2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
July 6, 2024
in Cerpen
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria

Ilustrasi tatkala.co

 “Nanti bagaimana ya, Pak, di sana?”

“Tidak usah dipikirkan, hidup kita akan jauh lebih baik di sana!”

Percakapan canggung menyoal kehidupan masa depan itu berakhir dengan tatapan kosong. Sore hari itu ayah dan ibu berlayar menuju pulau asing yang belum pernah mereka jamah. Mereka menyaksikan deburan ombak menabrak kapal disambut isi perasaan dan pikiran yang berusaha ditenangkan. Tidak ada saudara di sana, bermodal percaya kepada pemerintah dengan membawa harapan. Untunglah Mas Pur kala itu turut menyertai mereka.

“Kamu kenapa, Pur?”

“Saya hanya takut, Pak”

Ibu suka sekali bercerita masa lalu. Setiap kali diceritakannya soal perjalanan menuju Sumatera, dan setiap kali itu juga aku merasa kagum dengan perjuangan mereka. Kekaguman itu ternyata tidak bertahan lama, hingga suatu saat aku merasa tidak berasal dari sana.

Kala peristiwa besar perpindahan itu aku belum hadir di antara mereka. Bahkan aku tidak bisa mengingat dengan cara apa aku dilahirkan. Ibu selalu menceritakan kisah tentang sebuah peristiwa yang harus mengorbankan nyawanya bila perlu.

Hujan deras mengguyur dini hari saat aku belum resmi melihat dunia ini. Ibu melahirkanku di rumah gubuk kecil yang berada di tengah kebun karet. Sebuah ironi aku dilahirkan dengan kondisi yang begitu, tepat pada Mei 1998. Aku, Fadilan, ya tangisan pertamaku menghiasi rumah yang diiringi dengan gemuruh hujan deras. Di sinilah aku dilahirkan dan di besarkan, Sumatera.

Aku tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota, pelosok begitulah sebutannya. Meskipun tanah kelahiranku adalah di Sumatera, tidak ada penghuninya adalah orang Sumatera. Lingkunganku sepenuhnya merupakan orang transmigran yang berasal dari Jawa. Ada yang dari daerah lain, namun yang mendominasi tetaplah orang Jawa. Wajar saja sejak kecil aku selalu menggunakan bahasa Jawa dan tidak nampak berasal dari Sumatera.

Kehidupan kami di desa baik-baik saja setidaknya sejauh yang aku tahu sampai sesuatu terjadi. Tidak tahu datang dari mana ataukah aku yang datang dari mana. Pertama kalinya aku melihat kedatangan orang-orang pribumi, asli wong sano. Konflik terjadi antara para pendatang seperti keluargaku dengan orang-orang pribumi itu.

“Tok tok tok tok!” Kencang sekali Mas Pur mengetuk pintu rumah.

“Ada apa, Pur?” tanya ayah.

“Ayo, Pak, kita harus segera mengungsi ke desa sebelah. Di sini sedang tidak aman!” Mas Pur menjelaskan sambil terengah-engah.

Langsung mengerti maksud Mas Pur, ayah segera menyuruh ibu menyiapkan keperluan secukupnya untuk dibawa. Kala itu perjalanan kami untuk mengungsi karena perang tepat waktu maghrib. Listrik belum mengalir ke desa sehingga gelap gulita menemani perjalanan kami. Hal itu menjadi sebuah pengertian pertamaku atas tidak diterimanya aku di tanah kelahiranku sendiri.

Aku ingat betul kejadian yang memaksa kami mengungsi sementara ke desa lain itu. Aku tidak pernah berpikir bahwa kami akan mengalaminya. Hal itu terjadi karena sengketa tanah, begitu mereka membahasakannya. Aku tidak tahu apakah itu yang sebenarnya terjadi? Setelah itu tidak ada perang semacam itu lagi.

Aku bersekolah dengan baik di sana tetapi ketika SMP aku merasa ingin keluar dari kenyamanan ini. Bu Indah, siang itu ia menjelaskan tentang pentingnya membaca buku. Hal ini menarik perhatianku, bagaimana tidak? Untuk dapat membaca buku saja aku harus menunggu ayah ke kota agar dibelikannya aku sebuah buku baru. Ayah tidak sering ke kota, selain jauh biayanya juga cukup mahal apalagi dengan kondisi jalan merah yang ketika hujan tidak bisa dilewati.

Aku berpikir saat itu, apabila membaca buku menjadi hal penting maka jawaban dari masalahku adalah dengan tidak berada di desa. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan SMA ke kota. Ayah dan ibu tentu merestui apa yang menjadi pilihanku.

“Kamu yakin, Lan?”

“Yakin opo, Mas?”

“Itu, mau sekolah di kota!”

“Ya yakin to!”

“Kamu harus jaga diri baik-baik yo. Jangan mau kalau dihina!”

Perkataan Mas Pur sempat membuatku ragu tetapi juga tidak menyurutkan semangatku untuk maju. Apalagi ayah dan ibu mendukungku untuk itu.

Aku diterima di salah satu sekolah favorit di kota. Hal itu membuatku senang bukan main ditambah sekolah itu boarding school dan aku setidaknya merasa aman. Atau malah tidak? Tahun pertama aku menginjakkan kaki di sekolah itu bangganya bukan main. Aku mencapai tujuanku untuk pertama kalinya.

“Hallo, aku Andi!”

“Oh iya, aku Fadilan!”

“Kamu Jawa ya? Kelihatan medoknya!” ujarnya sambil tertawa kecil

“Hehe, iya!”

“Santai aja, aku juga ada keturunan Jawa-nya kok, Lan!”

Perkenalan singkatku dengan Andi ketika menyusun barang-barang, kebetulan kami satu kamar. Masa orientasi sekolah telah usai, semua berjalan baik dan menyenangkan setidaknya sampai sebelum malamnya tiba.

Brak!

Tiba-tiba pintu kamar kami dibuka paksa dan dimatikan lampunya. Aku yang sudah menata diri di atas ranjang terkejut bukan main. Aku tidak melihat siapa yang datang dengan cara seperti itu.

“Siapa wong Jawo di sini? Ngakulah!”

Aku mengenal suara itu, sepertinya. Pemilik suara itu memaksa kami duduk di lantai kamar dan dinyalakannya lilin kecil, wajahnya sedikit lebih jelas. Ia adalah Rajo, kakak tingkat yang sudah menginjak tahun terakhirnya di sekolah.

“Kau, yo?” kata Rajo sembari mendorong kepalaku dengan telunjuknya.

“Bang, jangan, Bang!” Andi berusaha menghentikan dorongan Rajo yang semakin keras.

“Ga usah ikut-ikut kau!” Rajo menatap Andi dengan tajam.

Tentu saja aku hanya bergeming, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan tidak tahu harus berbuat apa. Kenapa harung wong Jawo yang dia cari? Apakah aku atau karena asalku yang memiliki sebuah kesalahan? Kenyataannya aku memang tidak berasal dari Sumatera. Aku hanyalah aku, Fadilan yang tidak tahu harus mengaku dirinya apa.

Sejak kejadian malam itu, hari-hari berikutnya makin kian terasa. Tidak, ternyata bukan karena aku. Wong Jawo begitulah mereka memanggilku, bukan namaku. Aku muak dengan semua itu. Bagaimana aku tidak memiliki hak atas tanah kelahiranku? Ya, kurasa memang begitulah derita sebagai seorang yang terbuang dari sukunya dan tidak diakui di tanah kelahirannya.

Pergulatan dengan diriku semakin kuat. Aku tahu keberadaan identitasku tidak diakui di Sumatera. Aku kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di Jawa, tepatnya Salatiga. Aku datang ke Jawa dengan membawa harapan, ini akan lebih terasa seperti di rumah. Akan tetapi, ternyata aku salah.

“Baiklah teman-teman, hari ini kita akan membahas soal sistem ketatanegaraan!” Itu pembuka ceramah Pak Dosen dimulai.

Aku tidak terlalu fokus hari itu karena suasana kelas sangat berisik. Seperti biasanya, Pak Dosen tidak perlu dengan kondisi mahasiswanya. Ia berprinsip yang penting sudah mengajar maka ia setidaknya tidak memakan gaji buta.

Aku mengelilingkan mataku ke sekitar kelas untuk melihat-lihat. Ini kali pertama aku memakai kelas itu setelah tiga hari memasuki dunia perkuliahan. Mataku bertemu dengan sepasang mata tajam, sepertinya sejak tadi dia memandangku. Aku ingat, namanya Joko teman satu kelasku juga. Aku membalas tatapannya itu dengan senyuman, tetapi dia menyunggingkan bibirnya sambil tertawa kecil sambil berdecak.

Aku berusaha kembali fokus dengan pelajaran hari itu dan tidak menghiraukan ekspresi Joko tadi. Selepas kelas, tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba Joko mendorongku. Entahlah itu sebuah ketidaksengajaan atau bagaimana. Aku dan teman-teman segera menuju kelas selanjutnya.

Aku biasa duduk di depan bukan karena ingin terlihat pintar, tetapi agar tidak mudah mengantuk. Duduk di belakang memberikan atmosfer yang nyaman dan semakin lengkap diiringi dongeng dari dosen. Aku sudah melihat barisan depan kosong dan hendak duduk tetapi Joko tiba-tiba datang dengan cepat dan duduk di kursi pilihanku. Aku menerimanya dan memilih kursi lainnya.

Usahaku untuk tidak menghiraukan sikap Joko ternyata gagal. Aku tetap merasa terganggu dengan segala sikapnya kepadaku. Apa sebenarnya yang dia mau? Aku hanya membatin sampai akhirnya semua menjadi lebih jelas.

“Hei, Fadilan, wong Sumatera!” Tiba-tiba Joko memanggilku sambil tertawa licik.

“Apa maumu?”

“Mauku? Kamu balik saja ke hutan!” jawabnya diimbangi dengan ketawanya yang puas.

Aku mengepalkan tanganku tetapi tidak sampai hati membalasnya. Joko tidak salah, aku memang orang Sumatera, tetapi itu juga tidak benar karena aku juga orang Jawa. Sederhana saja sebenarnya aku punya dua identitas dan membawa dua budaya dalam diriku. Akan tetapi, nyatanya identitas itu membuatku semakin kehilangan diriku.

Mengapa manusia di bumi ini harus dilahirkan dengan membawa identitas asalnya? Setiap memulai kenal dengan orang baru, lingkungan baru, sekolah baru, tentu pertanyaan yang muncul adalah “Kamu berasal dari mana?”.

Lantas harus aku jawab apa pertanyaan itu? Kupikir ini tidak adil di atas bumi yang sama tetapi aku dibedakan hanya karena identitas asalku.

“Hei, wong Sumatera” atau “Baliklah ke hutan, ngapain di sini?” Atau “Tempat ini ga cocok tau buatmu!” atau “Wong ndeso!” Begitulah kiranya mereka memanggilku selama kuliah.

Sebuah hal yang tidak aku pikirkan akan terjadi di Jawa. Aku menjadi hilang kendali atas perasaanku. Perasaan soal apakah aku harus kembali ke tempat yang memberiku segalanya tetapi di sisi lain tidak ada penerimaan atas diriku. Aku seperti sedang berenang yang tiba-tiba merasa mengambang lalu tenggelam.

Aku ingin menjadi burung. Bergerak bebas kemana mereka mau tetapi kembali ketika sudah terlalu jauh. Sayangnya, aku tidak mempunyai tempat yang sebenarnya aku bisa kembali. Tempat-tempat itu justru hanya menjadi tempat singgahku bukan sebenarnya “rumah” untukku.

Sekarang di sinilah aku, berteman gelapnya malam dengan dingin yang menusuk. Aku mempunyai rumahku sendiri. Tidak, tidak di Sumatera apalagi di Jawa. Aku menemukan cintaku di sini. Di beranda rumahku ini aku memikirkan segala hal yang tidak akan orang ketahui. Memikirkan masa lalu tidak berarti membuatku membenci tempat yang sudah membesarkanku, tetapi aku tahu ada cara lain untuk membalasnya. Membalas tidak harus berada pada tempat yang sama. Nyatanya tanah dan air bersumber dari bumi yang sama. Pengabdianku di sini, di Timur Indonesia.

Sang mentari sedang terik-teriknya hari ini. Kalaupun aku pergi ke luar tentu akan membuat pusing.

“Permisi!”

“Iya, sebentar!”

“Nak Fadilan, Mama, boleh tida meminta tolong?”

“Boleh saja, Mama. Ada apa?”

“Mama, ingin sekali membeli buku cerita untuk Petrus. Bisa tida kalau pesawat itu datang bawakan buku?”

Aku hanya tersenyum mendengar apa yang Mama itu ungkapkan. Teringat kembali aku kepada masa lalu yang membawaku sejauh ini. Aku menemukan sesuatu di sini.

Pagi ini bumi terasa dingin namun hangat
Aku berpesta dengan pelayaran dan pengakuan
Tidak ada sesal yang menjadi bagian
Semua sudah aku putuskan
Ini adalah asal dan tujuan Tuhan ciptakanku

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata | Ketika Sajak Itu Jejak di Sungai

Next Post

Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang | Dari Pameran Foto-Dokumen NU Buleleng dan Benda Sejarah Muslim Bali Utara

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang | Dari Pameran Foto-Dokumen NU Buleleng dan Benda Sejarah Muslim Bali Utara

Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang | Dari Pameran Foto-Dokumen NU Buleleng dan Benda Sejarah Muslim Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co