15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hyang Ibu

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 13, 2019
in Cerpen
Hyang Ibu

Hyang Ibu ilustrasi Adytria Negara (diambil dari Kompas)

Di sisi jenazah ibu, satu anak, di antara sepuluh anak yang menangis, bercerita tentang pisang: Ibu selalu menjinjing sesisir pisang pada setiap sore, melangkah agak terburu di jalan desa, lalu meliuk masuk rumah seseorang.

Di dalam rumah, sisir pisang matang di pohon itu dihadiahkan pada anak-anak. Maka, riang senang memenuhi rumah itu, dan ibu kemudian pulang ke rumah sendiri dengan senyum bahagia.

Ibu melakukan ritual itu setiap sore, saban pulang dari sawah, secara bergantian dari satu rumah ke rumah lain. Dan ibu selalu tepat menebak di rumah mana anak-anak sedang berkumpul, bercerita atau bermain, sehingga ia senantiasa menerima sambutan alami dan getar bahagia ucapan terima kasih, seakan-akan ia berhadapan dengan berpuluh-puluh anak dari buah rahimnya sendiri.

Anak-anak itu datang begitu mendengar ibu meninggal. Berkerumun mereka datang dan menangis, bahkan seorang anak perempuan sesenggukan tak habis-habis hingga tubuhnya bergetar hebat. Di sela sedu-sedan itu, mereka berebutan bercerita — kisah yang sama dengan irama yang beragam tentang pisang. Begitu bangga mereka bercerita dengan sungging bibir lembut dan cerah, meski air bening senantiasa deras meluncur dari mata jernih mereka.

Satu anak perempuan seperti sedang menyimpan telaga di matanya sekaligus menyimpan ribuan cerita di kepala dan ia menumpahkan air mata dari telaga matanya sekaligus menumpahkan cerita dengan penuh perasaan. Ia berkisah tentang bagaimana ibu mendirikan pagar dari berbagai jenis pohon pisang di tepi-tepi sawah, terutama di pinggir petak kecil di sisi jurang, agar tanah tak tergerus saat hujan. Tak ada yang bisa paham bagaimana deret pisang itu ditanam dan dirawat sehingga setiap hari selalu ada sesisir pisang yang matang di pohon dan ibu akan memotongnya setiap sore, hadiah sederhana bagi anak-anak desa.

“Untuk urusan petik pisang, ibu paling lihai. Ia pegang bambu runcing, seperti di film-film perang itu, lalu menusukkannya ke bagian batang pisang agak ke atas. Ditusuk berkali-kali. Tusuk, tusuk, tusuk!” pekik si anak, sembari tetap menangis dengan air mata meleleh pada ranum  pipi. Pilu sekaligus lucu.

Anak-anak lain tertawa sekilas, lalu menangis lagi.

“Tusuk, tusuk! Sepuluh kali, seratus kali, batang pisang koyak, getahnya merembes, dan setengah bagian atas akan tertekuk, terkulai ke bawah. Tidaklah putus. Tandan pisang hanya menjuntai seakan tunduk pada ibu. Ibu dengan leluasa kemudian mengiris sesisir pisang yang matang, hanya yang matang. Lalu sisanya dibiarkan begitu saja, tetap menjuntai ke bawah, untuk diiris besok atau dua hari lagi, ketika satu sisir lagi matang dengan warna kuning tua menggoda!”

Aku, anak kandung ibu, tak betul-betul cermat mendengar anak-anak itu bercerita. Pikiranku terbagi pada gawai yang erat kukepal. Aku sedang berupaya meminjam dana kilat dari sejumlah bank dan gelisah menanti jawaban. Pagi ketika sepupu memberitahu bahwa ibu meninggal akibat terjatuh di dapur, aku langsung menghubungi bank, karena sekurang-kurangnya aku perlu Rp 200 juta untuk biaya upacara pembakaran jenazah ibu. Sebagai pengembang kondang di Bali, malu jika aku tak bisa menggelar upacara ngaben secara mewah dan megah.

Setidaknya sepuluh babi besar harus dipotong, juga ratusan ayam dan puluhan bebek beragam jenis bulu, sebagai pelengkap upacara, belum lagi untuk aneka menu jamuan tamu-tamu penting kolegaku dari kota.  Apalagi, untuk upacara besar, pamanku yang paham soal adat istiadat telah merinci berbagai sarana penting, semisal seribu butir kelapa, seratus batang bambu, puluhan ribu lembar janur, dan setidaknya sepuluh ton beras. Jika hendak membeli perlengkapan upacara yang sempurna, aku diminta menyediakan setidaknya Rp 80 juta kontan.

Gawaiku bergetar. Satu panggilan dari bank besar memberi jawaban. Pinjamanku ditolak. Seakan sudah diatur, bank lain kemudian secara bergiliran menelepon dan memberi jawaban yang sama. Semua menolak dengan alasan serupa: aku ditolak karena angsuran utang sebelumnya macet total.

Tubuhku bergetar. Kupandang tubuh ibu. Kupegang kakinya, rasanya aku ingin merajuk minta uang untuk membeli es sabun atau dibuatkan masakan sambal belut seperti ketika aku kanak-kanak. Dan ketika kusadari semua itu tak bisa kulakukan lagi, hatiku seperti teriris.

Ibu kutinggalkan setamat aku SMA, sekitar 30 tahun lalu. Gagal kuliah, aku luntang-lantung masuk partai politik dan kenal banyak politisi, pengusaha dan pejabat. Rupanya tak berbakat aku jadi politisi, dan justru tumbuh jadi pengembang. Awalnya ikut-ikutan mengecer tanah kavling, lalu coba-coba bangun satu-dua rumah sederhana, dijual dan laris. Dengan berbagai koneksi, mudah kemudian kudapat pinjaman bank. Jadilah aku pengembang sejati. Sawah-sawah petani kusulap jadi perumahan megah, petani senang, kekayaanku jadi raya. Berkali kujemput ibu, kusiapkan satu vila dan kuminta ia tinggal diam saja menikmati pemandangan alam, namun ibu selalu menolak.

“Ibu ingin merawat sawah peninggalan leluhurmu dan akan aku garap sampai tak ada tenaga dan jiwa lagi,” kata ibu selalu .

Ibu tak bisa dirayu. Dan aku terlalu sibuk untuk bisa sering-sering pulang sekadar mengetahui kehidupannya. Hingga tiba pada satu masa, terjadi situasi yang tak mudah dipahami oleh pengusaha tamatan SMA macam aku. Orang-orang kaya tiba-tiba takut dan gentar belanja besar. Daya beli mereka nol, padahal aku baru saja membangun ratusan unit vila mewah di sebuah desa di lereng gunung. Vila yang kubangun tak satu unit pun ditawar orang. Dari bisik-bisik seorang teman, konon situasi itu terjadi karena korupsi perlahan-lahan sudah reda. Apa hubungannya? Aku tak paham. Yang jelas, aku bangkrut. Kreditku macet. Bank mengucilkan aku. Dan, sialnya, hampir seluruh aset milikku telah kujaminkan demi mendapat dana besar untuk membebaskan ratusan hektar lahan milik petani di lereng gunung.

Sambil tetap memegang kaki ibu, aku berkali-kali memandang gawai di genggeman, jangan-jangan ada pengurus bank berubah pikiran. Tapi gawaiku beku, tak ada getar tak ada dering. Aku sungguh gelisah.

Dua laki-laki masuk halaman rumah, menggotong babi besar, disusul dua laki-laki lagi, juga menggotong babi besar. Belum sempat disapa, para lelaki itu pergi begitu saja setelah menjatuhkan babi di sudut dapur. Sejam, mereka datang lagi, menggotong babi besar, begitu terus, hingga terdapat lebih dari dua puluh babi tergeletak di sudut dapur.

Seorang perempuan bercerita: ibu adalah pemelihara babi yang tekun. Entah apa resepnya, ibu tak pernah gagal. Pernah terjadi kiamat babi, semua babi mati, kecuali babi ibu. Dalam setahun masa pembesaran, ibu selalu sukses membesarkan lebih banyak babi dari ibu-ibu lain. Begitulah, pada musim ayu untuk upacara adat, banyak warga tak punya babi hingga sulit menggelar upacara, maka ibu selalu dengan sukacita meminjamkan babinya. Si peminjam bukannya tak mau bayar di kemudian hari, tapi segala jenis uang ditolak ibu. Kembalikan nanti saja, kata ibu.

Mungkin karena itulah warga desa tetap setia memelihara babi, terutama warga yang  berutang babi pada ibu. Jaga-jaga, siapa tahu ibu tiba-tiba punya upacara, sehingga utang babi bisa dilunasi dengan lekas. Dan kini, seakan jadi hari penentuan bayar utang, ramai-ramai mereka mengembalikan babi karena mereka pun tak sudi jika jenazah ibu diupacarai dengan cara sekadarnya.

Aku, anak kandung satu-satunya milik ibu, termangu mendengar cerita dan menyaksikan peristiwa demi peristiwa di halaman rumah. Di sisi lain, aku masih gelisah mengepal gawai, mencoba menghubungi kawan baik, seorang rentenir. 

Laki-laki penggotong babi pergi, tapi mengalir kemudian ibu-ibu muda diikuti para suami. Penampilan mereka lebih rapi dari rata-rata suami-istri lain di desa itu. Ibu-ibu muda menjunjung keranjang berisi sayur-mayur, si suami di belakang menggotong sekarung beras di pundak dengan napas terengah.

Seorang kakek bercerita: pasangan-pasangan suami-istri muda itu adalah guru kontrak yang dengan bayaran seadanya mengajar anak-anak desa di sekolah desa. Jika panen tiba, mereka tak ikut panen. Untuk makan, mereka beli beras di pasar. Gaji mereka pun habis untuk beli beras. Maka setiap panen, ibu kemudian menyisihkan berasnya untuk para guru desa agar gaji mereka tetap aman jadi tabungan. Ibu kadang juga menyelipkan sayur-mayur dan sedikit cabai hasil kebun. Boleh dibayar kapan saja, bahkan ibu tak pernah tanya jika mereka sama sekali abai membayarnya. Ketika ibu meninggal, terpanggillah mereka mengembalikan beras itu meski mereka yakin sampai di surga pun ibu tak akan pernah memintanya.

Aku, anak kandung laki-laki ibu, terduduk lemas. Semua hal unik yang kusaksikan adalah keajaiban. Halaman rumah ibu, berarti juga halaman rumah masa kecilku, perlahan makin hiruk-pikuk oleh hilir-mudik orang. Entah dapat dari mana, mereka berbondong membawa janur, kelapa, bambu, dan berbagai jenis rempah. Lalu rumah ibu seakan penuh cahaya saat anak-anak berbaris seperti pawai Hari Kartini, dengan berpakaian adat,  menjinjing berbagai jenis pisang untuk bahan upacara.  

Gawaiku bergetar. Pesan masuk. Dan betapa jengah aku, bahkan rentenir yang pernah kubantu membangun rumah pun tak bisa membantuku. Dasar rentenir busuk!.

“Made, makanlah dulu. Sejak pagi Made belum makan. Ayo, makanlah!” kata seorang warga desa, namanya tak kuingat, tapi wajahnya kukenal. Dia teman sebangkuku di SD.

Aku kemudian digiring ke sebuah balai bambu beratap daun kelapa yang tampaknya baru saja dibangun. Di rumah ibu, di rumah masa kecilku sendiri, aku disuguhi berbagai jenis makanan yang tak kupahami dengan benar siapa tukang masaknya dan dari mana mereka mendapatkan bahan-bahan masakan.

“Selama upacara ngaben ini, Made cukup menyambut tamu pelayat, terutama tamu-tamu penting, teman Made dari kota. Biarlah kami mengurus upacara ibu sampai tuntas. Hidup ibu adalah milik kami, sampai kami pastikan jiwa ibu tenang berstana di nirwana, sampai ibu menjadi Dewi Hyang, menjadi Hyang Ibu,” kata teman sebangkuku di SD, yang namanya tak kuingat itu, dengan suara berat.  

Aku memandang teman itu sekilas sebelum menjumput nasi lalu kukunyah dengan perasaan hampa.

“Setelah jiwa-atma ibu berstana di nirwana, hanya Made kemudian yang berhak memujanya, memuja Hyang Ibu, dengan cara apa pun, karena kami sudah cukup bahagia bersama ibu selama ibu hidup!” lanjutnya.  

Aku tersedak. Warga desa seakan menghukumku dengan membiarkan aku merasa bodoh dan miskin, tidak mengerjakan apa-apa, tak membiayai apa-apa. Ibu membiayai sendiri upacara kematiannya dan aku harus menerima kesempatan memuja ibu, setelah ibu benar-benar tiada. [T]

Catatan: Cerpen ini pertamakali dimuat Kompas, Minggu, 3 Maret 2019

Tags: Cerpen
Share178TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Next Post

Kisah Mahasiswa jadi Ayah, Kuliah Nyambi Kerja, Dunia Terasa Keras

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Mahasiswa jadi Ayah, Kuliah Nyambi Kerja, Dunia Terasa Keras

Kisah Mahasiswa jadi Ayah, Kuliah Nyambi Kerja, Dunia Terasa Keras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co