22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 25, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

DEWASA ini jagat jembar kita makin berwarna, dunia digital yang penuh hiruk-pikuk, fenomena Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR) telah menjadi salah satu bentuk hiburan yang cukup populer di media sosial. Kita banyak disuguhi dengan konten video yang berisi suara-suara unik seperti bisikan, gesekan benda, atau ketukan ringan, itulah yang disebut ASMR.

 Konten jenis ini  menawarkan pengalaman sensorik yang memikat jutaan orang di seluruh dunia. Platform seperti YouTube dan TikTok telah menjadi wadah bagi banyak kreator ASMR yang menciptakan konten-konten yang dikonsep dan dirancang untuk merangsang sensasi semacam kesemutan pada tubuh pendengarnya, sebuah respons yang sering dianggap menenangkan atau bahkan terapeutik.

Namun, kemudian fenomena ini memunculkan sebuah perenungan dan muncul pertanyaan: mengapa ASMR begitu menarik perhatian? Apakah ini sekadar hiburan sederhana, atau ada dimensi psikologis dan sosial yang lebih kompleks di baliknya? Dalam rancangan pesan di media sosial, ASMR nampaknya tidak hanya sebagai bentuk hiburan belaka, melainkan juga sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan emosional manusia modern dewasa ini.

 Mari kita tilik sejenak pertanyaan berikut. Apakah popularitas ASMR menunjukkan kebutuhan masyarakat akan adanya“pelarian” dari tekanan hidup sehari-hari? Atau jika kiat bisa berandai-andai, apakah konten ASMR mencerminkan manipulasi halus atas pikiran kita oleh algoritma dan konten yang dirancang secara strategis?

Melalui tulisan ini, kita akan mengeksplorasi ASMR dari perspektif psikologi, memahami bagaimana otak manusia bereaksi terhadap stimulus ini, serta membahas hubungan fenomena ini dengan kecemasan dan stres yang dihadapi masyarakat modern. Apakah ASMR hanya alat untuk mengalihkan perhatian kita, ataukah ia merupakan cerminan dari cara kita mencari ketenangan di dunia yang serba cepat? Dengan menggali dimensi hiburan dan manipulasi yang terkandung di dalamnya, mari kita bersama mencoba untuk sedikit berpikir kritis tentang konsumsi media di era digital dalam kaitannya dengan ASMR.

ASMR Sebagai Hiburan Manipulatif

Di balik kenyamanan yang ditawarkan, ASMR sepertinya merupakan bagian penting dari industri hiburan digital yang semakin terkomodifikasi. Konten ASMR, yang awalnya hadir untuk menciptakan rasa relaksasi dan tenang, kini banyak digunakan sebagai alat untuk menarik perhatian, mendulang klik, dan meraih keuntungan finansial di platform digital. Fenomena ini mencerminkan bagaimana media sosial telah menjadi alat yang penting untuk mengeksploitasi kebutuhan psikologis manusia, dengan cara menjual ketenangan dalam paket digitalisasi.

Ivan Illich (1926–2002)  seorang filsuf, pernah mengkritik bahwa teknologi modern menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu, mendefinisikan ulang apa itu kenyamanan dan relaksasi sesuai dengan logika pasar. Dalam konteks ASMR, relaksasi tidak lagi sekadar pengalaman alami, tetapi produk yang dijual dengan janji bisa menghapus stres dalam sekejap.

Hal ini sejalan dengan gagasan Byung-Chul Han dalam The Burnout Society (2015), yang menyoroti kelelahan psikologis akibat tekanan lingkungan yang mengagungkan produktivitas. Di tengah tuntutan untuk terus bekerja dan berprestasi, ASMR muncul sebagai pelarian instan, menjadikan kelelahan kita sebagai ladang bisnis yang menguntungkan.

 Albert Camus, sang filsuf eksistensialis, mungkin akan mempertanyakan: Apakah ASMR adalah mekanisme pelarian kita dari absurditas hidup? Dalam absurditas, manusia dihadapkan pada kekosongan makna, dan hiburan seperti ASMR menawarkan pelarian sementara yang menghindarkan kita dari pertanyaan eksistensial yang lebih mendasar. Camus mengingatkan bahwa pelarian dari absurditas tidak menghapus absurditas itu sendiri, melainkan menunda konfrontasi kita dengannya.

Hiburan di media sosial seperti ASMR bukan hanya soal pengalaman personal, lebih jauh bahkan hal tersebut juga mencerminkan bagaimana teknologi membentuk ulang cara kita berpikir dan merasa. Marshall McLuhan dengan tegas menyatakan bahwa medium is the message, media bukan hanya sebuah saluran, tetapi juga representasi dari bagaimana teknologi membentuk realitas kita. Dalam kasus ASMR, ia tidak hanya menjadi hiburan, tetapi sebuah simbol bagaimana manusia modern memanfaatkan teknologi untuk memenuhi kebutuhan emosional di tengah tekanan yang dihadapi.

Meskipun secara praktis ASMR dapat menjadi suatu solusi, namun penting bagi kita untuk tidak terlarut dalam ilusi hiburan ini. Mengonsumsi ASMR tanpa pemahaman dan pengertian yang kritis dapat membuat kita terjebak dalam pola-pola manipulasi yang dirancang untuk mempertahankan ketergantungan kita pada media sosial.

Hiburan yang berlebihan tanpa refleksi dapat membahayakan keseimbangan emosional dan mempengaruhi budaya secara personal dan segera berimbas secara lebih luas ke masyarakat. Maksudnya adalah, dengan tetap menjaga jarak kritis, kita dapat menikmati hiburan tanpa kehilangan kendali atas mentalitas dan nilai-nilai kita.

Sekadar Renungan Kritis

Jika Anda pernah merasakan ketenangan mendalam saat mendengarkan suara gesekan kuas atau bisikan dalam video ASMR, izinkan saya mengajak Anda untuk berhenti sejenak. Mari kita renungkan, apakah ketenangan itu benar-benar Anda rasakan, atau hanya sensasi sementara yang dirancang untuk mengalihkan perhatian Anda dari hiruk-pikuk dunia nyata?

Fenomena seperti ASMR adalah cermin kecil dari hiburan modern yang, tanpa kita sadari, memengaruhi cara kita menjalani hidup, bahkan mendefinisikan ulang apa artinya menjadi tenang dan damai. Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf besar abad ke-20, pernah berkata bahwa bahasa membentuk cara kita berpikir.

 Dalam konteks ASMR, “bahasa” teknologi dan media sosial tidak hanya menyampaikan hiburan tetapi juga mempengaruhi makna yang kita atribusikan pada pengalaman sehari-hari. Ketika ketenangan diiklankan sebagai sesuatu yang bisa “dibeli” atau “ditemukan” di YouTube, TikTok atau platform lainnya, kita patut bertanyapa akah kita benar-benar menemukan ketenangan, atau hanya membiarkan diri terkendalikan oleh media yang memahami kelemahan psikologis kita lebih baik daripada diri kita sendiri?

Seperti yang diungkapkan oleh Albert Camus, hidup pada dasarnya adalah absurditas. Kita memang terlempar ke dunia tanpa makna bawaan, tetapi tugas kita adalah memberinya makna. Dalam dunia yang penuh dengan hiburan instan seperti ASMR, bagaimana kita bisa menemukan makna tanpa terjebak dalam ilusi yang diciptakan oleh teknologi? Camus mengingatkan kita bahwa untuk hidup sepenuhnya, kita harus berani menghadapi absurditas, bukan melarikan diri darinya.

Jadi, mari kita renungkan bersama: Apakah hiburan modern seperti ASMR membantu kita menemukan kedamaian, atau justru membius kita dalam kenyamanan palsu? Pertanyaan ini bukan sekadar kritik, tetapi undangan untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana kita memanfaatkan teknologi dan hiburan, untuk bisa menjalani kehidupan yang penuh arti.

Para pembaca yang budiman, Anda memiliki pilihan, melihat teknologi sebagai alat untuk menciptakan makna, atau membiarkan diri tenggelam dalam absurditas tanpa usaha perlawanan. Bagaimana pilihan Anda? [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Media Sosial : Arena Perlawanan Rakyat Indonesia
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas
Refleksi 2 November: Mencari Makna di Balik Perubahan Teknologi
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: ASMRAutonomous Sensory Meridian Responsedigitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Hari Guru Nasional 2024: Antara Prestasi dan Perubahan Nasib

Next Post

Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les

Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co