3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 6, 2024
in Esai
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

Foto : Pemancar TVRI Bukit Bakung di Desa Adat Kutuh. Foto I Nyoman Tingkat

DESA Adat Kutuh adalah salah satu desa adat di Gumi Delod Ceking dari 9 desa adat yang berada di Kecamatan Kuta Selatan.Secara kedinasan, Desa Kutuh adalah salah satu desa dinas termuda dari 6 desa/kelurahan di Kecamatan Kuta Selatan. Berdiri sejak 12 Maret 2002, setelah sebelumnya selama 3 tahun menjadi Desa Persiapan bergabung dengan induknya, Desa Ungasan.

Bersyukurlah Desa Kutuh menjadi Desa Adat sekaligus sehingga otonomi di antara keduanya sebagai Purusa-Pradana disepakati sebagai mana layaknya suami istri sedapur, sekasur, sesumur bersama.

Itu berbeda dengan desa lian, seperti Kelurahan Benoa yang mengampu tiga desa adat yakni Bualu, Peminge, dan Kampial. Demikian pula dengan Kelurahan Tanjung Benoa, mengampu dua desa adat yakni Desa Adat Tanjung dan Tengkulung.

Desa Adat Tengkulung adalah desa adat baru sebagai pemekaran dari Desa Adat Tanjung. Istimewanya, Desa Adat Tengkulung terdiri atas satu banjar adat, yaitu Banjar Tengkulung sekaligus menjadi Desa Adat Tengkulung. Mirip secara penamaan, Desa Adat Bualu, selain menjadi nama banjar adat sekaligus menjadi nama Desa Adat Bualu, tetapi ditopang oleh 8 banjar adat, yakni Banjar Adat Bualu, Peken, Terora, Celuk, Penyarikan, Bale Kembar, Pande, dan Banjar Adat Mumbul. 

Kompleksitas kelurahan/desa dengan beberapa desa adat pastilah berbeda dengan kelurahan/desa dengan satu desa adat. Dengan analogi, purusa-pradana, kelurahan/desa dengan beberapa desa adat, ibarat laki-laki berpolygami. Pastilah tidak mudah mengelolanya. Mengurus yang satu saja susah, apalagi banyak. Kecuali istrinya baik hati tidak pencemburu dan suaminya adil dan beradab sedapur, sesumur, dan sekasur. Syuuuur.

Namun apa pun itu, Bali dengan dualisme desa itu secara kasat mata sejak dulu hingga kini terkesan  baik-baik saja. Kalau pun ada riak-riak kecil, itu adalah bumbu romantis untuk menemukan kesepakatan pada gelahang, mencari titik temu.

Kembali ke Desa Kutuh dengan Desa Adat Kutuh, patutlah  bersyukur di tengah kemajuan zaman bergerak telah menjadi pilihan tempat tower besar tinggi sejak awal Orde Baru.

Di desa ini, tercatat ada sejumlah tower Pemancar TVRI, SCTV, ANTV, Metro TV, dan Bali TV.  Selain itu, Tower Pemancar Seluler juga banyak, sehingga jaringan komunikasi tersambung baik, dengan pengecualian beberapa tempat yang blank spot. Makna tower pemancar itu bagi Desa Adat Kutuh berdimensi jamak. Di satu sisi negatif, di sisi lain positif.  

Makna negatif yang bertalian dengan kemandegan literasi.

Pertama, di tengah keterbelakangan dan kemiskinan pada awal Tower Pemancar TVRI Bukit Bakung berdiri (1977), Desa Adat Kutuh telah diproyeksikan menjadi terdepan dalam akses budaya visual (menonton TV). Pada awal  gempuran televisi itu, tingkat baca masyarakatnya masih rendah.

Lompatan budaya visual nyata-nyata menenggelamkan budaya membaca. Suguhan acara TV yang bervariasi  memanjakan penontonnya. Bersamaan dengan itu, penonton “gagal” mengambil pesan (amanat) tontonan yang dikelabui melalui gaya hidup hedonis metropolitan.  Akibatnya, akselerasi budaya menonton tak terkejar oleh budaya membaca yang menekankan kedalaman pemaknaan. Sebuah ironi dalam peringatan Hari Aksara Internasional 8 September tiap tahun.

Kedua, idealnya tawaran kemajuan itu menjernihkan kualitas informasi dan memperluas relasi secara humanis. Namun kemajuan yang mendahului zaman, membuat gagap budaya akibat ketidaksiapan akan perubahan yang cepat bahkan makin supercepat pada abad digital kini. Akar masalahnya, lagi-lagi kurangnya literasi.

Sisi positif  kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh bertalian dengan akses informasi yang cepat dan bervariasi.

Pertama, kehadiran tower pemancar TV dan Seluler yang terpusat di Desa Adat Kutuh memberikan kesempatan lebih luas dan lebih cepat bagi upaya  mengedukasi masyarakatnya melalui hiburan dan tayangan edukatif yang menjangkau segala usia melalui saluran kotak ajaib yang dapat dinikmati dalam kebersamaan guyub sosial kemasyarakatan.

Itu pada awalnya ketika masyarakatnya masih homogen berbondong-bondong menonton siaran TVRI dengan suguhan terfilter Orde Baru. Orang tua desa menerima begitu saja apa kata TVRI tanpa berpikir kritis. Masyarakat seakan  “dilarang” berpikir kritis dengan tunduk pada kotak ajaib.

Kedua, seiring bergeraknya zaman kemajuan dan arah angin politik yang menawarkan kebebasan mulai 1990-an bermuncullah Stasiun TV Swasta yang gencar mengkritisi program pemerintah. Berkah pun jatuh kembali ke Desa Adat Kutuh dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV Swasta.

Warga Desa Kutuh dapat menerima siaran TV secara variatif dari chanel ke chanel, padahal di kabupaten lain belum tentu terjangkau. Keterjangkauannya pun mesti dengan parabola yang hanya bisa dimiliki orang kaya perkotaan. Jadi, Desa Kutuh selangkah lebih maju mendapat tontonan dan tuntunan bila dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai pendidikan.

Begitulah, kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh mengakhiri masa romantisme bajang-bajang nembang sambil ngalih saang “gadis desa berlagu dendang sambil mencari kayu bakar”. Bersamaan dengan itu siaran Radio makin ditinggalkan. Padahal, sebelumnya Radio (terkenal: Menara, AR) menghadirkan hiburan dan request lagu bagi orang-orang Delod Ceking melalui kupon yang dibeli di Denpasar.

Pesan penyiar pun terngiang-ngiang hingga kini, “Koling-Koling adan tiangne”, begitulah Mbok Santi penyiar AR  melekat di hati pemuda kala itu, tak terkecuali bagi pemuda Delod Ceking.

Zaman berubah dan terus berproses. Kita tidak mungkin memutar jarum waktu. Namun peradaban perlu diingat dan dicatat untuk bahan refleksi bagi anak cucu kita kelak. Bahwa “kemajuan” hari ini adalah garis linieritas  dari trisemaya: atita (dulu), wartamana (kini), nagata (nanti).

Perjuangan yang harus dimenangkan oleh orang-orang Delod Ceking khususnya dan Orang Bali umumnya adalah hari ini lebih baik dari masa lalu. Masa depan lebih baik dari masa kini. Begitulah seyogyanya manfaat yang diraih desa-desa di Gumi Delod Ceking dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV dan Tower Seluler di Desa Adat Kutuh  yang menawarkan kejernihan informasi dan memerlukan kebeningan pikiran untuk menyerapnya. Salam hangat dari Gumi Delod Ceking! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Tags: desa adat kutuhDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minikino Film Week 10 Tahun 2024, Memberdayakan Komunitas Lokal Melalui Budaya Sinema

Next Post

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co