24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Wayan Purne by Wayan Purne
October 30, 2021
in Dongeng
Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Gambar disusun di canva

Di bukit Nirwana, hidup berbagai jenis tumbuhan. Ketika waktunya musim berbunga, tumbuh-tumbuhan itu memancarkan semerbak keharuman dan warna-warni bunga bermekaran. Musim berbunga di bukit itu menjadi kebahagiaan bagi serangga-serangga pemakan nektar.

Ada satu kupu-kupu penyendiri bernama Kupa suka menikamti nektar dari bunga-bunga bermekaran di bukit itu. Bahkan, para lebah sangat senang bisa menikmati nektar. Mereka pun sebagai serangga penikmat nektar berpesta ria merayakan musim bunga-bunga tumbuhan bermekaran di bukit itu.

Akan tetapi, di bukit Nirwana tidak ada lagi semerbak harumnya bunga bermekaran. Tumbuh-tumbuhan hanya memperlihatkan daun-daunnya yang bolong-bolong. Semua itu terjadi semenjak para ulat memakan daun-daun yang masih hijau. Di setiap daun, ada ulat-ulat kelaparan. Apa lagi, daun-daun tumbuhan di bukit Nirwana dirasakan nikmat oleh para ulat.

Para lebah dan serangga lainnya pindah dari bukit Nirwana. Mereka pergi mencari tempat baru. Tempat yang banyak ditumbuhi tumbuhan berbunga yang banyak menyimpat nektar. Di bukit Nirwana, tidak ada lagi serangga pencari nektar, tetapi hanya ada Kupa yang ada di bukit itu. Kupa adalah kupu-kupu menyendiri satu-satunya yang ada di bukit itu.

Kupa tidak sanggup mencari tempat yang lain. Ia merasa di bukit Nirwana menjadi tempat yang aman sebagai kupu-kupu penyendiri. Jika pergi jauh dari bukit Nirwana, ia takut dimangsa oleh bangsa burung. “Aku harus tetap bertahan di tempat ini,” gumam Kupa.

Kupa terbang mengelilingi bukit Nirwana. Ia tidak melihat ada satupun tumbuhan yang berbunga. Terlihat ulat-ulat hinggap di setiap daun tumbuhan yang ada di bukit itu.

“Benar-benar tidak ada tumbuhan yang berbunga,” ucap Kupa menggerutu.

Kupa terus mengepakkan sayap terbang tanpa henti yang terlihat semakin marah, “Aku harus mencari pemimpin dari ulat-ulat ini. Aku berbicara kepadanya untuk berhenti memakan daun-daun tumbuhan di bukit ini.”

Kupa mengalihkan pandangannya pada seekor ulat besar yang sedang lahap memakan daun di sebuah tumbuhan. “Mungkin itu pemimpin dari para ulat,” gamam Kupa.

Kupa terbang rendah mendekati tumbuhan itu. Ia hinggap di ranting pucuk di dekat seekor ulat besar.

“Hai, Ulat Besar. Kamu pasti pemimpin dari para ulat yang telah makan semua dedaunan tumbuhan yang ada di bukit ini,” sapa Kupa menahan amarah.

Ulat Besar itu terus mengunyah dedaunan tanpa henti.

“Mengapa kamu diam Ulat Besar? Jawab aku!” ucap Kupa suaranya meninggi.

“Krieek-krieek, Krieek-krieek, Krieek-krieek,” hanya suara itu yang terdengar.

Ulat Besar itu tetap terus makan tidak mendengarkan perkataan Kupa.

Kupa semakin marah. Semua pertanyaan Kupa tidak dijawab sama sekali oleh Ulat Besar itu. Ulat Besar itu terus-menerus mengunyah dedaunan.

“Katakan padaku! Mengapa kamu harus ada di bukit ini?” teriak Kupa marah.

Ulat Besar tetap tidak peduli dengan teriakan Kupa. Tubuh Ulat besar itu semakin besar.

“Baiklah Ulat Besar. Jika kamu tidak menjawabku, aku akan memanggil bangsa burung untuk memangsa kalian semua. Aku akan mencari mereka walaupun aku juga pasti akan dimangsanya,” ucap Kupa mengancam.

Ulat Besar itu masih tetap diam tidak menjawab, tetapi ia berhenti makan dedaunan. Ulat-ulat lainnya juga menghentikan kegiatan makannya. Semua ulat-ulat mulai merangkak mencari batang ranting tumbuhan.

“Ada apa ini? Mengapa kamu merangkak ke ranting tumbuhan? Jangan-jangan kamu juga ingin memakan batang dan ranting tumbuhan yang ada di sini? Hentikan niatmu itu, Ulat Besar!” ucap Kupa marah-marah.

Ulat Besar dan ulat-ulat lainnya terus bergerak mendekati ranting tumbuhan.

“Hentikannnnnn!” teriak Kupa.

Ulat-ulat itu tidak menghiraukan teriakan Kupa.

“Aku memang harus pergi mencari bangsa burung. Pernah kudengar kalau bangsa burung sangat suka memangsa ulat, tetapi kemana aku harus mencari mereka,” pikir Kupa.

Ulat Besar dan ulat-ulat lainnya sudah berada di ranting-ranting tumbuhan. Tiba-tiba, Ulat Besar dan ulat-ulat lainnya mengeluarkan benda seperti benang. Benang-benang itu dililitkan di ranting tumbuhan. Kemudian, Ulat Besar dan ulat-ulat lainnya menggulung-gulung dirinya. Mereka terus menggulung diri sampai tidak terlihat lagi. Mereka terlihat seperti terbungkus rapat.

“Oh jadi ini yang kalian lakukan, membungkus diri agar tetap aman. Baik, aku akan tunggu sampai kalian keluar dari gulungan,” grutu Kupa.

Ulat Besar dan ulat-ulat lainnya tidur tenang di dalam gulungan.

“Apa tetap kutunggu atau mencari bangsa burung walaupun aku tidak tahu tempatnya,” pikir Kupa bimbang.

Suasana di bukit Nirwana menjadi hening. Suara-suara kunyahan para ulat tidak terdengar lagi.

“Lebih baik aku pergi mencari bangsa burung itu dan mengundangnya datang,” ucap Kupa.

Kupa pergi mencari bangsa burung. Ia telah pergi jauh meninggal bukit Nirwana. Ia menelusuri berbagai tempat, tetapi belum menemukan adanya burung. Ia terus mencari sampai berhari-hari, tetapi belum juga bertemu dengan bangsa burung.

Karena sudah berhari-hari tidak juga bertemu dengan bangsa burung, Kupa memilih kembali ke bukit Nirwana.

“Kemana perginya bangsa burung itu? Mengapa tiba-tiba aku sangat sulit menemukan mereka? Apa sudah menjadi ketakutan dengan para ulat? Ah, pusing,” pikir Kupa.

Kupa kaget Ketika sampai di bukit Nirwana. Ia melihat tumbuh-tumbuhan yang ada di bukit sudah memiliki daun. Ia terbang berkeliling di bukit itu. Bahkan, ia melihat ada tumbuhan yang sudah berbunga. Ia merasakan sangat Bahagia.

“Akhirnya, aku akan bisa menikmati nektar,” ucap Kupa.

Kupa terbang menghampiri Ulat besar yang masih menggulung diri dan bergelantungan di ranting tumbuhan.

“Lihatlah Ulat Besar! Karena kalian masih bersembunyi di dalam gulungan, tumbuh-tumbuhan yang ada di bukit ini sudah memiliki daun. Sudah ada juga yang berbunga,” ucap Kupa.

Ulat Besar masih tetap diam.

“Ulat Besar, bagus. Tetap kalian sembunyi di dalam gulungan-gulungan itu. Jika kalian keluar lagi, para bangsa burung akan segera memangsa kalian,” ucap Kupa mengancam.

Akan tetapi, Kupa menyembunyikan rasa ketakutannya jika para ulat benar-benar keluar lagi dari gulungannya.

“Jangan kalian keluar lagi ya! Aku sebenarnya tak penah ketemu bangsa burung,” gumam Kupa pada dirinya.

***

Tiba-tiba terdengar suara,”Kraaaak.” Gulungan-gulungan yang ada di ranting tumbuh-tumbuhan itu pecah. Dari dalam gulungan, keluarlah mahluk yang sangat berbeda. Mahluk itu terlihat badannya masih terbungkus, tetapi tidak seperti terbungkus oleh gulungan sebelumnya.

Kupa terkejut melihat semua kejadian itu,”mahluk apa ini yang keluar dari gulungan? Kemana perginya ulat-ulat itu?”

Mahluk-mahluk itu sudah keluar semua dari gulungannya. Mereka bergerak menuju pucuk ranting tumbuhan. Mereka seolah-olah mencari cahaya matahari yang paling terang karena sudah lama berada di dalam kegelapan.

“Jangan-jangan mahluk ini lebih rakus dari para ulat,” pikir Kupa cemas.

Di bawah sinar matahari yang terang, mahluk itu menggerak-gerakkan badannya. Secara serentak, makluk-mahluk itu mengeluarkan sepasang sayap dari punggu mereka. Setika, bukit Nirwana dipenuhi oleh mahluk-mahluk bersayap. Sayap mereka berwarna-warni.

“Mengapa mahluk-mahluk ini menjadi mirip denganku? Mahluk yang keluar dari gulungan Ulat Besar menjadi sama persis dengan diriku dan sayapnya lebih besar,” ucap Kupa bingung dengan kejadian yang ada dihadapannya.

“Hai kakak! Kami cantik-cantikkan? Kami kupu-kupu yang baru lahir.”

Kupa yang masih bingung semakin kebingungan.

“Bukannya yang ada di dalam gulungan-gulungan itu ulat? Mengapa jadi kupu-kupu juga? Ucap Kupa masih belum mengerti.

“Betul itu Kakak. Kami ulat-ulat itu. Ulat-ulat yang kamu marah-marahi,” jawab Ulat Besar yang kini sudah menjadi kupu-kupu besar.

“Mengapa jadi begini?” ucap Kupa kebingungan.

“Kakak! Sebelum orang tua kita pergi jauh, orang kita menyembunyikan telur-telurnya di daun-daun tumbuhan. Kemudian, telur-telur itu menetas menjadi ulat-ulat seperti kami sebelum menjadi kupu-kupu,” jawab Kupu-kupu besar itu.

“Jadi, aku dulu juga seekor ulat yang rakus makan daun tumbuhan? Aku tak percaya,” ucap Kupa sedih akan dirinya sendiri.

Kupa pergi meninggalkan para kupu-kupu yang baru lahir. Ia ingin menenangkan diri bahwa dirinya juga seekor ulat yang berubah menjadi seekor kupu-kupu.

“Mengapa hanya aku yang tidak tahu dengan proses hidupku hingga menjadi kupu-kupu yang indah? Apa karena aku kupu-kupu yang suka menyendiri? Hingga aku tak tahu asal-usulku,” pikir Kupa yang sudah sangat jauh dari bukit Nirwana. Bukit yang kini sudah menjadi taman kupu-kupu.

Kini, apakah Kupa sudah menerima dirinya berasal dari ulat? Apakah Kupa akan membenci dirinya yang berasal dari ulat? Akan tetapi, saudara-saudaranya di bukit Nirwana tetap menunggu Kupa. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Remah Cahaya di Langit-Langit | Pentas Sunar Puppet Theatre di Festival Seni Bali Jani

Next Post

Wayan Sandi dari Siakin | Kesetiaan Membuat Bedeg Hingga Masa Tua

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Wayan Sandi dari Siakin | Kesetiaan Membuat Bedeg Hingga Masa Tua

Wayan Sandi dari Siakin | Kesetiaan Membuat Bedeg Hingga Masa Tua

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co