2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Di Depanmu Cermin

Son Lomri by Son Lomri
November 24, 2024
in Puisi
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Di Depanmu Cermin

Sonhaji Abdullah

DI DEPANMU CERMIN

Terus urai rambutmu, Luh
Dimana saja
Sampai ditiup angin
Mengurai. Mengurai

Rontok. Mati. Jatuh jatuh
Dan tumbuh. Hidup hidup

Adalah keniscayaan

Sementara keringat tetes menggigil garam
Dari matahari siang utara. Gibaskan itu, rambutmu

Percayalah pada bening kasih di sela kulitmu menguar wangi di kepala
Menguar itu Dewa Dewi memberkati setiap pikiran
Penuh cinta. Penuh perasaan

Di cermin,
Dan matamu bening di cermin
Menandakan kedalaman hatimu
Bukan dongeng

O, urai terus rambutmu, Luh
Urai terus
Sampai ke bawah
Sampai ke bawah
Mengurai. Mengurai

Dan antarkan aku mengurai rambutmu dekat
Lebih lama. Lebih lembut. Lebih dalam

O, Antarkan aku ke sana, Luh. Antarkan aku
Atau kemana saja yang kau mau

Singaraja, 13 November 2024

DERU NAFAS KITA SALING MEMBURU

Angin malam tak lagi dingin
Dan laut sedang pasang pasangnya
Senyap. Kita saling menatap
Dan kejang tubuhku–tubuhmu
Tubuh kita semakin panas, Sayang
Dalam pelukkan

Biarlah, katamu. Biarkan itu darah kita mengalir cepat

Dan Kita tak mesti peduli kepada kepiting berjalan di atas pasir tersapu ombak lalu terseret itu
Atau paus orcha di laut lepas
Sedang tidur pulas atau mimpi buruk tanpa kerlip bintang tidur di permukaan laut

Sementara di tepian,
Di balik hotel orang bule di tepian;

Pantai begitu sepi seketika dan senyap
Selain hanya ada orang mabuk di gang sedang teler berat

Sementara seseorang di dalam mobil, pergi ke dalam hotel entah ke lantai berapa ia berjalan.

Dan kita, masih bertahan memburu yang lain dan memberi makna. Yang,
Lebih mabuk pula dari mereka di gang menghabiskan waktu tawarnya itu gelap

O, Nafasku semakin memburu
Dan kita saling memburu deru dekat
Bibirmu manis. Paling puisi di bawah malam kita paling coklat di bibir

Aku bernafas di nafasmu malam ini
Dan kita saling mendekap. Meminjam. Menyesap. Panas

Kemudian menggigil setelahnya, dan Kita kembali memeluk. Angin menyapu kita dingin sepanjang jalan pulang mabuk cinta. Laut menjadi surut

“Sebait lagi, Sayang. O, sebait lagi di kuda besi. Lebih erat.”

Singaraja, 13 November 2024

TERBUNUHNYA PERLAHAN SEORANG SELIR

Di bawah langit paling lepas itu membujur kaku pasir
Cinta. Sangat mungkin tidak ada kemungkinannya, katamu

O, Nasib menjadi seorang selir, kataku
Cinta hanya setengah di ujung malam. Dan,
Hidup benar benar menderaku berlebihan

Dan tak satupun bintang jatuh menghibur itu di malam terakhir untuk berdoa di hadapan laut yang suci

O, wajah bulan remang yang pelit memintalkan cahaya di rambutmu saat kuurai lembut.
Kau menciumiku dengan kesedihan dan tatapanmu berat. Yang sedih

Merupa bayangan kematianku sendiri paling duka di matamu berair
Yang diantarkan ombak angin dengan dingin menusuk itu sampai ke tulang rusuk

Sementara melepas baju jirah pertaruhanku pada hidup. Tentu. Sesungguhnya paling kecut nasibku ini. Di malam itu
Juga pada setiap pelukan yang lama. Atau sebentar kita beberapa malam

Adalah potongan cinta kecil kecil yang kupungut tanpa rumah
Yang akan tumbuh itu menjadi hutan rimba kesunyian paling lebat di kemudian hari kepadaku

O, perlahan mati aku. Tanpa ampun. Dimana saja. Perlahan

Singaraja, 20 November 2024

WALAUPUN AKU PENGECUT. TAPI AKU INGIN TERUS BERTARUH, BUNG!

Untuk Sutan Syahrir

Manusia akan meninggalkan tanggal hidupnya bersama abu ditiup angin
Atau meninggalkan jejak bayangannya sendiri
Di pohon muda basah gundukkan tanah sebotol air. Tinggal di tanah
Tutup usia itu sambil teler makna,
Atau kosong tanpa tualang yang kering masa muda

“Dan aku memilih pertaruhan!”

Sebelum mati. Kapan saja aku masih hidup, Bung. Percayalah—
Mimpi ku timbun ke Banda Naira bersama perempuan paling kasih

Dan kepada Tuhan,
Benamkan Aku disana kapan aku mati saat kalah-bertaruh tanpa cinta itu

Sunyikan aku di jalan. Sunyikan aku di kapal

“Atau kabulkan doaku; Ia mau diajak ke sana setelah merdeka dirinya dari seorang lelaki yang menawannya. Kalau belum?”

Bersama darah pejuang di masa lalu yang diasingkan. Teteskan saja darahku di sana sendiri di sebuah benteng tua: dengan sunyi. Di tanah

“Kubawa kekalahan sendiri. Hanya sendiri. Bukankah aku selalu begitu, Bung?”
Ketawalah di langit dengan nada mengejek

Tapi berdoalah sesekali untukku,
Kemerdekaan semoga menyertainya segera. Semoga

Singaraja, 19 November 2024.

JALANAN SUNYI DESEMBER

Aku tak begitu siap dengan kesunyian akhir tahun.
Dan sebagaimana pengecut, bawalah aku ke tempat paling rahasia
“Tuhan tak mesti tahu. Atau ia tak mesti tahu!”

Aku ingin bersulang. O, aku ingin bersulang

Buleleng, 18 November 2024

  • BACA puisi-puisi dari PENYAIR LAIN
  • BACA artikel dan puisi lain dari penulis SONHAJI ABDULLAH
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Ingatanku Kepada Kematian
Puisi-puisi IGA Darma Putra dari Paris | Kepada Sunyi, Kabut, Hujan
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Bau Kita Garam dan Darah Yang Sama
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Jalan Kusam yang Mesti Dicat Warna
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meninggalkan Hiruk-Pikuk Kota dengan Keindahan Sederhana di Bali Farm House, Pancasari-Buleleng

Next Post

Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co