5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Remah Cahaya di Langit-Langit | Pentas Sunar Puppet Theatre di Festival Seni Bali Jani

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
October 30, 2021
in Ulasan
Remah Cahaya di Langit-Langit | Pentas Sunar Puppet Theatre di Festival Seni Bali Jani

Pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021 [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Dua boneka besar itu bercahaya dari dalam tubuhnya, mereka terbang  di panggung Natya Mandala ISI Denpasar. Tangannya saling berpegangan sebagai poros putaran. Pendar cahaya saling berkejaran di langit-langit mengikuti arah gerakan boneka, kemudian secara perlahan boneka mendekap satu sama lain lalu menghadap ke penonton. Diam…..

Di sambut tepuk tangan. (pementasan usai)

Itu bagian akhir dari pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021.

Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre menggiring ingatan penonton menuju nostalgia cinta ideal pada masa remaja. Berkisah tentang Raden Una yang jatuh cinta kepada  Diah Winangsia, namun rasa kasih itu tidak sampai seperti yang diinginkan Raden Una. Pertunjukan berdurasi 45 menit itu disajikan dalam bentuk drama musikal, di dominasi oleh lagu, tembang, pupuh, serta iringan musik sebagai penegas suasananya

Sutradara Guspang Sua menjelaskan kisah Raden Una bersumber dari Lontar Monyeh  – Lombok, ditangannya naskah ini berkembang menjadi sejumlah bahasa, yakni bahasa Bali, Jawa, Lombok dan Indonesia. Terus terang saja, saya sebagai penonton tidak begitu mengerti apa yang diucapkan oleh aktor, narator, serta pemain cakepung.

Namun itu tidak menjadi soal, sebab pementasan dapat dinikmati dari bunyi, jalinan ekspresi, peristiwa gerak, simbol warna lampu, serta pengadeganan yang mapan. Seluruh kejadian panggung dikembangkan ke tangkapan indera, kemudian merajut logika-logika menjadi satu peristiwa.

“Memang itu yang saya inginkan, setiap orang memiliki kepekaannya sendiri dalam mengintrepetasikan  karya ini” ujar Guspang usai pementasan.

Selain itu, Sutradara muda ini juga memberikan kejutan-kejutan kecil yang menawan namun tak berlebihan. Misalnya adegan kunang-kunang yang dimainkan oleh sejumlah penari laki-laki. Kunang-kunang itu sebenarnya lampu kuning yang dipasang ditelapak tangan, lalu digenggam kemudian dibuka mengikuti irama pertunjukan. Percis seperti TV Show Jepang Masquered , yang pernah ditayangkan di Indonesia sekitar tahun 90an.

Pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021 [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Kehadiran boneka bersinar sebagai maskot pementasan juga memiliki daya tarik tersendiri, siapa yang menyangka boneka seperti ogo-ogoh itu dapat dimainkan di atas panggung. Ogoh-ogoh yang kita kenal selalu statis atau bergerak monoton itu, dikembangkan  mengikuti morfologi dan fisiologi sendi manusia.

Serta adegan terakhir yang membuat saya tertawa kecil malu-malu, saat Raden Una melempar bunga mawar merah ke Diah Winangsia. Entah bagaimana cara kerja panggungnya bunga itu jatuh seperti hujan helai mawar ke tubuh Diah Winangsia. Aiiih sungguh cinta merah padam pertunjukan tersebut.

“Bise gen mule timpale besik nto”

Boneka Bersinar dan Watak

Begini, saya harus menjelaskan sedikit ekspektasi saya ketika hendak menonton Sunar Puppet Theatre. Dalam bayangan di kepala, boneka besar yang bersinar itulah  menjadi tokoh utama pertunjukan. Ia mungkin saja dihadirkan dengan narasi yang dibacakan seperti drama kolosal, atau tanpa bahasa – hanya mengandalkan kekuatan gerak. Ialah Subjek pementasan, ialah sumber dari segala inti perhatian pertunjukan.

Namun senyatanya, Boneka yang terbuat dari ulatan bambu, rotan,  serta rangkaian listrik di dalam tubuhnya itu, menjadi cerminan diri dari tokoh utama. Raden Una memiliki boneka di belakangnya, Diah Winangsia juga demikian. Jika kawan-kawan pernah menonton anime Jepang – Shaman King, garapan seri manga oleh Hiroyuki Takei.  nah kira-kira begitu visualnya.

Guspang Sua lebih lanjut menjelaskan kedua boneka besar itu merupakan jiwa bagi Raden Una, dan Hati bagi Diah Winangsia. Dapat dikatakan sebagai pecahan diri yang halus. Keduanya dapat saling berkomunikasi satu sama lain, semacam kontemplasi diri saat kita mengobrol dengan diri sendiri.

Dalam pertunjukannya ia tengah memberitahu para penonton bahwa tubuh ini tidak berdiri sendiri, ia memiliki layer-layer yang perlu di kontrol satu sama lain, untuk menciptakan suatu keseimbangan. Beberapa yang ia hadirkan ialah hawa nafsu, kesenangan, kepedihan dan kekecewaan.

Boneka besar  dimainkan oleh 5 orang, dengan pembagian gerak di setiap tubuh  boneka. Ia menghadirkan teks panggung yang cukup menarik perhatian, boneka dan para penggeraknya ialah peristiwa yang sama sekali berbeda, bisa  menjadi daya tawar dan estetika tersendiri bagi pertunjukan.

Sebut saja saat boneka bergerak melayang, para penggerak  dengan gerak tari  mengangkat boneka, lalu berlairan ke sana kemari, tubuh mereka membias cahaya boneka. Mereka semacam kesadaran-kesadaran di alam bawah sadar kita, yang sering kali mengontrol dan menguasai laku kita sebagai manusia.

Pementasan Light Of Love oleh Sunar Puppet Theatre dari Kabupaten Karangasem, Kamis (27/10/2021) dalam ajang Festiva Seni Bali jani III/2021 [Foto Dinas Kebudayaan Bali]

Sebagai catatan pribadi, watak dalam Love Of Light ini mungkin perlu perhitungan serta pertimbangan kematangan yang lebih dalam. Baik dari logika peristiwa pertemuan, serta premis pribadi yang semestinya diemban teguh oleh masing-masing tokoh. Misalnya adegan saat Raden Una pingsan setelah melihat  kecantikan  Diah Winangsia  lewat lukisan.

Padahal baru pertama kali ia bertemu perempuan, pun lewat lukisan, logika semacam apa yang membuatnya pingsan. Lantas Raden Una jatuh cinta sepenuhnya terhadap Diah Winangsia.  Waduh berbahaya ini Raden Una, layak penyair Chairil yang selalu jatuh cinta pada setiap perempuan yang ia temui.

Sebab watak tokoh ialah kumpulan dari kejadian, konflik serta  pengalaman sepanjang hidupnya. Ini mungkin tidak diceritakan secara utuh di panggung, namun cukup riskan jika penonton tidak mengetahui logika-logikanya. Di sanalah kerja nalar logika pertunjukan berlangsung. sebenarnya logika itu dapat di pecah pada sejumlah adegan, sehingga di akhir menjadi satu kesatuan informasi.

Namun lebih daripada itu, pementasan ini menghadirkan visual yang memanjakan mata, penuh pesona dan cantik. Ia layaknya oase kecil ditengah kehiruk pikukan dunia realitas hari ini.

Pementasannya masih ada di kanal youtube Disbud Prov Bali, silahkan ditonton. [T]

Tags: Festival Seni Bali Janiseni pertunjukanTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lewat “Heterogenitas Sastra di Bali”, Darma Putra Raih Penghargaan Sastra Kemendikbudristek

Next Post

Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Kupa, Seekor Kupu-kupu Pemarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co