2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 24, 2023
in Esai
Refleksi Hari Guru Nasional 2023: Karmayoga Seorang Guru

Ilustrasi diolah dari Canva

KAMIS, 5 Oktober 2023 adalah Hari Guru Internasional ke-29 sejak ditetapkan oleh Unesco pada 1994. Di Indonesia, Hari Guru Nasional ditetapkan pada 25 November 1994  berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1994.

Indonesia dan dunia mengakui peran penting guru dalam pembangunan manusia demi keberlanjutan kultur dan natur secara harmoni. Harmoni itu dimungkinkan dengan memberikan otonomi guru di ruang kelas pembelajaran secara cerdas, merdeka, berbudaya, dan berdaya saing.

Dalam memenangkan persaingan dilandasi dengan kearifan dan kebijaksanaan sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa. Menang terhormat, kalah pun bermartabat. Demikianlah, guru diniatkan sebagai profesi terhormat di garda depan mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Kenyataannya, profesi guru dari rezim ke rezim masih banyak dipertanyakan. Dua artikel yang tayang di Kompas.id (15/9/2022) tentang guru dapat mewakili kenyataan itu. Artikel pertama berjudul “Senja Kala Profesi Guru” ditulis Sumardiansyah  Perdana Kusuma dan artikel kedua berjudul “Sisi Lain Kesejahteraan Guru” ditulis Wahyu Widodo.

Sumardiansyah mengkritisi  RUU Sisdiknas yang menghilangkan pasal Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan menimbulkan kegelisahan di kalangan guru; kangan-jangan tiada lagi TPG bagi guru yang sudah bersertifikat pendidik yang diraih dengan penuh perjuangan, bahkan ada yang sampai meninggal. Kini, setahun lebih RUU Sisdiknas nyaris tak terdengar progresnya, seolah disalip hingar-bingar berita capres-cawapres.

Sementara itu, Wahyu Widodo menyoroti nihilnya kesejahteraan psikologi guru disuarakan pemangku kepentingan untuk ditekstualkan. UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 yang dinilai pro guru pun tidak mencantumkan kesejahteraan psikologi guru, sedangkan di RUU Sisdiknas malah direspon dengan silang wacana yang menambah kegaduhan. Padahal, guru perlu ketenangan.

Dengan tenang ia dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan proporsional dan nyaman. Dengan nyaman, ia bergairah ke sekolah menemui anak didiknya. Dengan gairah, ia bisa merangsang siswanya kasmaran belajar hingga kasmaran berbangsa (meminjam istilah Pranoto). Dengan kasmaran belajar, sekolah menjadi ramah anak yang bermula dari ketenangan psikologis gurunya.

Oleh karena itu, RUU Sisdiknas nantinya setelah disahkan menjadi UU selain ramah anak, mestinya juga ramah guru. Guru jangan sampai merasa dikepung macan sehingga lari terengah-engah tanpa fokus yang jelas. Jangan sampai guru dipolisikan hanya karena penegakan disiplin terhadap siswa sehingga menimbulkan kerunyaman, sebagaimana terjadi di salah satu SMP di Badung dan diviralkan media sosial menjelang HUT ke-78 Hari Guru.

Jika guru runyam, sekolah runyam, pelayanan edukasi akan runyam, peserta didik pun telantar. Hal ini menjadi tantangan dalam menyiapkan  generasi emas yang terus diwacanakan.

Selama ini, guru selalu dituntut untuk menyejahterakan peserta didik agar menggunakan pendekatan humanistik sehingga tidak ada anak yang terluka batinnya, baik karena perundungan maupun perlakuan negatif lainnya dalam interaksi di sekolah.

Guru, seperti layaknya siswa, adalah manusia biasa, yang perlu diperhatikan kesejahteraannya secara lahir batin untuk keseimbangan hidup. Ia memiliki keluarga, sebagai generasi sandwich menanggung tiga beban generasi sekaligus. Ke atas untuk menafkahi kedua orang tuanya dan ke bawah untuk merawat dan mendidik anak-anaknya serta dirinya sendiri sebagai suami-istri (bagi yang sudah berkeluarga), yang juga perlu kebahagiaan.

Guru begitu berat bebannya seirama dengan makna yang melekat padanya. Guru dalam bahasa Sanskerta artinya berat. Oleh karena itu,  tradisi pesantian di Bali, dalam menembangkan kakawin/seloka, guru diberikan laghu. Guru ‘suara berat’ perlu diberikan laghu ‘suara ringan’ agar terdengar nyaring, renyah dikunyah pendengar hingga lango.

Secara etimologis, guru terdiri atas dua suku kata, “gu” yang berarti gelap dan “ru” yang berarti terang. Tugas guru adalah menjadi lilin penerang kegelapan dengan risiko lilinnya meleleh terbakar tetapi cahayanya menerangkan lorong-lorong kegelapan jiwa anak bangsa.

Di tengah beratnya tugas itu, kini guru dihadapkan dengan posisi yang dilematis. Ia  menjadi jembatan kesenjangan antara harapan dan kenyataan, menjadi katalis antara siswa dengan media teknologi informasi, katalis bagi orang tua bermasalah dengan anaknya, katalis bagi anak yatim piatu karena orang tua meninggal/menikah lagi.

Belum lagi, guru mesti mengisi diri dan bertanggung jawab untuk keluarganya sebagai makhluk sosial dengan berbagai peran sesuai tradisi yang mengitarinya. Semua itu perlu diseimbangkan dengan pendekatan cinta kasih sebagaimana diisyaratkan Jan Ligthart (1859 -1916) bahwa pendidikan seharusnya bersemi dalam iklim kasih sayang.

Tanpa kehadiran guru yang mewakafkan jiwa raganya dengan cinta kasih sepanjang proses pendidikan berlangsung, maka transfer kognitif, afektif, dan psikomotor akan kering dari nilai-nilai kemanusiaan. Syamsul Maarif (Kompas. id, 15/8/  2022) menulis, “Cinta dapat menjadi motivator paling baik untuk belajar dan bertumbuh. Cinta memunyai kekuatan dahsyat untuk bisa mengubah anak-anak, dari biasa menjadi luar biasa.”

Cinta tulus seorang guru yang menjadi lilin dalam kegelapan (awidya) akan melahirkan  kreativitas  tanpa batas (creativity), berdasarkan kesungguhan dan keikhlasan (integrity), dengan selalu berpegang teguh pada aturan (norm), dilandasi pikiran positif (think), untuk mengapresiasi (appreciation) setiap  langkah pencapaian.

Guru yang bekerja dengan cinta dapat menjadi pelita dalam kegelapan di tengah benturan peradaban global. Guru yang bekerja dengan cinta potensial menjadi guru mataksu (berwibawa). Inilah karmayoga seorang guru menyambut Hari Guru Nasional 2023 yang jatuh bertepatan dengan Tumpek Wayang, 25 November 2023.

Tumpek Wayang yang nemu gelang dengan Hari Guru Nasional seyogyanya dijadikan momentum berkontemplasi bagi guru karena kerjanya identik dengan dalang wayang sebagai seniman. Seniman Bali memandang seni adalah persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi, begitu pula seyogyanya guru memandang tugasnya sebagai ibadah di garda depan mencerdaskan bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional: Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar. Hidup Guru![T]

Mendayung di antara Dua Karang: Sebuah Refleksi HUT PGRI dan Hari Guru Nasional 2023
Catatan Kecil Pelaksanaan Kemitraan antara Dosen dan Guru di  Sekolah
Bukan Guru Abal-Abal
Tags: guruHari Guru NasionalPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Menangkap” Pesona Embun Pagi yang Indah dalam Fotografi

Next Post

Kegagalan Partai Politik dalam Merekrut Kader

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Kegagalan Partai Politik dalam Merekrut Kader

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co