2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
November 24, 2024
in Cerpen
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

BERGEMURUH ombak yang bergelombang di dada Saidi ketika pesawat terbang yang membawanya melintasi antar benua dikabarkan akan mendarat di bandara Jeddah oleh pramugari. Sehingga tak terasa mendung di kelopak matanya pecah hingga hujan membasahi kedua pipinya. Tak jemu ia melontarkan takbir dengan penuh semangat. Bibirnya juga tiada henti mengucap bacaan Talbiyah.

Begitu juga dengan rombongan calon jamaah haji yang satu kloter bersamanya. Mereka menaikkan ucapan syukur ke langit berkali-kali. Ini merupakan ritual ibadah haji pertama yang telah ditunggu-tunggu oleh Saidi setelah penantian selama 20 tahun. Ia baru mulai menabung sejak usianya 30 tahun. Kini usianya sudah 50 tahun dan Allah memanggil dirinya sebagai tamu di rumah-Nya.

Saat pesawat telah landing di landasan pacu bandara, kedua mata Saidi memandang keluar dari jendela kabin. Tampaklah di kedua matanya pohon kurma yang berbaris dengan rapi seolah asykar Saudi yang sedang menyambut para tamu Allah.

Di sana juga tampak para jamaah haji yang berasal dari negara lain. Ada yang berkulit hitam arang, hitam manis, kulit putih, kuning langsat, ada juga yang setinggi tiang listrik dan ada juga yang sependek pagar. Semuanya tampak seragam dalam pakaian yang sama. Dan meski bahasa mereka berbeda, namun tempat yang akan mereka tuju adalah sama, Ka’bah.

Bacaan Talbiyah berkumandang dari bibir mereka. Sementara kedua mata Saidi tak mau terlepas dari pemandangan gaya bangunan bandara Jeddah yang ada di hadapannya. Ia mengira kalau sudah sampai di Mekkah sehingga ia merasa penasaran ingin melihat Ka’bah, bangunan pertama yang dibangun oleh malaikat di muka bumi.

“Apakah kita sudah sampai di Masjidil Haram, Pak?” tanya Saidi yang berangkat haji seorang diri. Istrinya meninggal dunia saat berusia 43 tahun karena penyakit tumor ganas yang menyerang payudaranya. Jadi, berangkatlah Saidi sendirian.

“Kita masih berada di Jeddah, Pak Saidi,” jawab ketua kelompok haji yang berasal dari kota di mana lelaki desa itu tinggal. “Kita belum sampai di Mekkah. Dan dari sinilah kita akan memulai miqat. Jadi, setelah ini Pak Saidi harus mengganti pakaian dengan pakaian ihram.”

Saidi terlihat sangat senang. Akhirnya, setelah berjuang menabung selama puluhan tahun ia memakai pakaian ihram. Sebagai seorang Muslim, ia juga merasa bersyukur kepada Allah karena telah memenuhi semua rukun Islam. Setelah ini ia sudah tak memiliki tanggungan lagi. Kewajibannya agar menjadi Muslim yang sempurna sudah lunas. Ia sudah tak memiliki utang kepada Tuhan.

“Akhirnya bapak dipanggil juga sama Allah, Bu,” gumam Saidi kepada istrinya yang sudah menduluinya menghadap Allah di Alam Baka. “Nanti di depan Ka’bah bapak akan mendoakan ibu agar diberikan tempat yang nyaman di sisi Allah. Dan kelak, ibu akan dipertemukan kembali dengan bapak.”

Sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan oleh Fiqih, para jamaah haji memulai miqat dari kota Jeddah. Mereka semua mengenakan pakaian ihram yang serba putih untuk menuju titik yang sama. Lautan manusia tampak seperti gelombang yang datang silih berganti seraya mengumandangkan doa Talbiyah.

“Labbaikallahumma labbaik.”

“Labbaikallahumma labbaik.”

Merinding tubuh Saidi saat bibirnya mengucapkan doa itu. Dan ia merasa seolah di kedua ketiaknya tumbuh sayap yang akan mengangkatnya ke langit. Belum lagi melihat Ka’bah, tubuhnya sudah merinding. Apalagi kalau sudah berdiri di hadapan kiblat umat Islam sedunia itu.

“Ndak nyangka sama sekali, kalau negeri gurun yang dulunya tandus kini jauh lebih modern dari pada negara kita,” ujar Poniman, tetangganya lain desa.

“Iya. Ndak menyangka ya kalau Arab sudah jauh lebih maju ketimbang negara kita,” timpal Saidi merespons.

“Konon, di sini apa di kota Neom akan dibangun gedung pencakar langit setinggi 1000 meter. Penasaran. Seperti apa gedung setinggi itu.”

Saidi hanya merasa takjub saja. Soalnya ia tidak tahu-menahu tentang gedung pencakar langit. Ia belum pernah melihat gedung-gedung tinggi. Kemarin baru pertama kali melihatnya di Jakarta.

***

Lautan manusia memenuhi Masjidil Haram dalam pakaian ihram, termasuk Saidi yang tampak merinding ketika pertama kali melihat Ka’bah. Matanya tak mau berkedip saat lelaki itu melihat kiswah hitam berkibar-kibar dicumbu angin. Bahkan agar segera sampai di depan rumah ibadah yang dipugar oleh Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail itu, ia sampai rela menembus gelombang manusia yang terus bertambah.

“Apakah itu Ka’bah?” bisiknya di dalam hatinya sendiri. “Labbaikallahumma labbaik. Labbaikallahumma labbaik. Labbaikallahumma labbaik.”

Saidi terus bergerak agar semakin dekat dengan Ka’bah. Air matanya meleleh saat mengingat cinta dan kasih sayang Allah yang telah memberinya sebuah kesempatan naik haji ke tanah suci. Inikah bangunan yang terbuat dari batu yang dituduhkan oleh orang-orang yang takut agamanya roboh sebagai Tuhan?

Saidi terus mendekati bangunan tua itu. Tampak para jamaah berpakaian ihram melakukan thawaf seraya membaca Talbiyah. Suara mereka menggema seakan meruntuhkan langit. Tidak ada ritual ibadah paling agung di atas muka bumi ini selain ritual ibadahnya umat Islam. Dan semua pemeluk agama merasa iri. Iri yang terlahir dari perasaan benci dan cemburu.

Tapi, apa yang terjadi dengan Saidi saat ia berdiri hanya beberapa meter dari Ka’bah. Ia berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintunya yang tertutup pintu emas. Suaranya macam orang gagap. Tentu saja kejadian yang datang secara tiba-tiba ini membuat orang-orang kaget. Para asykar yang bertugas di sekeliling Ka’bah pun mendekat untuk mengamankan jamaah asal Indonesia itu.

“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?” tanya seorang asykar berseragam hitam.

Terik matahari yang menghantam lantai masjid tak membuat mereka urung untuk menolong lelaki paro baya itu.

“Entahlah. Tiba-tiba, orang ini berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu Ka’bah,” jawab temannya.

“Tolong ambilkan air zam-zam!” kata seorang petugas haji yang menenangkan Saidi. Apakah lelaki itu kerasukan jin?

Lalu salah seorang asykar datang dengan membawakan air zam-zam. Setelah itu, kepala dan sekujur tubuh Saidi diusap dengan air zam-zam dengan harapan lelaki itu sembuh.

Aneh, air bertuah itu tidak bisa memberikan efek apa pun. Saidi tetap berteriak-teriak macam orang tak waras. Tidak sedikit para jamaah yang menganggap demikian, terutama orang Indonesia yang sudah terbiasa beranggapan seperti itu.

“Mungkin dia sudah gila,” komentar salah seorang jamaah bermuka kasar.

“Pulangkan saja ke tanah air,” sahut yang satunya.

Spontan saja kejadian itu langsung menjadi tontonan seperti topeng monyet. Kenapa? Karena mereka tidak melihat sesuatu yang tak kasat mata. Tidak sedikit di antara orang-orang itu yang beranggapan bahwa “sesuatu yang tak kasat mata” itu adalah barang yang tak berwujud dan hanyalah ilusi yang hanya ada dalam otak orang yang tak waras. Mereka tak beriman kepada yang gaib karena belum melihatnya secara langsung.

Agar tidak mengganggu ritual ibadah jamaah yang lain, pihak petugas haji dan kepolisian mengamankan Saidi dengan membawanya ke rumah sakit. Tapi anehnya, setelah dibawa keluar dari area masjid, Saidi seperti baru sadar macam orang yang habis kesurupan.

“Kenapa dengan saya? Kenapa dengan saya? Kenapa saya dibawa ke sini?” tanya Saidi kepada petugas haji.

“Apakah Bapak tidak tahu kalau tadi Bapak berteriak-teriak di depan Ka’bah?”

“Tidak. Saya tidak kenapa-kenapa kok. Saya tidak berteriak-teriak.”

Para asykar dan petugas haji saling berpandangan. Bahkan salah satu di antara mereka ada yang menyilangkan jari di keningnya.

“Saya mau kembali ke masjid. Antarkan saya ke sana,” pinta Saidi.

“Sebaiknya Bapak istirahat dulu di sini. Dan tenangkan pikiran Bapak. Setelah itu baru kami antar ke masjid,” jawab salah seorang petugas haji dengan kalem.

“Saya mau ke masjid. Antarkan saya ke sana. Sudah lama saya menantikan kesempatan ini untuk melihat Ka’bah dari dekat,” sahut Saidi ngeyel.

“Apakah Bapak tidak sadar apa yang Bapak lakukan tadi di depan Ka’bah?!” tanya seorang asykar bertubuh kekar dan tinggi dalam bahasa Arab. Lalu, ia hapenya.

***

Saat itu, saat Saidi berteriak-teriak di depan Ka’bah sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintunya, ia melihat ada sosok manusia tinggi yang mengenakan pakaian putih. Sosok suci itu melihat ke arahnya. Entahlah siapa sosok itu. Bisa jadi Nabi Ibrahim. Apakah Nabi Ibrahim ada di sana? Jawabannya ada. Tapi terserah orang-orang yang menanggapinya, yakin atau tidak. Bila ingin membuktikan, buktikanlah sendiri. Lalu, kenapa Saidi meraung-raung macam orang tak waras? Bukankah ia orang yang religius dan alim? Bahkan selama 20 tahun ia memendam cita-cita ingin naik haji ke tanah suci. Kita pun tidak. Ah, jangankan bertekad mau naik haji, mendengar nama tanah suci pun hati kita sudah muak.

Jadi begini, memang Saidi kelihatan suci, alim dan religius menurut pandangan orang-orang. Niatnya yang ingin menyempurnakan rukun Islam dianggap sebuah keistimewaan. Dari pada tidak naik haji sama sekali? Tapi, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Saidi mendapatkan uang yang ditabungkannya untuk naik haji dari hasil menipu orang lain. Ia bisa disuruh mengerjakan pagar rumah, namun ia menipu orang yang menyuruhnya saat hendak membeli bahan-bahan. Selain itu, ia juga pernah diminta menjadi saksi di kepolisian, namun ia mengibuli orang yang menyuruhnya setelah menerima duit sogokan.

Apakah istri Saidi benar meninggal karena penyakit tumor ganas? Sebagiannya memang benar, namun ada rumor bahwa sebenarnya Saidi tidak pernah ingin membawa istrinya berobat. Ia tidak mau uang tabungannya terkuras buat biaya operasi pengangkatan tumor istrinya.

Setelah sadar beberapa jam, Saidi kembali meraung-raung sambil menunjuk-nunjuk ke arah kiblat. Saat itu, kedua matanya melihat sosok-sosok bersayap secara bergantian turun dari langit. [T]

2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana
Made Merta dan Kisahnya Menabung
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Di Depanmu Cermin

Next Post

Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali

Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co