2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
January 4, 2025
in Cerpen
Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SUMUR tua yang ada di desaku tiba-tiba viral di medsos. Silih berganti paranormal mendatangi desaku. Ada yang membawa anak didiknya. Ada yang datang sendirian. Virallah desaku disebut-sebut di media sosial. Bahkan beberapa media cetak dan televisi mengangkatnya menjadi berita utama bahwa sumur tua yang ada di desaku dihuni oleh seorang perempuan. Aku tidak begitu percaya. Sumur memberi air tanpa pernah dibayar. Sumur ya sumur. Pemberi air kehidupan. Yang kuketahui  bahwa sumur yang sudah tidak difungsikan oleh warga desaku itu memberikan kesejukan pada warga kami pada masanya.

Saat itu, kami memang suka bersama-sama mandi ke sumur. Ada canda tawa. Ada guyonan. Ada kesepakatan ada pembagian tugas. Jika akan mandi, ada yang bertugas menimba air. Tugas yang kami jalani tanpa ada tekanan. Semenjak PAM merambah desa kami, perlahan-lahan, tapi pasti kekeluargaan di desa kami mulai menurun. Tidak ada canda tawa. Tidak ada kesepakatan. Kami mandi dalam sekat-sekat sebuah kamar. Kami pun menjadi manusia yang tersekat. Buka keran air lantas bernyanyi di kamar mandi. Tanpa pernah tahu entah dari mana datangnya air. Pernah air PAM tak nyala. Kami ramai-ramai memprotes sampai ke medsos. Turunlah petugas memperbaiki pipa yang putus karena terjangan banjir yang amat deras. Kulihat di medsos, para pekerja sibuk memperbaikinya. Ternyata air menjadi nilai amat tinggi saat dibutuhkan. Dilupakan saat tak ada yang macet. Ah, dasar ingin mudah saja.

Aku tanggapi biasa saja cerita orang-orang yang mengaku sebagai paranormal itu. Tapi itulah manusia, ada saja yang ingin diketahuinya. Sebagai warga yang dilahirkan di desa, terusik juga aku. Kuberanikan menanyakan pada orang-orang yang mengaku sebagai peramal masa depan itu.

“Benar ada perempuan di dalam sumur?” tanyaku.

Ia tidak cepat-cepat menjawab. Ia pejamkan mata. Ia komat-kamit seperti orang gila yang tidak memiliki kepastian dalam hidup. “Benar,” jawabnya pelan. “Perempuan itu tampak marah. Matanya mendelik. Wajahnya menegang. Jika tidak ada yang mengasihinya, akan timbul bencana di desa ini.”

  “Ah, jangan menakut-nakuti kami. Kami tak pernah berbuat salah kok dimarahi.”

“Boleh saja tidak percaya. Tapi, ini hasil penerawanganku. Banyak yang tidak percaya padaku. Dan aku sendiri tak usah dipercayai. Yang penting sebagai paranormal yang dikasihi Tuhan, tiang sudah menyampaikan sesuatu pada Made. Itu saja. Titik!”

Giliranku yang terbelenggu terhadap kata-kataku. Dasar lidah. Kenapa tidak kukatakan bahwa aku percaya saja setiap yang dikatakannya. Kan selesai masalahnya? Aku takut karena ulah mulutku ini.

Semakin hari ada saja orang kesurupan di desaku yang menyatakan bahwa memang benar ada perempuan yang tinggal di dalam sumur. Perempuan muda yang memendam kemarahan. Perempuan muda yang tidak mendapatkan kasih sayang.

“Perempuan muda?’ tanyaku dalam batin. “Kenapa mesti perempuan muda? Biasanya yang tinggal di tempat yang tidak digunakan lagi adalah perempuan tua. Kenapa ini perempuan muda?”

“Jika tidak dibuatkan banten pangulap dan pecaruan akan grubug datang di desa ini.” Orang-orang desa yang kesurupan itupun tidak mau diajak kompromi lagi. “Mau apa tidak?”

Aku melihat kanan-kiri. “Gimana ini mau melakukan yang diminta?” tanyaku pada warga desa kami.

“Kalau demi kebaikan, tiang setuju saja. Tidak ada salahnya berbuat baik demi kenyamanan.”

“Gimana yang lainnya?”

“Tiang setuju!”

“Terus biayanya dari mana?” tanyaku.

“Inilah yang menjadi masalah sekarang.” Tidak ada yang menjawab. Ternyata berjanji amat cepat. Akan tetapi, menepati janji ternyata susah.

“Kita bagi tugas saja.”

“Baiklah kalau begitu.”

Rasa persaudaraan yang sudah terkikis bisa mekar kembali. Sesuatu yang berat terasa lebih ringan dengan kebersamaan. Ada yang menyumbangkan kelapa. Ada yang menyumbangkan ayam untuk pecaruan. Ada yang menyumbangkan jejahitan. Alam kesadaran masih ada di desa kami. Kebangggaan dan kebahagiaan sebagai anak desa bisa kunikmati.

 Kami meminta bantuan pemangku Pura Dalem untuk menghaturkan sesajen kami. Suara genta dan puja-puji pemangku Pura Dalem mengalir seperti air kehidupan. Upakara dan upacara berjalan amat indah. Tembang-tembang dan alunan wargasari dilantunkan meretas simpul-simpul jiwaku.

”Perempuan yang ada di sumur ini menangis. Ia telah dihinakan. Wadagnya sudah tak dikenali lagi. Ruhnya minta tempat yang wajar. Tolong diabenkan.”

Aku mendelik. “Diabenkan? Mana mungkin bisa? Siapa yang akan menyumbahnya nanti? Siapa yang membunuhnya? Siapa orangnya? Keluarganya dari mana? Masak warga desa ini yang tidak tahu apa-apa harus menanggung perbuatan orang lain? Ini tidak adil.” Aku tiba-tiba berkata keras seperti itu. Setelah kusadari bahwa kata-kataku tak pantas. Aku meminta maaf pada Mangku Dalem. “Maaf Jro, tidak maksud tiang marah sama Jro.”

“Tidak masalah. Tapi itu hanya permintaan saja. Jika tidak, sumur tua di desa kita akan leteh. Air yang ada di tanah ini juga leteh karena air merambat ke pori-pori bumi. Air leteh, artinya kita juga leteh karena air yang kita minum leteh. Gimana?”

“Terima kasih Jro. Tiang akan berusaha menjadikan desa ini tidak leteh lagi.”

“Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, asalkan didasari dengan ketulusan.”

“Terima kasih Jro.”

Suara genta penutup telah dibunyikan. Aku bersama dengan warga desa berkumpul kembali. Merembukkan yang akan kami lakukan.

Pengabenan sederhana kami lakukan. Cukup dengan tingkatan nista. Banten suci  untuk Dewa Surya, banten suci untuk Dewa Prajapati, banten suci di ruh yang diabenkan, dan banten suci pada Ida Pedanda pengantar ruh ke Sunyaloka. Tentu yang utama adalah bubur pirata. Bubur persembahan pada pirata.

Aku tersentak. Terdengar tangisan nyaring sekali. “Tolong sembah tiang. Tiang perempuan yang hilang beberapa tahun lalu. Perempuan yang dihinakan kepala desa. Perempuan yang dipersalahkan. Tolong saudaraku.” Perempuan yang kesurupan itu memeluk salah seorang warga desa kami. “Tolong berikan jalan pada tiang. Tiang berjanji akan membalas kebaikan saudara-saudara.”

Aku mau mengangkat tanganku tiba-tiba dipegang dari belakang. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah


Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” (Bagian 3-Habis): Jenis dan Fungsi “Kolenjer”

Next Post

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co