3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
November 23, 2024
in Cerpen
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co

AKU tahu betul Busro yang rumahnya satu kilo meter dari rumahku itu adalah preman yang tidak banyak basa-basi. Kalau sepi, dan sedang berkonflik dengan dia, orang bisa hilang kepala. Dan, kalau sedang ramai, setidaknya hidung patah tulang kena tonjok.

Lebih-lebih meremas jari lawannya seperti meremas tete Nursinah yang sering diremasnya malam hari, diam-diam. Bedanya hanya birahi seks melemahkannya dan nafsu membunuh, menggilakannya. Yang jelas, ia selalu gila meremas.

Busro Edan! Begitulah orang-orang membencinya di belakang. “Tai!” cemooh yang lain sangat benci.

Sebab itulah barangkali, Eman, tetangga yang lima langkah dari rumahku, ingin naik haji untuk mengadukan perbuatan umatnya kepada Nabi melalui makomnya di Makkah Al-Madinah yang suci.

Saya tahu, naik haji bisa membangkitkan martabat, pula seseorang bisa dihormati, pula didengar apa saja yang berasal dari mulut, bahkan dari dubur sekalipun. Apalagi, Eman memang jarang didengar jika membicarakan tentang Busro, bahwa lelaki itu benar-benar breng-seks.

Tapi ia memiliki kelebihan lain, kalau berbicara dengan orang yang sedang marah-marah, bisa tidak jadi marah-marah orang itu. Hebat sekali Eman ini. Ilmu apa yang ia punya? Dimana ia bertapa? Orang-orang tak tahu. Akupun tak tahu.

Tak satupun orang bisa marah ke Eman. Tapi Busro menjadi musuhnya yang sangat dekat dengan Eman, ini soal tetangga, ya, aku tahu betul mereka cekcok dan Busro selalu bawa golok.

“Kiwari! Kiwari! Paeh Dia Kuaing! Bedul!” ancam Busro ke Eman sepuluh tahun yang lalu.

“Jawara! Jawara!” riuh orang berbisik.

Eman tak keluar rumah saat itu. Eman juga tak berbicara sekata atau tiga kalimat di balik jendela sambil mengintip misalnya. Tidak ada suara di rumah Eman. Kosong. Senyap. Setelah dijebol rumah itu melalui pintu, ternyata Eman kabur lewat pintu belakang tiga puluh menit yang lalu, bersama istrinya.

Kata orang-orang, Eman bertualang ke Mekah, pergi ke Arab Saudi bersama istrinya. Eman naik haji sambil bekerja jadi tukang sapu masjid Nabawi, sedang istrinya jadi buruh cuci di sana tapi tak lama, hanya enam bulan, dipulangkan oleh majikannya karena istrinya tak becus-becus berbahasa Arab. Dan istrinya mengisi rumah—balik ke kampung. Hidup sendiri. Mereka mandul, tak punya anak, walaupun sudah tiga puluh tahun menikah.

Sementara tiga tahun kemudian dari Mekah, Eman pulang. Menggondol banyak uang juga cerita-cerita pinggiran tentang bagaimana orang-orang Arab bergaul, sholat, bertengkar atau bercanda, hingga saling membantu satu sama lain. Yang ia praktikkan gayanya di kehidupan sehari-hari; kearab-araban, di rumahnya yang kecil di kampung.

Eman. Adalah buruh tani, juga sambil menjadi petani sebelum menjadi seorang haji. Tapi setelah tiga tahun kemudian itu, orang-orang mulai memanggilnya dengan gelar hasil menjual beberapa petak sawah ke seorang saudagar yang juga sama sepertinya, membenci Busro. Darah mati!

Eman, maksudku Haji Eman, telah berhenti bertani dan juga berhenti hidup susah, ia sekarang menjadi seorang Haji—yang mabrur dan sentosa, datang ke setiap pengajian dan juga tongkrongannya yang sebagian besar adalah teman-temannya dahulu. Sambil pakai peci putih—ia selalu mengajak mereka ibadah tepat waktu.

Semua diajaknya sholat berjamaah di masjid. Tapi, sesekali, ia juga membicarakan Busro, bagaimana kabar Busro sekarang?

“Sudah lama sakit. Kena santet!” kata yang lain.

“Astaghfirullah!” Kaget Haji Eman secara islami. “Sejak kapan?” lanjutnya bertanya dengan air muka khawatir.

“Sejak menjadi makelar tanah,” jawab yang lain.

Memang sih di Pantai Anyer itu, parkiran selalu dipegang Busro sejak lama. Busro yang pegang setiap setoran parkiran, sampai ke pedang kecil ibu-bapak yang sudah tua-tua itu, ia yang pegang. Upeti. Semua harus setor ke dia, kalau tidak, kepala atau perut bisa jadi samsak empuk. Darah bisa mengalir di mana saja kalau malam hari. Busro memang beringas.

Tapi karena memang ini sudah lain, rezim pemerintah juga sudah mencair, sudah musimnya parlente juga. Gaya hidup Busro berubah. Dari bengis, agak sedikit tidak, jadi necis.

Ia memilih cara hidup, mempelajari bagaimana caranya menipu orang tanpa harus keras. Mengawini anak orang tanpa harus mengancam ibu bapaknya. Selain ilmu pelet sudah dikuasainya sejak dulu, ia sekarang konsisten mempelajari ilmu menipu dari temannya yang sukses menjadi makelar tanah, hanya karena hasil dari terampilnya jualan hape rusak sejak remaja.

Tapi nyatanya, Busro tak pandai komunikasi dan tak mau berangkat dari nol—jualan hape rusak. Ia menggunakan caranya yang lama; marah-marah, dan mengawini anak orang—bahkan istri temannya sendiri.

Anaknya saja sudah 15 dari tujuh istri kawin cerai, setiap tikungan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels itu (meminjam kalimat bagus dari Pram) itu ada anak istrinya yang masih ada. Memang sih, di sana ia selalu dibenci dengan lirikan tak biasa dari anak-anaknya.

“Abah tukang kawin! Busuk!” hina anaknya suatu kali.

Orang-orang geger. Busro melengos pergi.

Aku masih menonton anaknya meraung-raung waktu itu, gila, rumahnya dijual dan anak istrinya ditelantarkan begitu saja tanpa peduli. Cerai. Busro memilih pergi ke gunung, di sana, ia menikah lagi dengan perempuan anget-anget tai ayam.

Punya anak lagi. Yang ini, ia punya gunung tidak hanya kebun atau anak. Rupanya, ia bukan makelar tanah yang biasa orang-orang ketahui—saktinya sebagai seorang jagoan, ia mendapat tanah hanya karena hasil kawin saja. Menipu para gadis dan janda. Busro tak ubahnya hanya sebagai lelaki bajingan yang mudah bocor lubang pipisnya, dan modal berani bawa golok.

Tapi pertengkaran dengan Haji Eman, ini lebih serius lagi. Mereka selalu bertengkar hanya karena percintaan yang receh di masa lalu. Bahkan sampai sekarang, pun, Haji Eman menebar kebencian tentang dosa besar Busro kepada dirinya—yang diam-diam, mau mencium pacarnya, yang sekarang menjadi istrinya itu—di tempat dangdutan acara hajatan anak dari seorang Kepala Desa di jaman saat Soeharto masih jadi Presiden.

Dengan cerita-cerita kekalahan Busro bahwa ia bukanlah pria yang jantan sebenarnya. Bukan pria yang baik. Sampai sudah jadi Haji, pun, Eman masih meneror Busro dengan kebencian melalui cerita kepada teman-temannya. Tebar-tebar benci kepada semua orang.

“Setelah dari Mekah. Aku kirim doa, jarum kecil-kecil untuk Busro!”

Semua orang terperanjat dari duduknya di sebuah warung. “Haji Edan! Nyantet!” [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana
Made Merta dan Kisahnya Menabung
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Darma Putra dari Paris | Kepada Sunyi, Kabut, Hujan

Next Post

Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co