2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 6, 2024
in Esai
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 

Foto : Pemancar TVRI Bukit Bakung di Desa Adat Kutuh. Foto I Nyoman Tingkat

DESA Adat Kutuh adalah salah satu desa adat di Gumi Delod Ceking dari 9 desa adat yang berada di Kecamatan Kuta Selatan.Secara kedinasan, Desa Kutuh adalah salah satu desa dinas termuda dari 6 desa/kelurahan di Kecamatan Kuta Selatan. Berdiri sejak 12 Maret 2002, setelah sebelumnya selama 3 tahun menjadi Desa Persiapan bergabung dengan induknya, Desa Ungasan.

Bersyukurlah Desa Kutuh menjadi Desa Adat sekaligus sehingga otonomi di antara keduanya sebagai Purusa-Pradana disepakati sebagai mana layaknya suami istri sedapur, sekasur, sesumur bersama.

Itu berbeda dengan desa lian, seperti Kelurahan Benoa yang mengampu tiga desa adat yakni Bualu, Peminge, dan Kampial. Demikian pula dengan Kelurahan Tanjung Benoa, mengampu dua desa adat yakni Desa Adat Tanjung dan Tengkulung.

Desa Adat Tengkulung adalah desa adat baru sebagai pemekaran dari Desa Adat Tanjung. Istimewanya, Desa Adat Tengkulung terdiri atas satu banjar adat, yaitu Banjar Tengkulung sekaligus menjadi Desa Adat Tengkulung. Mirip secara penamaan, Desa Adat Bualu, selain menjadi nama banjar adat sekaligus menjadi nama Desa Adat Bualu, tetapi ditopang oleh 8 banjar adat, yakni Banjar Adat Bualu, Peken, Terora, Celuk, Penyarikan, Bale Kembar, Pande, dan Banjar Adat Mumbul. 

Kompleksitas kelurahan/desa dengan beberapa desa adat pastilah berbeda dengan kelurahan/desa dengan satu desa adat. Dengan analogi, purusa-pradana, kelurahan/desa dengan beberapa desa adat, ibarat laki-laki berpolygami. Pastilah tidak mudah mengelolanya. Mengurus yang satu saja susah, apalagi banyak. Kecuali istrinya baik hati tidak pencemburu dan suaminya adil dan beradab sedapur, sesumur, dan sekasur. Syuuuur.

Namun apa pun itu, Bali dengan dualisme desa itu secara kasat mata sejak dulu hingga kini terkesan  baik-baik saja. Kalau pun ada riak-riak kecil, itu adalah bumbu romantis untuk menemukan kesepakatan pada gelahang, mencari titik temu.

Kembali ke Desa Kutuh dengan Desa Adat Kutuh, patutlah  bersyukur di tengah kemajuan zaman bergerak telah menjadi pilihan tempat tower besar tinggi sejak awal Orde Baru.

Di desa ini, tercatat ada sejumlah tower Pemancar TVRI, SCTV, ANTV, Metro TV, dan Bali TV.  Selain itu, Tower Pemancar Seluler juga banyak, sehingga jaringan komunikasi tersambung baik, dengan pengecualian beberapa tempat yang blank spot. Makna tower pemancar itu bagi Desa Adat Kutuh berdimensi jamak. Di satu sisi negatif, di sisi lain positif.  

Makna negatif yang bertalian dengan kemandegan literasi.

Pertama, di tengah keterbelakangan dan kemiskinan pada awal Tower Pemancar TVRI Bukit Bakung berdiri (1977), Desa Adat Kutuh telah diproyeksikan menjadi terdepan dalam akses budaya visual (menonton TV). Pada awal  gempuran televisi itu, tingkat baca masyarakatnya masih rendah.

Lompatan budaya visual nyata-nyata menenggelamkan budaya membaca. Suguhan acara TV yang bervariasi  memanjakan penontonnya. Bersamaan dengan itu, penonton “gagal” mengambil pesan (amanat) tontonan yang dikelabui melalui gaya hidup hedonis metropolitan.  Akibatnya, akselerasi budaya menonton tak terkejar oleh budaya membaca yang menekankan kedalaman pemaknaan. Sebuah ironi dalam peringatan Hari Aksara Internasional 8 September tiap tahun.

Kedua, idealnya tawaran kemajuan itu menjernihkan kualitas informasi dan memperluas relasi secara humanis. Namun kemajuan yang mendahului zaman, membuat gagap budaya akibat ketidaksiapan akan perubahan yang cepat bahkan makin supercepat pada abad digital kini. Akar masalahnya, lagi-lagi kurangnya literasi.

Sisi positif  kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh bertalian dengan akses informasi yang cepat dan bervariasi.

Pertama, kehadiran tower pemancar TV dan Seluler yang terpusat di Desa Adat Kutuh memberikan kesempatan lebih luas dan lebih cepat bagi upaya  mengedukasi masyarakatnya melalui hiburan dan tayangan edukatif yang menjangkau segala usia melalui saluran kotak ajaib yang dapat dinikmati dalam kebersamaan guyub sosial kemasyarakatan.

Itu pada awalnya ketika masyarakatnya masih homogen berbondong-bondong menonton siaran TVRI dengan suguhan terfilter Orde Baru. Orang tua desa menerima begitu saja apa kata TVRI tanpa berpikir kritis. Masyarakat seakan  “dilarang” berpikir kritis dengan tunduk pada kotak ajaib.

Kedua, seiring bergeraknya zaman kemajuan dan arah angin politik yang menawarkan kebebasan mulai 1990-an bermuncullah Stasiun TV Swasta yang gencar mengkritisi program pemerintah. Berkah pun jatuh kembali ke Desa Adat Kutuh dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV Swasta.

Warga Desa Kutuh dapat menerima siaran TV secara variatif dari chanel ke chanel, padahal di kabupaten lain belum tentu terjangkau. Keterjangkauannya pun mesti dengan parabola yang hanya bisa dimiliki orang kaya perkotaan. Jadi, Desa Kutuh selangkah lebih maju mendapat tontonan dan tuntunan bila dimanfaatkan sebesar-besarnya sebagai pendidikan.

Begitulah, kehadiran Tower Pemancar TV di Desa Adat Kutuh mengakhiri masa romantisme bajang-bajang nembang sambil ngalih saang “gadis desa berlagu dendang sambil mencari kayu bakar”. Bersamaan dengan itu siaran Radio makin ditinggalkan. Padahal, sebelumnya Radio (terkenal: Menara, AR) menghadirkan hiburan dan request lagu bagi orang-orang Delod Ceking melalui kupon yang dibeli di Denpasar.

Pesan penyiar pun terngiang-ngiang hingga kini, “Koling-Koling adan tiangne”, begitulah Mbok Santi penyiar AR  melekat di hati pemuda kala itu, tak terkecuali bagi pemuda Delod Ceking.

Zaman berubah dan terus berproses. Kita tidak mungkin memutar jarum waktu. Namun peradaban perlu diingat dan dicatat untuk bahan refleksi bagi anak cucu kita kelak. Bahwa “kemajuan” hari ini adalah garis linieritas  dari trisemaya: atita (dulu), wartamana (kini), nagata (nanti).

Perjuangan yang harus dimenangkan oleh orang-orang Delod Ceking khususnya dan Orang Bali umumnya adalah hari ini lebih baik dari masa lalu. Masa depan lebih baik dari masa kini. Begitulah seyogyanya manfaat yang diraih desa-desa di Gumi Delod Ceking dengan makin banyaknya Tower Pemancar TV dan Tower Seluler di Desa Adat Kutuh  yang menawarkan kejernihan informasi dan memerlukan kebeningan pikiran untuk menyerapnya. Salam hangat dari Gumi Delod Ceking! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Tags: desa adat kutuhDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Minikino Film Week 10 Tahun 2024, Memberdayakan Komunitas Lokal Melalui Budaya Sinema

Next Post

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Kolaborasi ISI Denpasar dengan Dollina Charlotty Resort and Spa pada Program Magang MBKM di Polandia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co