25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara

Andi Wirambara by Andi Wirambara
December 29, 2024
in Cerpen
Bola di Pekarangan Mbah Rojek | Cerpen Andi Wirambara

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy | Diolah dari Canva

“Waduh!”

Tiada satupun dari anak-anak itu yang tersenyum. Ekspresi datar pun tak tertayang pada wajah mereka. Semua kompak menunjukkan ekspresi kaget dan panik. Keseruan bermain sepak bola buyar seketika saat Dulindul terlalu semangat menendang bola hingga melambung melewati pagar tembok putih yang berdiri tinggi, mendarat di pekarangan rumah orang yang dianggap simbol kengerian anak-anak di kampung itu. Mbah Rojek.

Moklis terduduk di tanah berpasir yang ditumbuhi rumput sedikit-sedikit, tak mampu membendung kekecewaan karena baru dua menit ikut bermain, ia terlambat karena harus cuci piring dulu. Dulindul menengok pada teman-temannya yang lemas, mental mereka telanjur lungsur karena bola itu jatuh di tempat terburuk bagi mereka. Bukan sekadar mitos, warga kampung paham setiap ada bola masuk ke sana dan diketahui Mbah Rojek, kemungkinan bola dikembalikan nyaris nihil.

Dulindul mau menangis, itu bola kesayangannya. Untuk mendapatkannya, ia harus memasrahkan diri di hadapan mantri khitan. Usai resmi disunat dan menjalani hari mengenakan sarung, bapaknya membawakan bola itu dari kota. Bola berbahan karet, permukaannya mengilap, pola segilima terhias kombinasi warna putih, hitam, dan kuning yang cantik. Anak-anak kampung menyebut bola itu sebagai bola betulan, sebab bola seperti itu yang kerap mereka lihat di televisi saat warga berkumpul di warung kopi Abah Gonjreng, menyaksikan pertandingan sepak bola di televisi tabung dengan tangkapan siaran paling jernih seantero kampung.

Biasanya Dulindul dan kawannya bermain menggunakan bola plastik yang tiap ditendang arahnya sembarang berbelok, terlebih terpaan angin pesisir memang tak ramah bagi bola macam itu. Bola yang dibeli secara patungan itu juga cepat rusak, biasanya berakhir pecah. Pernah juga berlubang, mereka coba mengisinya dengan pasir, namun bola siluman itu justru menyakiti jari kaki mereka. Jika tak ada uang beli bola plastik, mereka berkreasi mengumpulkan kertas-kertas bekas dari berbagai tempat, seperti tempat sampah sekolah, kantor desa, atau meminta orang dewasa. Limbah kertas itu dibentuk bulat, diisi sabut kelapa dan diikat dengan tali. Hanya saja, bola itu berujung menjadi hamburan sampah berserakan saat mereka sudah bersemangat menendang.

Kesukaan Dulindul dan kawannya bermain bola bagai telah menjadi candu, pokoknya setiap hari harus main. Namun apalah sepak bola tanpa bola. Ludesnya bola mereka selain karena rusak, kadang juga musnah ketika sudah masuk ke area rumah Mbah Rojek. Mereka pernah melihat sendiri bagaimana bola mereka yang terdampar di sana dilumat api bersama daun-daun kering dan sampah oleh Mbah Rojek.

Kini Dulindul memantapkan hati, mencoba segala kemungkinan sekecil apapun demi bola kesayangannya itu. Ada gerogot penyesalan karena tidak menolak permintaan teman-temannya untuk mengeluarkan bola itu dari kamarnya. Dulindul rela dikatai pelit karena jarang mau memakai bolanya, sebab risiko masuk ke pekarangan Mbah Rojek amatlah tinggi. Lapangan bermain mereka adalah satu-satunya lapangan paling mumpuni di kampung. Permukaannya paling datar, areanya paling luas, tanahnya keras, rumput-rumput pendeknya lebih banyak dari tanah kosong sekitarnya yang didominasi pasir, letaknya pun di pusat kampung. Lapangan kesayangan warga yang juga sering dipakai untuk kegiatan ramai seperti lomba tujuh belasan, dangdutan, bahkan menyembelih kurban. Batas lapangan ini adalah pagar tembok putih yang cukup tinggi. Tak ada lagi orang yang rumahnya bertembok pagar sekelas itu di kampung selain Mbah Rojek.

Tembok pagar itu ditengahi oleh sepasang pintu besi bercelah-celah yang berfungsi sebagai gerbang masuk ke pekarangan. Di situlah Dulindul dengan langkah pelan dan sedikit gemetar mendekat dan mengintip mencari bolanya. Telapak tangannya perlahan menyentuh pintu pagar besi bercelah itu dan pintu itu bergerak. Rupanya tak terkunci. Kemudian bunyi engsel pagar berderit seketika membuat Dulindul terkejut bukan main. Ia langsung terbirit-birit meninggalkan tempat itu dan kembali ke lapangan bermain.

Teman-temannya masih di sana, duduk berkumpul di bawah pohon agak rindang dan memainkan apa saja di sekitar mereka: pasir, kerikil, bahkan sekadar menggambari pasir memakai ranting. Anak-anak yang mati gaya karena kehilangan bola itu melihat Dulindul datang terangah-engah. Mereka tahu Dulindul nekat mengintip ke area rumah Mbak Rojek dan tidak ada satupun yang berani ikut-ikutan. Ada sedikit rasa lega mereka melihat Dulindul kembali dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.

“Ada bolanya, Dul?” Mokles mewakili pertanyaan di benak masing-masing kawannya.

Dulindul menggeleng, masih mengatur napasnya dan belum mampu berbicara.

“Sudahlah, Dul, tak mungkin bolanya bisa diambil,” sahut lesu Ojik, bocah yang sedari tadi menggambari pasir dengan ranting tanpa bentuk jelas.

“Betul, ikhlaskan saja. Daripada kau yang kenapa-kenapa!” Yang lain mulai ikut bersuara.

Kepasrahan teman-temannya justru buat Dulindul tersinggung. Anak-anak ini sebenarnya kompak sebab sebagian besar seumuran. Namun urusan dengan Mbah Rojek lain cerita. Kekompakan mereka terbentur perkara yang tak mungkin bisa diatasi dengan sekadar kompak. Dulindul memaklumi dan dia tidak ingin berlama-lama tersinggung. Anggaplah kawan-kawannya sudah tak mungkin membantunya, maka tanpa pamit dan bicara Dulindul kembali menantang kengerian itu demi bolanya.

***

Rumah Mbah Rojek terbilang paling mewah di kampung. Dari kejauhan sudah terlihat pucuk atap rumahnya yang memakai genteng keramik warna kecokelatan yang mengilap, kadang berkilau di siang hari. Begitu mencolok dibanding rumah warga lain yang didominasi atap seng ataupun genteng tanah liat yang warnanya pudar dan berjamur. Rumah tak bertingkat dengan seluruh tembok berwarna putih gading, berlantai keramik, dan perabotan didominasi kayu jati yang kokoh, beberapa furniturnya berbahan ulin didatangkan dari Kalimantan. Pekarangannya jangan ditanya, halamannya mungkin muat untuk diparkir beberapa truk pengangkut pasir. Halaman itu ditumbuhi pohon kelapa, rambutan, bunga-bunga, dan didominasi semak-semak yang dipangkas rapi serupa rambut model cepak.

Sekarang Dulindul sudah berada di antara semak itu. Sejak ia melihat pintu pagar yang tak sengaja didorongnya tadi masih dalam posisi sama, ia yakin rumah Mbah Rojek benar-benar keadaan sepi dan segenap keberaniannya ia pertaruhkan untuk pelan-pelan masuk ke area menyeramkan itu.

Dengan langkah mungil-mungil dan jinjitan sangat hati-hati, Dulindul menyisir pandangannya ke seluruh halaman. Butir keringat muncul di dahinya sepelan langkahnya, debar-debar jantungnya yang begitu kencang sedikit membuat Dulindul khawatir seolah debarnya akan terdengar orang lain. Usai sekian langkah yang terasa panjang, mata Dulindul berbinar melihat bulatan yang begitu dikenalnya. Bola kesayangannya tergeletak tepat di depan teras utama berkeramik rumah itu. Teras yang lengkap dengan meja kayu bundar dikelilingi lima kursi kayu berlengan berwarna senada. Tempat itu biasa digunakan Mbah Rojek menerima tamu bapak-bapak di kampung sekaligus tempat favorit Mbah Rojek duduk-duduk bersantai bersama istrinya—bahkan hingga seharian.  Kebiasaan Mbah Rojek itu umum diketahui warga kampung.

Bola yang masih di sana dalam keadaan utuh adalah kabar baik, kabar terburuk tentunya adalah lokasinya berada seperti di pintu kandang singa. Dulindul makin berdebar, namun melihat bolanya hanya berjarak sepelemparan sandal saja dari semak tempatnya bersembunyi semakin menaikkan rasa optimis membawa pulang kembali bolanya.

Sebuah rencana gesit tertayang di kepala Dulindul. Pada pengamatannya, semua pintu rumah bagian depan termasuk pintu utama yang tersambung langsung dengan teras, tertutup. Jendela-jendela kacanya terlihat gelap dari luar, tertutup gorden. Selanjutnya Dulindul akan berjinjit dengan langkah selebar mungkin, meraih bola, lantas berlari sekencang melebihi apa yang ia mampu jika perlu.

Dimulailah langkah pertamanya, diikuti langkah kedua, begitu lebar hingga ia mulai merasa muncul rasa berat di paha dan betisnya, namun langkah terus berlanjut hingga kedua tangannya berhasil memungut bola itu. Tanpa berpikir lagi kakinya langsung melompat sebagai langkah pertama pelariannya dari pekarangan dengan hawa teror yang tinggi ini. Namun baru saja berbalik, sosok besar tahu-tahu sudah di belakangnya, menyetop total langkahnya dan refleks mendongak. Tampaklah wajah Mbah Rojek menatapnya tajam, tangan kanannya membawa sebilah bambu kecil nan tipis.

Dulindul jatuh terduduk, seluruh tulang-tulangnya seakan rontok berbarengan.

***

Jauh sebelum Dulindul lahir, Mbah Rojek memutuskan pensiun sebagai nahkoda kapal penyeberangan antarpulau dan memilih menikmati masa purna di kampung halamannya ini bersama istri dan putrinya. Mbah Rojek hendak menebus panjang waktu yang dilalui tanpa bersama keluarga kecilnya itu. Ia bahkan merasa banyak melewatkan saat tumbuh kembang Lela—anak gadis yang akan selamanya jadi gadis kecil bagi Mbah Rojek—

yang tahu-tahu sudah dewasa dan seorang lelaki telah menghadap Mbah Rojek dengan berani untuk meminang putrinya itu. Itulah momen Mbah Rojek tak kuasa menahan tangis haru. Ia lebih banyak menghidu wangi laut daripada wangi rambut putrinya sendiri karena begitu jarang pulang.

Untungnya suami Lela adalah lelaki yang sejatinya tepat. Hal yang melegakan Mbah Rojek. Terlebih saat Genta, cucu pertama Mbah Rojek lahir. Mbah Rojek bagai menjumpai cinta baru. Mbah Rojek bukan orang yang begitu menyukai anak kecil, ia tak begitu tertarik pada gemas anak-anak. Bahkan kadang baginya anak kecil adalah makhluk berisik dan tukang berantakan. Apalagi jika ada anak terlihat gelagat bandelnya, Mbah Rojek menjelma monster tua galak. Namun, pada Genta, ia menjadi sosok malaikat lembut penuh kasih sayang.

Genta bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Hanya dengan mendengar itu, Mbah Rojek tanpa ragu memberikan hadiah-hadiah berbau sepak bola seperti sepatu, kaus, bahkan bermacam-macam bola dibelikannya saat mengunjungi cucu tersayangnya itu di kota tempat Genta tinggal bersama orang tuanya. Hati Mbah Rojek seketika remuk mendapat kabar bahwa Genta harus dioperasi karena kecelakaan saat bermain—tapi bukan sepak bola—dan pen harus tertanam di kakinya yang patah. Jelas cita-cita Genta yang sudah mendapat dukungan finansial penuh dari Mbah Rojek untuk dimasukkan ke sekolah sepak bola terbaik di kota haruslah runtuh. Genta sering menangis kala melihat anak-anak lain bermain sepak bola. Konon, cerita barusanlah yang menjadi alasan Mbah Rojek tak suka ada bola masuk ke pekarangannya, ingin membersihkan rumahnya dari rasa trauma dan kecewa cucunya yang sewaktu-waktu mengunjunginya di kampung.

Orang-orang dewasa di kampung tidak mau terlalu mengurusi masalah Mbah Rojek dan bola yang nyasar ke pekarangannya, toh korban galaknya Mbah Rojek adalah anak-anak. Mereka tidak mau membuat masalah dengan Mbah Rojek. Apapun hal buruk darinya, Mbah Rojek tetaplah tokoh dermawan. Warga kampung yang sebagian besar nelayan sering mendapat pinjaman lunak saat musim dan cuaca sedang tak memungkinkan mereka melaut. Cukup sampaikan alasan logis meminjam uang, Mbah Rojek dengan murah hati meminjamkan kemudian menagihnya jika ingat saja.

Kali ini satu bola berikut pemiliknya tengah duduk lemas di pekarangan Mbah Rojek. Dulindul gemetar dan bening air mengambang di ekor mata tanpa mampu dibendung.

“Ngapain kamu di sini?” Sebuah pertanyaan yang lebih mirip bentakan itu keluar dari mulut Mbah Rojek.

Dulindul seperti akan mendapat trauma yang bakal diingatnya seumur hidup hari itu. Entah atas dorongan apa, Dulindul langsung melompat memeluk kaki Mbah Rojek dan meraung-raung minta maaf.

“Mbaahh… ampuunn… jangan bakar bolanya Dul. Dul janji tidak melakukannya lagi. Dul mau pulang sama bolanya Dul.”

Raut wajah Mbah Rojek tak berubah sama sekali, tatapannya tetap dingin.

“Tidak boleh ada bola masuk ke sini! Mau, kamu dihukum?” Gelegar suara Mbah Rojek beriring teracungnya bilah bambu di tangannya.

“Di…hukum?”

Dulindul makin meraung, namun kepalanya seperti mengangguk pelan. Menandai pasrahnya sudah di titik puncak.

“Tapi jangan ambil bola Dul…” Dulindul sesenggukan, menanti bagaimana ia diadili setelah ini.

***

Petang mulai menggulirkan matahari ke wadah terbenamnya, suasana kampung begitu syahdu dengan pendar senja yang menyeruak melewati celah daun-daun kelapa. Di lapangan, anak-anak mendadak menoleh ke arah yang sama. Semuanya membelalak dan ternganga. Tak lama mata mereka berbinar dengan ekspresi bahagia kemudian bersorak, berlarian serempak menghampiri Dulindul yang berdiri di seberang lapangan.

Dulindul disambut bak pahlawan, di antara lengan dan pinggangnya terapit bola yang baru saja selamat dari maut. Mata Dulindul masih sembab, namun bibirnya tersenyum puas sambil sedikit-sedikit memegang bokong dan pahanya yang masih memerah. Bekas bilah bambu tercetak di sana. [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Tanamlah Musim dalam Jiwamu

Next Post

Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri

Andi Wirambara

Andi Wirambara

Lahir tanggal 24 September di Ambon. Berdomisili di Malang. Berkecimpung pada dunia praktisi hukum. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tulisan-tulisan lainnya. Karya-karyanya telah termuat dalam sejumlah media dan antologi bersama serta telah mengeluarkan 2 buku kumpulan puisi tunggal.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri

Aku yang Sudah Lama Hilang: Menelisik Perubahan dalam Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co