26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
October 13, 2024
in Cerpen
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga

Ilustrasi tatkala.co

TIBA-TIBA aku bertemu kawan lama. Ya, kawan lama.  Karena memang sudah lama sekali kami tidak berjumpa.

Kita berbincang cukup panjang. Sampai akhirnya aku bisa menarik benang merah dan menimpulkan kenapa dia bisa datang jauh-jauh dari rumahnya ke kota ini. Ya, dengan analisis ala detektif partikelir, aku bisa tahu dia ke sini karena cinta.

Jauh ia menyeberangi laut untuk cinta. Aku anggap dia, selain tampan, juga berani. Setelah kupancing-pancing, dia akhirnya bercerita penuh rasa bahagia dan kata berbunga-bunga tentang cintanya itu.

Ah, aku merasa kembali ke masa muda. Perjalanan cinta dulu yang begitu luar biasa, berbagai rasa dan sempat terlupakan, kini muncul kembali. Merasakan gejolak setiap saat, ketika cinta dan cinta memenuhi detik demi detik setiap hari.

Tapi ini bukan tentang cerita cintaku, ini tentang kawanku.

Dia bercerita tanpa henti, berawal dari sosial media, hingga saat ini dia sampai di kota ini. Wajahnya berbunga, pipinya memerah sambil sesekali menutup wajahnya menceritakan semua tentang pasangannya. Aku yakin, tak ada yang bisa mengubah rasa bahagianya hari ini. Aku nikmati itu, aku menanggapi dengan penuh bangga, melihat kebahagiannya, sambil sesekali aku memberikan kata-kata semangat dan berusaha menambah rasa bahagianya.

Hingga hari mulai gelap, dan aku baru ingat, aku harus beli buah untuk bekal anakku besok ke sekolah dan lauk untuk makan siang. Dan aku baru tersadar, aku tidak membawa HP. Aku meletakkan HP itu di meja dekat TV. Wah, tampaknya aku akan kena marah anak dan istri ini.

Kami akhirnya memutuskan untuk menyudahi perbincangan hari ini, karena dia juga mengatakan akan kembali ke hotel tempatnya menginap. Dia menyimpan nomor WA-ku, untuk tetap saling berkabar dan mungkin mengobrol panjang lagi, entah dengan kisah apa nantinya.

Di perjalanan, aku masih senyum-senyum, membayangkan kebahagiaannya yang menular ke diriku. Ya, hari ini aku tertular rasa bahagia, bukan hanya bahagia melihat kawan bahagia, tapi rasa bahagia yang dulu, kini kurasakan kembali, nyata sekali kurasakan.

Sampai di rumah, marahnya istri, pertanyaan anak, tak kuhiraukan, perisai bahagiaku tak tertembus oleh serangan bertubi semacam itu.

Hingga aku mulai mengenang kembali kisah-kisah dulu. Beberapa foto, benda mulai kulihat, tentu yang ada kaitannya dengan sebuah kisah cinta dulu. Media sosial mulai kugunakan, mencari beberapa akun yang dulu sering berinteraksi denganku.

Wah, aku ke masa itu lagi, walau memang aku sudah berkeluarga, dan sebagian besar kisah mantanku dulu juga sudah memiliki kehidupan keluarga masing-masing. Ini berlangsung berhari-hari, terus dan terus mengisi hariku, saat bekerja, saat bersantai bahkan saat di kamar mandi.

Aku lakukan ini, bukan untuk mengulang masa-masa indah itu. Bukan. Aku hanya mengenang, ya hanya mengenang. Kini aku sudah punya istri idaman, dan telah memberiku seorang anak yang berwajah tampan, mirip denganku.

Aku sudah bahagia, dengan kehidupan hari ini. Tapi, kalau ini istriku tahu, mungkin akan ada peperangan dalam rumah tanggaku, ya aku yakin itu. Istriku paling tanggap kalau itu masalah-masalah tentang mantan. Akan ada banyak serangan pertanyaan yang mengarah kepadaku, serangan yang menukik dan membuat lidahku kaku untuk menjawab, dan kalian mungkin tahu endingnya, ya pulang ke rumah orang tuanya sementara waktu, walau aku sudah merengek meminta maaf.

Bicara kisah dengan istriku dulu, bagiku ini yang terbaik. Kisah cinta yang mengalahkan segalanya. Bukan karena berakhir di jenjang pernikaha maka kemudian aku memaksakan untuk mengatakan bahwa kisah cinta dengan istriku ini yang terbaik. Bukan. Karena memang kisah ini sesuai dengan harapanku dulu tentang ekspektasi sebuah kisah percintaan.

Ya, sebelum aku mengenal cinta, aku memiliki sebuah ekspektasi terhadap pasanganku kelak. Dan itu semua ada pada istriku ini, hingga akhirnya aku memilihnya untuk menjadi pendamping hidup, dan berharap bisa seumur hidup. Itu membuat kisah cintaku dengan istriku ini yang terbaik dari kisah-kisah yang lain.

Ya, mantanku lumayan banyak, bukan karena aku tampan. Seorang wanita yang cantik pernah mengatakan bahwa aku punya karisma, dan karisma itulah yang membuat aku menjadi lelaki yang menarik.

Setelah aku merasa, kalau mengenang masa lalu akan membuat rumah tanggaku berantakan, aku mulai menyudahinya. Aku tidak mau kehilangan wanita yang memenuhi ekspektasiku untuk menjadi pendamping, yang cukup sulit kudapatkan ini.

Beberapa minggu berlalu, sambil tetap berkomunikasi lewat WA dengan kawan lamaku itu, aku diajak untuk bertemu kembali. Wah, aku kaget, dia masih di kota ini, aku kira sudah kembali ke kotanya di luar pulau. Hebat anak ini, perjuangan cintanya sangat besar, pikirku.

Aku mengiyakan ajakan itu, aku ijin ke istri untuk bertemu kawan, dan mungkin akan lama. Syukurnya, aku dapat ijin.

Aku datang ke tempat yang telah disepakati, di sana sudah ada dia dengan sebotol minuman beralkohol di atas meja.

Aku kaget, ada apa ini, kok tumben dia minum minuman keras. Aku tahu, dia orang yang tak pernah mau mencicipi minuman semacam ini. Beda denganku, yang cukup suka mabuk-mabukan dari dulu. Banyak pertanyaan muncul di benakku, aku merasa dia ada masalah. Karena sebagian besar orang yang sakit hati, alkohol menjadi alat pelampiasan, itu yang sering aku temui. Jangan-jangan, ah, aku tak mau banyak menduga.

Aku mulai mendekati meja dan duduk di depannya, sambil menegur seperti biasa, berusaha menyembunyikan pikiranku yang sudah dapat dipastikan, dan aku tahu, dia sedang tidak baik-baik saja.

Sapaanku dijawab dengan lesu olehnya, hanya hela napas yang terdengar. Aku mulai memesan minuman dingin, sambil memikirkan, bagaimana memulai pembicaraan ini.

Es datang, dan aku meminumnya, sambil aku menyodorkan gelas yang satu lagi untuknya.

“Ini minum esnya dulu, dan bicaralah, aku akan mendengarnya!” Aku mencoba membuka pembicaraan.

Dia meminum es yang aku berikan, dan terlihat air matanya menetes di meja.

Aku tertegun, dan merasa ini masalah yang rumit.

“Kenapa? Kenapa denganmu, kenapa kau menangis?” tanyaku.

“Bantu tuangkan minuman ini di gelas, aku ingin mencobanya!” katanya memohon kepadaku.

“Oke, oke. Tapi nanti kau harus cerita, aku tak biasa minum dengan situasi sunyi seperti ini,” jawabku sebagai syarat.

Dia hanya mengangguk kecil.

Aku mulai menuangkan minuman itu, tak lupa kutuangkan sedikit ke tanah, seperti yang biasa kulakukan. Kita mulai meminum minuman itu bergiliran, hingga gelas ke tiga, suasana masih sama dan aku tidak suka.

“Kapan kau mau mulai bercerita, aku tak suka suasana minum seperti ini. Aku pulang saja, aku minum di rumah saja, ada istri yang bisa aku ajak untuk menemaniku minum sambil bercanda!” ucapku dengan nada agak keras, sambil beranjak berdiri dari tempat dudukku.

“Aku putus dengannya!”

Kalimat itu keluar dari mulutnya, dan aku sudah tahu itu, ya aku tahu dari awal melihat di atas meja ada sebotol minuman keras.

“Iya, aku sudah menduga, terus kenapa? Ceritakan, mungkin aku bisa bantu,” jawabku sambil kembali duduk.

“Dia bilang, aku bukan tipe-nya, setelah hampir sebulan aku di sini, tiap hari aku menemuinya, mengantar bahkan membantu pekerjaannya. Tadi dia bilang ingin putus, dengan alasan aku bukan tipe-nya!” ucapnya sambil tetap tertunduk memandangi pinggiran meja di depannya.

“Oke, aku paham. Jangan terlalu dipikirkan, kita minum dulu,” jawabku sambil memikirkan solusi untuknya.

Aku menuangkan minuman lagi, kuteguk dan kutuangkan juga untuknya.

“Ini untukmu, minumlah. Lupakan sejenak tentang dia, besok kau pasti akan menemukan wanita yang kau inginkan!” Aku mulai berusaha menjadi bijak.

“Aku sulit menemukan wanita yang bisa menerimaku, kau kan tahu. Belakangan ini aku merasa bahagia sekali, tak pernah aku merasa sebahagia ini, tapi ternyata tak bisa berlangsung lama. Kau gampang bilang besok cari lagi, aku berbeda denganmu yang dengan mudah mencari yang baru,” lanjutnya dengan penuh kesedihan.

Ya, aku memang tak pernah sampai sesedih ini berpisah dengan pacar, karena aku yakin nanti pasti dapat penggantinya. Dan dia tahu itu. Ah, apa yang harus kukatakan lagi. Dia salah mencari teman untuk bercerita, aku tak punya pengalaman sepahit itu, bagaimana aku harus membangkitkan keterpurukannya ini.

“Sudahlah, nanti aku kenalkan dengan seorang wanita, mungkin bisa kau dekati, siapa tahu dia jodohmu, yok angkat gelasmu, aku tak bisa terlalu malam, anak istriku menunggu,” ucapku lagi, karena aku gak suka minum yang santai dan lama angkat gelas. Prinsipku, minum untuk mabuk, bukan penghilang dahaga saja.

Dia meneguk minuman namun dia memuntahkannya lagi. Wah, mabuk ni anak, pikirku.

“Mabuk kau ya, sudahlah, balik saja ke hotelmu, tidur dan lupakan masalahmu, minuman ini aku bawa pulang saja,” ucapku kesal, karena aku harus menyudahi minum malam ini tanpa mabuk di sini.

“Iya, aku pulang!”

Ia pergi sambil bangun sempoyongan dan berjalan ke hotel di sebelah warung tempat kami minum.

Aku mulai menutup botol, membayar es yang tadi kupesan dan pulang menaiki motor jadul kesayanganku.

Di perjalanan, aku terus berpikir tentang bahagia dan sakit yang ditimbulkan oleh cinta. Dia merasa bahagia karena cinta, namun terpuruk dan sakit juga karena cinta. Terus kupikirkan, kurang lebih sama saat aku membayangkan bahagia kumengenang masa lalu beberapa hari yang lalu. Saat bekerja, saat makan, sampai di kamar mandi, terus terpikirkan.

Akhirnya aku menemukan sebuah jawaban, saat aku melihat sebuah tulisan di sosial media Facebook, isinya begini “Daun begitu mencintai angin, namun angin menggugurkannya dengan tiupannya”.

Namun aku sedikit mengerutkan dahi membaca ini, kenapa angin yang disalahkan? Bukannya ada faktor lain juga yang paling berperan dalam gugurnya daun? Aku mencoba memahami lebih dalam lagi. Kalau dipahami lebih dalam lagi, bukan angin yang menggugurkan daun itu, namun musim yang paling berpengaruh. Ya, musim gugur. Ketika musim gugur, tanpa adanya angin pun, daun akan gugur begitu juga sebaliknya. Ketika musim gugur belum tiba, angin kencang pun belum tentu akan menggugurkan daun.

Aku membandingkannya dengan kejadian yang menimpa kawanku. Dia menemukan kebahagiaan dari orang yang dia cintai, namun dia juga merasakan sakit dari seseorang yang dia cintai.

Namun bukan cinta yang membuat kita bahagia dan sakit, tapi ego, ekspektasi dan harapan yang berlebihanlah yang membuatnya. Ketika ekspektasi seakan sudah terpenuhi, maka bahagialah yang kita rasakan, begitu juga sebaliknya, ketika ekspektasi yang kita miliki tak sesuai terhadap pasangan kita, maka sakit hati yang kita rasakan.

Tapi, kenapa tetap saja cinta yang disalahkan? Mungkin kumpulan dari ekspektasi itulah yang dinamakan cinta. Ah, aku belum sepenuhnya memahami semua itu. Mungkin kalau dia tidak terlalu berharap atau berekspektasi lebih terhadap pasangannya, dia tidak akan sesakit ini. Tapi mungkin juga dia tidak akan sebahagia dulu ketika sedang jatuh cinta. Ya, aku mulai meyakini, kalau harapan itu yang kita kenal dengan cinta.

Dua hari ini aku menemukan sebuah arti dari kata cinta. Aku mencoba menghubunginya dan mengatakan penemuanku ini. Namun ternyata dia sudah kembali ke kotanya, dia berharap bisa menemukan wanita yang mau menerimanya di kotanya saja. Dan mengucapkan terimakasih kepadaku atas nasehatku kemarin.

Wah, alkohol ternyata bisa sesakti itu ya, bisa menyembuhkan sakitnya dengan cepat, pantas banyak orang sakit hati memilih alkohol sebagai obatnya, pikirku keheranan.

Akhirnya aku simpan pemahaman yang aku temukan itu untuk diriku sendiri. Dan menyadarkanku, kalau wanita-wanita yang dulu pernah aku pacari, standar ekspektasinya masih rendah, sehingga ketika ditinggal tidak mengakibatkan sakit yang terlalu besar. Mungkin akan berbeda dengan istriku saat ini, aku menikahinya karena aku berharap besar dan harapan itu terpenuhi olehnya, ketika dia meninggalkanku dulu, aku mungkin akan memerlukan alkohol sebagai pelampiasan karena sakit yang aku alami.

Ketika aku sadar akan hal itu, aku mendekati istriku dan memeluknya dengan erat, mencium keningnya dan mengatakan, “Aku mencintaimu sayang!” [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co