3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
December 14, 2024
in Cerpen
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria

Ilustrasi tatkala.co

BADANKU kini tidak lagi seperti manusia kayu. Badanku telah berisi dan kuat, juga begitu segar. Seperti aku baru bangun tidur dan langsung rasakan lapar. Sangat-sangat lapar.

Rumah ramai orang, sanak saudara, dan tetangga. Aku mengitari ruang tamu yang sesak dengan lega. Aku mengenali setiap wajah yang ada di ruangan ini. Bahkan sampai sehari sebelumnya aku rasa tidak pernah mengingat nama mereka. Kini aku rasanya terlahir kembali.

Tudung saji di meja makan tampak rapih. Aku membuka isinya dan melihat begitu banyak makanan kesukaanku. Tunggu, bahkan ada ayam goreng yang sudah lama dilarang untuk masuk ke mulutku. Aku terpikirkan ice cream rasa coklat kegemaranku sewaktu dulu.

Bergegaslah aku membuka kulkas dan ternyata sudah penuh dengan ice cream coklat. Aku tidak tahu  situasi macam apa ini. Penuh dengan ketiba-tibaan. Aku bisa berdiri, daunku muncul kembali, udara menerobos dari sela-sela daun dan dahanku. Apakah aku menemui musim semi?

***

“Bu, makan dulu ya,” ujar Shinta, anakku sambil menyodorkan sendok yang tidak berlauk apapun itu kepadaku.

Aku hanya menggeleng, siapa yang mau membuka mulutnya untuk dijejalkan makanan seperti itu. Hanya nasi putih yang dihaluskan dan ditambah kuah sayur bening saja.

Aku ingin makan ayam goreng. Aku ingin makan ice cream manis rasa coklat itu lagi. Aku ingin makan sesuatu yang tidak seperti ini. Hambar. Itulah yang ingin aku katakan kepada anakku.

Akan tetapi, aku hanya bisa marah dan membalikkan piring di tangannya hingga berserakan.

“Bu, ya sudah kalau tidak mau makan!” Bentakan itu datang dari anak yang sejak dulu aku besarkan tanpa amarah ketika dia memilih meremas makanannya ketimbang mengunyahnya.

Aku merasa duniaku jauh berbeda dengan keinginannya atau keinginanku. Semuanya telah memilih memakan ego masing-masing ketimbang memahami diri. Shinta meninggalkanku dengan nasi yang masih berserakan di lantai. Aku sendirian.

Rumah besar ini tidak pernah berubah isi benda matinya hanya manusia di dalamnya yang terlalu menikmati kehidupan sendiri-sendiri. Sepeninggalnya suamiku dan anak-anakku bekerja, tinggallah aku sendiri bersama Inah sesekali.

Inah hanya datang seminggu tiga kali untuk membersihkan rumah ini. Tidak jarang pula ia menemani hari-hariku ketika Shinta sibuk bekerja. Inah selalu sabar menghadapiku atau dia sebetulnya berempati kepadaku. Usianya tidak jauh berbeda denganku. Bedanya Inah masih menjadi tumbuhan yang segar.

Aku telah melewati separuh kehidupan menjadi tumbuhan segar yang siap bergoyang kesana-kemari menebar kehidupan bagi keluargaku. Bunga tidak lagi bermekaran pada dahanku. Daun-daun telah gugur dan melayu hingga tersisa satu yang mampu memberiku makan.

Hanya itu yang dapat aku harapkan agar dapat tumbuh kembali. Tidak seperti pohon yang tampak sedih menggugurkan daunnya ketika musim gugur tiba dan kembali merona ketika musim semi muncul. Daun-daunku tidak akan kembali. Aku tahu itu.  

Kini aku tinggal menjadi kayu, bahkan untuk ditegakkan saja butuh penopang. Begitulah aku, menunggu hingga daun terakhir menemukan tempatnya.

Aku tidak bisa menyampaikan isi pikiranku kepada siapapun lagi. Pernah sekali aku mencobanya tapi hanya cerca yang terdengar padaku.

“Ibu sudah mau jadi kayu. Daunnya tinggal satu,” kata Shinta sewaktu ia menyuapiku makan tanpa bantahan dari mulutku. “Apa sih, Bu. Jangan mulai lagi, cepat makan saja!”

Shinta lebih sering meninggikan nadanya kepadaku sejak peristiwa yang menjadikannya yatim. Shinta tidak mengerti atau sengaja tidak mau memahami bahwa aku juga menjadi janda karenanya. Kehilangan rumah dan isinya.

Ini menjadi pikiranku sendiri. Menilik daun itu dan melihatnya tetap berada pada posisinya menjadikanku sedikit tenang. Meskipun, warna hijau itu setiap harinya mulai bergradasi dengan warna kuning lalu coklat. Hal itu menjadikanku sadar bahwa semuanya akan berubah dan tinggal menunggu. Menunggu untuk kembali atau pergi sendiri-sendiri.

Aku menyadari bahwa tubuhku akan menjadi kayu dan entah bagaimana nasib kayu ini, biarkan Tuhan yang membawa pergi.

“Ibu, minta maaf, Shinta!” Aku berusaha mengeja maaf yang tidak aku tahu salahku apa. Sepertinya, aku memang salah di mata anak bungsuku itu. Oleh karenanya, aku berusaha mengeja kata itu. Aku menyusunnya semalaman hingga energi yang aku simpan hampir habis.

Daun yang memberiku makan tidak lagi mampu berfotosintesis karena hijaunya sudah tidak bersisa. Satu daun itu tidak lagi mampu memberiku kehidupan.

“Sudahlah, Bu. Shinta juga salah melampiaskan marah kepada Ibu,” kata Shinta.

Senang aku mendengarnya. Shinta memelukku dengan nyaman seperti aku memeluknya sewaktu kecil di taman rumah yang hangat ketika musim semi tiba. Daunku yang satu meninggalkan dahannya, terbang menemui tempatnya. Takdirnya.

Aku masih ingat betul hangat pelukan Shinta semalam. Badanku telah jauh tumbuh dan tidak lagi seperti manusia kayu. Aku menanggalkan bunga tidur indah itu dan beranjak keluar.

Aku mengitari ruang tamu yang sesak, tapi tidak seorangpun hiraukan hadirnya aku. Bendera kuning melambai dengan sendu menghiasi dinding rumahku itu. Telah aku lihat badan yang kurus itu terbujur kaku, dingin. Terbaring dengan sedih di atas meja bertutup kain jarik seram.

Aku telah kembali. Kembali menjadi tumbuhan segar dan kembali kepada Tuhan dengan keutuhannya. Kembali, seluruh daunku telah kembali. Musim gugurku telah usai di sini, kembalilah musim semiku bersama-Nya kini. [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Novita Dina | Stasiun Kata-kata

Next Post

Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung

Mencatatkan Laut dalam Puisi --- Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co