16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
January 20, 2025
in Ulas Film
“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?

The Salesman” by Asghar Farhadi (Forushande, 2016)

ADA dua teks yang saling menyerap dan memantulkan dalam film Forushande (2016, The Salesman) karya Asghar Farhadi. Pertama, Death of a Salesman karya Arthur Miller. Naskah tragedi dua babak ini pertama kali dimainkan di Broadway pada Februari 1949. Miller memenangkan Pulitzer Prize untuk naskah yang kemudian dianggap sebagai salah satu naskah drama terpenting abad ke-20 itu. Kedua, Gaav (Sapi), naskah drama karya Gholam-Hossein Saedi. Gaav difilmkan pada tahun 1969 dengan sutradara Dariush Mehrjui. Film ini mendapat banyak perhatian dan dianggap sebagai pelopor Gelombang Baru dalam sinema Iran.

Tokoh utama The Salesman adalah Emad (Shahab Hosseini); seorang guru sastra dan aktor panggung. Bersama istrinya, Rana (Taraneh Alidoosti), Emad terlibat dalam pertunjukan teater Death of a Salesman dengan sutradara Babak (Babak Karimi). Emad dan Rana memainkan peran utama, yakni pasangan Willy dan Linda Loman. Di tengah proses menuju pertunjukan Emad dan Rana harus pindah dari flat mereka karena pihak pengembang hendak membongkar flat itu. Babak menawarkan mereka pindah ke sebuah flat yang dikelolanya. Hanya saja di flat tempat Emad dan Rana akan tinggal masih ada sisa-sisa barang penghuni sebelumnya, seorang perempuan yang memiliki anak. 

Suatu malam, seusai latihan, Rana pulang lebih dulu sebab Emad harus menjelaskan kepada pengawas dari pihak pemerintah perihal beberapa adegan dalam pertunjukan yang akan mereka mainkan. Ketika Rana hendak mandi, bel berbunyi. Tanpa memeriksa siapa yang datang, ia membuka pintu dan segera masuk kembali ke kamar mandi. Kita tidak melihat siapa yang datang, yang kita tahu adalah ketika Emad pulang ia menemukan jejak darah di tangga, pintu yang terbuka, serta keterkejutannya ketika ia memasuki kamar mandi.

Rana sudah berada di rumah sakit, ia dibawa oleh para tetangga. Rupanya seorang asing telah masuk ke apartemen mereka dan menyerang Rana di kamar mandi.

Peristiwa penyerangan itu adalah inti cerita, hal yang mengubah Emad dari sosok penuh empati menjadi sosok dingin yang penuh dendam dan amarah. Asghar Farhadi menjadikan perubahan pada diri Emad sebagai motif yang diserap dari perubahan sosok Hassan dalam Gaav. Dalam Gaav, sosok Hassan yang kehilangan sapinya berangsur-angsur “berubah” menjadi sapi. Tanda hubungan interteks itu muncul dalam satu adegan awal di kelas sastra, yang diampu Emad, ketika seorang siswa bertanya: “Bagaimana orang bisa berubah menjadi sapi?” Dengan bercanda seorang siswa lain menjawab: “Lihat dirimu sendiri.” Seisi kelas tertawa. Akan tetapi, pertanyaan kemudian diulang, dengan lebih serius. Akhirnya, setelah berpikir sejenak, Emad menjawab: “Secara berangsur-angsur…” Siswa tadi bertanya perihal sapi karena saat itu mereka sedang membahas Gaav.

Meski hampir dua per tiga durasi Forushande berkisar pada pertanyaan siapa penyerang Rana, tapi pertanyaan itu tidak memusar jadi pokok cerita sebab selain perkembangan situasi mental dalam hubungan Emad dan Rana digarap dengan tebal, sosok si penyerang juga segera diketahui menjelang akhir film tanpa ada maksud menyimpan misterinya secara dramatis. Forushande menghindari tipikal film misteri dan berangsur-angsur bergeser menjadi drama moral. Perubahan mental Emad adalah fokus yang disembunyikan di balik misteri si penyerang.

Kita dapat melihat kesamaan antara Emad dan Hassan dalam Gaav. Hubungan Hassan dengan sapinya demikian dalam; sapi itu adalah belahan jiwanya; dalam diri Hassan terkandung sosok si sapi, sehingga ketika sapinya menghilang Hassan mewujudkan kembali sosok sapi dalam dirinya, meski dengan risiko membunuh dirinya sendiri. Hubungan Emad dengan Rana sebagai suami istri juga sangat dalam; Rana adalah belahan jiwa Emad; dalam diri Emad terkandung sosok Rana, sehingga ketika Rana mengalami trauma akibat penyerangan, Emad mengekspresikan amarah dan dendam Rana kepada si penyerang. Bedanya: hubungan Hassan dan sapinya adalah hubungan satu arah, sebab sapinya sudah mati. Sementara hubungan Emad dan Rana berlangsung dua arah. Artinya, ketika Emad berubah, Rana pun begitu. Dengan arah sebaliknya, Rana pada akhirnya malah berempati pada si penyerang, yang kemudian menimbulkan konflik terbalik. Dengan begitu, Forushande telah mengembangkan motif perubahan dalam Gaav ke situasi yang lebih kompleks.

Meski begitu, kompleksitas Forushande bukan terletak pada kisahannya, melainkan pada kerja intertekstualnya. Dalam pertunjukan Death of a Salesman di film ini, Emad berperan sebagai Willy Loman, karakter yang berbeda dengan karakter Emad di luar panggung teater. Willy seorang pedagang keliling yang punya obsesi muluk-muluk akan kesuksesan. Ia juga kerap berselingkuh dan dicekam perasaan bersalah atas perselingkuhannya. Sementara Emad hampir tak kelihatan punya obsesi kesuksesan. Ia cuma seorang guru sastra yang disukai siswa-siswanya, dan aktor di sebuah kelompok teater kecil. Tak ada tanda-tanda ia gemar berselingkuh. Adapun sosok yang karakternya seperti Willy Loman justru adalah si penyerang. Orang ini juga adalah pedagang keliling. Meski tidak tampak punya obsesi kesuksesan, seperti Willy ia juga berselingkuh. Ia menyerang Rana sebetulnya karena ia menyangka bahwa perempuan selingkuhannya masih tinggal di flat itu. Ia bahkan meninggalkan sejumlah uang setelah penyerangan itu, seakan-akan ia baru saja membayar seorang pelacur. Dengan situasi seperti itu, alhasil di panggung teater Emad seperti bertarung dengan karakter yang diperankannya, sebab di luar panggung ia berhadap-hadapan dengan si penyerang. Di dalam dirinya, sebagai aktor, terkandung sosok Willy Loman, sebagaimana di dalam dirinya terkandung sosok Rana dalam kehidupan di luar panggung. Dua sosok yang terserap dalam diri Emad di dalam dan di luar panggung itu juga bisa disebut bentuk yang lebih kompleks dari yang dialami Hassan dalam Gaav.

Melalui Forushande Asghar Farhadi menghadap-hadapkan Gaav dengan Death of a Salesman; menghadap-hadapkan Gholam-Hossein Saedi dengan Arthur Miller; menghadap-hadapkan sastra dengan teater; menghadap-hadapkan Timur dengan Barat, dan semuanya saling menyerap dan memantulkan sehingga melahirkan karakter kompleks yang berlapis-lapis, yang dalam konteks media tak lain dan tak bukan mewujud dalam bentuk film.

Jika teater menyerap sastra ke panggung, maka film sekaligus menyerap keduanya. Dalam film Forushande terkandung teater Miller dan sastra Saedi.  Dengan begitu, Forushande hadir sebagai “film perbandingan”; suatu kritik yang meninjau kembali lapisan-lapisan kenyataan dalam sastra, teater, film, dan karenanya: dunia sehari-hari.

Di luar kepengrajinan itu, Forushande masih menghadirkan kritik terhadap otoritas formal melalui adanya lembaga pengawas dari pemerintah yang paranoid dan merasa perlu mengamat-amati pertunjukan teater sehingga menyebabkan Emad harus pulang terlambat; juga melalui ketidakpercayaan Rana terhadap polisi sehingga ia enggan melaporkan kasus penyerangan terhadap dirinya dan mengakibatkan hadirnya otoritas semu dalam diri suaminya.

Dibanding film-film Ashgar sebelumnya, Forushande terbilang minim ambiguitas. Konflik tidak cukup menyebar, meski konflik utamanya berupaya diperdalam. Asghar Farhadi jelas menyerap film Hollywood (drama rumah tangga, thriller balas dendam), sebagaimana studi Asghar terhadap teater barat, sehingga oleh Peter Bradshaw Forushande disebut sebagai film Asghar yang paling pro-Amerika.

Forushande memang tak sejelas Cache (Hidden, Michael Haneke, 2005) yang juga mengandung drama misteri sebagai film “anti-Hollywood”. Karya Haneke tersebut tak peduli pada aspek terungkapnya pelaku, sementara Forushande masih mengungkap si pelaku. Obsesi Asghar terhadap ambiguitas kali ini membuatnya memilih sosok orang tua sakit jantung sebagai si penyerang. Pilihan yang membuat cerita jadi tidak meyakinkan. Sebab selain adanya aspek fisik, sungguh aneh laki-laki itu mau datang kembali ke tempat di mana ia pernah melakukan penyerangan.

Namun, jika saya mengingat bagaimana kecenderungan Asghar pada rinci dan detail tersembunyi, saya jadi ragu-ragu, saya mulai membayangkan “fakta” bahwa si penyerang yang diketahui itu bukanlah pelaku sesungguhnya, atau setidaknya ia tidak bertindak sendirian. Memang ada sejumlah bukti yang mengarah kepada orang itu, tapi ada pula sejumlah bukti lain yang justru membuat situasi jadi kurang masuk akal. Pertama, secara fisik orang itu sudah tua dan punya penyakit jantung. Kedua, ia tak menolak ketika diminta datang ke apartemen yang tak lama sebelumnya ia datangi untuk menyerang penghuninya. Ia diminta datang ke apartemen oleh menantunya sebagai tukang angkut barang pindahan menggantikan si menantu. Ketiga, perempuan penghuni sebelumnya ditengarai sebagai pelacur yang tentu punya banyak klien. Keempat, mobil yang dipakai orang itu juga kerap dipakai orang lain. Dan yang terakhir, semua pengakuannya diucapkan di bawah tekanan Emad. Ingat: di bawah tekanan orang akan cenderung berbohong. Satu-satunya yang ditakuti oleh orang itu adalah perselingkuhannya diketahui oleh istrinya, dan itulah inti ancaman Emad terhadapnya. Ia diminta oleh Emad mengakui perselingkuhannya dengan perempuan penghuni flat yang tak pernah sekalipun muncul di layar itu.

Saya jadi ragu bahwa Asghar mengabaikan rinci itu lantas membuat kisahannya jadi mengada-ada. Saya ragu seorang sutradara yang demikian teliti terhadap hal-hal kecil luput pada kemungkinan itu. Dalam A Separation misalnya, Asghar Farhadi meletakkan buku karangan sutradara Ali Hatami di jajaran buku dalam rak hanya untuk membuat Leila Hatami, aktris dalam film itu, merasa berada di rumahnya sendiri. Ali adalah ayah kandung Leila. Cobalah tengok juga rinci dalam The Past dan ajukan pertanyaan siapa yang membuat noda di pakaian pelanggan binatu milik Samir dan memicu pertengkaran antara istri Samir dengan si pelanggan. Tak akan ada jawaban yang pasti, tapi barang siapa mengamat-amati dengan teliti adegan sebelumnya pasti akan meyakini sebuah jawaban. Barangkali tak banyak penonton yang akan memperhatikan rinci tak kasat mata itu, tapi Asghar tak peduli. Ia pernah berkata dalam sebuah wawancara bahwa dirinya adalah orang yang paling banyak menonton filmnya sendiri dibanding penonton mana pun. Maka, bila ia tak peduli penonton tahu atau tidak pada rinci itu, ia juga tidak akan peduli apakah penonton terpikir atau tidak pada kemungkinan bahwa orang yang disangka pelaku penyerangan itu bukanlah pelaku penyerangan sebenarnya, meski tak diragukan ia terlibat dengan perempuan pelacur itu.

Namun, keragu-raguan saya juga bukannya tanpa masalah. Semua kelemahan yang ditunjukkan orang tua itu barangkali telah mempengaruhi cara saya menilai. Saya telah mengabaikan kemungkinan adanya sifat kejam dalam diri seorang tua yang penyakitan.

Film Amerika (baca: Hollywood) umumnya tak akan membiarkan penonton kehilangan informasi cerita, sementara film-film Asghar bisa menghadirkan informasi yang tidak benar; suatu “kebohongan” yang bukan bermaksud menipu penonton, melainkan untuk menyodorkan situasi yang belum tentu bisa diuraikan dengan jelas dari karakter-karakternya saat mereka berusaha bertahan dari tekanan otoritas. Jika karakter-karakter film menghadirkan situasi seperti itu, maka film itu sendiri bergerak dalam kisahan yang belum tentu bisa diuraikan dengan jelas. Akibatnya, kisahan itu seakan-akan bermaksud menyembunyikan informasi yang sebenarnya.      Dengan semua itu, Asghar sebetulnya bersikap “politis” terhadap estetika Hollywood; mengambil kerangkanya lalu membersihkannya dari sifat-sifat histeria dan serba jelasnya. Asghar mengambil risiko yang berbeda dari Haneke. Bila Haneke tak berkompromi dengan estetika Hollywood, Asghar sebaliknya. Akan tetapi, di balik kompromi itu kita bisa mengendus suatu “tindakan politis”, yang dalam pembicaraan lebih luas bisa kita lihat sebagai strategi film Iran untuk bisa menembus khazanah sinema dunia yang pusat industrinya sampai saat ini masih berada di Amerika Serikat. [T]

Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Parade Puisi Brutal dari Tierra del Fuego
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: filmFilm Iranresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Green PR” : Strategi Branding Kontemporer yang  Ramah Lingkungan

Next Post

Siswa SDN 7 Jimbaran Menikmati Sarapan di Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali: Ini Momen Berbagi yang Kreatif

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Siswa SDN 7 Jimbaran Menikmati Sarapan di Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali: Ini Momen Berbagi yang Kreatif

Siswa SDN 7 Jimbaran Menikmati Sarapan di Movenpick Resort & Spa Jimbaran Bali: Ini Momen Berbagi yang Kreatif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co