14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
November 23, 2024
in Cerpen
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co

AKU tahu betul Busro yang rumahnya satu kilo meter dari rumahku itu adalah preman yang tidak banyak basa-basi. Kalau sepi, dan sedang berkonflik dengan dia, orang bisa hilang kepala. Dan, kalau sedang ramai, setidaknya hidung patah tulang kena tonjok.

Lebih-lebih meremas jari lawannya seperti meremas tete Nursinah yang sering diremasnya malam hari, diam-diam. Bedanya hanya birahi seks melemahkannya dan nafsu membunuh, menggilakannya. Yang jelas, ia selalu gila meremas.

Busro Edan! Begitulah orang-orang membencinya di belakang. “Tai!” cemooh yang lain sangat benci.

Sebab itulah barangkali, Eman, tetangga yang lima langkah dari rumahku, ingin naik haji untuk mengadukan perbuatan umatnya kepada Nabi melalui makomnya di Makkah Al-Madinah yang suci.

Saya tahu, naik haji bisa membangkitkan martabat, pula seseorang bisa dihormati, pula didengar apa saja yang berasal dari mulut, bahkan dari dubur sekalipun. Apalagi, Eman memang jarang didengar jika membicarakan tentang Busro, bahwa lelaki itu benar-benar breng-seks.

Tapi ia memiliki kelebihan lain, kalau berbicara dengan orang yang sedang marah-marah, bisa tidak jadi marah-marah orang itu. Hebat sekali Eman ini. Ilmu apa yang ia punya? Dimana ia bertapa? Orang-orang tak tahu. Akupun tak tahu.

Tak satupun orang bisa marah ke Eman. Tapi Busro menjadi musuhnya yang sangat dekat dengan Eman, ini soal tetangga, ya, aku tahu betul mereka cekcok dan Busro selalu bawa golok.

“Kiwari! Kiwari! Paeh Dia Kuaing! Bedul!” ancam Busro ke Eman sepuluh tahun yang lalu.

“Jawara! Jawara!” riuh orang berbisik.

Eman tak keluar rumah saat itu. Eman juga tak berbicara sekata atau tiga kalimat di balik jendela sambil mengintip misalnya. Tidak ada suara di rumah Eman. Kosong. Senyap. Setelah dijebol rumah itu melalui pintu, ternyata Eman kabur lewat pintu belakang tiga puluh menit yang lalu, bersama istrinya.

Kata orang-orang, Eman bertualang ke Mekah, pergi ke Arab Saudi bersama istrinya. Eman naik haji sambil bekerja jadi tukang sapu masjid Nabawi, sedang istrinya jadi buruh cuci di sana tapi tak lama, hanya enam bulan, dipulangkan oleh majikannya karena istrinya tak becus-becus berbahasa Arab. Dan istrinya mengisi rumah—balik ke kampung. Hidup sendiri. Mereka mandul, tak punya anak, walaupun sudah tiga puluh tahun menikah.

Sementara tiga tahun kemudian dari Mekah, Eman pulang. Menggondol banyak uang juga cerita-cerita pinggiran tentang bagaimana orang-orang Arab bergaul, sholat, bertengkar atau bercanda, hingga saling membantu satu sama lain. Yang ia praktikkan gayanya di kehidupan sehari-hari; kearab-araban, di rumahnya yang kecil di kampung.

Eman. Adalah buruh tani, juga sambil menjadi petani sebelum menjadi seorang haji. Tapi setelah tiga tahun kemudian itu, orang-orang mulai memanggilnya dengan gelar hasil menjual beberapa petak sawah ke seorang saudagar yang juga sama sepertinya, membenci Busro. Darah mati!

Eman, maksudku Haji Eman, telah berhenti bertani dan juga berhenti hidup susah, ia sekarang menjadi seorang Haji—yang mabrur dan sentosa, datang ke setiap pengajian dan juga tongkrongannya yang sebagian besar adalah teman-temannya dahulu. Sambil pakai peci putih—ia selalu mengajak mereka ibadah tepat waktu.

Semua diajaknya sholat berjamaah di masjid. Tapi, sesekali, ia juga membicarakan Busro, bagaimana kabar Busro sekarang?

“Sudah lama sakit. Kena santet!” kata yang lain.

“Astaghfirullah!” Kaget Haji Eman secara islami. “Sejak kapan?” lanjutnya bertanya dengan air muka khawatir.

“Sejak menjadi makelar tanah,” jawab yang lain.

Memang sih di Pantai Anyer itu, parkiran selalu dipegang Busro sejak lama. Busro yang pegang setiap setoran parkiran, sampai ke pedang kecil ibu-bapak yang sudah tua-tua itu, ia yang pegang. Upeti. Semua harus setor ke dia, kalau tidak, kepala atau perut bisa jadi samsak empuk. Darah bisa mengalir di mana saja kalau malam hari. Busro memang beringas.

Tapi karena memang ini sudah lain, rezim pemerintah juga sudah mencair, sudah musimnya parlente juga. Gaya hidup Busro berubah. Dari bengis, agak sedikit tidak, jadi necis.

Ia memilih cara hidup, mempelajari bagaimana caranya menipu orang tanpa harus keras. Mengawini anak orang tanpa harus mengancam ibu bapaknya. Selain ilmu pelet sudah dikuasainya sejak dulu, ia sekarang konsisten mempelajari ilmu menipu dari temannya yang sukses menjadi makelar tanah, hanya karena hasil dari terampilnya jualan hape rusak sejak remaja.

Tapi nyatanya, Busro tak pandai komunikasi dan tak mau berangkat dari nol—jualan hape rusak. Ia menggunakan caranya yang lama; marah-marah, dan mengawini anak orang—bahkan istri temannya sendiri.

Anaknya saja sudah 15 dari tujuh istri kawin cerai, setiap tikungan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels itu (meminjam kalimat bagus dari Pram) itu ada anak istrinya yang masih ada. Memang sih, di sana ia selalu dibenci dengan lirikan tak biasa dari anak-anaknya.

“Abah tukang kawin! Busuk!” hina anaknya suatu kali.

Orang-orang geger. Busro melengos pergi.

Aku masih menonton anaknya meraung-raung waktu itu, gila, rumahnya dijual dan anak istrinya ditelantarkan begitu saja tanpa peduli. Cerai. Busro memilih pergi ke gunung, di sana, ia menikah lagi dengan perempuan anget-anget tai ayam.

Punya anak lagi. Yang ini, ia punya gunung tidak hanya kebun atau anak. Rupanya, ia bukan makelar tanah yang biasa orang-orang ketahui—saktinya sebagai seorang jagoan, ia mendapat tanah hanya karena hasil kawin saja. Menipu para gadis dan janda. Busro tak ubahnya hanya sebagai lelaki bajingan yang mudah bocor lubang pipisnya, dan modal berani bawa golok.

Tapi pertengkaran dengan Haji Eman, ini lebih serius lagi. Mereka selalu bertengkar hanya karena percintaan yang receh di masa lalu. Bahkan sampai sekarang, pun, Haji Eman menebar kebencian tentang dosa besar Busro kepada dirinya—yang diam-diam, mau mencium pacarnya, yang sekarang menjadi istrinya itu—di tempat dangdutan acara hajatan anak dari seorang Kepala Desa di jaman saat Soeharto masih jadi Presiden.

Dengan cerita-cerita kekalahan Busro bahwa ia bukanlah pria yang jantan sebenarnya. Bukan pria yang baik. Sampai sudah jadi Haji, pun, Eman masih meneror Busro dengan kebencian melalui cerita kepada teman-temannya. Tebar-tebar benci kepada semua orang.

“Setelah dari Mekah. Aku kirim doa, jarum kecil-kecil untuk Busro!”

Semua orang terperanjat dari duduknya di sebuah warung. “Haji Edan! Nyantet!” [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana
Made Merta dan Kisahnya Menabung
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Darma Putra dari Paris | Kepada Sunyi, Kabut, Hujan

Next Post

Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co