3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
October 13, 2024
in Cerpen
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga

Ilustrasi tatkala.co

TIBA-TIBA aku bertemu kawan lama. Ya, kawan lama.  Karena memang sudah lama sekali kami tidak berjumpa.

Kita berbincang cukup panjang. Sampai akhirnya aku bisa menarik benang merah dan menimpulkan kenapa dia bisa datang jauh-jauh dari rumahnya ke kota ini. Ya, dengan analisis ala detektif partikelir, aku bisa tahu dia ke sini karena cinta.

Jauh ia menyeberangi laut untuk cinta. Aku anggap dia, selain tampan, juga berani. Setelah kupancing-pancing, dia akhirnya bercerita penuh rasa bahagia dan kata berbunga-bunga tentang cintanya itu.

Ah, aku merasa kembali ke masa muda. Perjalanan cinta dulu yang begitu luar biasa, berbagai rasa dan sempat terlupakan, kini muncul kembali. Merasakan gejolak setiap saat, ketika cinta dan cinta memenuhi detik demi detik setiap hari.

Tapi ini bukan tentang cerita cintaku, ini tentang kawanku.

Dia bercerita tanpa henti, berawal dari sosial media, hingga saat ini dia sampai di kota ini. Wajahnya berbunga, pipinya memerah sambil sesekali menutup wajahnya menceritakan semua tentang pasangannya. Aku yakin, tak ada yang bisa mengubah rasa bahagianya hari ini. Aku nikmati itu, aku menanggapi dengan penuh bangga, melihat kebahagiannya, sambil sesekali aku memberikan kata-kata semangat dan berusaha menambah rasa bahagianya.

Hingga hari mulai gelap, dan aku baru ingat, aku harus beli buah untuk bekal anakku besok ke sekolah dan lauk untuk makan siang. Dan aku baru tersadar, aku tidak membawa HP. Aku meletakkan HP itu di meja dekat TV. Wah, tampaknya aku akan kena marah anak dan istri ini.

Kami akhirnya memutuskan untuk menyudahi perbincangan hari ini, karena dia juga mengatakan akan kembali ke hotel tempatnya menginap. Dia menyimpan nomor WA-ku, untuk tetap saling berkabar dan mungkin mengobrol panjang lagi, entah dengan kisah apa nantinya.

Di perjalanan, aku masih senyum-senyum, membayangkan kebahagiaannya yang menular ke diriku. Ya, hari ini aku tertular rasa bahagia, bukan hanya bahagia melihat kawan bahagia, tapi rasa bahagia yang dulu, kini kurasakan kembali, nyata sekali kurasakan.

Sampai di rumah, marahnya istri, pertanyaan anak, tak kuhiraukan, perisai bahagiaku tak tertembus oleh serangan bertubi semacam itu.

Hingga aku mulai mengenang kembali kisah-kisah dulu. Beberapa foto, benda mulai kulihat, tentu yang ada kaitannya dengan sebuah kisah cinta dulu. Media sosial mulai kugunakan, mencari beberapa akun yang dulu sering berinteraksi denganku.

Wah, aku ke masa itu lagi, walau memang aku sudah berkeluarga, dan sebagian besar kisah mantanku dulu juga sudah memiliki kehidupan keluarga masing-masing. Ini berlangsung berhari-hari, terus dan terus mengisi hariku, saat bekerja, saat bersantai bahkan saat di kamar mandi.

Aku lakukan ini, bukan untuk mengulang masa-masa indah itu. Bukan. Aku hanya mengenang, ya hanya mengenang. Kini aku sudah punya istri idaman, dan telah memberiku seorang anak yang berwajah tampan, mirip denganku.

Aku sudah bahagia, dengan kehidupan hari ini. Tapi, kalau ini istriku tahu, mungkin akan ada peperangan dalam rumah tanggaku, ya aku yakin itu. Istriku paling tanggap kalau itu masalah-masalah tentang mantan. Akan ada banyak serangan pertanyaan yang mengarah kepadaku, serangan yang menukik dan membuat lidahku kaku untuk menjawab, dan kalian mungkin tahu endingnya, ya pulang ke rumah orang tuanya sementara waktu, walau aku sudah merengek meminta maaf.

Bicara kisah dengan istriku dulu, bagiku ini yang terbaik. Kisah cinta yang mengalahkan segalanya. Bukan karena berakhir di jenjang pernikaha maka kemudian aku memaksakan untuk mengatakan bahwa kisah cinta dengan istriku ini yang terbaik. Bukan. Karena memang kisah ini sesuai dengan harapanku dulu tentang ekspektasi sebuah kisah percintaan.

Ya, sebelum aku mengenal cinta, aku memiliki sebuah ekspektasi terhadap pasanganku kelak. Dan itu semua ada pada istriku ini, hingga akhirnya aku memilihnya untuk menjadi pendamping hidup, dan berharap bisa seumur hidup. Itu membuat kisah cintaku dengan istriku ini yang terbaik dari kisah-kisah yang lain.

Ya, mantanku lumayan banyak, bukan karena aku tampan. Seorang wanita yang cantik pernah mengatakan bahwa aku punya karisma, dan karisma itulah yang membuat aku menjadi lelaki yang menarik.

Setelah aku merasa, kalau mengenang masa lalu akan membuat rumah tanggaku berantakan, aku mulai menyudahinya. Aku tidak mau kehilangan wanita yang memenuhi ekspektasiku untuk menjadi pendamping, yang cukup sulit kudapatkan ini.

Beberapa minggu berlalu, sambil tetap berkomunikasi lewat WA dengan kawan lamaku itu, aku diajak untuk bertemu kembali. Wah, aku kaget, dia masih di kota ini, aku kira sudah kembali ke kotanya di luar pulau. Hebat anak ini, perjuangan cintanya sangat besar, pikirku.

Aku mengiyakan ajakan itu, aku ijin ke istri untuk bertemu kawan, dan mungkin akan lama. Syukurnya, aku dapat ijin.

Aku datang ke tempat yang telah disepakati, di sana sudah ada dia dengan sebotol minuman beralkohol di atas meja.

Aku kaget, ada apa ini, kok tumben dia minum minuman keras. Aku tahu, dia orang yang tak pernah mau mencicipi minuman semacam ini. Beda denganku, yang cukup suka mabuk-mabukan dari dulu. Banyak pertanyaan muncul di benakku, aku merasa dia ada masalah. Karena sebagian besar orang yang sakit hati, alkohol menjadi alat pelampiasan, itu yang sering aku temui. Jangan-jangan, ah, aku tak mau banyak menduga.

Aku mulai mendekati meja dan duduk di depannya, sambil menegur seperti biasa, berusaha menyembunyikan pikiranku yang sudah dapat dipastikan, dan aku tahu, dia sedang tidak baik-baik saja.

Sapaanku dijawab dengan lesu olehnya, hanya hela napas yang terdengar. Aku mulai memesan minuman dingin, sambil memikirkan, bagaimana memulai pembicaraan ini.

Es datang, dan aku meminumnya, sambil aku menyodorkan gelas yang satu lagi untuknya.

“Ini minum esnya dulu, dan bicaralah, aku akan mendengarnya!” Aku mencoba membuka pembicaraan.

Dia meminum es yang aku berikan, dan terlihat air matanya menetes di meja.

Aku tertegun, dan merasa ini masalah yang rumit.

“Kenapa? Kenapa denganmu, kenapa kau menangis?” tanyaku.

“Bantu tuangkan minuman ini di gelas, aku ingin mencobanya!” katanya memohon kepadaku.

“Oke, oke. Tapi nanti kau harus cerita, aku tak biasa minum dengan situasi sunyi seperti ini,” jawabku sebagai syarat.

Dia hanya mengangguk kecil.

Aku mulai menuangkan minuman itu, tak lupa kutuangkan sedikit ke tanah, seperti yang biasa kulakukan. Kita mulai meminum minuman itu bergiliran, hingga gelas ke tiga, suasana masih sama dan aku tidak suka.

“Kapan kau mau mulai bercerita, aku tak suka suasana minum seperti ini. Aku pulang saja, aku minum di rumah saja, ada istri yang bisa aku ajak untuk menemaniku minum sambil bercanda!” ucapku dengan nada agak keras, sambil beranjak berdiri dari tempat dudukku.

“Aku putus dengannya!”

Kalimat itu keluar dari mulutnya, dan aku sudah tahu itu, ya aku tahu dari awal melihat di atas meja ada sebotol minuman keras.

“Iya, aku sudah menduga, terus kenapa? Ceritakan, mungkin aku bisa bantu,” jawabku sambil kembali duduk.

“Dia bilang, aku bukan tipe-nya, setelah hampir sebulan aku di sini, tiap hari aku menemuinya, mengantar bahkan membantu pekerjaannya. Tadi dia bilang ingin putus, dengan alasan aku bukan tipe-nya!” ucapnya sambil tetap tertunduk memandangi pinggiran meja di depannya.

“Oke, aku paham. Jangan terlalu dipikirkan, kita minum dulu,” jawabku sambil memikirkan solusi untuknya.

Aku menuangkan minuman lagi, kuteguk dan kutuangkan juga untuknya.

“Ini untukmu, minumlah. Lupakan sejenak tentang dia, besok kau pasti akan menemukan wanita yang kau inginkan!” Aku mulai berusaha menjadi bijak.

“Aku sulit menemukan wanita yang bisa menerimaku, kau kan tahu. Belakangan ini aku merasa bahagia sekali, tak pernah aku merasa sebahagia ini, tapi ternyata tak bisa berlangsung lama. Kau gampang bilang besok cari lagi, aku berbeda denganmu yang dengan mudah mencari yang baru,” lanjutnya dengan penuh kesedihan.

Ya, aku memang tak pernah sampai sesedih ini berpisah dengan pacar, karena aku yakin nanti pasti dapat penggantinya. Dan dia tahu itu. Ah, apa yang harus kukatakan lagi. Dia salah mencari teman untuk bercerita, aku tak punya pengalaman sepahit itu, bagaimana aku harus membangkitkan keterpurukannya ini.

“Sudahlah, nanti aku kenalkan dengan seorang wanita, mungkin bisa kau dekati, siapa tahu dia jodohmu, yok angkat gelasmu, aku tak bisa terlalu malam, anak istriku menunggu,” ucapku lagi, karena aku gak suka minum yang santai dan lama angkat gelas. Prinsipku, minum untuk mabuk, bukan penghilang dahaga saja.

Dia meneguk minuman namun dia memuntahkannya lagi. Wah, mabuk ni anak, pikirku.

“Mabuk kau ya, sudahlah, balik saja ke hotelmu, tidur dan lupakan masalahmu, minuman ini aku bawa pulang saja,” ucapku kesal, karena aku harus menyudahi minum malam ini tanpa mabuk di sini.

“Iya, aku pulang!”

Ia pergi sambil bangun sempoyongan dan berjalan ke hotel di sebelah warung tempat kami minum.

Aku mulai menutup botol, membayar es yang tadi kupesan dan pulang menaiki motor jadul kesayanganku.

Di perjalanan, aku terus berpikir tentang bahagia dan sakit yang ditimbulkan oleh cinta. Dia merasa bahagia karena cinta, namun terpuruk dan sakit juga karena cinta. Terus kupikirkan, kurang lebih sama saat aku membayangkan bahagia kumengenang masa lalu beberapa hari yang lalu. Saat bekerja, saat makan, sampai di kamar mandi, terus terpikirkan.

Akhirnya aku menemukan sebuah jawaban, saat aku melihat sebuah tulisan di sosial media Facebook, isinya begini “Daun begitu mencintai angin, namun angin menggugurkannya dengan tiupannya”.

Namun aku sedikit mengerutkan dahi membaca ini, kenapa angin yang disalahkan? Bukannya ada faktor lain juga yang paling berperan dalam gugurnya daun? Aku mencoba memahami lebih dalam lagi. Kalau dipahami lebih dalam lagi, bukan angin yang menggugurkan daun itu, namun musim yang paling berpengaruh. Ya, musim gugur. Ketika musim gugur, tanpa adanya angin pun, daun akan gugur begitu juga sebaliknya. Ketika musim gugur belum tiba, angin kencang pun belum tentu akan menggugurkan daun.

Aku membandingkannya dengan kejadian yang menimpa kawanku. Dia menemukan kebahagiaan dari orang yang dia cintai, namun dia juga merasakan sakit dari seseorang yang dia cintai.

Namun bukan cinta yang membuat kita bahagia dan sakit, tapi ego, ekspektasi dan harapan yang berlebihanlah yang membuatnya. Ketika ekspektasi seakan sudah terpenuhi, maka bahagialah yang kita rasakan, begitu juga sebaliknya, ketika ekspektasi yang kita miliki tak sesuai terhadap pasangan kita, maka sakit hati yang kita rasakan.

Tapi, kenapa tetap saja cinta yang disalahkan? Mungkin kumpulan dari ekspektasi itulah yang dinamakan cinta. Ah, aku belum sepenuhnya memahami semua itu. Mungkin kalau dia tidak terlalu berharap atau berekspektasi lebih terhadap pasangannya, dia tidak akan sesakit ini. Tapi mungkin juga dia tidak akan sebahagia dulu ketika sedang jatuh cinta. Ya, aku mulai meyakini, kalau harapan itu yang kita kenal dengan cinta.

Dua hari ini aku menemukan sebuah arti dari kata cinta. Aku mencoba menghubunginya dan mengatakan penemuanku ini. Namun ternyata dia sudah kembali ke kotanya, dia berharap bisa menemukan wanita yang mau menerimanya di kotanya saja. Dan mengucapkan terimakasih kepadaku atas nasehatku kemarin.

Wah, alkohol ternyata bisa sesakti itu ya, bisa menyembuhkan sakitnya dengan cepat, pantas banyak orang sakit hati memilih alkohol sebagai obatnya, pikirku keheranan.

Akhirnya aku simpan pemahaman yang aku temukan itu untuk diriku sendiri. Dan menyadarkanku, kalau wanita-wanita yang dulu pernah aku pacari, standar ekspektasinya masih rendah, sehingga ketika ditinggal tidak mengakibatkan sakit yang terlalu besar. Mungkin akan berbeda dengan istriku saat ini, aku menikahinya karena aku berharap besar dan harapan itu terpenuhi olehnya, ketika dia meninggalkanku dulu, aku mungkin akan memerlukan alkohol sebagai pelampiasan karena sakit yang aku alami.

Ketika aku sadar akan hal itu, aku mendekati istriku dan memeluknya dengan erat, mencium keningnya dan mengatakan, “Aku mencintaimu sayang!” [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co