3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 21, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SEJENAK lagi umat Kristiani akan merayakan Natal tahun 2024. Natal, dalam perayaan yang sejatinya penuh makna, mengundang kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan ulang tujuan dari segala pencapaian ini.

Modernitas sering kali membawa manusia pada rasa cukup semu, seolah semua jawaban sudah ditemukan dalam genggaman teknologi. Namun, di tengah kegemerlapan ini, Natal menawarkan pesan yang sederhana tapi mendalam: kasih, kerendahan hati, dan kehadiran ilahi dalam bentuk yang paling manusiawi.

Dalam realita modern saat ini, manusia seolah tengah berdiri dengan bangga atas pencapaiannya. Sah-sah  saja memang. Teknologi yang meroket, globalisasi yang mampu meniadakan jarak, dan berbagai permasalahan kompleks dan ruwet bisa dipecahkan dengan logika dan sains. Kita, sebagai salah satu spesies penghuni planet bumi, tampaknya begitu perkasa. Tapi, tunggu dulu, di balik segala kesuksesan ini, bolehlah kita menghadirkan sebuah pertanyaan: Apakah kita masih membutuhkan Tuhan?

Mari kita coba untuk jujur dan legowo. Dunia modern tampaknya cenderung membuat kita berpikir bahwa Tuhan adalah sesuatu yang usang, warisan dari masa lalu yang penuh mitos. Kita sampai di era ketika robot dapat menjalankan tugas yang sebelumnya dianggap mustahil.

 Algoritma kecerdasan buatan kini mampu memprediksi dan menyusun pola kerja yang bahkan otak manusia kita tidak mampu lagi untuk memahami. Di zaman ini atau mungkin ke zaman depan, apakah kehadiran Tuhan masih relevan? Banyak dari kita, mungkin tidak secara terang-terangan menyangsikan keberadaan Tuhan, tetapi diam-diam mulai skeptis, mulai mempertanyakan, apakah Dia benar-benar dibutuhkan.

Lihat saja bagaimana rasionalitas sudah menjadi “agama” baru kita. Bukankah teknologi telah menjadi penyelamat kita yang modern? Kita tidak lagi berdoa untuk meminta hujan seperti nenek moyang dahulu, kini kita menciptakan teknologi penjernihan air dan rekayasa cuaca. Kita tidak lagi mengandalkan keajaiban untuk penyembuhan, obat-obatan dan terapi genetik telah hadir menjadi tangan-tangan “ilahiah” yang lebih nyata. Dalam dunia seperti ini, apa yang tersisa untuk Tuhan?

Namun, apakah benar kita telah menemukan “Tuhan baru” dalam rasionalitas dan teknologi? Atau, mungkinkah kita hanya teralihkan dari kenyataan yang lebih hakiki, bahwa meskipun dunia modern menawarkan solusi praktis dalam hidup, namun acap kali gagal menjawab pertanyaan eksistensial: Mengapa kita ada? Apa tujuan kita di dunia ini?

Banyak yang merasa yakin bahwa rasionalitas adalah satu-satunya cara untuk memahami dunia. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, rasionalitas kerap tak cukup. Ketika kita menghadapi penderitaan yang tak terjelaskan, kehilangan mendalam, atau kehampaan yang tak bisa ditutupi oleh harta atau pencapaian, ke mana kita berlari? Apakah kita yakin bahwa semua ini hanyalah kebetulan tanpa makna? Dunia modern mungkin menawarkan jawaban-jawaban praktis, tetapi pada akhirnya, bisakah ia benar-benar menggantikan Tuhan?

Pertanyaan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyerang atau merendahkan pencapaian modernitas. Sebaliknya, pertanyaan ini sifatnya retoris, sebuah undangan untuk refleksi: apakah kita telah begitu terpukau oleh gemerlap dunia modern sehingga melupakan sesuatu yang lebih besar, lebih transenden, dan lebih abadi? Tuhan mungkin terasa usang di tengah hiruk-pikuk teknologi, tetapi apakah benar kita telah menemukan pengganti yang layak untuk-Nya?

Menyingkirkan Tuhan: Pilihan atau Keterpaksaan?

Dalam dunia yang semakin rasional, sulit bagi sebagian orang untuk menerima Tuhan tanpa bukti empiris. Lebih masuk akal untuk mengikuti teori tentang keberadaan Alien atau spiritualisme baru macam Starseed. Richard Dawkins, melalui bukunya The God Delusion, berargumen bahwa keimanan hanyalah hasil evolusi psikologis manusia, jadi keimanan adalah semacam ilusi kolektif.

Teknologi pun semakin menjadi “Tuhan baru,” yang mampu memberikan solusi instan atas kebutuhan kita dari makanan hingga relasi, semua ada dalam genggaman ponsel. Tanya ponsel, tunjuk di ponsel, klik di ponsel, dan semua jadi kenyataan.

Namun, apakah kemajuan ini benar-benar membawa kita pada kebahagiaan sejati? Banyak orang modern hidup tanpa Tuhan, tapi apakah mereka merasa lebih lengkap? Data menunjukkan hal sebaliknya. Krisis eksistensial dan kesehatan mental meningkat di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara maju yang dianggap telah “melampaui” kebutuhan akan agama.

Ketika Tuhan Tergeser, Apa yang Hilang?

Kehidupan tanpa Tuhan mungkin terasa bebas, bahkan memabukkan, seolah-olah manusia akhirnya menjadi penguasa penuh atas takdirnya sendiri. Namun, kebebasan ini sering kali membawa kehampaan yang tak terelakkan. Seorang Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, dengan tajam menggambarkan absurditas kehidupan tanpa dimensi transendental: manusia menjadi seperti perahu tanpa arah, terombang-ambing di tengah samudera luas tanpa pelabuhan tujuan.

Kebebasan ini tidak membebaskan, melainkan justeru mengisolasi, sementara teknologi bergerak maju meninggalkan manusia terperangkap dalam kehampaan eksistensial, mencari makna di dunia yang tidak mampu untuk memberikan pemenuhannya.

Tanpa Tuhan, kita juga kehilangan fondasi moral yang kokoh. Dalam ketiadaan standar moral absolut, nilai-nilai etika menjadi cair dan bergeser. Apa yang dianggap benar hari ini bisa menjadi salah besok, tergantung pada siapa yang memegang kuasa dan narasi.

Ironisnya, kita hidup di zaman yang dipenuhi dengan teknologi canggih, kecerdasan buatan, media sosial, komunikasi instan, namun sering kali tidak tahu untuk apa semua itu digunakan. Media sosial, yang awalnya dirancang untuk menghubungkan manusia, kini justru memisahkan kita secara emosional, membuat kita lebih sibuk dengan citra daripada esensi.

Obsesi terhadap benda materi, prestasi, dan kenyamanan instan menjauhkan kita dari pertanyaan mendasar: Untuk apa semua ini? Ketika Tuhan tergeser, yang hilang bukan hanya makna dan moralitas, tetapi juga jiwa kita sendiri. Dunia modern mungkin menawarkan solusi untuk masalah teknis, tetapi ia sering kali gagal menjawab kebutuhan terdalam manusia akan makna, arah, dan keutuhan spiritual. Apa gunanya menggenggam dunia di tangan jika jiwa hampa dan hati kita tetap kosong?

Kenapa Tuhan Masih Relevan?

Mari kita berhenti sejenak dan berpikir jernih. Teknologi memang mampu menyembuhkan penyakit yang tubuh manusia derita, tetapi adakah teknologi yang mampu mengobati rasa hampa yang menggerogoti jiwa manusia?

 Sains dapat menjelaskan dengan detil bagaimana alam semesta berfungsi, tetapi adakah sains yang mampu menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendalam: Mengapa alam semesta ini ada? Di tengah keterbatasan fatal ini, Tuhan menjadi relevan. Dalam kekosongan yang ditinggalkan oleh penjelasan-penjelasan rasional, Tuhan menawarkan jawaban yang tidak bisa diungkapkan dengan angka atau teori fisika.

Paul Tillich, teolog terkemuka, menyebut Tuhan sebagai “dasar eksistensi” ,the Ground of Being. Ini bukan sekadar konsep abstrak; ini adalah kebutuhan yang terpendam dalam setiap diri kita. Meskipun kita tidak selalu menyadari keberadaannya, namun pada saat krisis, ketika rasionalitas kita gagal memberikan jawaban atau penjelasan, secara naluriah kita mencari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, sesuatu yang memberikan makna dan arah yang tak bisa digantikan oleh teknologi atau materialisme.

Yang menarik, meski kita hidup di dunia yang semakin sekuler, data menunjukkan pencarian spiritual justru semakin meningkat. Komunitas meditasi, kelas yoga, dan praktik mindfulness kini menjadi tren yang meluas. Semua ini menunjukkan bahwa manusia modern tetap membutuhkan dimensi transendental, meskipun mereka tidak selalu menyebutnya dengan kata “Tuhan”.

Mungkin sedikit malu menyebutNya, karena terasa usang dan primitif. Bukankah ini bukti bahwa walau dunia semakin materialistik, jiwa manusia tetap mendambakan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih bermakna?

Tantangan untuk Kita Semua

Kita hidup di zaman yang penuh dengan distraksi, tetapi mungkin inilah saatnya untuk berhenti, sejenak bertanya pada diri sendiri: Apakah saya benar-benar bahagia? Apakah hidup saya memiliki kedalaman makna? Tuhan tidak akan memaksa kita untuk mendekat. Tetapi jika kita mau membuka hati dan pikiran, kita mungkin tak akan tercekat. Kita akan menemukan bahwa kehadiran-Nya adalah jawaban atas kerinduan, yang selama ini kita abaikan.

 Era modern tidak menghapus kebutuhan akan Tuhan. Justru, modernitas semakin membuktikan bahwa kita memerlukan Tuhan lebih dari sebelumnya, bukan sebagai solusi instan atau budak bagi kita, seperti halnya teknologi, tetapi sebagai sumber makna dan tujuan yang sejati. Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat ini, Natal menjadi momen untuk merenungkan kembali apa yang benar-benar penting. Bukan sekadar tentang perayaan yang mewah atau keberhasilan duniawi, tetapi tentang menemukan kedamaian sejati dalam kehadiran-Nya.

Natal mengundang kita untuk pulang, bukan hanya secara fisik pulang kampung atau ke gereja, tetapi secara hakiki adalah secara spiritual yaitu kembali kepada kasih yang melampaui logika dan pencapaian manusia. Akhirnya, jawaban ada di tangan kita. Tuhan tidak pernah jauh, Dia selalu dalam diri kita, tetapi apakah kita bersedia melangkah mendekat? Maukah kita kembali kepada-Nya? Kita siapkan jawabannya, karena sepertinya Tuhan tengah menunggu jawaban Anda. Kepada saudara yang merayakannya, selamat merayakan Natal! [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: Hari NatalNatalrefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna

Next Post

Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co