festival kebudayaan yang lain.

Tahun ini, SLF akan mendatangkan penulis dan sastrawan ternama di Indonesia, seperti Dewi (Dee) Lestari, Aan Mansyur, Willy Fahmy Agiska, dan Henry Manampiring. Juga para akademisi, sastrawan, seniman, budayawan Bali yang tak lagi dipertanyakan kredibilitasnya.

Di antaranya, Sugi Lanus, Ayu Laksmi, I Ketut Eriadi Ariana, Marlowe Bandem, Andre Syahreza, Made Sujaya, Mas Rucitadewi, I Wayan Juniarta, Oka Rusmini, Saras Dewi, Eka Guna Yasa, Putu Kusuma Wijaya, Made Suarbawa, Olin Monteira, Putu Satria Kusum, Darma Putra, dan masih banyak lagi.  

Sesi Khusus

“Sesi khusus ini adalah sebuah perayaan khusus soal khazanah rempah di dalam lontar. Tujuannya adalah untuk memasyarakatkan pengetahuan rempah dalam konteks masa kini, khususnya di dunia pengobatan dan kuliner,” tutur Sonia

Rempah adalah kekayaan alam Indonesia yang sudah terkenal sejak berabad-abad. Citra rempah yang hangat dan bisa dijadikan penyedap makanan menyebabkan bangsa Barat rela menjelajah lautan untuk mendapatkannya di bumi Nusantara.

“Konsekuensi kekayaan alam yang menggiurkan ini, bangsa Eropa yang semula menjelajah rempah, akhirnya menjajah bangsa kita,” kata Sonia.

Rajutan hubungan antara masyarakat Bali dengan rempah menyebabkan sistem pengetahuan kerempahan juga tercatat dalam warisan naskah. Naskah Bali seperti Geguritan Megantaka, Tutur Dharma Caruban, dan Usadha Bali dapat dijadikan literasi tentang fungsi rempah.

Berdasarkan pustaka-pustaka itu, rempah setidaknya memiliki tiga fungsi utama, yaitu dalam konteks gandha, pustaka Geguritan Megantaka dijelaskan rempah sebagai sarana minyak wangi atau parfum.

Demikian pula dalam konteks boga, naskah lontar Dharma Caruban menjelaskan berbagai bumbu terutama basa genep untuk membuat olahah betutu, sate, timbungan, dan yang lainnya.

Selanjutnya, dalam konteks usadha atau obat-obatan, lontar Usadha Rare membabar betapa pentingnya rempah sebagai sarana kesehatan seperti obat batuk, radang, luka, dan seterusnya.

“Special events ini terdiri dari 2 kegiatan, yaitu Seminar Khazanah Rempah dalam Lontar dan Pengenalan khazanah lontar khususnya yang mengandung tema rempah,” ujar Sonia.

Seminar khazanah rempah dalam lontar yang terbagi dalam tiga topik mengenai gandha, obat-obatan (Lontar Usada), dan tentang boga atau kuliner. Peserta seminar ini  akan diikuti 30 orang penulis Bali ditambah mahasiswa dan kaum muda di Buleleng.

Khsus penulis Bali yang menjadi peserta diminta untuk mendalami khazanah pengetahuan dalam manuskrip lontar tentang obat-obatan sehingga kemudian dapat menyebarkan khazanah pengetahuan kepada khalayak luas. Sementara peserta mahasiswa dan kaum muda diharapkan dapat mengenali kembali manuskrip sebagai khawanah pengetahuan dalam lontar.

Sedangkan pengenalan khazanah lontar, khususnya yang mengandung tema rempah seperti khazanah usada dan kuliner, ditujukan kepada para siswa sekolah dan kaum remaja di Singaraja. Kegiatannya berupa presentasi dan diskusi tentang lontar di sekolah.

“Ditambah pementasan atau pembacaan lontar serta pembacaan puisi oleh lima penyair Bali dengan tema bahari yang diselingi pentas musik,” terang Sonia.[T]

Singaraja Literary Festival: Ruang Intelektual Baru dan Jembatan Penghubung Pengetahuan
Opini Masyarakat Mengenai “Singaraja Literary Festival” : Wadah Mengenal Seni yang Dinanti
Suara Volunteer: Cerita di Belakang Panggung Singaraja Literary Festival
Tags: Dharma PemaculanGedong KirtyalontarSingaraja Literary FestivalSLF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Village Jazz Festival 2024 akan Dihias 110 Karya Lampion dari Iluh Bali untuk Yayasan Kanker Anak

Next Post

Perguruan Tinggi Pertanian Wilayah Timur Upayakan Peningkatan Animo Calon Mahasiswa Fakultas Pertanian

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Perguruan Tinggi Pertanian Wilayah Timur Upayakan Peningkatan Animo Calon Mahasiswa Fakultas Pertanian

Perguruan Tinggi Pertanian Wilayah Timur Upayakan Peningkatan Animo Calon Mahasiswa Fakultas Pertanian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co