24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
January 20, 2025
in Ulas Film
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?

The Salesman” by Asghar Farhadi (Forushande, 2016)

ADA dua teks yang saling menyerap dan memantulkan dalam film Forushande (2016, The Salesman) karya Asghar Farhadi. Pertama, Death of a Salesman karya Arthur Miller. Naskah tragedi dua babak ini pertama kali dimainkan di Broadway pada Februari 1949. Miller memenangkan Pulitzer Prize untuk naskah yang kemudian dianggap sebagai salah satu naskah drama terpenting abad ke-20 itu. Kedua, Gaav (Sapi), naskah drama karya Gholam-Hossein Saedi. Gaav difilmkan pada tahun 1969 dengan sutradara Dariush Mehrjui. Film ini mendapat banyak perhatian dan dianggap sebagai pelopor Gelombang Baru dalam sinema Iran.

Tokoh utama The Salesman adalah Emad (Shahab Hosseini); seorang guru sastra dan aktor panggung. Bersama istrinya, Rana (Taraneh Alidoosti), Emad terlibat dalam pertunjukan teater Death of a Salesman dengan sutradara Babak (Babak Karimi). Emad dan Rana memainkan peran utama, yakni pasangan Willy dan Linda Loman. Di tengah proses menuju pertunjukan Emad dan Rana harus pindah dari flat mereka karena pihak pengembang hendak membongkar flat itu. Babak menawarkan mereka pindah ke sebuah flat yang dikelolanya. Hanya saja di flat tempat Emad dan Rana akan tinggal masih ada sisa-sisa barang penghuni sebelumnya, seorang perempuan yang memiliki anak. 

Suatu malam, seusai latihan, Rana pulang lebih dulu sebab Emad harus menjelaskan kepada pengawas dari pihak pemerintah perihal beberapa adegan dalam pertunjukan yang akan mereka mainkan. Ketika Rana hendak mandi, bel berbunyi. Tanpa memeriksa siapa yang datang, ia membuka pintu dan segera masuk kembali ke kamar mandi. Kita tidak melihat siapa yang datang, yang kita tahu adalah ketika Emad pulang ia menemukan jejak darah di tangga, pintu yang terbuka, serta keterkejutannya ketika ia memasuki kamar mandi.

Rana sudah berada di rumah sakit, ia dibawa oleh para tetangga. Rupanya seorang asing telah masuk ke apartemen mereka dan menyerang Rana di kamar mandi.

Peristiwa penyerangan itu adalah inti cerita, hal yang mengubah Emad dari sosok penuh empati menjadi sosok dingin yang penuh dendam dan amarah. Asghar Farhadi menjadikan perubahan pada diri Emad sebagai motif yang diserap dari perubahan sosok Hassan dalam Gaav. Dalam Gaav, sosok Hassan yang kehilangan sapinya berangsur-angsur “berubah” menjadi sapi. Tanda hubungan interteks itu muncul dalam satu adegan awal di kelas sastra, yang diampu Emad, ketika seorang siswa bertanya: “Bagaimana orang bisa berubah menjadi sapi?” Dengan bercanda seorang siswa lain menjawab: “Lihat dirimu sendiri.” Seisi kelas tertawa. Akan tetapi, pertanyaan kemudian diulang, dengan lebih serius. Akhirnya, setelah berpikir sejenak, Emad menjawab: “Secara berangsur-angsur…” Siswa tadi bertanya perihal sapi karena saat itu mereka sedang membahas Gaav.

Meski hampir dua per tiga durasi Forushande berkisar pada pertanyaan siapa penyerang Rana, tapi pertanyaan itu tidak memusar jadi pokok cerita sebab selain perkembangan situasi mental dalam hubungan Emad dan Rana digarap dengan tebal, sosok si penyerang juga segera diketahui menjelang akhir film tanpa ada maksud menyimpan misterinya secara dramatis. Forushande menghindari tipikal film misteri dan berangsur-angsur bergeser menjadi drama moral. Perubahan mental Emad adalah fokus yang disembunyikan di balik misteri si penyerang.

Kita dapat melihat kesamaan antara Emad dan Hassan dalam Gaav. Hubungan Hassan dengan sapinya demikian dalam; sapi itu adalah belahan jiwanya; dalam diri Hassan terkandung sosok si sapi, sehingga ketika sapinya menghilang Hassan mewujudkan kembali sosok sapi dalam dirinya, meski dengan risiko membunuh dirinya sendiri. Hubungan Emad dengan Rana sebagai suami istri juga sangat dalam; Rana adalah belahan jiwa Emad; dalam diri Emad terkandung sosok Rana, sehingga ketika Rana mengalami trauma akibat penyerangan, Emad mengekspresikan amarah dan dendam Rana kepada si penyerang. Bedanya: hubungan Hassan dan sapinya adalah hubungan satu arah, sebab sapinya sudah mati. Sementara hubungan Emad dan Rana berlangsung dua arah. Artinya, ketika Emad berubah, Rana pun begitu. Dengan arah sebaliknya, Rana pada akhirnya malah berempati pada si penyerang, yang kemudian menimbulkan konflik terbalik. Dengan begitu, Forushande telah mengembangkan motif perubahan dalam Gaav ke situasi yang lebih kompleks.

Meski begitu, kompleksitas Forushande bukan terletak pada kisahannya, melainkan pada kerja intertekstualnya. Dalam pertunjukan Death of a Salesman di film ini, Emad berperan sebagai Willy Loman, karakter yang berbeda dengan karakter Emad di luar panggung teater. Willy seorang pedagang keliling yang punya obsesi muluk-muluk akan kesuksesan. Ia juga kerap berselingkuh dan dicekam perasaan bersalah atas perselingkuhannya. Sementara Emad hampir tak kelihatan punya obsesi kesuksesan. Ia cuma seorang guru sastra yang disukai siswa-siswanya, dan aktor di sebuah kelompok teater kecil. Tak ada tanda-tanda ia gemar berselingkuh. Adapun sosok yang karakternya seperti Willy Loman justru adalah si penyerang. Orang ini juga adalah pedagang keliling. Meski tidak tampak punya obsesi kesuksesan, seperti Willy ia juga berselingkuh. Ia menyerang Rana sebetulnya karena ia menyangka bahwa perempuan selingkuhannya masih tinggal di flat itu. Ia bahkan meninggalkan sejumlah uang setelah penyerangan itu, seakan-akan ia baru saja membayar seorang pelacur. Dengan situasi seperti itu, alhasil di panggung teater Emad seperti bertarung dengan karakter yang diperankannya, sebab di luar panggung ia berhadap-hadapan dengan si penyerang. Di dalam dirinya, sebagai aktor, terkandung sosok Willy Loman, sebagaimana di dalam dirinya terkandung sosok Rana dalam kehidupan di luar panggung. Dua sosok yang terserap dalam diri Emad di dalam dan di luar panggung itu juga bisa disebut bentuk yang lebih kompleks dari yang dialami Hassan dalam Gaav.

Melalui Forushande Asghar Farhadi menghadap-hadapkan Gaav dengan Death of a Salesman; menghadap-hadapkan Gholam-Hossein Saedi dengan Arthur Miller; menghadap-hadapkan sastra dengan teater; menghadap-hadapkan Timur dengan Barat, dan semuanya saling menyerap dan memantulkan sehingga melahirkan karakter kompleks yang berlapis-lapis, yang dalam konteks media tak lain dan tak bukan mewujud dalam bentuk film.

Jika teater menyerap sastra ke panggung, maka film sekaligus menyerap keduanya. Dalam film Forushande terkandung teater Miller dan sastra Saedi.  Dengan begitu, Forushande hadir sebagai “film perbandingan”; suatu kritik yang meninjau kembali lapisan-lapisan kenyataan dalam sastra, teater, film, dan karenanya: dunia sehari-hari.

Di luar kepengrajinan itu, Forushande masih menghadirkan kritik terhadap otoritas formal melalui adanya lembaga pengawas dari pemerintah yang paranoid dan merasa perlu mengamat-amati pertunjukan teater sehingga menyebabkan Emad harus pulang terlambat; juga melalui ketidakpercayaan Rana terhadap polisi sehingga ia enggan melaporkan kasus penyerangan terhadap dirinya dan mengakibatkan hadirnya otoritas semu dalam diri suaminya.

Dibanding film-film Ashgar sebelumnya, Forushande terbilang minim ambiguitas. Konflik tidak cukup menyebar, meski konflik utamanya berupaya diperdalam. Asghar Farhadi jelas menyerap film Hollywood (drama rumah tangga, thriller balas dendam), sebagaimana studi Asghar terhadap teater barat, sehingga oleh Peter Bradshaw Forushande disebut sebagai film Asghar yang paling pro-Amerika.

Forushande memang tak sejelas Cache (Hidden, Michael Haneke, 2005) yang juga mengandung drama misteri sebagai film “anti-Hollywood”. Karya Haneke tersebut tak peduli pada aspek terungkapnya pelaku, sementara Forushande masih mengungkap si pelaku. Obsesi Asghar terhadap ambiguitas kali ini membuatnya memilih sosok orang tua sakit jantung sebagai si penyerang. Pilihan yang membuat cerita jadi tidak meyakinkan. Sebab selain adanya aspek fisik, sungguh aneh laki-laki itu mau datang kembali ke tempat di mana ia pernah melakukan penyerangan.

Namun, jika saya mengingat bagaimana kecenderungan Asghar pada rinci dan detail tersembunyi, saya jadi ragu-ragu, saya mulai membayangkan “fakta” bahwa si penyerang yang diketahui itu bukanlah pelaku sesungguhnya, atau setidaknya ia tidak bertindak sendirian. Memang ada sejumlah bukti yang mengarah kepada orang itu, tapi ada pula sejumlah bukti lain yang justru membuat situasi jadi kurang masuk akal. Pertama, secara fisik orang itu sudah tua dan punya penyakit jantung. Kedua, ia tak menolak ketika diminta datang ke apartemen yang tak lama sebelumnya ia datangi untuk menyerang penghuninya. Ia diminta datang ke apartemen oleh menantunya sebagai tukang angkut barang pindahan menggantikan si menantu. Ketiga, perempuan penghuni sebelumnya ditengarai sebagai pelacur yang tentu punya banyak klien. Keempat, mobil yang dipakai orang itu juga kerap dipakai orang lain. Dan yang terakhir, semua pengakuannya diucapkan di bawah tekanan Emad. Ingat: di bawah tekanan orang akan cenderung berbohong. Satu-satunya yang ditakuti oleh orang itu adalah perselingkuhannya diketahui oleh istrinya, dan itulah inti ancaman Emad terhadapnya. Ia diminta oleh Emad mengakui perselingkuhannya dengan perempuan penghuni flat yang tak pernah sekalipun muncul di layar itu.

Saya jadi ragu bahwa Asghar mengabaikan rinci itu lantas membuat kisahannya jadi mengada-ada. Saya ragu seorang sutradara yang demikian teliti terhadap hal-hal kecil luput pada kemungkinan itu. Dalam A Separation misalnya, Asghar Farhadi meletakkan buku karangan sutradara Ali Hatami di jajaran buku dalam rak hanya untuk membuat Leila Hatami, aktris dalam film itu, merasa berada di rumahnya sendiri. Ali adalah ayah kandung Leila. Cobalah tengok juga rinci dalam The Past dan ajukan pertanyaan siapa yang membuat noda di pakaian pelanggan binatu milik Samir dan memicu pertengkaran antara istri Samir dengan si pelanggan. Tak akan ada jawaban yang pasti, tapi barang siapa mengamat-amati dengan teliti adegan sebelumnya pasti akan meyakini sebuah jawaban. Barangkali tak banyak penonton yang akan memperhatikan rinci tak kasat mata itu, tapi Asghar tak peduli. Ia pernah berkata dalam sebuah wawancara bahwa dirinya adalah orang yang paling banyak menonton filmnya sendiri dibanding penonton mana pun. Maka, bila ia tak peduli penonton tahu atau tidak pada rinci itu, ia juga tidak akan peduli apakah penonton terpikir atau tidak pada kemungkinan bahwa orang yang disangka pelaku penyerangan itu bukanlah pelaku penyerangan sebenarnya, meski tak diragukan ia terlibat dengan perempuan pelacur itu.

Namun, keragu-raguan saya juga bukannya tanpa masalah. Semua kelemahan yang ditunjukkan orang tua itu barangkali telah mempengaruhi cara saya menilai. Saya telah mengabaikan kemungkinan adanya sifat kejam dalam diri seorang tua yang penyakitan.

Film Amerika (baca: Hollywood) umumnya tak akan membiarkan penonton kehilangan informasi cerita, sementara film-film Asghar bisa menghadirkan informasi yang tidak benar; suatu “kebohongan” yang bukan bermaksud menipu penonton, melainkan untuk menyodorkan situasi yang belum tentu bisa diuraikan dengan jelas dari karakter-karakternya saat mereka berusaha bertahan dari tekanan otoritas. Jika karakter-karakter film menghadirkan situasi seperti itu, maka film itu sendiri bergerak dalam kisahan yang belum tentu bisa diuraikan dengan jelas. Akibatnya, kisahan itu seakan-akan bermaksud menyembunyikan informasi yang sebenarnya.      Dengan semua itu, Asghar sebetulnya bersikap “politis” terhadap estetika Hollywood; mengambil kerangkanya lalu membersihkannya dari sifat-sifat histeria dan serba jelasnya. Asghar mengambil risiko yang berbeda dari Haneke. Bila Haneke tak berkompromi dengan estetika Hollywood, Asghar sebaliknya. Akan tetapi, di balik kompromi itu kita bisa mengendus suatu “tindakan politis”, yang dalam pembicaraan lebih luas bisa kita lihat sebagai strategi film Iran untuk bisa menembus khazanah sinema dunia yang pusat industrinya sampai saat ini masih berada di Amerika Serikat. [T]

Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Parade Puisi Brutal dari Tierra del Fuego
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: filmFilm Iranresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Green PR” : Strategi Branding Kontemporer yang  Ramah Lingkungan

Next Post

Siswa SDN 7 Jimbaran Menikmati Sarapan di Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali: Ini Momen Berbagi yang Kreatif

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Siswa SDN 7 Jimbaran Menikmati Sarapan di Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali: Ini Momen Berbagi yang Kreatif

Siswa SDN 7 Jimbaran Menikmati Sarapan di Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali: Ini Momen Berbagi yang Kreatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co