2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 25, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

DEWASA ini jagat jembar kita makin berwarna, dunia digital yang penuh hiruk-pikuk, fenomena Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR) telah menjadi salah satu bentuk hiburan yang cukup populer di media sosial. Kita banyak disuguhi dengan konten video yang berisi suara-suara unik seperti bisikan, gesekan benda, atau ketukan ringan, itulah yang disebut ASMR.

 Konten jenis ini  menawarkan pengalaman sensorik yang memikat jutaan orang di seluruh dunia. Platform seperti YouTube dan TikTok telah menjadi wadah bagi banyak kreator ASMR yang menciptakan konten-konten yang dikonsep dan dirancang untuk merangsang sensasi semacam kesemutan pada tubuh pendengarnya, sebuah respons yang sering dianggap menenangkan atau bahkan terapeutik.

Namun, kemudian fenomena ini memunculkan sebuah perenungan dan muncul pertanyaan: mengapa ASMR begitu menarik perhatian? Apakah ini sekadar hiburan sederhana, atau ada dimensi psikologis dan sosial yang lebih kompleks di baliknya? Dalam rancangan pesan di media sosial, ASMR nampaknya tidak hanya sebagai bentuk hiburan belaka, melainkan juga sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan emosional manusia modern dewasa ini.

 Mari kita tilik sejenak pertanyaan berikut. Apakah popularitas ASMR menunjukkan kebutuhan masyarakat akan adanya“pelarian” dari tekanan hidup sehari-hari? Atau jika kiat bisa berandai-andai, apakah konten ASMR mencerminkan manipulasi halus atas pikiran kita oleh algoritma dan konten yang dirancang secara strategis?

Melalui tulisan ini, kita akan mengeksplorasi ASMR dari perspektif psikologi, memahami bagaimana otak manusia bereaksi terhadap stimulus ini, serta membahas hubungan fenomena ini dengan kecemasan dan stres yang dihadapi masyarakat modern. Apakah ASMR hanya alat untuk mengalihkan perhatian kita, ataukah ia merupakan cerminan dari cara kita mencari ketenangan di dunia yang serba cepat? Dengan menggali dimensi hiburan dan manipulasi yang terkandung di dalamnya, mari kita bersama mencoba untuk sedikit berpikir kritis tentang konsumsi media di era digital dalam kaitannya dengan ASMR.

ASMR Sebagai Hiburan Manipulatif

Di balik kenyamanan yang ditawarkan, ASMR sepertinya merupakan bagian penting dari industri hiburan digital yang semakin terkomodifikasi. Konten ASMR, yang awalnya hadir untuk menciptakan rasa relaksasi dan tenang, kini banyak digunakan sebagai alat untuk menarik perhatian, mendulang klik, dan meraih keuntungan finansial di platform digital. Fenomena ini mencerminkan bagaimana media sosial telah menjadi alat yang penting untuk mengeksploitasi kebutuhan psikologis manusia, dengan cara menjual ketenangan dalam paket digitalisasi.

Ivan Illich (1926–2002)  seorang filsuf, pernah mengkritik bahwa teknologi modern menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu, mendefinisikan ulang apa itu kenyamanan dan relaksasi sesuai dengan logika pasar. Dalam konteks ASMR, relaksasi tidak lagi sekadar pengalaman alami, tetapi produk yang dijual dengan janji bisa menghapus stres dalam sekejap.

Hal ini sejalan dengan gagasan Byung-Chul Han dalam The Burnout Society (2015), yang menyoroti kelelahan psikologis akibat tekanan lingkungan yang mengagungkan produktivitas. Di tengah tuntutan untuk terus bekerja dan berprestasi, ASMR muncul sebagai pelarian instan, menjadikan kelelahan kita sebagai ladang bisnis yang menguntungkan.

 Albert Camus, sang filsuf eksistensialis, mungkin akan mempertanyakan: Apakah ASMR adalah mekanisme pelarian kita dari absurditas hidup? Dalam absurditas, manusia dihadapkan pada kekosongan makna, dan hiburan seperti ASMR menawarkan pelarian sementara yang menghindarkan kita dari pertanyaan eksistensial yang lebih mendasar. Camus mengingatkan bahwa pelarian dari absurditas tidak menghapus absurditas itu sendiri, melainkan menunda konfrontasi kita dengannya.

Hiburan di media sosial seperti ASMR bukan hanya soal pengalaman personal, lebih jauh bahkan hal tersebut juga mencerminkan bagaimana teknologi membentuk ulang cara kita berpikir dan merasa. Marshall McLuhan dengan tegas menyatakan bahwa medium is the message, media bukan hanya sebuah saluran, tetapi juga representasi dari bagaimana teknologi membentuk realitas kita. Dalam kasus ASMR, ia tidak hanya menjadi hiburan, tetapi sebuah simbol bagaimana manusia modern memanfaatkan teknologi untuk memenuhi kebutuhan emosional di tengah tekanan yang dihadapi.

Meskipun secara praktis ASMR dapat menjadi suatu solusi, namun penting bagi kita untuk tidak terlarut dalam ilusi hiburan ini. Mengonsumsi ASMR tanpa pemahaman dan pengertian yang kritis dapat membuat kita terjebak dalam pola-pola manipulasi yang dirancang untuk mempertahankan ketergantungan kita pada media sosial.

Hiburan yang berlebihan tanpa refleksi dapat membahayakan keseimbangan emosional dan mempengaruhi budaya secara personal dan segera berimbas secara lebih luas ke masyarakat. Maksudnya adalah, dengan tetap menjaga jarak kritis, kita dapat menikmati hiburan tanpa kehilangan kendali atas mentalitas dan nilai-nilai kita.

Sekadar Renungan Kritis

Jika Anda pernah merasakan ketenangan mendalam saat mendengarkan suara gesekan kuas atau bisikan dalam video ASMR, izinkan saya mengajak Anda untuk berhenti sejenak. Mari kita renungkan, apakah ketenangan itu benar-benar Anda rasakan, atau hanya sensasi sementara yang dirancang untuk mengalihkan perhatian Anda dari hiruk-pikuk dunia nyata?

Fenomena seperti ASMR adalah cermin kecil dari hiburan modern yang, tanpa kita sadari, memengaruhi cara kita menjalani hidup, bahkan mendefinisikan ulang apa artinya menjadi tenang dan damai. Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf besar abad ke-20, pernah berkata bahwa bahasa membentuk cara kita berpikir.

 Dalam konteks ASMR, “bahasa” teknologi dan media sosial tidak hanya menyampaikan hiburan tetapi juga mempengaruhi makna yang kita atribusikan pada pengalaman sehari-hari. Ketika ketenangan diiklankan sebagai sesuatu yang bisa “dibeli” atau “ditemukan” di YouTube, TikTok atau platform lainnya, kita patut bertanyapa akah kita benar-benar menemukan ketenangan, atau hanya membiarkan diri terkendalikan oleh media yang memahami kelemahan psikologis kita lebih baik daripada diri kita sendiri?

Seperti yang diungkapkan oleh Albert Camus, hidup pada dasarnya adalah absurditas. Kita memang terlempar ke dunia tanpa makna bawaan, tetapi tugas kita adalah memberinya makna. Dalam dunia yang penuh dengan hiburan instan seperti ASMR, bagaimana kita bisa menemukan makna tanpa terjebak dalam ilusi yang diciptakan oleh teknologi? Camus mengingatkan kita bahwa untuk hidup sepenuhnya, kita harus berani menghadapi absurditas, bukan melarikan diri darinya.

Jadi, mari kita renungkan bersama: Apakah hiburan modern seperti ASMR membantu kita menemukan kedamaian, atau justru membius kita dalam kenyamanan palsu? Pertanyaan ini bukan sekadar kritik, tetapi undangan untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana kita memanfaatkan teknologi dan hiburan, untuk bisa menjalani kehidupan yang penuh arti.

Para pembaca yang budiman, Anda memiliki pilihan, melihat teknologi sebagai alat untuk menciptakan makna, atau membiarkan diri tenggelam dalam absurditas tanpa usaha perlawanan. Bagaimana pilihan Anda? [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Media Sosial : Arena Perlawanan Rakyat Indonesia
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas
Refleksi 2 November: Mencari Makna di Balik Perubahan Teknologi
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: ASMRAutonomous Sensory Meridian Responsedigitalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Hari Guru Nasional 2024: Antara Prestasi dan Perubahan Nasib

Next Post

Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les

Cerita Kecil Menjemput Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co