15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hyang Ibu

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
March 13, 2019
in Cerpen
Hyang Ibu

Hyang Ibu ilustrasi Adytria Negara (diambil dari Kompas)

Di sisi jenazah ibu, satu anak, di antara sepuluh anak yang menangis, bercerita tentang pisang: Ibu selalu menjinjing sesisir pisang pada setiap sore, melangkah agak terburu di jalan desa, lalu meliuk masuk rumah seseorang.

Di dalam rumah, sisir pisang matang di pohon itu dihadiahkan pada anak-anak. Maka, riang senang memenuhi rumah itu, dan ibu kemudian pulang ke rumah sendiri dengan senyum bahagia.

Ibu melakukan ritual itu setiap sore, saban pulang dari sawah, secara bergantian dari satu rumah ke rumah lain. Dan ibu selalu tepat menebak di rumah mana anak-anak sedang berkumpul, bercerita atau bermain, sehingga ia senantiasa menerima sambutan alami dan getar bahagia ucapan terima kasih, seakan-akan ia berhadapan dengan berpuluh-puluh anak dari buah rahimnya sendiri.

Anak-anak itu datang begitu mendengar ibu meninggal. Berkerumun mereka datang dan menangis, bahkan seorang anak perempuan sesenggukan tak habis-habis hingga tubuhnya bergetar hebat. Di sela sedu-sedan itu, mereka berebutan bercerita — kisah yang sama dengan irama yang beragam tentang pisang. Begitu bangga mereka bercerita dengan sungging bibir lembut dan cerah, meski air bening senantiasa deras meluncur dari mata jernih mereka.

Satu anak perempuan seperti sedang menyimpan telaga di matanya sekaligus menyimpan ribuan cerita di kepala dan ia menumpahkan air mata dari telaga matanya sekaligus menumpahkan cerita dengan penuh perasaan. Ia berkisah tentang bagaimana ibu mendirikan pagar dari berbagai jenis pohon pisang di tepi-tepi sawah, terutama di pinggir petak kecil di sisi jurang, agar tanah tak tergerus saat hujan. Tak ada yang bisa paham bagaimana deret pisang itu ditanam dan dirawat sehingga setiap hari selalu ada sesisir pisang yang matang di pohon dan ibu akan memotongnya setiap sore, hadiah sederhana bagi anak-anak desa.

“Untuk urusan petik pisang, ibu paling lihai. Ia pegang bambu runcing, seperti di film-film perang itu, lalu menusukkannya ke bagian batang pisang agak ke atas. Ditusuk berkali-kali. Tusuk, tusuk, tusuk!” pekik si anak, sembari tetap menangis dengan air mata meleleh pada ranum  pipi. Pilu sekaligus lucu.

Anak-anak lain tertawa sekilas, lalu menangis lagi.

“Tusuk, tusuk! Sepuluh kali, seratus kali, batang pisang koyak, getahnya merembes, dan setengah bagian atas akan tertekuk, terkulai ke bawah. Tidaklah putus. Tandan pisang hanya menjuntai seakan tunduk pada ibu. Ibu dengan leluasa kemudian mengiris sesisir pisang yang matang, hanya yang matang. Lalu sisanya dibiarkan begitu saja, tetap menjuntai ke bawah, untuk diiris besok atau dua hari lagi, ketika satu sisir lagi matang dengan warna kuning tua menggoda!”

Aku, anak kandung ibu, tak betul-betul cermat mendengar anak-anak itu bercerita. Pikiranku terbagi pada gawai yang erat kukepal. Aku sedang berupaya meminjam dana kilat dari sejumlah bank dan gelisah menanti jawaban. Pagi ketika sepupu memberitahu bahwa ibu meninggal akibat terjatuh di dapur, aku langsung menghubungi bank, karena sekurang-kurangnya aku perlu Rp 200 juta untuk biaya upacara pembakaran jenazah ibu. Sebagai pengembang kondang di Bali, malu jika aku tak bisa menggelar upacara ngaben secara mewah dan megah.

Setidaknya sepuluh babi besar harus dipotong, juga ratusan ayam dan puluhan bebek beragam jenis bulu, sebagai pelengkap upacara, belum lagi untuk aneka menu jamuan tamu-tamu penting kolegaku dari kota.  Apalagi, untuk upacara besar, pamanku yang paham soal adat istiadat telah merinci berbagai sarana penting, semisal seribu butir kelapa, seratus batang bambu, puluhan ribu lembar janur, dan setidaknya sepuluh ton beras. Jika hendak membeli perlengkapan upacara yang sempurna, aku diminta menyediakan setidaknya Rp 80 juta kontan.

Gawaiku bergetar. Satu panggilan dari bank besar memberi jawaban. Pinjamanku ditolak. Seakan sudah diatur, bank lain kemudian secara bergiliran menelepon dan memberi jawaban yang sama. Semua menolak dengan alasan serupa: aku ditolak karena angsuran utang sebelumnya macet total.

Tubuhku bergetar. Kupandang tubuh ibu. Kupegang kakinya, rasanya aku ingin merajuk minta uang untuk membeli es sabun atau dibuatkan masakan sambal belut seperti ketika aku kanak-kanak. Dan ketika kusadari semua itu tak bisa kulakukan lagi, hatiku seperti teriris.

Ibu kutinggalkan setamat aku SMA, sekitar 30 tahun lalu. Gagal kuliah, aku luntang-lantung masuk partai politik dan kenal banyak politisi, pengusaha dan pejabat. Rupanya tak berbakat aku jadi politisi, dan justru tumbuh jadi pengembang. Awalnya ikut-ikutan mengecer tanah kavling, lalu coba-coba bangun satu-dua rumah sederhana, dijual dan laris. Dengan berbagai koneksi, mudah kemudian kudapat pinjaman bank. Jadilah aku pengembang sejati. Sawah-sawah petani kusulap jadi perumahan megah, petani senang, kekayaanku jadi raya. Berkali kujemput ibu, kusiapkan satu vila dan kuminta ia tinggal diam saja menikmati pemandangan alam, namun ibu selalu menolak.

“Ibu ingin merawat sawah peninggalan leluhurmu dan akan aku garap sampai tak ada tenaga dan jiwa lagi,” kata ibu selalu .

Ibu tak bisa dirayu. Dan aku terlalu sibuk untuk bisa sering-sering pulang sekadar mengetahui kehidupannya. Hingga tiba pada satu masa, terjadi situasi yang tak mudah dipahami oleh pengusaha tamatan SMA macam aku. Orang-orang kaya tiba-tiba takut dan gentar belanja besar. Daya beli mereka nol, padahal aku baru saja membangun ratusan unit vila mewah di sebuah desa di lereng gunung. Vila yang kubangun tak satu unit pun ditawar orang. Dari bisik-bisik seorang teman, konon situasi itu terjadi karena korupsi perlahan-lahan sudah reda. Apa hubungannya? Aku tak paham. Yang jelas, aku bangkrut. Kreditku macet. Bank mengucilkan aku. Dan, sialnya, hampir seluruh aset milikku telah kujaminkan demi mendapat dana besar untuk membebaskan ratusan hektar lahan milik petani di lereng gunung.

Sambil tetap memegang kaki ibu, aku berkali-kali memandang gawai di genggeman, jangan-jangan ada pengurus bank berubah pikiran. Tapi gawaiku beku, tak ada getar tak ada dering. Aku sungguh gelisah.

Dua laki-laki masuk halaman rumah, menggotong babi besar, disusul dua laki-laki lagi, juga menggotong babi besar. Belum sempat disapa, para lelaki itu pergi begitu saja setelah menjatuhkan babi di sudut dapur. Sejam, mereka datang lagi, menggotong babi besar, begitu terus, hingga terdapat lebih dari dua puluh babi tergeletak di sudut dapur.

Seorang perempuan bercerita: ibu adalah pemelihara babi yang tekun. Entah apa resepnya, ibu tak pernah gagal. Pernah terjadi kiamat babi, semua babi mati, kecuali babi ibu. Dalam setahun masa pembesaran, ibu selalu sukses membesarkan lebih banyak babi dari ibu-ibu lain. Begitulah, pada musim ayu untuk upacara adat, banyak warga tak punya babi hingga sulit menggelar upacara, maka ibu selalu dengan sukacita meminjamkan babinya. Si peminjam bukannya tak mau bayar di kemudian hari, tapi segala jenis uang ditolak ibu. Kembalikan nanti saja, kata ibu.

Mungkin karena itulah warga desa tetap setia memelihara babi, terutama warga yang  berutang babi pada ibu. Jaga-jaga, siapa tahu ibu tiba-tiba punya upacara, sehingga utang babi bisa dilunasi dengan lekas. Dan kini, seakan jadi hari penentuan bayar utang, ramai-ramai mereka mengembalikan babi karena mereka pun tak sudi jika jenazah ibu diupacarai dengan cara sekadarnya.

Aku, anak kandung satu-satunya milik ibu, termangu mendengar cerita dan menyaksikan peristiwa demi peristiwa di halaman rumah. Di sisi lain, aku masih gelisah mengepal gawai, mencoba menghubungi kawan baik, seorang rentenir. 

Laki-laki penggotong babi pergi, tapi mengalir kemudian ibu-ibu muda diikuti para suami. Penampilan mereka lebih rapi dari rata-rata suami-istri lain di desa itu. Ibu-ibu muda menjunjung keranjang berisi sayur-mayur, si suami di belakang menggotong sekarung beras di pundak dengan napas terengah.

Seorang kakek bercerita: pasangan-pasangan suami-istri muda itu adalah guru kontrak yang dengan bayaran seadanya mengajar anak-anak desa di sekolah desa. Jika panen tiba, mereka tak ikut panen. Untuk makan, mereka beli beras di pasar. Gaji mereka pun habis untuk beli beras. Maka setiap panen, ibu kemudian menyisihkan berasnya untuk para guru desa agar gaji mereka tetap aman jadi tabungan. Ibu kadang juga menyelipkan sayur-mayur dan sedikit cabai hasil kebun. Boleh dibayar kapan saja, bahkan ibu tak pernah tanya jika mereka sama sekali abai membayarnya. Ketika ibu meninggal, terpanggillah mereka mengembalikan beras itu meski mereka yakin sampai di surga pun ibu tak akan pernah memintanya.

Aku, anak kandung laki-laki ibu, terduduk lemas. Semua hal unik yang kusaksikan adalah keajaiban. Halaman rumah ibu, berarti juga halaman rumah masa kecilku, perlahan makin hiruk-pikuk oleh hilir-mudik orang. Entah dapat dari mana, mereka berbondong membawa janur, kelapa, bambu, dan berbagai jenis rempah. Lalu rumah ibu seakan penuh cahaya saat anak-anak berbaris seperti pawai Hari Kartini, dengan berpakaian adat,  menjinjing berbagai jenis pisang untuk bahan upacara.  

Gawaiku bergetar. Pesan masuk. Dan betapa jengah aku, bahkan rentenir yang pernah kubantu membangun rumah pun tak bisa membantuku. Dasar rentenir busuk!.

“Made, makanlah dulu. Sejak pagi Made belum makan. Ayo, makanlah!” kata seorang warga desa, namanya tak kuingat, tapi wajahnya kukenal. Dia teman sebangkuku di SD.

Aku kemudian digiring ke sebuah balai bambu beratap daun kelapa yang tampaknya baru saja dibangun. Di rumah ibu, di rumah masa kecilku sendiri, aku disuguhi berbagai jenis makanan yang tak kupahami dengan benar siapa tukang masaknya dan dari mana mereka mendapatkan bahan-bahan masakan.

“Selama upacara ngaben ini, Made cukup menyambut tamu pelayat, terutama tamu-tamu penting, teman Made dari kota. Biarlah kami mengurus upacara ibu sampai tuntas. Hidup ibu adalah milik kami, sampai kami pastikan jiwa ibu tenang berstana di nirwana, sampai ibu menjadi Dewi Hyang, menjadi Hyang Ibu,” kata teman sebangkuku di SD, yang namanya tak kuingat itu, dengan suara berat.  

Aku memandang teman itu sekilas sebelum menjumput nasi lalu kukunyah dengan perasaan hampa.

“Setelah jiwa-atma ibu berstana di nirwana, hanya Made kemudian yang berhak memujanya, memuja Hyang Ibu, dengan cara apa pun, karena kami sudah cukup bahagia bersama ibu selama ibu hidup!” lanjutnya.  

Aku tersedak. Warga desa seakan menghukumku dengan membiarkan aku merasa bodoh dan miskin, tidak mengerjakan apa-apa, tak membiayai apa-apa. Ibu membiayai sendiri upacara kematiannya dan aku harus menerima kesempatan memuja ibu, setelah ibu benar-benar tiada. [T]

Catatan: Cerpen ini pertamakali dimuat Kompas, Minggu, 3 Maret 2019

Tags: Cerpen
Share178TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Menawar Harga-harga di Pasar Tradisional

Next Post

Kisah Mahasiswa jadi Ayah, Kuliah Nyambi Kerja, Dunia Terasa Keras

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Mahasiswa jadi Ayah, Kuliah Nyambi Kerja, Dunia Terasa Keras

Kisah Mahasiswa jadi Ayah, Kuliah Nyambi Kerja, Dunia Terasa Keras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co