23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
December 14, 2024
in Cerpen
Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria

Ilustrasi tatkala.co

BADANKU kini tidak lagi seperti manusia kayu. Badanku telah berisi dan kuat, juga begitu segar. Seperti aku baru bangun tidur dan langsung rasakan lapar. Sangat-sangat lapar.

Rumah ramai orang, sanak saudara, dan tetangga. Aku mengitari ruang tamu yang sesak dengan lega. Aku mengenali setiap wajah yang ada di ruangan ini. Bahkan sampai sehari sebelumnya aku rasa tidak pernah mengingat nama mereka. Kini aku rasanya terlahir kembali.

Tudung saji di meja makan tampak rapih. Aku membuka isinya dan melihat begitu banyak makanan kesukaanku. Tunggu, bahkan ada ayam goreng yang sudah lama dilarang untuk masuk ke mulutku. Aku terpikirkan ice cream rasa coklat kegemaranku sewaktu dulu.

Bergegaslah aku membuka kulkas dan ternyata sudah penuh dengan ice cream coklat. Aku tidak tahu  situasi macam apa ini. Penuh dengan ketiba-tibaan. Aku bisa berdiri, daunku muncul kembali, udara menerobos dari sela-sela daun dan dahanku. Apakah aku menemui musim semi?

***

“Bu, makan dulu ya,” ujar Shinta, anakku sambil menyodorkan sendok yang tidak berlauk apapun itu kepadaku.

Aku hanya menggeleng, siapa yang mau membuka mulutnya untuk dijejalkan makanan seperti itu. Hanya nasi putih yang dihaluskan dan ditambah kuah sayur bening saja.

Aku ingin makan ayam goreng. Aku ingin makan ice cream manis rasa coklat itu lagi. Aku ingin makan sesuatu yang tidak seperti ini. Hambar. Itulah yang ingin aku katakan kepada anakku.

Akan tetapi, aku hanya bisa marah dan membalikkan piring di tangannya hingga berserakan.

“Bu, ya sudah kalau tidak mau makan!” Bentakan itu datang dari anak yang sejak dulu aku besarkan tanpa amarah ketika dia memilih meremas makanannya ketimbang mengunyahnya.

Aku merasa duniaku jauh berbeda dengan keinginannya atau keinginanku. Semuanya telah memilih memakan ego masing-masing ketimbang memahami diri. Shinta meninggalkanku dengan nasi yang masih berserakan di lantai. Aku sendirian.

Rumah besar ini tidak pernah berubah isi benda matinya hanya manusia di dalamnya yang terlalu menikmati kehidupan sendiri-sendiri. Sepeninggalnya suamiku dan anak-anakku bekerja, tinggallah aku sendiri bersama Inah sesekali.

Inah hanya datang seminggu tiga kali untuk membersihkan rumah ini. Tidak jarang pula ia menemani hari-hariku ketika Shinta sibuk bekerja. Inah selalu sabar menghadapiku atau dia sebetulnya berempati kepadaku. Usianya tidak jauh berbeda denganku. Bedanya Inah masih menjadi tumbuhan yang segar.

Aku telah melewati separuh kehidupan menjadi tumbuhan segar yang siap bergoyang kesana-kemari menebar kehidupan bagi keluargaku. Bunga tidak lagi bermekaran pada dahanku. Daun-daun telah gugur dan melayu hingga tersisa satu yang mampu memberiku makan.

Hanya itu yang dapat aku harapkan agar dapat tumbuh kembali. Tidak seperti pohon yang tampak sedih menggugurkan daunnya ketika musim gugur tiba dan kembali merona ketika musim semi muncul. Daun-daunku tidak akan kembali. Aku tahu itu.  

Kini aku tinggal menjadi kayu, bahkan untuk ditegakkan saja butuh penopang. Begitulah aku, menunggu hingga daun terakhir menemukan tempatnya.

Aku tidak bisa menyampaikan isi pikiranku kepada siapapun lagi. Pernah sekali aku mencobanya tapi hanya cerca yang terdengar padaku.

“Ibu sudah mau jadi kayu. Daunnya tinggal satu,” kata Shinta sewaktu ia menyuapiku makan tanpa bantahan dari mulutku. “Apa sih, Bu. Jangan mulai lagi, cepat makan saja!”

Shinta lebih sering meninggikan nadanya kepadaku sejak peristiwa yang menjadikannya yatim. Shinta tidak mengerti atau sengaja tidak mau memahami bahwa aku juga menjadi janda karenanya. Kehilangan rumah dan isinya.

Ini menjadi pikiranku sendiri. Menilik daun itu dan melihatnya tetap berada pada posisinya menjadikanku sedikit tenang. Meskipun, warna hijau itu setiap harinya mulai bergradasi dengan warna kuning lalu coklat. Hal itu menjadikanku sadar bahwa semuanya akan berubah dan tinggal menunggu. Menunggu untuk kembali atau pergi sendiri-sendiri.

Aku menyadari bahwa tubuhku akan menjadi kayu dan entah bagaimana nasib kayu ini, biarkan Tuhan yang membawa pergi.

“Ibu, minta maaf, Shinta!” Aku berusaha mengeja maaf yang tidak aku tahu salahku apa. Sepertinya, aku memang salah di mata anak bungsuku itu. Oleh karenanya, aku berusaha mengeja kata itu. Aku menyusunnya semalaman hingga energi yang aku simpan hampir habis.

Daun yang memberiku makan tidak lagi mampu berfotosintesis karena hijaunya sudah tidak bersisa. Satu daun itu tidak lagi mampu memberiku kehidupan.

“Sudahlah, Bu. Shinta juga salah melampiaskan marah kepada Ibu,” kata Shinta.

Senang aku mendengarnya. Shinta memelukku dengan nyaman seperti aku memeluknya sewaktu kecil di taman rumah yang hangat ketika musim semi tiba. Daunku yang satu meninggalkan dahannya, terbang menemui tempatnya. Takdirnya.

Aku masih ingat betul hangat pelukan Shinta semalam. Badanku telah jauh tumbuh dan tidak lagi seperti manusia kayu. Aku menanggalkan bunga tidur indah itu dan beranjak keluar.

Aku mengitari ruang tamu yang sesak, tapi tidak seorangpun hiraukan hadirnya aku. Bendera kuning melambai dengan sendu menghiasi dinding rumahku itu. Telah aku lihat badan yang kurus itu terbujur kaku, dingin. Terbaring dengan sedih di atas meja bertutup kain jarik seram.

Aku telah kembali. Kembali menjadi tumbuhan segar dan kembali kepada Tuhan dengan keutuhannya. Kembali, seluruh daunku telah kembali. Musim gugurku telah usai di sini, kembalilah musim semiku bersama-Nya kini. [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Novita Dina | Stasiun Kata-kata

Next Post

Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Mencatatkan Laut dalam Puisi — Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung

Mencatatkan Laut dalam Puisi --- Ulasan Buku Puisi SMKN 1 Klungkung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co