4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lukas dan Tuk Kecil yang Baik Hati | Dongeng dari Papua

Gody Usnaat by Gody Usnaat
December 8, 2024
in Dongeng
Lukas dan Tuk Kecil yang Baik Hati | Dongeng dari Papua

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

SEBUAH kampung dengan lima puluh rumah, dan kampung itu dipagari gunung-gunung batu.

Rumah-rumah itu berdinding kulit kayu, beratap daun sagu dan berlantai belahan kayu yang diikat dengan tali rotan. Rumah-rumah itu, berdiri melingkari bangunan sekolah.

Sekolah itu punya 90 murid; pada tahun-tahun awal—banyak guru yang datang dan betah tinggal di sana: mereka ajar anak-anak menulis, membaca dan berhitung.

Namun pada suatu waktu guru-guru pergi dan tak ada yang pulang. Mereka memang bertugas di sekolah, tapi  tak ada guru yang betah tinggal—mereka seperti kelelawar yang hanya datang saat tiba musim buah.

Pada suatu saat, seorang ibu guru datang ke kampung itu. Ia datang dan anak-anak membuat pertanyaan saat masuk ke kelas di hari pertama: “Ibu guru, berapa lama tinggal dan mengajar di sini?”

“Saya akan tinggal bersama kalian, selama dua semester,” jawab ibu guru.

Sebab sudah berkali-kali ditipu, anak-anak tak percaya dengan jawaban ibu guru.

Ibu guru itu datang pertama kali, pada suatu sore dan selain membawa bahan makanan yang dipikul lima orangtua murid. Mereka menempuh perjalanan selama sembilan jam. Begitu tiba di kampung—hujan deras mengguyur kampung.

Begitulah selalu terjadi di kampung ini: setiap tamu yang datang, akan datang hujan beberapa jam. Ini pertanda bahwa tamu yang datang itu diterima oleh tanah, pohon dan udara.

Selain bahan makanan ibu guru  juga  membawa satu buah buku dongeng. Buku dongeng H.C Andersen: di sampul buku itu ada tulisan: Buku Kumpulan Dongeng Andersen. Ibu guru selalu membawa buku ini ke mana-mana. Ia membawanya ke dapur, ia membawanya ke kali, ia membawanya ke kamar tidur: dan saat tidur, ia selalu memeluk buku itu.

Ibu guru punya satu kebiasaan baik lain: ia membacakan cerita-cerita itu kepada anak-anak. Anak-anak senang dengar cerita-cerita Andersen; sambil dengar—mereka membayangkan itik yang buruk rupa itu atau tuk kecil yang baik,  juga seorang gadis dan korek api.

Sudah dua semester ibu guru tinggal dan mengajar anak-anak. Ia tak pernah pulang ke kota untuk libur atau membeli makanan saat ia kehabisan makanan—saat itulah ia dibantu oleh anak-anak menyediakan kepadanya makanan lokal: sagu, petatas, keladi dan buah merah. Ia makan apa yang diberikan anak-anak dan orangtua murid: ia makan sagu bakar, ia makan papeda, ia makan pisang rebus.  

Suatu sore, ibu guru kumpulkan anak-anak. Ia hendak mengatakan sesuatu—yah, ia hendak pindah tugas. Anak-anak melarang.

“Sebab ini perintah kepala dinas pendidikan, ibu guru mesti pergi,” kata ibu guru.

Ia pergi—tapi ia tinggalkan buku dongeng itu dengan pesan kepada Lukas. “Lukas, tolong jaga baik ini buku. Saat tidur—Lukas harus peluk buku ini!”

Lukas mengangguk dan tak terasa air mata jatuh. Ibu guru peluk Lukas. Satu persatu, anak-anak datang ucapkan salam perpisahan dengan ibu guru. Orang tua antar ibu guru ke ibu kota distrik. Di sana, sebuah mobil membawa ibu guru pergi ke tempat tugas baru.

Sejak kepergian ibu guru, Lukas-lah yang menjadi guru bagi teman-temannya dan juga bagi adik-adik kelas.

Malam pertama, Lukas peluk buku itu dan Lukas dapat mimpi; ia bertemu gadis kecil penjual korek api. Mereka dua bercerita banyak tentang negara Denmark, tentang dingin salju, tentang pohon natal, tentang korek api.

Lukas kini tahu; kenapa ibu guru bilang, kalau dia tidur, ia wajib peluk ini buku.

Namun sesuatu terjadi pada suatu malam, di luar rumah Lukas seekor tikus jalan keliling rumah—sesekali ia melihat jangan sampai saat tidur Lukas lepas buku. Si tikus ini berencana—ia hendak membawa lari itu buku ke hutan dan sembunyi di lubang batu.

Nah, suatu malam karena Lukas pulang dari kebun dan ia cape, ia langsung tidur tanpa memeluk buku dongeng itu. Tikus itu pun datang lalu membawa buku itu. Di sarang tikus itu—buku itu disimpan berbulan-bulan.

Buku itu mulai memudar dan sebagian besar kertasnya sobek tetapi halaman yang berkisah tentang Tuk Kecil yang baik hati itu tak pernah luntur tintanya, atau pun sobek kertasnya. Tikus heran kenapa bisa terjadi; ia  lalu mengundang rayap untuk datang dan makan kertas itu tapi rombongan rayap tak kuat untuk memotong kertas itu dengan gigi mereka yang tajam.

Suatu saat, seekor burung pembawa kabar datang dan hinggap di salah satu dahan matoa dekat rumah Lukas. Burung itu mengabarkan bahwa buku itu telah lama dibawa oleh seekor tikus. Burung pembawa kabar itu siap untuk membantu Lukas memberi tahu alamat dan ia nekat untuk membawa pulang buku itu.

Lukas dan burung pembawa kabar berjalan selama enam hari. Mereka menemukan rumah tikus,  tapi bagaimana mau masuk?

Pintu rumah itu sangat kecil. Burung pembawa kabar pergi bertemu dengan ratu semut. Ia meminta bantuannya agar mereka bisa masuk ke sana. Permintaan mereka direstui oleh ratu semut, Lukas dan burung pembawa kabar diberikan sebuah ranting gaharu.

Ranting itulah sebagai kunci rumah. Dengan ranting itu, Lukas mengetuk batu dan terbukalah pintu rumah. Waktu itu, tikus sedang  pergi dan ini adalah kesempatan baik untuk membawa pulang buku dongeng Andersen. Tentu saja, mereka hanya membawa sisa-sisa buku itu: kisah Tuk Kecil yang Baik Hati.

Kisah itu dibawa Lukas pulang sampai di kampung. Di sana setiap malam kisah itu seolah hidup dalam satu layar: anak-anak dapat bertanya jawab dengan Tuk Kecil. Mereka pun diajarkan menulis dan membaca juga berhitung. Orang tua para murid heran—kenapa anak-anak mereka pandai membaca dan berhitung dan menulis.

Hingga suatu hari Lukas mengatakan bahwa ada seorang guru, ia bernama Tuk. Guru itulah yang mengajari mereka layaknya seorang guru.[T]

  • KLIK untuk BACA dongeng lainnya
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri
Aya, Seekor Anak Buaya Tak Lagi Makan Daging

Tags: dongeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyanyian Kehilangan dari Sonia | Ulasan Buku Puisi “Prihentemen”

Next Post

Ucapan yang Tepat untuk Seseorang yang Memasuki Purnabakti

Gody Usnaat

Gody Usnaat

Penyair tinggal Umuaf, Papua. Salah satu buku puisi "Mama Mengayam Noken"

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Ucapan yang Tepat untuk Seseorang yang Memasuki Purnabakti

Ucapan yang Tepat untuk Seseorang yang Memasuki Purnabakti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co