3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Merta dan Kisahnya Menabung

I Made Ariyana by I Made Ariyana
March 30, 2024
in Cerpen
Made Merta dan Kisahnya Menabung

Ilustrasi tatkala.co

MENDENGAR kata ‘menabung’, Made Merta jadi teringat lagu lawas yang sangat populer ketika dia masih kanak-kanak dulu. Kalau dia tidak salah, begini liriknya:

“…Bing beng bang, yuk kita ke bank. Bang bing bung, yuk kita nabung. Tang ting tung, hey jangan dihitung. Tau-tau kita nanti dapat untung…”

Generasi milenial pasti tahu dong lagu itu. Ya, itu adalah lagu berjudul Menabung karya Titiek Puspa. Lagu itu diciptakan tahun 1996 dan dipopulerkan oleh penyanyi cilik saat itu: Geofanny dan Saskia. Mereka membawakannya dengan asyik dan ceria. Isinya tak lain dan tak bukan, ajakan untuk menabung.

Selain teringat lagu, kata ‘menabung’ juga membuat Made Merta terkenang akan masa-masa dia SD dulu. Di SD-nya dulu ada  6 ruang kelas. Dinding-dindingnya memang kusam, namun sarat pesan. Di sana tertempel kertas-kertas manila penuh kata-kata bijak dan mulia, berbunyi “Mari Gemar Menabung”, “Menabung Untuk Bekal Masa Depan”, “Hemat Pangkal Kaya”, dan sejenisnya; Menghiasi semua sisi, ditulis dengan penuh penghayatan dan penuh jiwa seni, sangat persuasi.

Kemudian saat SD juga, di akhir masa kelas VI, setelah Ebtanas, Made Merta ikut tamasya. Lokasinya di Kebun Raya Bedugul yang sejuk, nun di Tabanan sana. Sedih dia lantaran setelah ini harus berpisah dengan kawan-kawannya, melanjutkan ke SMP yang berbeda-beda, namun juga senang. Pasalnya, dia naik bus, tidak usah bayar. Tiket masuk tidak usah bayar. Makan dan minum juga tidak bayar. Rupanya segala ongkos sudah diambil dari tabungan, tak perlu lagi keluar uang. Ah, sungguh menyenangkan.

Di rumah pun, saat kecil dulu, Made Merta punya tabungan. Sisa uang saku Rp50, Rp100, atau Rp500 dia masukkan ke sebuah celengan. Celengan Made Merta terbuat dari tanah, berwarna cokelat dan gendut seperti ceret, hanya saja tidak ada moncongnya. Dia isi dengan tekun setiap hari. Sekeping demi sekeping, selembar demi selembar. Kian lama celengan Made Merta kian berisi dan berat.

“Ternyata benar kata pepatah, sedikit demi sedikit, dua-tiga pulau terlampaui!” serunya kala itu dengan penuh gairah, tak sadar dia pepatahnya salah.

Lalu pada Umanis Galungan, celengan itu dia pecahkan. Memecahkannya tidak sembarangan, tidak dengan cara dibanting hingga pecah berkeping-keping, melainkan dengan dipukul bagian bawahnya, pelan-pelan, menggunakan palu kecil. Dia pecahkan sedikit saja, membentuk lubang. Dengan begitu, celengan itu bisa dia gunakan lagi. Setelah isinya dikuras, tinggal tambal lubang tadi dengan kertas. Biasanya pakai kertas tebal bekas pembungkus Baygon bakar; Biar hemat.

Uang yang terkumpul, yang membuat kantong Made Merta melendung bak perut kucing bunting, dia gunakan untuk membeli baju baru. Belinya di Tiara Dewata, mall termegah di Denpasar kala itu. Memecahkan celengan adalah ritual spesial di hari raya yang selalu dia tunggu-tunggu. Baginya, hari raya belum berasa kalau belum beli baju baru.

Segala kenangan-kenangan itu menempel di otak Made Merta, membentuk persepsi bahwa menabung adalah sesuatu yang positif dan menyenangkan. Ketika mendengar kata ‘menabung’, di sanubarinya akan melintas perasaan gembira, asyik, ceria, indah, seru, untung, banyak uang. Dalam kamus Made Merta, menabung adalah menyisihkan sebagian uang untuk disimpan, yang suatu saat nanti akan digunakan untuk membeli impian. Setelah dewasa Made Merta mengerti, menabung ternyata masih bersaudara dengan kesederhanaan dan kesahajaan.

Namun demikian, meski Made Merta tahu menabung itu baik, kebiasaan menabung tidak serta-merta terbawa sampai ketika dia sudah berumah tangga. Setelah menikah dan punya anak, menabung dirasanya berubah menjadi sesuatu yang sulit. Lebih sulit daripada soal tes CPNS yang dia hadapi tempo hari di kantor BKN. Ya, menyisihkan sedikit uang dari penghasilannya yang sudah sedikit bukanlah perkara mudah. Jika kau ingin tahu, kini Made Merta tidak punya tabungan sepeser pun. Tragis memang.

Made Merta merasa kehidupan setelah berkeluarga tidak semudah masa kanak-kanak dulu. Pada masa itu kita masih bisa, orang Bali bilang, natakin lima alias meminta kepada orang tua; Biaya sekolah, tinggal minta. Ingin beli apa-apa, tinggal bilang. Kita belum mengenal kata ‘tanggung jawab’. Orang tualah yang menanggung, kita hanya menjawab. Yang perlu kita lakukan hanya mengikuti perintah orang tua. Betapa menyenangkan menjadi kanak-kanak.

Made Merta yakin itulah alasan mengapa lagu-lagu bertema menabung kebanyakan dinyanyikan oleh anak-anak; juga slogan-slogan ajakan menabung ditempel di sekolahan, bukan di kantoran. Mungkin maksudnya supaya kita menabung sejak kecil, sejak sebelum punya tanggung jawab keuangan.

Nah, setelah berkeluarga, semua jadi berbeda. Pengeluaran merajalela. Kebutuhan membengkak dan serba mendesak. Bayar kontrakan, bayar cicilan kendaraan, bayar arisan, bayar uang kebersihan, bayar listrik, bayar SPP, beli buku, susu, tisu, beras, gas, minyak, sayur, lauk-pauk, sabun, BBM, pulsa, kuota, dan lain sebagainya. Di ATM, uang gaji bak cairan alkohol: cepat sekali menguap.

Terlebih Made Merta adalah orang Hindu-Bali dengan seabrek kegiatan adat dan agama, baik di keluarga, di banjar, maupun di desa. Semua kegiatan itu sudah barang tentu menimbulkan pengeluaran, seperti bayar piturunan, bayar pangepok, bayar dedosan, bikin banten setiap rahinan, menyama braya, potong babi, biaya ngaben, dan lain sebagainya. Semua jadi sulit dan rumit tatkala penghasilan sedikit. Kalau begitu ceritanya, jangankan menyisihkan sedikit uang untuk ditabung, bisa tidak berutang saja Made Merta sudah merasa tenteram.

“Sentosalah kalian yang belum menjadi orang tua,” desahnya pada suatu hari kepada murid-murid zaman now yang hedonis.

Di media daring Made Merta sempat membaca sepotong artikel. Tertulis di sana, sebagian besar penabung sepakat bahwa minimal tabungan dan investasi adalah 10% dari penghasilan. Menarik, pikirnya.

Para pakar finansial punya pendapat lebih brilian. Menurut mereka, bagian penghasilan yang harus disisihkan untuk ditabung setiap bulan adalah 30%. Menurut mereka pula, kalau kita bisa menabung 30% dari penghasilan per bulan, peluang pensiun dengan tenang semakin mendekati kenyataan. Luar biasa! 

Made Merta merasa tulisan itu sangat renyah dan ringan macam kerupuk. Teori-teori dan tips-tips yang dihadirkan yahud. Ide-ide cemerlang dari para ahli keuangan itu sukses membuatnya termotivasi. Dia tercerahkan! Membacanya membuat Made Merta tiba-tiba merasa optimis dan penuh harapan. Langsung saja di kepalanya terbayang masa depan yang mapan, gilang-gemilang, jauh dari yang namanya kekurangan.

Amboi, pakar finansial sungguh merupakan profesi yang mengagumkan. Sebuah profesi cerdas yang bisa menuntun umat manusia menata masa depan yang lebih baik. Hanya orang-orang yang diberkati Tuhan dengan IQ tinggi yang bisa menjadi pakar finansial. Mereka adalah orang-orang kritis dan penuh analisa. Lulusan cumlaude fakultas ekonomi perguruan tinggi luar negeri pastinya.

Hanya saja, bayangan masa depan yang mapan dan gilang-gemilang itu dalam sekejap sirna, Made Merta menemukan satu kendala: dari mana mendapatkan 10% ataupun 30% untuk ditabung? Bukankah uang selalu habis, bahkan sudah habis sebelum dia terima? Oh, my god! Padahal hidupnya sudah sangat irit, jauh lebih irit daripada Ibu Menteri Keuangan republik ini. Made Merta jadi paham, berteori adalah satu hal dan bagaimana mempraktikkannya adalah hal lain.

Tetapi untunglah Made Merta punya anak sudah kelas 3 SD. Rajin betul anak lanangnya itu menabung di sekolah, padahal Made Merta tidak pernah mengajari. Mungkin di kelasnya juga ada slogan-slogan persuasif berisi ajakan untuk menabung seperti di kelas bapaknya saat SD dulu. Atau jangan-jangan dia terinspirasi lagu ‘Menabung’ karya Titiek Puspa yang dinyanyikan Saskia dan Geofanny? Entahlah. Apapun itu, Made Merta senang.

Setiap hari Made Merta memberi anaknya Rp2000, Rp5000, terkadang Rp10000, untuk ditabung. Sampai buku tabungannya penuh dan harus diganti. Ketika sudah kelas 6 nanti, uang tabungan itu bisa dipotong oleh sekolahnya untuk ongkos bertamasya ria ke Bedugul, pikir Made Merta. 

Di rumah, sang anak juga punya celengan. Bukan dari tanah melainkan dari bahan kaleng, bergambar superhero. Tiap malam ketika tidur, celengan itu selalu dia peluk. Betapa Made Merta bangga dengan anaknya yang semata wayang. Diam-diam, Made Merta ingin sekali kelak dia bisa menjadi seorang pakar finansial, yang cerdas, terkenal, dan pandai berteori. Jangan seperti bapaknya yang hanya seorang guru. Sudah miskin, honorer pula![T

  • Baca CERPEN lain
Misteri Kepala yang Terpenggal | Cerpen Putu Arya Nugraha
Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto
Janda yang Ditinggal Mati Suaminya | Cerpen Depri Ajopan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Ingatanku Kepada Kematian

Next Post

Kolaborasi Jepang-Pedawa, Usaha Memperkenalkan Seni-Budaya Lintas Negara

I Made Ariyana

I Made Ariyana

Lahir di Denpasar. Lulusan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali. Saat ini menjadi guru bidang studi Bahasa Indonesia di SMP Negeri 9 Denpasar.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Jepang-Pedawa, Usaha Memperkenalkan Seni-Budaya Lintas Negara

Kolaborasi Jepang-Pedawa, Usaha Memperkenalkan Seni-Budaya Lintas Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co