13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
November 24, 2024
in Cerpen
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co

BERGEMURUH ombak yang bergelombang di dada Saidi ketika pesawat terbang yang membawanya melintasi antar benua dikabarkan akan mendarat di bandara Jeddah oleh pramugari. Sehingga tak terasa mendung di kelopak matanya pecah hingga hujan membasahi kedua pipinya. Tak jemu ia melontarkan takbir dengan penuh semangat. Bibirnya juga tiada henti mengucap bacaan Talbiyah.

Begitu juga dengan rombongan calon jamaah haji yang satu kloter bersamanya. Mereka menaikkan ucapan syukur ke langit berkali-kali. Ini merupakan ritual ibadah haji pertama yang telah ditunggu-tunggu oleh Saidi setelah penantian selama 20 tahun. Ia baru mulai menabung sejak usianya 30 tahun. Kini usianya sudah 50 tahun dan Allah memanggil dirinya sebagai tamu di rumah-Nya.

Saat pesawat telah landing di landasan pacu bandara, kedua mata Saidi memandang keluar dari jendela kabin. Tampaklah di kedua matanya pohon kurma yang berbaris dengan rapi seolah asykar Saudi yang sedang menyambut para tamu Allah.

Di sana juga tampak para jamaah haji yang berasal dari negara lain. Ada yang berkulit hitam arang, hitam manis, kulit putih, kuning langsat, ada juga yang setinggi tiang listrik dan ada juga yang sependek pagar. Semuanya tampak seragam dalam pakaian yang sama. Dan meski bahasa mereka berbeda, namun tempat yang akan mereka tuju adalah sama, Ka’bah.

Bacaan Talbiyah berkumandang dari bibir mereka. Sementara kedua mata Saidi tak mau terlepas dari pemandangan gaya bangunan bandara Jeddah yang ada di hadapannya. Ia mengira kalau sudah sampai di Mekkah sehingga ia merasa penasaran ingin melihat Ka’bah, bangunan pertama yang dibangun oleh malaikat di muka bumi.

“Apakah kita sudah sampai di Masjidil Haram, Pak?” tanya Saidi yang berangkat haji seorang diri. Istrinya meninggal dunia saat berusia 43 tahun karena penyakit tumor ganas yang menyerang payudaranya. Jadi, berangkatlah Saidi sendirian.

“Kita masih berada di Jeddah, Pak Saidi,” jawab ketua kelompok haji yang berasal dari kota di mana lelaki desa itu tinggal. “Kita belum sampai di Mekkah. Dan dari sinilah kita akan memulai miqat. Jadi, setelah ini Pak Saidi harus mengganti pakaian dengan pakaian ihram.”

Saidi terlihat sangat senang. Akhirnya, setelah berjuang menabung selama puluhan tahun ia memakai pakaian ihram. Sebagai seorang Muslim, ia juga merasa bersyukur kepada Allah karena telah memenuhi semua rukun Islam. Setelah ini ia sudah tak memiliki tanggungan lagi. Kewajibannya agar menjadi Muslim yang sempurna sudah lunas. Ia sudah tak memiliki utang kepada Tuhan.

“Akhirnya bapak dipanggil juga sama Allah, Bu,” gumam Saidi kepada istrinya yang sudah menduluinya menghadap Allah di Alam Baka. “Nanti di depan Ka’bah bapak akan mendoakan ibu agar diberikan tempat yang nyaman di sisi Allah. Dan kelak, ibu akan dipertemukan kembali dengan bapak.”

Sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan oleh Fiqih, para jamaah haji memulai miqat dari kota Jeddah. Mereka semua mengenakan pakaian ihram yang serba putih untuk menuju titik yang sama. Lautan manusia tampak seperti gelombang yang datang silih berganti seraya mengumandangkan doa Talbiyah.

“Labbaikallahumma labbaik.”

“Labbaikallahumma labbaik.”

Merinding tubuh Saidi saat bibirnya mengucapkan doa itu. Dan ia merasa seolah di kedua ketiaknya tumbuh sayap yang akan mengangkatnya ke langit. Belum lagi melihat Ka’bah, tubuhnya sudah merinding. Apalagi kalau sudah berdiri di hadapan kiblat umat Islam sedunia itu.

“Ndak nyangka sama sekali, kalau negeri gurun yang dulunya tandus kini jauh lebih modern dari pada negara kita,” ujar Poniman, tetangganya lain desa.

“Iya. Ndak menyangka ya kalau Arab sudah jauh lebih maju ketimbang negara kita,” timpal Saidi merespons.

“Konon, di sini apa di kota Neom akan dibangun gedung pencakar langit setinggi 1000 meter. Penasaran. Seperti apa gedung setinggi itu.”

Saidi hanya merasa takjub saja. Soalnya ia tidak tahu-menahu tentang gedung pencakar langit. Ia belum pernah melihat gedung-gedung tinggi. Kemarin baru pertama kali melihatnya di Jakarta.

***

Lautan manusia memenuhi Masjidil Haram dalam pakaian ihram, termasuk Saidi yang tampak merinding ketika pertama kali melihat Ka’bah. Matanya tak mau berkedip saat lelaki itu melihat kiswah hitam berkibar-kibar dicumbu angin. Bahkan agar segera sampai di depan rumah ibadah yang dipugar oleh Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail itu, ia sampai rela menembus gelombang manusia yang terus bertambah.

“Apakah itu Ka’bah?” bisiknya di dalam hatinya sendiri. “Labbaikallahumma labbaik. Labbaikallahumma labbaik. Labbaikallahumma labbaik.”

Saidi terus bergerak agar semakin dekat dengan Ka’bah. Air matanya meleleh saat mengingat cinta dan kasih sayang Allah yang telah memberinya sebuah kesempatan naik haji ke tanah suci. Inikah bangunan yang terbuat dari batu yang dituduhkan oleh orang-orang yang takut agamanya roboh sebagai Tuhan?

Saidi terus mendekati bangunan tua itu. Tampak para jamaah berpakaian ihram melakukan thawaf seraya membaca Talbiyah. Suara mereka menggema seakan meruntuhkan langit. Tidak ada ritual ibadah paling agung di atas muka bumi ini selain ritual ibadahnya umat Islam. Dan semua pemeluk agama merasa iri. Iri yang terlahir dari perasaan benci dan cemburu.

Tapi, apa yang terjadi dengan Saidi saat ia berdiri hanya beberapa meter dari Ka’bah. Ia berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintunya yang tertutup pintu emas. Suaranya macam orang gagap. Tentu saja kejadian yang datang secara tiba-tiba ini membuat orang-orang kaget. Para asykar yang bertugas di sekeliling Ka’bah pun mendekat untuk mengamankan jamaah asal Indonesia itu.

“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?” tanya seorang asykar berseragam hitam.

Terik matahari yang menghantam lantai masjid tak membuat mereka urung untuk menolong lelaki paro baya itu.

“Entahlah. Tiba-tiba, orang ini berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu Ka’bah,” jawab temannya.

“Tolong ambilkan air zam-zam!” kata seorang petugas haji yang menenangkan Saidi. Apakah lelaki itu kerasukan jin?

Lalu salah seorang asykar datang dengan membawakan air zam-zam. Setelah itu, kepala dan sekujur tubuh Saidi diusap dengan air zam-zam dengan harapan lelaki itu sembuh.

Aneh, air bertuah itu tidak bisa memberikan efek apa pun. Saidi tetap berteriak-teriak macam orang tak waras. Tidak sedikit para jamaah yang menganggap demikian, terutama orang Indonesia yang sudah terbiasa beranggapan seperti itu.

“Mungkin dia sudah gila,” komentar salah seorang jamaah bermuka kasar.

“Pulangkan saja ke tanah air,” sahut yang satunya.

Spontan saja kejadian itu langsung menjadi tontonan seperti topeng monyet. Kenapa? Karena mereka tidak melihat sesuatu yang tak kasat mata. Tidak sedikit di antara orang-orang itu yang beranggapan bahwa “sesuatu yang tak kasat mata” itu adalah barang yang tak berwujud dan hanyalah ilusi yang hanya ada dalam otak orang yang tak waras. Mereka tak beriman kepada yang gaib karena belum melihatnya secara langsung.

Agar tidak mengganggu ritual ibadah jamaah yang lain, pihak petugas haji dan kepolisian mengamankan Saidi dengan membawanya ke rumah sakit. Tapi anehnya, setelah dibawa keluar dari area masjid, Saidi seperti baru sadar macam orang yang habis kesurupan.

“Kenapa dengan saya? Kenapa dengan saya? Kenapa saya dibawa ke sini?” tanya Saidi kepada petugas haji.

“Apakah Bapak tidak tahu kalau tadi Bapak berteriak-teriak di depan Ka’bah?”

“Tidak. Saya tidak kenapa-kenapa kok. Saya tidak berteriak-teriak.”

Para asykar dan petugas haji saling berpandangan. Bahkan salah satu di antara mereka ada yang menyilangkan jari di keningnya.

“Saya mau kembali ke masjid. Antarkan saya ke sana,” pinta Saidi.

“Sebaiknya Bapak istirahat dulu di sini. Dan tenangkan pikiran Bapak. Setelah itu baru kami antar ke masjid,” jawab salah seorang petugas haji dengan kalem.

“Saya mau ke masjid. Antarkan saya ke sana. Sudah lama saya menantikan kesempatan ini untuk melihat Ka’bah dari dekat,” sahut Saidi ngeyel.

“Apakah Bapak tidak sadar apa yang Bapak lakukan tadi di depan Ka’bah?!” tanya seorang asykar bertubuh kekar dan tinggi dalam bahasa Arab. Lalu, ia hapenya.

***

Saat itu, saat Saidi berteriak-teriak di depan Ka’bah sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintunya, ia melihat ada sosok manusia tinggi yang mengenakan pakaian putih. Sosok suci itu melihat ke arahnya. Entahlah siapa sosok itu. Bisa jadi Nabi Ibrahim. Apakah Nabi Ibrahim ada di sana? Jawabannya ada. Tapi terserah orang-orang yang menanggapinya, yakin atau tidak. Bila ingin membuktikan, buktikanlah sendiri. Lalu, kenapa Saidi meraung-raung macam orang tak waras? Bukankah ia orang yang religius dan alim? Bahkan selama 20 tahun ia memendam cita-cita ingin naik haji ke tanah suci. Kita pun tidak. Ah, jangankan bertekad mau naik haji, mendengar nama tanah suci pun hati kita sudah muak.

Jadi begini, memang Saidi kelihatan suci, alim dan religius menurut pandangan orang-orang. Niatnya yang ingin menyempurnakan rukun Islam dianggap sebuah keistimewaan. Dari pada tidak naik haji sama sekali? Tapi, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Saidi mendapatkan uang yang ditabungkannya untuk naik haji dari hasil menipu orang lain. Ia bisa disuruh mengerjakan pagar rumah, namun ia menipu orang yang menyuruhnya saat hendak membeli bahan-bahan. Selain itu, ia juga pernah diminta menjadi saksi di kepolisian, namun ia mengibuli orang yang menyuruhnya setelah menerima duit sogokan.

Apakah istri Saidi benar meninggal karena penyakit tumor ganas? Sebagiannya memang benar, namun ada rumor bahwa sebenarnya Saidi tidak pernah ingin membawa istrinya berobat. Ia tidak mau uang tabungannya terkuras buat biaya operasi pengangkatan tumor istrinya.

Setelah sadar beberapa jam, Saidi kembali meraung-raung sambil menunjuk-nunjuk ke arah kiblat. Saat itu, kedua matanya melihat sosok-sosok bersayap secara bergantian turun dari langit. [T]

2024

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana
Made Merta dan Kisahnya Menabung
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Di Depanmu Cermin

Next Post

Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali

Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co