14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara

Andi Wirambara by Andi Wirambara
December 29, 2024
in Cerpen
Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

“Waduh!”

Tiada satupun dari anak-anak itu yang tersenyum. Ekspresi datar pun tak tertayang pada wajah mereka. Semua kompak menunjukkan ekspresi kaget dan panik. Keseruan bermain sepak bola buyar seketika saat Dulindul terlalu semangat menendang bola hingga melambung melewati pagar tembok putih yang berdiri tinggi, mendarat di pekarangan rumah orang yang dianggap simbol kengerian anak-anak di kampung itu. Mbah Rojek.

Moklis terduduk di tanah berpasir yang ditumbuhi rumput sedikit-sedikit, tak mampu membendung kekecewaan karena baru dua menit ikut bermain, ia terlambat karena harus cuci piring dulu. Dulindul menengok pada teman-temannya yang lemas, mental mereka telanjur lungsur karena bola itu jatuh di tempat terburuk bagi mereka. Bukan sekadar mitos, warga kampung paham setiap ada bola masuk ke sana dan diketahui Mbah Rojek, kemungkinan bola dikembalikan nyaris nihil.

Dulindul mau menangis, itu bola kesayangannya. Untuk mendapatkannya, ia harus memasrahkan diri di hadapan mantri khitan. Usai resmi disunat dan menjalani hari mengenakan sarung, bapaknya membawakan bola itu dari kota. Bola berbahan karet, permukaannya mengilap, pola segilima terhias kombinasi warna putih, hitam, dan kuning yang cantik. Anak-anak kampung menyebut bola itu sebagai bola betulan, sebab bola seperti itu yang kerap mereka lihat di televisi saat warga berkumpul di warung kopi Abah Gonjreng, menyaksikan pertandingan sepak bola di televisi tabung dengan tangkapan siaran paling jernih seantero kampung.

Biasanya Dulindul dan kawannya bermain menggunakan bola plastik yang tiap ditendang arahnya sembarang berbelok, terlebih terpaan angin pesisir memang tak ramah bagi bola macam itu. Bola yang dibeli secara patungan itu juga cepat rusak, biasanya berakhir pecah. Pernah juga berlubang, mereka coba mengisinya dengan pasir, namun bola siluman itu justru menyakiti jari kaki mereka. Jika tak ada uang beli bola plastik, mereka berkreasi mengumpulkan kertas-kertas bekas dari berbagai tempat, seperti tempat sampah sekolah, kantor desa, atau meminta orang dewasa. Limbah kertas itu dibentuk bulat, diisi sabut kelapa dan diikat dengan tali. Hanya saja, bola itu berujung menjadi hamburan sampah berserakan saat mereka sudah bersemangat menendang.

Kesukaan Dulindul dan kawannya bermain bola bagai telah menjadi candu, pokoknya setiap hari harus main. Namun apalah sepak bola tanpa bola. Ludesnya bola mereka selain karena rusak, kadang juga musnah ketika sudah masuk ke area rumah Mbah Rojek. Mereka pernah melihat sendiri bagaimana bola mereka yang terdampar di sana dilumat api bersama daun-daun kering dan sampah oleh Mbah Rojek.

Kini Dulindul memantapkan hati, mencoba segala kemungkinan sekecil apapun demi bola kesayangannya itu. Ada gerogot penyesalan karena tidak menolak permintaan teman-temannya untuk mengeluarkan bola itu dari kamarnya. Dulindul rela dikatai pelit karena jarang mau memakai bolanya, sebab risiko masuk ke pekarangan Mbah Rojek amatlah tinggi. Lapangan bermain mereka adalah satu-satunya lapangan paling mumpuni di kampung. Permukaannya paling datar, areanya paling luas, tanahnya keras, rumput-rumput pendeknya lebih banyak dari tanah kosong sekitarnya yang didominasi pasir, letaknya pun di pusat kampung. Lapangan kesayangan warga yang juga sering dipakai untuk kegiatan ramai seperti lomba tujuh belasan, dangdutan, bahkan menyembelih kurban. Batas lapangan ini adalah pagar tembok putih yang cukup tinggi. Tak ada lagi orang yang rumahnya bertembok pagar sekelas itu di kampung selain Mbah Rojek.

Tembok pagar itu ditengahi oleh sepasang pintu besi bercelah-celah yang berfungsi sebagai gerbang masuk ke pekarangan. Di situlah Dulindul dengan langkah pelan dan sedikit gemetar mendekat dan mengintip mencari bolanya. Telapak tangannya perlahan menyentuh pintu pagar besi bercelah itu dan pintu itu bergerak. Rupanya tak terkunci. Kemudian bunyi engsel pagar berderit seketika membuat Dulindul terkejut bukan main. Ia langsung terbirit-birit meninggalkan tempat itu dan kembali ke lapangan bermain.

Teman-temannya masih di sana, duduk berkumpul di bawah pohon agak rindang dan memainkan apa saja di sekitar mereka: pasir, kerikil, bahkan sekadar menggambari pasir memakai ranting. Anak-anak yang mati gaya karena kehilangan bola itu melihat Dulindul datang terangah-engah. Mereka tahu Dulindul nekat mengintip ke area rumah Mbak Rojek dan tidak ada satupun yang berani ikut-ikutan. Ada sedikit rasa lega mereka melihat Dulindul kembali dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.

“Ada bolanya, Dul?” Mokles mewakili pertanyaan di benak masing-masing kawannya.

Dulindul menggeleng, masih mengatur napasnya dan belum mampu berbicara.

“Sudahlah, Dul, tak mungkin bolanya bisa diambil,” sahut lesu Ojik, bocah yang sedari tadi menggambari pasir dengan ranting tanpa bentuk jelas.

“Betul, ikhlaskan saja. Daripada kau yang kenapa-kenapa!” Yang lain mulai ikut bersuara.

Kepasrahan teman-temannya justru buat Dulindul tersinggung. Anak-anak ini sebenarnya kompak sebab sebagian besar seumuran. Namun urusan dengan Mbah Rojek lain cerita. Kekompakan mereka terbentur perkara yang tak mungkin bisa diatasi dengan sekadar kompak. Dulindul memaklumi dan dia tidak ingin berlama-lama tersinggung. Anggaplah kawan-kawannya sudah tak mungkin membantunya, maka tanpa pamit dan bicara Dulindul kembali menantang kengerian itu demi bolanya.

***

Rumah Mbah Rojek terbilang paling mewah di kampung. Dari kejauhan sudah terlihat pucuk atap rumahnya yang memakai genteng keramik warna kecokelatan yang mengilap, kadang berkilau di siang hari. Begitu mencolok dibanding rumah warga lain yang didominasi atap seng ataupun genteng tanah liat yang warnanya pudar dan berjamur. Rumah tak bertingkat dengan seluruh tembok berwarna putih gading, berlantai keramik, dan perabotan didominasi kayu jati yang kokoh, beberapa furniturnya berbahan ulin didatangkan dari Kalimantan. Pekarangannya jangan ditanya, halamannya mungkin muat untuk diparkir beberapa truk pengangkut pasir. Halaman itu ditumbuhi pohon kelapa, rambutan, bunga-bunga, dan didominasi semak-semak yang dipangkas rapi serupa rambut model cepak.

Sekarang Dulindul sudah berada di antara semak itu. Sejak ia melihat pintu pagar yang tak sengaja didorongnya tadi masih dalam posisi sama, ia yakin rumah Mbah Rojek benar-benar keadaan sepi dan segenap keberaniannya ia pertaruhkan untuk pelan-pelan masuk ke area menyeramkan itu.

Dengan langkah mungil-mungil dan jinjitan sangat hati-hati, Dulindul menyisir pandangannya ke seluruh halaman. Butir keringat muncul di dahinya sepelan langkahnya, debar-debar jantungnya yang begitu kencang sedikit membuat Dulindul khawatir seolah debarnya akan terdengar orang lain. Usai sekian langkah yang terasa panjang, mata Dulindul berbinar melihat bulatan yang begitu dikenalnya. Bola kesayangannya tergeletak tepat di depan teras utama berkeramik rumah itu. Teras yang lengkap dengan meja kayu bundar dikelilingi lima kursi kayu berlengan berwarna senada. Tempat itu biasa digunakan Mbah Rojek menerima tamu bapak-bapak di kampung sekaligus tempat favorit Mbah Rojek duduk-duduk bersantai bersama istrinya—bahkan hingga seharian.  Kebiasaan Mbah Rojek itu umum diketahui warga kampung.

Bola yang masih di sana dalam keadaan utuh adalah kabar baik, kabar terburuk tentunya adalah lokasinya berada seperti di pintu kandang singa. Dulindul makin berdebar, namun melihat bolanya hanya berjarak sepelemparan sandal saja dari semak tempatnya bersembunyi semakin menaikkan rasa optimis membawa pulang kembali bolanya.

Sebuah rencana gesit tertayang di kepala Dulindul. Pada pengamatannya, semua pintu rumah bagian depan termasuk pintu utama yang tersambung langsung dengan teras, tertutup. Jendela-jendela kacanya terlihat gelap dari luar, tertutup gorden. Selanjutnya Dulindul akan berjinjit dengan langkah selebar mungkin, meraih bola, lantas berlari sekencang melebihi apa yang ia mampu jika perlu.

Dimulailah langkah pertamanya, diikuti langkah kedua, begitu lebar hingga ia mulai merasa muncul rasa berat di paha dan betisnya, namun langkah terus berlanjut hingga kedua tangannya berhasil memungut bola itu. Tanpa berpikir lagi kakinya langsung melompat sebagai langkah pertama pelariannya dari pekarangan dengan hawa teror yang tinggi ini. Namun baru saja berbalik, sosok besar tahu-tahu sudah di belakangnya, menyetop total langkahnya dan refleks mendongak. Tampaklah wajah Mbah Rojek menatapnya tajam, tangan kanannya membawa sebilah bambu kecil nan tipis.

Dulindul jatuh terduduk, seluruh tulang-tulangnya seakan rontok berbarengan.

***

Jauh sebelum Dulindul lahir, Mbah Rojek memutuskan pensiun sebagai nahkoda kapal penyeberangan antarpulau dan memilih menikmati masa purna di kampung halamannya ini bersama istri dan putrinya. Mbah Rojek hendak menebus panjang waktu yang dilalui tanpa bersama keluarga kecilnya itu. Ia bahkan merasa banyak melewatkan saat tumbuh kembang Lela—anak gadis yang akan selamanya jadi gadis kecil bagi Mbah Rojek—

yang tahu-tahu sudah dewasa dan seorang lelaki telah menghadap Mbah Rojek dengan berani untuk meminang putrinya itu. Itulah momen Mbah Rojek tak kuasa menahan tangis haru. Ia lebih banyak menghidu wangi laut daripada wangi rambut putrinya sendiri karena begitu jarang pulang.

Untungnya suami Lela adalah lelaki yang sejatinya tepat. Hal yang melegakan Mbah Rojek. Terlebih saat Genta, cucu pertama Mbah Rojek lahir. Mbah Rojek bagai menjumpai cinta baru. Mbah Rojek bukan orang yang begitu menyukai anak kecil, ia tak begitu tertarik pada gemas anak-anak. Bahkan kadang baginya anak kecil adalah makhluk berisik dan tukang berantakan. Apalagi jika ada anak terlihat gelagat bandelnya, Mbah Rojek menjelma monster tua galak. Namun, pada Genta, ia menjadi sosok malaikat lembut penuh kasih sayang.

Genta bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Hanya dengan mendengar itu, Mbah Rojek tanpa ragu memberikan hadiah-hadiah berbau sepak bola seperti sepatu, kaus, bahkan bermacam-macam bola dibelikannya saat mengunjungi cucu tersayangnya itu di kota tempat Genta tinggal bersama orang tuanya. Hati Mbah Rojek seketika remuk mendapat kabar bahwa Genta harus dioperasi karena kecelakaan saat bermain—tapi bukan sepak bola—dan pen harus tertanam di kakinya yang patah. Jelas cita-cita Genta yang sudah mendapat dukungan finansial penuh dari Mbah Rojek untuk dimasukkan ke sekolah sepak bola terbaik di kota haruslah runtuh. Genta sering menangis kala melihat anak-anak lain bermain sepak bola. Konon, cerita barusanlah yang menjadi alasan Mbah Rojek tak suka ada bola masuk ke pekarangannya, ingin membersihkan rumahnya dari rasa trauma dan kecewa cucunya yang sewaktu-waktu mengunjunginya di kampung.

Orang-orang dewasa di kampung tidak mau terlalu mengurusi masalah Mbah Rojek dan bola yang nyasar ke pekarangannya, toh korban galaknya Mbah Rojek adalah anak-anak. Mereka tidak mau membuat masalah dengan Mbah Rojek. Apapun hal buruk darinya, Mbah Rojek tetaplah tokoh dermawan. Warga kampung yang sebagian besar nelayan sering mendapat pinjaman lunak saat musim dan cuaca sedang tak memungkinkan mereka melaut. Cukup sampaikan alasan logis meminjam uang, Mbah Rojek dengan murah hati meminjamkan kemudian menagihnya jika ingat saja.

Kali ini satu bola berikut pemiliknya tengah duduk lemas di pekarangan Mbah Rojek. Dulindul gemetar dan bening air mengambang di ekor mata tanpa mampu dibendung.

“Ngapain kamu di sini?” Sebuah pertanyaan yang lebih mirip bentakan itu keluar dari mulut Mbah Rojek.

Dulindul seperti akan mendapat trauma yang bakal diingatnya seumur hidup hari itu. Entah atas dorongan apa, Dulindul langsung melompat memeluk kaki Mbah Rojek dan meraung-raung minta maaf.

“Mbaahh… ampuunn… jangan bakar bolanya Dul. Dul janji tidak melakukannya lagi. Dul mau pulang sama bolanya Dul.”

Raut wajah Mbah Rojek tak berubah sama sekali, tatapannya tetap dingin.

“Tidak boleh ada bola masuk ke sini! Mau, kamu dihukum?” Gelegar suara Mbah Rojek beriring teracungnya bilah bambu di tangannya.

“Di…hukum?”

Dulindul makin meraung, namun kepalanya seperti mengangguk pelan. Menandai pasrahnya sudah di titik puncak.

“Tapi jangan ambil bola Dul…” Dulindul sesenggukan, menanti bagaimana ia diadili setelah ini.

***

Petang mulai menggulirkan matahari ke wadah terbenamnya, suasana kampung begitu syahdu dengan pendar senja yang menyeruak melewati celah daun-daun kelapa. Di lapangan, anak-anak mendadak menoleh ke arah yang sama. Semuanya membelalak dan ternganga. Tak lama mata mereka berbinar dengan ekspresi bahagia kemudian bersorak, berlarian serempak menghampiri Dulindul yang berdiri di seberang lapangan.

Dulindul disambut bak pahlawan, di antara lengan dan pinggangnya terapit bola yang baru saja selamat dari maut. Mata Dulindul masih sembab, namun bibirnya tersenyum puas sambil sedikit-sedikit memegang bokong dan pahanya yang masih memerah. Bekas bilah bambu tercetak di sana. [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu

Next Post

Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri

Andi Wirambara

Andi Wirambara

Lahir tanggal 24 September di Ambon. Berdomisili di Malang. Berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya telah termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama serta telah mengeluarkan 2 buku kumpulan puisi tunggal.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri

Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co