2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Hari Guru Nasional 2024: Antara Prestasi dan Perubahan Nasib

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 25, 2024
in Esai
Refleksi Hari Guru Nasional 2024: Antara Prestasi dan Perubahan Nasib

HARIGuru Nasional (HGN)pada 25 November 2024 adalah perayaan ke-30 setelah ditetapkan oleh Presiden Soehartodengan  Surat Keputusan  Nomor 78 Tahun 1994 tanggal 24 November 1994. Dalam Surat Keputusan itu dicantumkan dua pertimbangan.

Pertama, bahwa guru memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunanan nasional, khususnya dalam rangka pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Kedua, bahwa tanggal 25 November selama ini diperingati sebagai hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan sebagai upaya untuk mewujudkan penghormatan kepada guru, dipandang perlu menetapkan tanggal 25 November tersebut sebagai Hari Guru Nasional.

Dalam Surat Keputusan itu, selain menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, juga ditetapkan Hari Guru Nasional bukan merupakan hari libur. Dengan demikian, pada HGN kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung seperti biasa.

Yang membedakan adalah adanya Upacara Bendera memperingati HGN dengan perangkat upacara utama biasanya semua dari unsur guru, bergantung pada kondisi sekolah masing-masing. Setelah upacara, biasanya ada apresiasi terhadap guru dari para  siswa. Umumnya siswa mempersembahkan buket bunga atau coklat kepada Bapak/Ibu guru, sambil mengucapkan Selamat Hari Guru dengan senyum simpul berharap restu untuk meraih masa depan gemilang mewujudkan cita-cita. Para guru pun tampak berbunga-bunga hatinya dengan senyum manis dalam sepotong coklat.

Surat Keputusan Presiden Soeharto tentang penetapan HGN terispirasi dari lahirnya organisasi PGRI sebagai organ perjuangan di garda terdepan memerdekakan anak bangsa dari kebodohan dan kemiskinan. Sebagai organisasi yang dititahkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melalui jalur pendidikan, para guru mendidik tidak mendadak, tetapi melalui proses terus-menerus berkelanjutan dan konsiten mendidik dan mengajar. Hal itu dapat dicermati dari proses kelahiran PGRI.

Secara historis, PGRI bermula dari berdirinya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912 yang beranggotakan guru bantu,guru desa, Kepala Sekolah dan Penilik Sekolah. Pada 1932, PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) dan aktivitasnya dibatasi saat penjajahan Jepang karena banyak sekolah yang ditutup. Melalui Konggres Guru pada 24-25 November 1945 di Surakarta  PGI berubah menjadi PGRI, persis 100 hari setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.

Boleh jadi Program 100 hari masa pemerintahan baru terinspirasi dari sini, mengambil api semangat kaum guru mengisi Kemerdekaan sebagaimana hasil Kongres Guru di Surakarta itu dengan tiga tujuan PGRI (1) mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia; (2) mempertinggi tingkat Pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan; dan (3) membela hak dan nasib buruh umumnya, khususnya pada guru.

Dari tujuan itu, guru dalam wadah PGRI berada di garda depan dalam mempertahankan kemerdekaan dan menyempurnakan dengan kerja-kerja pendidikan melalui edukasi mempertajam jangkauan kognitif, afektif, dan psikomotor untuk melahirkan anak bangsa yang berotak cemerlang, berhati berlian, dan cerdas terampil secara motorik.

Dalam konteks ini, tugas guru mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Bersamaan dengan itu, guru terus-menerus mengisi dan menyepuh diri belajar sepanjang hayat untuk menjadi pelayan dan menghamba kepada sang anak mengikuti elan nafas zaman sesuai dengan kodrat anak.

Kini setelah PGRI memasuki usia 79 tahun dan HGN ke-30, hak dan nasib guru belum banyak berubah walaupun banyak prestasi yang ditunjukkan para guru. Prestasi itu antara lain melaksanakan Program Pemerintah secara berjenjang dari pusat sampai daerah hingga ke rumah-rumah siswa melalui home visit mengantisipasi terjadinya gelombang putus sekolah.

Selain itu, guru juga telah banyak melahirkan pemimpin, senator, legislator, dokter, insinyur, wirausaha, birokrat, pilot, atlet, polisi, tentara dan sejumlah profesi mentereng lainnya. Oleh karena itu, guru juga perlu diperhatikan kesejahteraannya secara lahir dan batin agar tenang dan nyaman dalam membangun jiwa bangsa melalui anak didiknya.

Janji Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti yang akan meningkatkan kesejahteraan guru ditunggu lebih dari 1,7 juta guru yang belum tersertifikasi. Dalam pidato sambutan tertulis HGN 2024, ia mengatakan, “Kementerian berusaha meningkatkan kesejahteraan guru melalui sertifikasi baik guru ASN PNS dan PPPK maupun non-ASN. Pada 2025 akan ada 606 ribu lebih guru yang mendapatkan tunjangan sertifikasi”, kata Abdul Mu’ti dalam sambutan tertulisnya. 

Abdul Mu’ti juga menjamin keamanan para guru agar dapat bekerja dengan tenang dan terbebas dari segala bentuk intimidasi dan tindak kekerasan oleh siapa pun. Jaminan itu dalam rangka memberikan perlindungan kepada guru.

“Kemendikdasmen akan menadatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang di dalamnya memuat kesepakatan agar masalah-masalah kekerasan dalam Pendidikan diselesaikan secara damai dan kelkeluargaan atau restorative justice sehingga gurutidak menjadi terpidana,” kata Abdul Mu’ti sebelum mengakhiri sambutannya.      

 Jaminan itu tampaknya merespon peristiwa yang dialami para guru di berbagai daerah yang mendapat perlakuan yang kurang humanis. Tidak pada tempatnya menelanjangi guru dengan kata-kata yang merendahkan di hadapan para murid-muridnya. Guru itu juga manusia, punya perasaan betapa pedihnya hati tersayat dipermalukan di media sosial. Suasana hati yang tidak tenang akan memengaruhi fungsi guru sebagai pendidik dan pengajar.

Selain itu, para guru juga dikabarkan  banyak berutang dan menjadi korban pinjaman on line yang membuat fokusnya buyar mengedukasi. Namun demikian, banyak pula guru dengan kesadaran diri meningkatkan kualifikasi Pendidikan, setelah tamat ijazahnya seolah tak berguna. Penyesuaian ijazah dan pangkat terbentur aturan dan terkesan birokratis kurang substantif. Tidak dengan sendirinya, gaji mereka naik seiring dengan capaian kualifikasi Pendidikan. Tampaknya, hal ini mendesak diatur secara nasional dengan regulasi yang memuliakan dan memartabatkan guru. Guru mulia jaya berkarya, guru hebat Indonesia kuat.

Mencermati sejarah kelahiran HGN melalui proses panjang sejak 1912 ketika negeri ini dalam kuasa penjajahan Belanda, jelaslah bahwa peran guru dalam memerdekakan Indonesia sungguhlah besar. Saat itu, para guru telah berimajinasi tentang kemerdekaan Indonesia di tengah segala keterbatasan tetapi dengan semangat literasi yang tak tertandingi.

Ki Hadjar Dewantara, pada 1913 melaui Surat Kabar De Expres (13/7/1913) menulis artikel berjudul, All Iks een Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Artikel itu mengutuk  Belanda merayakan 100 tahun Kemerdekaannya dari Prancis  di tanah jajahan (Indonesia) yang membuat Belanda naik pitam. Akibatnya, Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Belanda bersama dua sahabatnya yang disebut tiga serangkai ; Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.

 Semangat itu kini tampaknya perlu terus digemakan dan diwariskan agar tidak semakin luntur di tengah cobaan dan godaan materialistis, hedonis, pragmatis. Para guru bangsa yang telah menuliskan jejak sejarah perlu diacu para guru kini dengan memegang teguh integritas menjaga Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika.

Tantangan untuk merawat empat pilar kebangsaan itu tidaklah mudah di tengah-tengah robohnya langit akhlak, sebagaimana dipuisikan oleh Taufiq Ismail. Namun, guru tidak boleh menyerah menghadapi tantangan yang berpeluang menjadikan dirinya sebagai pahlawan sejati bagi bangsanya.  Inilah renungan sekaligus refleksi Hari Guru Nasional 2024 yang ditandai dengan menyematkan Bulan Guru Nasional sepanjang November.  Hidup Guru! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru
Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Momen-Momen Bahagia Guru di Hari Guru
Peringatan Hari Guru: Nasib Pendidik Bahasa Bali “Gelimbang-Gelimbeng” Tak Menentu
Tantangan Guru sebagai “Generator” dan Penggerak Literasi pada Era Industri 4.0 | Catatan Hari Guru
Nasib Bangsa di Tangan Orang “Nomor Sekian” – Catatan Tercecer dari Hari Guru
Tags: guruHari GuruHari Guru NasionalPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng | Anak Kecil dan Pohon Pemali

Next Post

ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co