3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 21, 2024
in Cerpen
Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Berhati-hatilah kamu di sana, jaga dirimu baik-baik, aku akan menunggumu di tempat ini saat kamu kembali nanti.”

Begitulah ucap gadis itu sembari menangis di pundakku. Rasanya begitu berat untuk melepaskan gamitan tangannya yang terakhir kali sebelum aku berlayar menyusuri samudera.

Ia adalah Rani, gadis yang anggun dan lemah lembut, sangat menyayangi diriku, begitupun aku sebaliknya. Tak ada yang lebih indah dari memandangi wajahnya yang bak sinar rembulan malam.

Kami bagaikan sepasang sepatu, kami kiri dan kanan. Selalu bersama kemanapun, dunia serasa milik berdua, tampaknya tak akan ada yang dapat memisahkan kami.

Begitu beruntungnya, ia merupakan mawar desa yang kujadikan kekasih. Sudah sewindu kami bersama-bersama, mengarungi berbagai romansa dan problematika cinta. Namun, hari ini aku harus pergi meninggalkannya selama setahun di pelayaran.

Kabar yang baik untuk karirku, tapi jadi kabar buruk bagi hubungan kita. Tak heran, Rani teramat sedih menerima kabar itu.

“Mengapa harus berlayar?” Apakah tidak ada hal lain yang bisa memenuhi hasrat dan isi dompetmu itu, Widya?” ucap Rani padaku mengernyitkan dahi.

“Aku juga bingung harus bagaimana, tapi ini semua juga untuk kita, untuk kamu,” jawabku.

Rani memandangku.

“Sudah dua tahun berlalu sejak lamaran kerja itu kukirim, namun baru sekarang ada kesempatan untuk berlayar,” kataku lagi.

Rani hanya diam. Tetap memandangku.

“Aku tak ingin kesempatan ini hilang, lagi pula hanya setahun aku tak ada di sampingmu,” kataku lirih.

“Apakah kamu tak takut apabila kehilangan? Aku khawatir kita tak bisa bersua kembali,” ucap Rani cemas.

“Tenanglah kekasihku. Percayalah, kita abadi di dalam cinta, tak akan ada yang bisa memisahkan kita,” jawabku berupaya menenangkannya.

Rani kembali diam.

“Kita masih bisa bercengkrama lewat gawai masing-masing. Meski hanya gawai jadul yang kupunya, aku akan selalu mengabarimu,” kataku sembari memeluknya erat.

Rani tenggelam dalam pelukanku.

“Suatu saat nanti, aku akan datang membawa banyak uang. Kita bisa membangun keluarga kecil bahagia, seperti yang selama ini kamu dambakan,” kataku.

Rani masih tenggelam dalam pelukanku.

“Tiga hari sebelum pulang, aku akan mengabarimu lewat telepon. Kita akan bertemu kembali di dermaga ini, tepat di tempat kita berpisah hari ini,” ucapku.

Dalam kehanyutan perpisahan, kami saling mengeratkan pelukan sebelum Rani mengucapkan selamat jalan. Aku mengecup kening manismu untuk terakhir kali, sebelum kulepaskan gamitan tangannya.

Semenjak itu, aku tak pernah melihat wajah indahmu lagi. Aku hanya bisa mendengarkan suara lembutmu dari gawai jadulku ini, begitu jauh rasanya untuk kupandangi, apalagi kupeluk dirinya. Aku hanya bisa menitipkan pesan melalui angin laut yang berhembus. Aku selalu berharap Yang Maha Kuasa senantiasa melindunginya, dan ia selalu mengingat aku di mana pun ia berada.

Setahun di pelayaran ternyata tak seindah yang aku bayangkan, ternyata bertahan dalam situasi ini sangat berat. Pantas saja pekerjaan ini upahnya begitu besar.

Pekerjaan yang penuh tekanan, jauh dari orang-orang tersayang, bahkan aku tidak pernah menyentuh daratan selama setahun ini. Hidupku hanya melayani ribuan orang di dalam seonggok kapal mewah yang terombang-ambing di laut. Itulah yang kurasakan selama terjebak di sini. Aku sampai lupa bagaimana rasanya menginjakkan kaki di tanah dan bebatuan. Tetapi, terlepas dari semua itu, aku rasa penghasilan dari berlayar akan lebih dari cukup untuk membangun bahtera rumah tangga bahagia bersama Rani.

Setahun pun telah kulalui. Aku mengumpulkan pundi-pundi dollar dalam kapal mewah berbintang lima ini. Tak sabar rasanya bertemu dengan sanak-saudara, dan tentunya Rani kekasihku.

Janjiku padanya setahun lalu masih teringat jelas, aku menelepon dan mengirimkan pesan bahwa aku akan segera pulang dalam tiga hari ke depan. Namun, Rani tak menjawab panggilan telepon ataupun membalas pesan-pesan yang kukirimkan.

Tiga hari telah berlalu, kini adalah hari kepulanganku dari kontrak setahun yang telah kujalani. Aku dan Rani sudah lost contact selama tiga hari, sebetulnya ada perasaan cemas dan gundah yang menyelimuti diriku, tetapi aku masih mencoba berpikir jernih.

“Mungkin ia tidak memiliki cukup pulsa untuk menelepon ataupun membalas pesanku selama tiga hari ke belakang ini, atau mungkin saja gawainya rusak, karena Rani adalah orang yang ceroboh,” gumamku dalam hati. “Semoga saja Rani sudah membaca pesanku semalam, bahwa aku akan pulang hari ini.” kataku penuh harap.

Sesampainya di dermaga, tempat dahulu kami berjanji akan bertemu, aku tak melihat keberadaan Rani. Hatiku risau dan bimbang memikirkannya.

Baru tiga hari ini Rani tak menjawab telepon dan membalas pesanku. Tak mungkin ia melupakanku begitu saja, rasanya baru seminggu yang lalu kami bercakap-cakap lewat panggilan telepon.

Aku mencoba menghubunginya kembali, namun tetap sama. Tak ada jawaban sama sekali. Berkali-berkali sudah kukirimkan pesan, juga tak kunjung dibalas.

“Di manakah dirimu? Apakah secepat itu kamu berpaling dariku?” ucapku dalam hati sembari menghela napas panjang.

Tak ingin berlarut-larut, aku segera bergegas pulang untuk mengistirahatkan diri dan pikiranku. “Sudahlah, sebaiknya aku pulang saja. Masalah Rani urusan nanti saja,” kataku menahan sedih bercampur kesal.

Sesampainya di rumah, meski masih diselimuti kekecewaan, sebetulnya aku merasa risau dengan keadaan Rani. Apa mungkin ia dalam bahaya? Atau barangkali terkena musibah?

Menjawab semua keraguan itu, aku mencoba mencari Rani ke rumahnya. Walaupun raga ini sudah penat, tetapi semua pertanyaan di kepalaku harus terjawab segera. Motor yang setahun sudah tak kupakai ternyata masih sehat, sepertinya masih kuat sampai di rumah Rani. Jarak rumahnya tak terlampau jauh, jaraknya dari rumahku sekira lima ribu kaki.

Baru saja aku sampai di depan rumahnya, situasi tampak begitu ramai, bendera kuning terpasang di pagar rumah. Perasaanku tidak enak, aku masuk tergopoh-gopoh. Aku bertemu dengan Lila–kakaknya, segera aku bertanya padanya.

“Ada apa ini, Kak? Siapa yang meninggal?” tanyaku dengan napas tersengal-sengal.

“Rani, Wid, Rani sudah tidak ada. Ia sudah dimakamkan kemarin. Rani kecelakaan saat pulang dari membelikan hadiah untuk merayakan kedatanganmu,” jawab Lila gemetar.

Aku kaget. Tak bisa berkata-kata.

“Rani ditabrak truk muatan pasir, kata warga setempat, truk itu oleng dan melaju dengan kecepatan tinggi, tepat di tikungan pohon beringin dekat TPU (Tempat Pemakaman Umum), kala itu hujan sedang deras-derasnya. Rani malah berusaha untuk mengamankan hadiah, bukan dirinya,” kata Lila.

Aku memandang Lila yang sedang bercerita.

“Rani begitu bersemangat, ia menahan untuk tidak membalas pesanmu selama tiga hari untuk memberikanmu kejutan. Nahas, begitulah nasibnya Rani,” jelas Lila sembari menahan tangis.

Aku mulai menangis.

“Ini, ambilah hadiah yang telah disiapkannya untukmu. Ikhlaskanlah kepergian Rani, meski kini kau hanya bisa bersama hadiahnya, bukan dengannya,” ucap Lila memberikan hadiah Rani kepadaku.

Hatiku terasa terguncang mendengar kabar itu. Aku lemas, tetap menangis, dan tetap tak bisa berkata-berkata. Jantungku bergetar hebat, tak menyangka semua ini bisa terjadi. Bahkan, aku tak bisa melihat jasad kekasihku untuk terakhir kalinya.

Aku hanya bisa bergegas ke peristirahatan terakhir Rani. Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali, meski hanya berupa gundukan tanah dan batu nisan.

Sesampainya di sana, aku mendekap makamnya, aku rasa Rani pun menangis melihat apa yang terjadi padaku saat ini.

“Rani, maafkan aku. Seharusnya aku menuruti permintaanmu untuk tidak pergi berlayar,” katanya.

Aku memeluk nisan itu.

“Memang betul perkataanmu, untuk apa aku harus berlayar jika aku tidak bisa menemanimu sampai hari tua nanti. Untuk apa juga aku bergelimang harta jika tidak bisa membahagiakanmu? Andaikan saja aku mengikuti perkataanmu waktu itu, maka semua ini tidak akan terjadi Rani,” kata sambil terus menangis.

Aku terus memeluk nisan itu seakan aku memeluk Rani.

“Maafkan aku Rani, semoga dirimu tenang di sana. Aku akan tetap mencintaimu dalam keabadian. Hadiah yang kau siapkan ini akan aku jaga, dan dirimu akan aku kenang sampai ajalku tiba. Sampai jumpa di kehidupan berikutnya kekasihku,” kataku.

Aku mengusap tangis meninggalkan makam Rani.

Dalam perjalanan pulang dari peristirahatan terakhir Rani, hujan begitu deras menemani perjalananku. Rasanya Tuhan mengirimkan hujan yang begitu lebat sehingga tangisku tak terlihat oleh derainya yang deras. Atau mungkin, alam juga menangis karena bunga yang tumbuh di tanah harus kembali menghiasi angkasa.

Aku mengendarai sepeda motor dengan berhati-hati, karena jalanan begitu licin akibat hujan. Jarak pandangku terbatas. Tiba-tiba saja, di tikungan pohon beringin, sebuah truk bermuatan pasir yang melaju dengan kecepatan tinggi terlihat oleng. Truk itu melaju tanpa kendali ke arahku dan menghantam sepeda motorku. [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Kembali | Cerpen Karisma Nur Fitria
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Tanah Kuburan Bapak | Cerpen Jaswanto
Burung-Burung di Langit Mekkah | Cerpen Khairul A. El Maliky
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Muhammad Hadriansyah | Hutan Kabut, Kumbang Koksi

Next Post

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co