14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
October 13, 2024
in Cerpen
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga

Ilustrasi tatkala.co

TIBA-TIBA aku bertemu kawan lama. Ya, kawan lama.  Karena memang sudah lama sekali kami tidak berjumpa.

Kita berbincang cukup panjang. Sampai akhirnya aku bisa menarik benang merah dan menimpulkan kenapa dia bisa datang jauh-jauh dari rumahnya ke kota ini. Ya, dengan analisis ala detektif partikelir, aku bisa tahu dia ke sini karena cinta.

Jauh ia menyeberangi laut untuk cinta. Aku anggap dia, selain tampan, juga berani. Setelah kupancing-pancing, dia akhirnya bercerita penuh rasa bahagia dan kata berbunga-bunga tentang cintanya itu.

Ah, aku merasa kembali ke masa muda. Perjalanan cinta dulu yang begitu luar biasa, berbagai rasa dan sempat terlupakan, kini muncul kembali. Merasakan gejolak setiap saat, ketika cinta dan cinta memenuhi detik demi detik setiap hari.

Tapi ini bukan tentang cerita cintaku, ini tentang kawanku.

Dia bercerita tanpa henti, berawal dari sosial media, hingga saat ini dia sampai di kota ini. Wajahnya berbunga, pipinya memerah sambil sesekali menutup wajahnya menceritakan semua tentang pasangannya. Aku yakin, tak ada yang bisa mengubah rasa bahagianya hari ini. Aku nikmati itu, aku menanggapi dengan penuh bangga, melihat kebahagiannya, sambil sesekali aku memberikan kata-kata semangat dan berusaha menambah rasa bahagianya.

Hingga hari mulai gelap, dan aku baru ingat, aku harus beli buah untuk bekal anakku besok ke sekolah dan lauk untuk makan siang. Dan aku baru tersadar, aku tidak membawa HP. Aku meletakkan HP itu di meja dekat TV. Wah, tampaknya aku akan kena marah anak dan istri ini.

Kami akhirnya memutuskan untuk menyudahi perbincangan hari ini, karena dia juga mengatakan akan kembali ke hotel tempatnya menginap. Dia menyimpan nomor WA-ku, untuk tetap saling berkabar dan mungkin mengobrol panjang lagi, entah dengan kisah apa nantinya.

Di perjalanan, aku masih senyum-senyum, membayangkan kebahagiaannya yang menular ke diriku. Ya, hari ini aku tertular rasa bahagia, bukan hanya bahagia melihat kawan bahagia, tapi rasa bahagia yang dulu, kini kurasakan kembali, nyata sekali kurasakan.

Sampai di rumah, marahnya istri, pertanyaan anak, tak kuhiraukan, perisai bahagiaku tak tertembus oleh serangan bertubi semacam itu.

Hingga aku mulai mengenang kembali kisah-kisah dulu. Beberapa foto, benda mulai kulihat, tentu yang ada kaitannya dengan sebuah kisah cinta dulu. Media sosial mulai kugunakan, mencari beberapa akun yang dulu sering berinteraksi denganku.

Wah, aku ke masa itu lagi, walau memang aku sudah berkeluarga, dan sebagian besar kisah mantanku dulu juga sudah memiliki kehidupan keluarga masing-masing. Ini berlangsung berhari-hari, terus dan terus mengisi hariku, saat bekerja, saat bersantai bahkan saat di kamar mandi.

Aku lakukan ini, bukan untuk mengulang masa-masa indah itu. Bukan. Aku hanya mengenang, ya hanya mengenang. Kini aku sudah punya istri idaman, dan telah memberiku seorang anak yang berwajah tampan, mirip denganku.

Aku sudah bahagia, dengan kehidupan hari ini. Tapi, kalau ini istriku tahu, mungkin akan ada peperangan dalam rumah tanggaku, ya aku yakin itu. Istriku paling tanggap kalau itu masalah-masalah tentang mantan. Akan ada banyak serangan pertanyaan yang mengarah kepadaku, serangan yang menukik dan membuat lidahku kaku untuk menjawab, dan kalian mungkin tahu endingnya, ya pulang ke rumah orang tuanya sementara waktu, walau aku sudah merengek meminta maaf.

Bicara kisah dengan istriku dulu, bagiku ini yang terbaik. Kisah cinta yang mengalahkan segalanya. Bukan karena berakhir di jenjang pernikaha maka kemudian aku memaksakan untuk mengatakan bahwa kisah cinta dengan istriku ini yang terbaik. Bukan. Karena memang kisah ini sesuai dengan harapanku dulu tentang ekspektasi sebuah kisah percintaan.

Ya, sebelum aku mengenal cinta, aku memiliki sebuah ekspektasi terhadap pasanganku kelak. Dan itu semua ada pada istriku ini, hingga akhirnya aku memilihnya untuk menjadi pendamping hidup, dan berharap bisa seumur hidup. Itu membuat kisah cintaku dengan istriku ini yang terbaik dari kisah-kisah yang lain.

Ya, mantanku lumayan banyak, bukan karena aku tampan. Seorang wanita yang cantik pernah mengatakan bahwa aku punya karisma, dan karisma itulah yang membuat aku menjadi lelaki yang menarik.

Setelah aku merasa, kalau mengenang masa lalu akan membuat rumah tanggaku berantakan, aku mulai menyudahinya. Aku tidak mau kehilangan wanita yang memenuhi ekspektasiku untuk menjadi pendamping, yang cukup sulit kudapatkan ini.

Beberapa minggu berlalu, sambil tetap berkomunikasi lewat WA dengan kawan lamaku itu, aku diajak untuk bertemu kembali. Wah, aku kaget, dia masih di kota ini, aku kira sudah kembali ke kotanya di luar pulau. Hebat anak ini, perjuangan cintanya sangat besar, pikirku.

Aku mengiyakan ajakan itu, aku ijin ke istri untuk bertemu kawan, dan mungkin akan lama. Syukurnya, aku dapat ijin.

Aku datang ke tempat yang telah disepakati, di sana sudah ada dia dengan sebotol minuman beralkohol di atas meja.

Aku kaget, ada apa ini, kok tumben dia minum minuman keras. Aku tahu, dia orang yang tak pernah mau mencicipi minuman semacam ini. Beda denganku, yang cukup suka mabuk-mabukan dari dulu. Banyak pertanyaan muncul di benakku, aku merasa dia ada masalah. Karena sebagian besar orang yang sakit hati, alkohol menjadi alat pelampiasan, itu yang sering aku temui. Jangan-jangan, ah, aku tak mau banyak menduga.

Aku mulai mendekati meja dan duduk di depannya, sambil menegur seperti biasa, berusaha menyembunyikan pikiranku yang sudah dapat dipastikan, dan aku tahu, dia sedang tidak baik-baik saja.

Sapaanku dijawab dengan lesu olehnya, hanya hela napas yang terdengar. Aku mulai memesan minuman dingin, sambil memikirkan, bagaimana memulai pembicaraan ini.

Es datang, dan aku meminumnya, sambil aku menyodorkan gelas yang satu lagi untuknya.

“Ini minum esnya dulu, dan bicaralah, aku akan mendengarnya!” Aku mencoba membuka pembicaraan.

Dia meminum es yang aku berikan, dan terlihat air matanya menetes di meja.

Aku tertegun, dan merasa ini masalah yang rumit.

“Kenapa? Kenapa denganmu, kenapa kau menangis?” tanyaku.

“Bantu tuangkan minuman ini di gelas, aku ingin mencobanya!” katanya memohon kepadaku.

“Oke, oke. Tapi nanti kau harus cerita, aku tak biasa minum dengan situasi sunyi seperti ini,” jawabku sebagai syarat.

Dia hanya mengangguk kecil.

Aku mulai menuangkan minuman itu, tak lupa kutuangkan sedikit ke tanah, seperti yang biasa kulakukan. Kita mulai meminum minuman itu bergiliran, hingga gelas ke tiga, suasana masih sama dan aku tidak suka.

“Kapan kau mau mulai bercerita, aku tak suka suasana minum seperti ini. Aku pulang saja, aku minum di rumah saja, ada istri yang bisa aku ajak untuk menemaniku minum sambil bercanda!” ucapku dengan nada agak keras, sambil beranjak berdiri dari tempat dudukku.

“Aku putus dengannya!”

Kalimat itu keluar dari mulutnya, dan aku sudah tahu itu, ya aku tahu dari awal melihat di atas meja ada sebotol minuman keras.

“Iya, aku sudah menduga, terus kenapa? Ceritakan, mungkin aku bisa bantu,” jawabku sambil kembali duduk.

“Dia bilang, aku bukan tipe-nya, setelah hampir sebulan aku di sini, tiap hari aku menemuinya, mengantar bahkan membantu pekerjaannya. Tadi dia bilang ingin putus, dengan alasan aku bukan tipe-nya!” ucapnya sambil tetap tertunduk memandangi pinggiran meja di depannya.

“Oke, aku paham. Jangan terlalu dipikirkan, kita minum dulu,” jawabku sambil memikirkan solusi untuknya.

Aku menuangkan minuman lagi, kuteguk dan kutuangkan juga untuknya.

“Ini untukmu, minumlah. Lupakan sejenak tentang dia, besok kau pasti akan menemukan wanita yang kau inginkan!” Aku mulai berusaha menjadi bijak.

“Aku sulit menemukan wanita yang bisa menerimaku, kau kan tahu. Belakangan ini aku merasa bahagia sekali, tak pernah aku merasa sebahagia ini, tapi ternyata tak bisa berlangsung lama. Kau gampang bilang besok cari lagi, aku berbeda denganmu yang dengan mudah mencari yang baru,” lanjutnya dengan penuh kesedihan.

Ya, aku memang tak pernah sampai sesedih ini berpisah dengan pacar, karena aku yakin nanti pasti dapat penggantinya. Dan dia tahu itu. Ah, apa yang harus kukatakan lagi. Dia salah mencari teman untuk bercerita, aku tak punya pengalaman sepahit itu, bagaimana aku harus membangkitkan keterpurukannya ini.

“Sudahlah, nanti aku kenalkan dengan seorang wanita, mungkin bisa kau dekati, siapa tahu dia jodohmu, yok angkat gelasmu, aku tak bisa terlalu malam, anak istriku menunggu,” ucapku lagi, karena aku gak suka minum yang santai dan lama angkat gelas. Prinsipku, minum untuk mabuk, bukan penghilang dahaga saja.

Dia meneguk minuman namun dia memuntahkannya lagi. Wah, mabuk ni anak, pikirku.

“Mabuk kau ya, sudahlah, balik saja ke hotelmu, tidur dan lupakan masalahmu, minuman ini aku bawa pulang saja,” ucapku kesal, karena aku harus menyudahi minum malam ini tanpa mabuk di sini.

“Iya, aku pulang!”

Ia pergi sambil bangun sempoyongan dan berjalan ke hotel di sebelah warung tempat kami minum.

Aku mulai menutup botol, membayar es yang tadi kupesan dan pulang menaiki motor jadul kesayanganku.

Di perjalanan, aku terus berpikir tentang bahagia dan sakit yang ditimbulkan oleh cinta. Dia merasa bahagia karena cinta, namun terpuruk dan sakit juga karena cinta. Terus kupikirkan, kurang lebih sama saat aku membayangkan bahagia kumengenang masa lalu beberapa hari yang lalu. Saat bekerja, saat makan, sampai di kamar mandi, terus terpikirkan.

Akhirnya aku menemukan sebuah jawaban, saat aku melihat sebuah tulisan di sosial media Facebook, isinya begini “Daun begitu mencintai angin, namun angin menggugurkannya dengan tiupannya”.

Namun aku sedikit mengerutkan dahi membaca ini, kenapa angin yang disalahkan? Bukannya ada faktor lain juga yang paling berperan dalam gugurnya daun? Aku mencoba memahami lebih dalam lagi. Kalau dipahami lebih dalam lagi, bukan angin yang menggugurkan daun itu, namun musim yang paling berpengaruh. Ya, musim gugur. Ketika musim gugur, tanpa adanya angin pun, daun akan gugur begitu juga sebaliknya. Ketika musim gugur belum tiba, angin kencang pun belum tentu akan menggugurkan daun.

Aku membandingkannya dengan kejadian yang menimpa kawanku. Dia menemukan kebahagiaan dari orang yang dia cintai, namun dia juga merasakan sakit dari seseorang yang dia cintai.

Namun bukan cinta yang membuat kita bahagia dan sakit, tapi ego, ekspektasi dan harapan yang berlebihanlah yang membuatnya. Ketika ekspektasi seakan sudah terpenuhi, maka bahagialah yang kita rasakan, begitu juga sebaliknya, ketika ekspektasi yang kita miliki tak sesuai terhadap pasangan kita, maka sakit hati yang kita rasakan.

Tapi, kenapa tetap saja cinta yang disalahkan? Mungkin kumpulan dari ekspektasi itulah yang dinamakan cinta. Ah, aku belum sepenuhnya memahami semua itu. Mungkin kalau dia tidak terlalu berharap atau berekspektasi lebih terhadap pasangannya, dia tidak akan sesakit ini. Tapi mungkin juga dia tidak akan sebahagia dulu ketika sedang jatuh cinta. Ya, aku mulai meyakini, kalau harapan itu yang kita kenal dengan cinta.

Dua hari ini aku menemukan sebuah arti dari kata cinta. Aku mencoba menghubunginya dan mengatakan penemuanku ini. Namun ternyata dia sudah kembali ke kotanya, dia berharap bisa menemukan wanita yang mau menerimanya di kotanya saja. Dan mengucapkan terimakasih kepadaku atas nasehatku kemarin.

Wah, alkohol ternyata bisa sesakti itu ya, bisa menyembuhkan sakitnya dengan cepat, pantas banyak orang sakit hati memilih alkohol sebagai obatnya, pikirku keheranan.

Akhirnya aku simpan pemahaman yang aku temukan itu untuk diriku sendiri. Dan menyadarkanku, kalau wanita-wanita yang dulu pernah aku pacari, standar ekspektasinya masih rendah, sehingga ketika ditinggal tidak mengakibatkan sakit yang terlalu besar. Mungkin akan berbeda dengan istriku saat ini, aku menikahinya karena aku berharap besar dan harapan itu terpenuhi olehnya, ketika dia meninggalkanku dulu, aku mungkin akan memerlukan alkohol sebagai pelampiasan karena sakit yang aku alami.

Ketika aku sadar akan hal itu, aku mendekati istriku dan memeluknya dengan erat, mencium keningnya dan mengatakan, “Aku mencintaimu sayang!” [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Museum Nasional Indonesia Kembali Dibuka, Apakah Publik Masih Butuh Museum?

Next Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

Puisi-puisi Komang Sujana | Di Bawah Langit Bulan Juli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co