14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 21, 2024
in Cerpen
Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Berhati-hatilah kamu di sana, jaga dirimu baik-baik, aku akan menunggumu di tempat ini saat kamu kembali nanti.”

Begitulah ucap gadis itu sembari menangis di pundakku. Rasanya begitu berat untuk melepaskan gamitan tangannya yang terakhir kali sebelum aku berlayar menyusuri samudera.

Ia adalah Rani, gadis yang anggun dan lemah lembut, sangat menyayangi diriku, begitupun aku sebaliknya. Tak ada yang lebih indah dari memandangi wajahnya yang bak sinar rembulan malam.

Kami bagaikan sepasang sepatu, kami kiri dan kanan. Selalu bersama kemanapun, dunia serasa milik berdua, tampaknya tak akan ada yang dapat memisahkan kami.

Begitu beruntungnya, ia merupakan mawar desa yang kujadikan kekasih. Sudah sewindu kami bersama-bersama, mengarungi berbagai romansa dan problematika cinta. Namun, hari ini aku harus pergi meninggalkannya selama setahun di pelayaran.

Kabar yang baik untuk karirku, tapi jadi kabar buruk bagi hubungan kita. Tak heran, Rani teramat sedih menerima kabar itu.

“Mengapa harus berlayar?” Apakah tidak ada hal lain yang bisa memenuhi hasrat dan isi dompetmu itu, Widya?” ucap Rani padaku mengernyitkan dahi.

“Aku juga bingung harus bagaimana, tapi ini semua juga untuk kita, untuk kamu,” jawabku.

Rani memandangku.

“Sudah dua tahun berlalu sejak lamaran kerja itu kukirim, namun baru sekarang ada kesempatan untuk berlayar,” kataku lagi.

Rani hanya diam. Tetap memandangku.

“Aku tak ingin kesempatan ini hilang, lagi pula hanya setahun aku tak ada di sampingmu,” kataku lirih.

“Apakah kamu tak takut apabila kehilangan? Aku khawatir kita tak bisa bersua kembali,” ucap Rani cemas.

“Tenanglah kekasihku. Percayalah, kita abadi di dalam cinta, tak akan ada yang bisa memisahkan kita,” jawabku berupaya menenangkannya.

Rani kembali diam.

“Kita masih bisa bercengkrama lewat gawai masing-masing. Meski hanya gawai jadul yang kupunya, aku akan selalu mengabarimu,” kataku sembari memeluknya erat.

Rani tenggelam dalam pelukanku.

“Suatu saat nanti, aku akan datang membawa banyak uang. Kita bisa membangun keluarga kecil bahagia, seperti yang selama ini kamu dambakan,” kataku.

Rani masih tenggelam dalam pelukanku.

“Tiga hari sebelum pulang, aku akan mengabarimu lewat telepon. Kita akan bertemu kembali di dermaga ini, tepat di tempat kita berpisah hari ini,” ucapku.

Dalam kehanyutan perpisahan, kami saling mengeratkan pelukan sebelum Rani mengucapkan selamat jalan. Aku mengecup kening manismu untuk terakhir kali, sebelum kulepaskan gamitan tangannya.

Semenjak itu, aku tak pernah melihat wajah indahmu lagi. Aku hanya bisa mendengarkan suara lembutmu dari gawai jadulku ini, begitu jauh rasanya untuk kupandangi, apalagi kupeluk dirinya. Aku hanya bisa menitipkan pesan melalui angin laut yang berhembus. Aku selalu berharap Yang Maha Kuasa senantiasa melindunginya, dan ia selalu mengingat aku di mana pun ia berada.

Setahun di pelayaran ternyata tak seindah yang aku bayangkan, ternyata bertahan dalam situasi ini sangat berat. Pantas saja pekerjaan ini upahnya begitu besar.

Pekerjaan yang penuh tekanan, jauh dari orang-orang tersayang, bahkan aku tidak pernah menyentuh daratan selama setahun ini. Hidupku hanya melayani ribuan orang di dalam seonggok kapal mewah yang terombang-ambing di laut. Itulah yang kurasakan selama terjebak di sini. Aku sampai lupa bagaimana rasanya menginjakkan kaki di tanah dan bebatuan. Tetapi, terlepas dari semua itu, aku rasa penghasilan dari berlayar akan lebih dari cukup untuk membangun bahtera rumah tangga bahagia bersama Rani.

Setahun pun telah kulalui. Aku mengumpulkan pundi-pundi dollar dalam kapal mewah berbintang lima ini. Tak sabar rasanya bertemu dengan sanak-saudara, dan tentunya Rani kekasihku.

Janjiku padanya setahun lalu masih teringat jelas, aku menelepon dan mengirimkan pesan bahwa aku akan segera pulang dalam tiga hari ke depan. Namun, Rani tak menjawab panggilan telepon ataupun membalas pesan-pesan yang kukirimkan.

Tiga hari telah berlalu, kini adalah hari kepulanganku dari kontrak setahun yang telah kujalani. Aku dan Rani sudah lost contact selama tiga hari, sebetulnya ada perasaan cemas dan gundah yang menyelimuti diriku, tetapi aku masih mencoba berpikir jernih.

“Mungkin ia tidak memiliki cukup pulsa untuk menelepon ataupun membalas pesanku selama tiga hari ke belakang ini, atau mungkin saja gawainya rusak, karena Rani adalah orang yang ceroboh,” gumamku dalam hati. “Semoga saja Rani sudah membaca pesanku semalam, bahwa aku akan pulang hari ini.” kataku penuh harap.

Sesampainya di dermaga, tempat dahulu kami berjanji akan bertemu, aku tak melihat keberadaan Rani. Hatiku risau dan bimbang memikirkannya.

Baru tiga hari ini Rani tak menjawab telepon dan membalas pesanku. Tak mungkin ia melupakanku begitu saja, rasanya baru seminggu yang lalu kami bercakap-cakap lewat panggilan telepon.

Aku mencoba menghubunginya kembali, namun tetap sama. Tak ada jawaban sama sekali. Berkali-berkali sudah kukirimkan pesan, juga tak kunjung dibalas.

“Di manakah dirimu? Apakah secepat itu kamu berpaling dariku?” ucapku dalam hati sembari menghela napas panjang.

Tak ingin berlarut-larut, aku segera bergegas pulang untuk mengistirahatkan diri dan pikiranku. “Sudahlah, sebaiknya aku pulang saja. Masalah Rani urusan nanti saja,” kataku menahan sedih bercampur kesal.

Sesampainya di rumah, meski masih diselimuti kekecewaan, sebetulnya aku merasa risau dengan keadaan Rani. Apa mungkin ia dalam bahaya? Atau barangkali terkena musibah?

Menjawab semua keraguan itu, aku mencoba mencari Rani ke rumahnya. Walaupun raga ini sudah penat, tetapi semua pertanyaan di kepalaku harus terjawab segera. Motor yang setahun sudah tak kupakai ternyata masih sehat, sepertinya masih kuat sampai di rumah Rani. Jarak rumahnya tak terlampau jauh, jaraknya dari rumahku sekira lima ribu kaki.

Baru saja aku sampai di depan rumahnya, situasi tampak begitu ramai, bendera kuning terpasang di pagar rumah. Perasaanku tidak enak, aku masuk tergopoh-gopoh. Aku bertemu dengan Lila–kakaknya, segera aku bertanya padanya.

“Ada apa ini, Kak? Siapa yang meninggal?” tanyaku dengan napas tersengal-sengal.

“Rani, Wid, Rani sudah tidak ada. Ia sudah dimakamkan kemarin. Rani kecelakaan saat pulang dari membelikan hadiah untuk merayakan kedatanganmu,” jawab Lila gemetar.

Aku kaget. Tak bisa berkata-kata.

“Rani ditabrak truk muatan pasir, kata warga setempat, truk itu oleng dan melaju dengan kecepatan tinggi, tepat di tikungan pohon beringin dekat TPU (Tempat Pemakaman Umum), kala itu hujan sedang deras-derasnya. Rani malah berusaha untuk mengamankan hadiah, bukan dirinya,” kata Lila.

Aku memandang Lila yang sedang bercerita.

“Rani begitu bersemangat, ia menahan untuk tidak membalas pesanmu selama tiga hari untuk memberikanmu kejutan. Nahas, begitulah nasibnya Rani,” jelas Lila sembari menahan tangis.

Aku mulai menangis.

“Ini, ambilah hadiah yang telah disiapkannya untukmu. Ikhlaskanlah kepergian Rani, meski kini kau hanya bisa bersama hadiahnya, bukan dengannya,” ucap Lila memberikan hadiah Rani kepadaku.

Hatiku terasa terguncang mendengar kabar itu. Aku lemas, tetap menangis, dan tetap tak bisa berkata-berkata. Jantungku bergetar hebat, tak menyangka semua ini bisa terjadi. Bahkan, aku tak bisa melihat jasad kekasihku untuk terakhir kalinya.

Aku hanya bisa bergegas ke peristirahatan terakhir Rani. Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali, meski hanya berupa gundukan tanah dan batu nisan.

Sesampainya di sana, aku mendekap makamnya, aku rasa Rani pun menangis melihat apa yang terjadi padaku saat ini.

“Rani, maafkan aku. Seharusnya aku menuruti permintaanmu untuk tidak pergi berlayar,” katanya.

Aku memeluk nisan itu.

“Memang betul perkataanmu, untuk apa aku harus berlayar jika aku tidak bisa menemanimu sampai hari tua nanti. Untuk apa juga aku bergelimang harta jika tidak bisa membahagiakanmu? Andaikan saja aku mengikuti perkataanmu waktu itu, maka semua ini tidak akan terjadi Rani,” kata sambil terus menangis.

Aku terus memeluk nisan itu seakan aku memeluk Rani.

“Maafkan aku Rani, semoga dirimu tenang di sana. Aku akan tetap mencintaimu dalam keabadian. Hadiah yang kau siapkan ini akan aku jaga, dan dirimu akan aku kenang sampai ajalku tiba. Sampai jumpa di kehidupan berikutnya kekasihku,” kataku.

Aku mengusap tangis meninggalkan makam Rani.

Dalam perjalanan pulang dari peristirahatan terakhir Rani, hujan begitu deras menemani perjalananku. Rasanya Tuhan mengirimkan hujan yang begitu lebat sehingga tangisku tak terlihat oleh derainya yang deras. Atau mungkin, alam juga menangis karena bunga yang tumbuh di tanah harus kembali menghiasi angkasa.

Aku mengendarai sepeda motor dengan berhati-hati, karena jalanan begitu licin akibat hujan. Jarak pandangku terbatas. Tiba-tiba saja, di tikungan pohon beringin, sebuah truk bermuatan pasir yang melaju dengan kecepatan tinggi terlihat oleng. Truk itu melaju tanpa kendali ke arahku dan menghantam sepeda motorku. [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Hadriansyah | Hutan Kabut, Kumbang Koksi

Next Post

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co