12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
January 4, 2025
in Cerpen
Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SUMUR tua yang ada di desaku tiba-tiba viral di medsos. Silih berganti paranormal mendatangi desaku. Ada yang membawa anak didiknya. Ada yang datang sendirian. Virallah desaku disebut-sebut di media sosial. Bahkan beberapa media cetak dan televisi mengangkatnya menjadi berita utama bahwa sumur tua yang ada di desaku dihuni oleh seorang perempuan. Aku tidak begitu percaya. Sumur memberi air tanpa pernah dibayar. Sumur ya sumur. Pemberi air kehidupan. Yang kuketahui  bahwa sumur yang sudah tidak difungsikan oleh warga desaku itu memberikan kesejukan pada warga kami pada masanya.

Saat itu, kami memang suka bersama-sama mandi ke sumur. Ada canda tawa. Ada guyonan. Ada kesepakatan ada pembagian tugas. Jika akan mandi, ada yang bertugas menimba air. Tugas yang kami jalani tanpa ada tekanan. Semenjak PAM merambah desa kami, perlahan-lahan, tapi pasti kekeluargaan di desa kami mulai menurun. Tidak ada canda tawa. Tidak ada kesepakatan. Kami mandi dalam sekat-sekat sebuah kamar. Kami pun menjadi manusia yang tersekat. Buka keran air lantas bernyanyi di kamar mandi. Tanpa pernah tahu entah dari mana datangnya air. Pernah air PAM tak nyala. Kami ramai-ramai memprotes sampai ke medsos. Turunlah petugas memperbaiki pipa yang putus karena terjangan banjir yang amat deras. Kulihat di medsos, para pekerja sibuk memperbaikinya. Ternyata air menjadi nilai amat tinggi saat dibutuhkan. Dilupakan saat tak ada yang macet. Ah, dasar ingin mudah saja.

Aku tanggapi biasa saja cerita orang-orang yang mengaku sebagai paranormal itu. Tapi itulah manusia, ada saja yang ingin diketahuinya. Sebagai warga yang dilahirkan di desa, terusik juga aku. Kuberanikan menanyakan pada orang-orang yang mengaku sebagai peramal masa depan itu.

“Benar ada perempuan di dalam sumur?” tanyaku.

Ia tidak cepat-cepat menjawab. Ia pejamkan mata. Ia komat-kamit seperti orang gila yang tidak memiliki kepastian dalam hidup. “Benar,” jawabnya pelan. “Perempuan itu tampak marah. Matanya mendelik. Wajahnya menegang. Jika tidak ada yang mengasihinya, akan timbul bencana di desa ini.”

  “Ah, jangan menakut-nakuti kami. Kami tak pernah berbuat salah kok dimarahi.”

“Boleh saja tidak percaya. Tapi, ini hasil penerawanganku. Banyak yang tidak percaya padaku. Dan aku sendiri tak usah dipercayai. Yang penting sebagai paranormal yang dikasihi Tuhan, tiang sudah menyampaikan sesuatu pada Made. Itu saja. Titik!”

Giliranku yang terbelenggu terhadap kata-kataku. Dasar lidah. Kenapa tidak kukatakan bahwa aku percaya saja setiap yang dikatakannya. Kan selesai masalahnya? Aku takut karena ulah mulutku ini.

Semakin hari ada saja orang kesurupan di desaku yang menyatakan bahwa memang benar ada perempuan yang tinggal di dalam sumur. Perempuan muda yang memendam kemarahan. Perempuan muda yang tidak mendapatkan kasih sayang.

“Perempuan muda?’ tanyaku dalam batin. “Kenapa mesti perempuan muda? Biasanya yang tinggal di tempat yang tidak digunakan lagi adalah perempuan tua. Kenapa ini perempuan muda?”

“Jika tidak dibuatkan banten pangulap dan pecaruan akan grubug datang di desa ini.” Orang-orang desa yang kesurupan itupun tidak mau diajak kompromi lagi. “Mau apa tidak?”

Aku melihat kanan-kiri. “Gimana ini mau melakukan yang diminta?” tanyaku pada warga desa kami.

“Kalau demi kebaikan, tiang setuju saja. Tidak ada salahnya berbuat baik demi kenyamanan.”

“Gimana yang lainnya?”

“Tiang setuju!”

“Terus biayanya dari mana?” tanyaku.

“Inilah yang menjadi masalah sekarang.” Tidak ada yang menjawab. Ternyata berjanji amat cepat. Akan tetapi, menepati janji ternyata susah.

“Kita bagi tugas saja.”

“Baiklah kalau begitu.”

Rasa persaudaraan yang sudah terkikis bisa mekar kembali. Sesuatu yang berat terasa lebih ringan dengan kebersamaan. Ada yang menyumbangkan kelapa. Ada yang menyumbangkan ayam untuk pecaruan. Ada yang menyumbangkan jejahitan. Alam kesadaran masih ada di desa kami. Kebangggaan dan kebahagiaan sebagai anak desa bisa kunikmati.

 Kami meminta bantuan pemangku Pura Dalem untuk menghaturkan sesajen kami. Suara genta dan puja-puji pemangku Pura Dalem mengalir seperti air kehidupan. Upakara dan upacara berjalan amat indah. Tembang-tembang dan alunan wargasari dilantunkan meretas simpul-simpul jiwaku.

”Perempuan yang ada di sumur ini menangis. Ia telah dihinakan. Wadagnya sudah tak dikenali lagi. Ruhnya minta tempat yang wajar. Tolong diabenkan.”

Aku mendelik. “Diabenkan? Mana mungkin bisa? Siapa yang akan menyumbahnya nanti? Siapa yang membunuhnya? Siapa orangnya? Keluarganya dari mana? Masak warga desa ini yang tidak tahu apa-apa harus menanggung perbuatan orang lain? Ini tidak adil.” Aku tiba-tiba berkata keras seperti itu. Setelah kusadari bahwa kata-kataku tak pantas. Aku meminta maaf pada Mangku Dalem. “Maaf Jro, tidak maksud tiang marah sama Jro.”

“Tidak masalah. Tapi itu hanya permintaan saja. Jika tidak, sumur tua di desa kita akan leteh. Air yang ada di tanah ini juga leteh karena air merambat ke pori-pori bumi. Air leteh, artinya kita juga leteh karena air yang kita minum leteh. Gimana?”

“Terima kasih Jro. Tiang akan berusaha menjadikan desa ini tidak leteh lagi.”

“Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, asalkan didasari dengan ketulusan.”

“Terima kasih Jro.”

Suara genta penutup telah dibunyikan. Aku bersama dengan warga desa berkumpul kembali. Merembukkan yang akan kami lakukan.

Pengabenan sederhana kami lakukan. Cukup dengan tingkatan nista. Banten suci  untuk Dewa Surya, banten suci untuk Dewa Prajapati, banten suci di ruh yang diabenkan, dan banten suci pada Ida Pedanda pengantar ruh ke Sunyaloka. Tentu yang utama adalah bubur pirata. Bubur persembahan pada pirata.

Aku tersentak. Terdengar tangisan nyaring sekali. “Tolong sembah tiang. Tiang perempuan yang hilang beberapa tahun lalu. Perempuan yang dihinakan kepala desa. Perempuan yang dipersalahkan. Tolong saudaraku.” Perempuan yang kesurupan itu memeluk salah seorang warga desa kami. “Tolong berikan jalan pada tiang. Tiang berjanji akan membalas kebaikan saudara-saudara.”

Aku mau mengangkat tanganku tiba-tiba dipegang dari belakang. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah


Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” (Bagian 3-Habis): Jenis dan Fungsi “Kolenjer”

Next Post

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co