23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
January 4, 2025
in Cerpen
Perempuan Sumur | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

SUMUR tua yang ada di desaku tiba-tiba viral di medsos. Silih berganti paranormal mendatangi desaku. Ada yang membawa anak didiknya. Ada yang datang sendirian. Virallah desaku disebut-sebut di media sosial. Bahkan beberapa media cetak dan televisi mengangkatnya menjadi berita utama bahwa sumur tua yang ada di desaku dihuni oleh seorang perempuan. Aku tidak begitu percaya. Sumur memberi air tanpa pernah dibayar. Sumur ya sumur. Pemberi air kehidupan. Yang kuketahui  bahwa sumur yang sudah tidak difungsikan oleh warga desaku itu memberikan kesejukan pada warga kami pada masanya.

Saat itu, kami memang suka bersama-sama mandi ke sumur. Ada canda tawa. Ada guyonan. Ada kesepakatan ada pembagian tugas. Jika akan mandi, ada yang bertugas menimba air. Tugas yang kami jalani tanpa ada tekanan. Semenjak PAM merambah desa kami, perlahan-lahan, tapi pasti kekeluargaan di desa kami mulai menurun. Tidak ada canda tawa. Tidak ada kesepakatan. Kami mandi dalam sekat-sekat sebuah kamar. Kami pun menjadi manusia yang tersekat. Buka keran air lantas bernyanyi di kamar mandi. Tanpa pernah tahu entah dari mana datangnya air. Pernah air PAM tak nyala. Kami ramai-ramai memprotes sampai ke medsos. Turunlah petugas memperbaiki pipa yang putus karena terjangan banjir yang amat deras. Kulihat di medsos, para pekerja sibuk memperbaikinya. Ternyata air menjadi nilai amat tinggi saat dibutuhkan. Dilupakan saat tak ada yang macet. Ah, dasar ingin mudah saja.

Aku tanggapi biasa saja cerita orang-orang yang mengaku sebagai paranormal itu. Tapi itulah manusia, ada saja yang ingin diketahuinya. Sebagai warga yang dilahirkan di desa, terusik juga aku. Kuberanikan menanyakan pada orang-orang yang mengaku sebagai peramal masa depan itu.

“Benar ada perempuan di dalam sumur?” tanyaku.

Ia tidak cepat-cepat menjawab. Ia pejamkan mata. Ia komat-kamit seperti orang gila yang tidak memiliki kepastian dalam hidup. “Benar,” jawabnya pelan. “Perempuan itu tampak marah. Matanya mendelik. Wajahnya menegang. Jika tidak ada yang mengasihinya, akan timbul bencana di desa ini.”

  “Ah, jangan menakut-nakuti kami. Kami tak pernah berbuat salah kok dimarahi.”

“Boleh saja tidak percaya. Tapi, ini hasil penerawanganku. Banyak yang tidak percaya padaku. Dan aku sendiri tak usah dipercayai. Yang penting sebagai paranormal yang dikasihi Tuhan, tiang sudah menyampaikan sesuatu pada Made. Itu saja. Titik!”

Giliranku yang terbelenggu terhadap kata-kataku. Dasar lidah. Kenapa tidak kukatakan bahwa aku percaya saja setiap yang dikatakannya. Kan selesai masalahnya? Aku takut karena ulah mulutku ini.

Semakin hari ada saja orang kesurupan di desaku yang menyatakan bahwa memang benar ada perempuan yang tinggal di dalam sumur. Perempuan muda yang memendam kemarahan. Perempuan muda yang tidak mendapatkan kasih sayang.

“Perempuan muda?’ tanyaku dalam batin. “Kenapa mesti perempuan muda? Biasanya yang tinggal di tempat yang tidak digunakan lagi adalah perempuan tua. Kenapa ini perempuan muda?”

“Jika tidak dibuatkan banten pangulap dan pecaruan akan grubug datang di desa ini.” Orang-orang desa yang kesurupan itupun tidak mau diajak kompromi lagi. “Mau apa tidak?”

Aku melihat kanan-kiri. “Gimana ini mau melakukan yang diminta?” tanyaku pada warga desa kami.

“Kalau demi kebaikan, tiang setuju saja. Tidak ada salahnya berbuat baik demi kenyamanan.”

“Gimana yang lainnya?”

“Tiang setuju!”

“Terus biayanya dari mana?” tanyaku.

“Inilah yang menjadi masalah sekarang.” Tidak ada yang menjawab. Ternyata berjanji amat cepat. Akan tetapi, menepati janji ternyata susah.

“Kita bagi tugas saja.”

“Baiklah kalau begitu.”

Rasa persaudaraan yang sudah terkikis bisa mekar kembali. Sesuatu yang berat terasa lebih ringan dengan kebersamaan. Ada yang menyumbangkan kelapa. Ada yang menyumbangkan ayam untuk pecaruan. Ada yang menyumbangkan jejahitan. Alam kesadaran masih ada di desa kami. Kebangggaan dan kebahagiaan sebagai anak desa bisa kunikmati.

 Kami meminta bantuan pemangku Pura Dalem untuk menghaturkan sesajen kami. Suara genta dan puja-puji pemangku Pura Dalem mengalir seperti air kehidupan. Upakara dan upacara berjalan amat indah. Tembang-tembang dan alunan wargasari dilantunkan meretas simpul-simpul jiwaku.

”Perempuan yang ada di sumur ini menangis. Ia telah dihinakan. Wadagnya sudah tak dikenali lagi. Ruhnya minta tempat yang wajar. Tolong diabenkan.”

Aku mendelik. “Diabenkan? Mana mungkin bisa? Siapa yang akan menyumbahnya nanti? Siapa yang membunuhnya? Siapa orangnya? Keluarganya dari mana? Masak warga desa ini yang tidak tahu apa-apa harus menanggung perbuatan orang lain? Ini tidak adil.” Aku tiba-tiba berkata keras seperti itu. Setelah kusadari bahwa kata-kataku tak pantas. Aku meminta maaf pada Mangku Dalem. “Maaf Jro, tidak maksud tiang marah sama Jro.”

“Tidak masalah. Tapi itu hanya permintaan saja. Jika tidak, sumur tua di desa kita akan leteh. Air yang ada di tanah ini juga leteh karena air merambat ke pori-pori bumi. Air leteh, artinya kita juga leteh karena air yang kita minum leteh. Gimana?”

“Terima kasih Jro. Tiang akan berusaha menjadikan desa ini tidak leteh lagi.”

“Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, asalkan didasari dengan ketulusan.”

“Terima kasih Jro.”

Suara genta penutup telah dibunyikan. Aku bersama dengan warga desa berkumpul kembali. Merembukkan yang akan kami lakukan.

Pengabenan sederhana kami lakukan. Cukup dengan tingkatan nista. Banten suci  untuk Dewa Surya, banten suci untuk Dewa Prajapati, banten suci di ruh yang diabenkan, dan banten suci pada Ida Pedanda pengantar ruh ke Sunyaloka. Tentu yang utama adalah bubur pirata. Bubur persembahan pada pirata.

Aku tersentak. Terdengar tangisan nyaring sekali. “Tolong sembah tiang. Tiang perempuan yang hilang beberapa tahun lalu. Perempuan yang dihinakan kepala desa. Perempuan yang dipersalahkan. Tolong saudaraku.” Perempuan yang kesurupan itu memeluk salah seorang warga desa kami. “Tolong berikan jalan pada tiang. Tiang berjanji akan membalas kebaikan saudara-saudara.”

Aku mau mengangkat tanganku tiba-tiba dipegang dari belakang. [T]

KLIK untuk BACA cerpen lain

Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah


Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” (Bagian 3-Habis): Jenis dan Fungsi “Kolenjer”

Next Post

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Capung dan Daun Teratai | Dongeng dari Papua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co