9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Jalan Kusam yang Mesti Dicat Warna

Son Lomri by Son Lomri
August 19, 2023
in Puisi
Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Jalan Kusam yang Mesti Dicat Warna

Sonhaji

PANGGUNG KEGELAPAN

Kursi kursi itu ditata sejak pagi. Kemarin.
Sebagaimana seonggok gong akan dipukul berbunyi bangga:
Di tengah kota. Telah panggung berdiri dan megah, agung.

Hari ini dan sampai satu bulan kedepan.
Mereka akan berbicara tentang laut. Tanpa bosan.
Tentang tuhan. Dan tentang dewa yang perhatian. Pada laut.

Lambaian tangan yang lihai. Simbol simbol harap.
Metafora metafora yang menantang deras mengalir-
Seperti sungai yang pergi ke hilir.
Mengingatkan kita semua pada pengatur laut tetapi jahat
Berapa jumlah tongkang tongkang batu berlayar
Menggantikan kekasih laut, nelayan, berlayar?

Menatap tajam ia di atas panggung. Mencoba menjawab beberapa hal yang hilang itu dikepala. Memikirkan. Tetapi tidak satupun menemukannya.
Dan menjelaskan yang lain diatas panggung: Panggung hanyalah pelabuhan terakhir bagi nasib yang buruk, katanya.

Oooo…
O. Tarian yang hilang.
Oooo…
O. Kalimat tanya yang hilang.
Oooo…
O. Laut yang menangis.
Oooo…

Penampil terakhir itu kemudian berdiri mengambil kain pembungkus mayat. Lalu membalutkannya pada mikrofon yang mati. Pada tanda tanya yang hilang.

“Tuan-tuan dan Puan-puan yang terhormat. Penampilan telah selesai…” ucapnya dengan suara agak keras dan serak sebelum akhirnya akan menuntaskan kalimat selanjutnya. Tetapi lampu mati terburu buru dan panggung menjadi tempat gelap. Sangat gelap. Penonton terkejut. Terhibur. Pengatur Laut terhibur. Dan tepuk tangan menyambut meriah ditengah kegelapan.

Bali, 2023

JALAN KUSAM YANG MESTI DICAT WARNA

Ini tahun politik. Ya, sebentar lagi maksudku.
Suasana. Ya, Aku masih ingat betul suasana tahun politik menjelang.
Satu waktu. Jalan di depan rumahku, beton dan berwarna kusam.
Berganti warna menjadi hijau setelah
Pak RT dan Ketua Pemuda menugaskan aku dan beberapa temanku
Yang sedang berkumpul.
Ia berpesan untuk memberinya cat
Berwarna dengan variasi ikan, bintang, dan
Gambar gambar yang bagus sepanjang jalan.
Jangan lupa, kata dia, beri warna hijau yang banyak di setiap ruasnya.

“Sebentar lagi ada Bupati dan Kepala Desa akan berkujung. Lusa. Beliau beliau akan datang, segera cat warna hijau!”

Pak RT itu kemudian memberi kami uang untuk membeli cat
Dan meminjamkan motornya agar segera berangkat ke toko.
Tanpa tahu ini penting atau tidak. Pemuda semacam kami, penganggur.
Sangat senang. Tentu bukan karena tamu kehormatan akan datang!

Tetapi atas pekerjaan yang diberikan dan beberapa rokok kretek dan kopi, gorengan dan sebungkus nasi uduk. Setidaknya nafas kami lebih lama dalam satu hari. Pula dipandang penganggur yang baik beberapa hari jika masih hidup.
Namun. Sekali kali hati penasaran saat memberi warna pada jalan, “Apa fungsinya Bupati dan Kepala Desa sehingga jalan mesti di cat?”

Bali, 2023

JAMUAN MERAH DI LAMPU MERAH

Merah menjamu tanda baik
Berhenti kami menunggu
Tanda giliran pulang. Dari Pantai Panimbangan
Berjalan keluar kami kuning kuning

Tidak dengan hewan banteng yang terpenjara di dalam makna.
Terpakung di tiang listrik kepalanya. Abadi dalam gambar tanpa tubuh yang jelas.
Merah merah kabur warnanya. Pula nilainya barangkali.

Mural kebebasan dan lampu lampu jalan
Sedikitnya menambahkan warna baik kepada tembok
Hari baik kepada banteng sebagai teman.

Ini tanda baik! Lampu telah hijau memberi jalan.
Kami hormat! Pulang penuh semoga.
Semoga selamat.

Singaraja, 2023

TAK APA. UNTUK HARI RAYA

Lele mematil jariku berdarah.
Aku tahan sakitnya. Aku lap dengan bajuku yang bau anyir ikan itu
Tidak lama. Lelepun berdarah. Robek perutnya dan mati.
Lele di masak kemudian.
Menyusul lobster dan kepiting yang sudah bersih menunggu.
Mereka dimasak juga kemudian.

Kenikmatan orang orang yang hendak pergi kearah Denpasar dan Pelabuhan Gilimanuk. Seakan tiada habisnya berhenti dan memesan lele goreng dan dua porsi seafood tawar sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil masing masing.
Tak apa berbanting tulang dengan waktu kerja sore-dini hari dan luka jariku.
Sebab. Bagaimanapun seorang laki-laki mesti berfikir tentang hari raya yang sama: bertemu teman. Berbagi dan sama sama gembira.

Sehingga aku memutuskan untuk bekerja. Menggantikan beberapa karyawannya yang pergi mudik tiga minggu, ke Jawa.
Ya, ditempat warung milik orang china blasteran. Orang memanggilnya dengan sebutan Cak Koko. Terkenal betul masakan seafoodnya di Bali Utara.
Satu minggu sudah bekerja. Sudah kebal jariku dari patilan lele dan capitan kepiting. Ini hari yang baik untuk mengambil uang.

Diberilah aku upah dua ratus ribu rupiah dan waktu libur lima hari. Karena lusa sudah hari raya idul fitri, hari raya agamaku.

Aku terima uang itu penuh suka cita.
Aku masukan kedalam kantung bajuku sebelah kanan.
Tak apa. Untuk hari raya.
“Naskleeenggg!!!!!” batinku.

Singaraja, April 2023.

KUCING SEMALAM

Pagi ini. Tidak ada bau daging tergoreng,
Terkukus atau disate. Tidak sama sekali
Tercium lezatnya. Tidak sama sekali.
Selain. Hanya debu debu yang terbang sesak nafas.
Selain. Setumpuk sampah tercecer ulah kucing lapar berbulu kuning belang belang. Menguar aroma tak sedap. Membangkitkan jiwa pemarah salah satu temanku.
Satu hari penuh.

Saat terbangun dari mimpi basahnya. Ia,
Seakan mendapatkan perintah tuhan yang maha sulit dilakukan saat membuka mata: Membersihkan segala yang kotor di Bumi! Termasuk di atas lantai tentu saja.
Cahaya gelap dari mulutnya seakan menjelaskan kepada yang lain tentang dirinya adalah manusia sangat biasa dan tidak ada Nabi yang dipilih setelah terbangun dari mimpi basah. Maka. Wajarlah jika ia mengomel, kalap dan puas meracau-mengumpat kesetanan.

“Dasar! Kucing tak punya akal! Tak bermoral!” Umpatnya sangat kesal dengan mata mendelik seolah mencari cari kemana kucing itu pergi. Seolah akan diburu walau hanya seekor yang terlihat.
Sementara tanpa celah.

Sapu ditangannya semakin tercekik tiada ampun.
Bahkan debu debu kemarau sampai terbang liar tak menentu:

Hinggap.
Ke Piring. Ke Perut.
Hinggap.
Ke Tembok. Ke Hidung.
Ke Piring. Ke Perut.

Kemana mana.

“Lain kali. Kau bedol saja kepala kucing itu dan mengisinya regulasi regulasi tentang sampah!” kataku. “Bila perlu, bunuh! Jika tetap tak mengerti tinggal di kost kecil bagaimana.”
Waktu terdiam. Hening beberapa saat.

Debu debu kemarau yang hinggap-mengejutkan bangkit dari segala sisi kemudian:
Sepertinya tuhan tak ingin melihat darah kucing tercecer di lantai dan lebih memilih membagi sedikit cahaya pada jiwa orang yang sedang kalap.

“Percuma” katanya kepadaku. “Sebab binatang tidak akan pernah bisa mengerti! Sekalipun itu adalah kucing yang sering pergi ke Kampus. Atau… ke Masjid sekalipun.”

Singaraja, 2023

[][][]

  • BACA puisi-puisi lain
Puisi-Puisi Abed Ilyas | Mata, Air
Puisi-puisi Andy Sri Wahyudi | Jejak Api, Melihat Ingatan
Puisi-puisi Chris Triwarseno | Ibu Menjahit Doa-Doa
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Prosa Gerilya: Mengurai Kisah Ngurah Rai” Dalam Festival Powerful Indonesia The Apurva Kempinski Bali

Next Post

Rumah Gadang Sebagai Gelanggang: Upita Agustine dalam Delapan Latar

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Liyan, Lebur Tiada Jarak:  Faisal Baraas dalam Leak

Rumah Gadang Sebagai Gelanggang: Upita Agustine dalam Delapan Latar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co