12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Guru Abal-Abal

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
February 12, 2023
in Opini
Bukan Guru Abal-Abal

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

HUJAN SEMAKIN menjadi-jadi pada Sasih Kawulu ini. Gerombolan burung gereja yang kedinginan berusaha menyelipkan tubuhnya di sebuah lubang kayu lembah kaldera, menghindar dari guyuran hujan yang tak kenal ampun. Angin dan kabut dingin yang membekukan deretan hari, menusuk-nusuk ke tulang berhembus menyesakkan dahan-dahan.

Tubuh saya terasa remuk, tak tentu bentuk, beberapa tulang lenganku tersumbur keluar, darahku telah membeku di atas motor tunggangan. Ini tak menyurutkan tekad untuk menemui anak-anak yang sangat butuh materi resensi di kelas.

Dari sini kelas akan saya mulai di tengah Sasih Kawulu yang pekat. Saya harus memulai dan mengerjakan proyek belajar ini. Singkat cerita mengisi pekatnya Sasih Kawulu ini, pada saat saya mengajarkan tentang materi resensi, dari sini tergali betapa suramnya minat membaca siswa.

Materi resensi bagi saya tidak sekadar berteori tentang resensi. Tidak sekadar apa itu resensi? Unsur-unsur resensi, kaidah kebahasaan resensi, dan lain sebagainya terkait resensi.

Saya mengatakan kepada siswa, jika hanya deretan teori itu tujuan pembelajaran yang harus dikuasai, diberbagai referensi, di google, sangat banyak. Karena itu, peran guru untuk menyampikan teori ini tak terlalu penting. Karena dengan googling, dengan menonton video tutorial sangat mudah untuk ditemukan diberbagai media. Jadi, pembelajaran seperti ini bisa dilakukan secara konstruktivis.

Begitu pula dengan asessesmen dan penilain. Jika setelah belajar materi resensi dan materi-materi yang lainnya, dievaluasi dengan soal uraian atau soal pilihan, a, b, c, dan seterusnya, itu hal yang memang biasa selama ini dilakukan acap kali pembelajaran dianggap selesai. Itu pakem yang memang baku. Lantas siswa bisa menjawab dengan benar berapapun jumlah soal yang diberikan oleh guru dan mendapatkan hasil 100.

Artinya, siswa sangat hebat dan setelah itu urusan materi resensi sudah selesai. Sudah habis dan sudah tak ada kabar selanjutnya.

Apa yang ingin saya sampaikan dari hal ini? Jika pembelajaran seperti ini ternyata sangat sederhada dan gampang. Hanya mengukur ranah kognitif secara kuantitatif. Tetapi jika mau diperdalam lagi secara “lebih” bermakna, urusan belajar tidak sekadar mengukur dan mengisi diri dengan ranah pengetahuan. Hanya sekadar mengukur tingkat pengetahuan dengan deretan teori lalu diukur dengan deretan soal, persoalan belajar sudah selesai dan sudah habis.

Bagi saya belajar tak saja selesai pada ranah kognitif dan nilai 100. Lalu saya kenjar secara lebih autententik pembelajaran itu, hingga siswa merasakan betapa hebatnya belajar tanpa batas, tanpa sebatas teori, atau melulu berteori.

Di sinilah saya menemukan persoalan itu yang sangat mendasar. Persoalan mendasar tentang kecakapan literasi siswa, “miskinnya” koleksi bacaan murid, dan yang paling mengenaskan siswa kering membaca bahkan nihil membaca. Di sinilah persoalan itu saya temukan yang harus saya kerjakan secara lebih mendasar. Persoalan yang selama ini dilupakan, pembiaran, hingga pembelajaran pada ranah psikomotor menjadi tanpa roh, tak berdaya, dan mati.

Ketika saya melakukan projek meresensi buku pada siswa dengan limit waktu yang begitu lama dan bisa dilakukan tanpa terbatas ruang dan waktu. Artinya tak sebatas di sekolah 2 jam pembelajaran. Projek ini lalu saya asessesmen dan evaluasi, hasilnya sangat pencengangkan. Seorang siswa berkata “membaca begitu melelahkan, sulit dan malas”.

Saya katakan selama ini apa yang kalian lakukan terkait belajar. Apakaah belajar tanpa membaca, atau sekadar baca hanya untuk urusan menjawab soal ulangan, atau sepotong teori jika perlu saja? 

Persoalan ini sangat miris. Jika siswa tingkat menengah kondisinya sangat berat kalau berhadapan dengan persoalan baca. Berarti selama ini siswa begitu hampa dan gelap karena membaca begitu tak berdaya.

Membaca bagi siswa atau bagi orang bukan keterampilan yang sertamerta. Bukan sebuah kodrat yang jatuh begitu saja dari langit. Tetapi keterampilan membaca akan terbentuk dengan pembiasaan yang dibudayakan hingga menjadi “menu” dalam hidup. Jika sampai saat ini siswa belum mengenal Putu Wijaya, AA Panji Tisna, Oka Rusmini, dan sastrawan lain Bali, itu sangat menyedihkan. Bahkan Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang plang namanya masih terpampang  di Toya Bungkah, Kaldera, Kintamani, Bali, mereka tidak kenal walaupun itu sekadar nama atau jejak langkahnya di Toyabungkah, Bali.

Dalam konteks yang saya bicarakan ini, mungkin sudah masuk urusan yang lebih ekstrim bagi sebagaian murid. Karena yang sederhana saja seperti mana buku fiksi dan non fiksi masih terlalu asing bagi murid.

Dari mana saya harus memulai untuk persoalan ini. Jika secara mendasar saja mereka masih begitu hampa. Siswa tahu sebenarnya “hanya dengan membaca bisa membuka jendela dunia”, “membaca adalah guru yang terbuka setiap saat”. Tetapi toh juga mereka tak melakukan gerakan membaca minimal untuk kehidupan pribadinya.

Membaca memang bukan persoalan mendatangkan uang, bukan persoalan bisnis, bukan pula persoalan sukses. Namun, Perlu diingat, dengan membaca akan membuka peluang bisnis, peluang sukses, dan peluang-peluang yang lainnya.

Tidak ada cara lain, tidak ada cara hebat untuk menjadi hebat kecuali dengan melakukan gerakan membaca. Jangan kalian anggap saya sebagai guru sekadar guru, guru abal-abal. Yang sekadar berteori di kelas. Misalnya, selesai pada urusan teori pada mareri resensi lalu tesnya pada soal soal a, b, c, d,. Setelah itu, kalian mendapatkan nilai 100. Selanjutnya, urusan materi akan selesai, tanpa makna lagi.

Kapan siswa mau tahu dan tahu tentang jejak langkah dan gerakan-gerakan STA di Toya Bungkah. Kapan mereka mau tahu PPutu Wijaya, Aryantha Soethama, kapan mereka tahu Pramoedya Ananta Toer, sastrawan hebat sepanjang abad yang pernah dipenjara di Pulau Buru? Kapan mereka tahu tentang Bali dengan segala kegelapan dan terang, lewat baca buku-buku pengarang itu.

Murid terlalu nyaman pada zona yang begitu tenang. Tenang dan nyaman jika belajar sekadar membaca sepotong halaman buku. Murid menganggap urusan sekolah terutama belajar hanya selesai pada nilai 100, lalu tanpa makna karena sampai tamat, satu buku pun belum pernah terbaca. Ini ironis. Satu buku Pramoedya yang murid baca akan membekas dan terpahat maknanya dalam hidupnya sepanjang masa, ketimbang nilai 100 yang diperoleh hanya dengan menebak jawaban a, b, c, atau d.

Sekali lagi, dimana persoalannya? Persoalan itu ada pada kata “belajar autentik”. Membiarkan hidup murid tanpa keterampilan mumpuni dari proses membaca secara autentik. Membiarkan hidup yang tenang pada zona nayaman. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah tidak nyaman dan dirong-rong oleh “kemiskinan” dan ketidakberdayaan membaca. Hidup siswa telah direnggut rasa cemas yang berkepanjangan karena tidak melakukan gerakan untuk mengisi  nutrisi otak dengan bacaan-bacaan yang penuh diferensiasi.

Sebagai guru, walau hanya sebatas guru, persoalan ini tidak akan saya biarkan. Entah saya dianggap guru yang mencari sensasi, saya tidak peduli. Yang lebih saya pedulikan untuk mengentaskan “kemiskinan” membaca untuk membangun paling tidak sumber daya dirinya.

Untuk gerakan yang nyata, yang autentik. Saya bukan guru abal-abal yang hanya sekadar sok berteori lalu urusan membaca siswa selesai. Dari peristiwa belajar resensi siswa akhirnya tahu rasa mual karena harus terpaksa membaca. Mulai uring-uringan karena mulai bersentuhan dengan buku, dan memilih buku. Mulai mengatakan “saya baru tahu arti penting membaca”.

Atau baru mau mengatakan dengan jujur “saya baru belajar membaca”. Miris mendengar ini. Sedih dan sekaligus perjuangan hebat yang perlu saya kerjakan. Tentu dengan gerakan nyata, gerakan riil yang tanpa pernah ada rasa atau pretensi untuk mendapatkan apa apa selain menyasarkan dan membangun belajar membaca murid yang selama ini merasa ada pada zona nyaman. [T]

BACA artikel lain dari penulis I GEDE EKA PUTRA ADNYANA

Guru Pengerak, “Transformasi dari Guru Mengajar Menjadi Guru Belajar”
Memaknai Esensi Guru Pengerak: Siapa yang Digerakkan?
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli
Tags: guruLiterasiliterasi sekolahPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Next Post

“Colors Is In The Atmosphere” — 3 Perupa Bali Dalam Pameran “Love Is In The Air ” di Teh Villa Gallery Surabaya

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
“Colors Is In The Atmosphere” — 3 Perupa Bali Dalam Pameran “Love Is In The Air ” di Teh Villa Gallery  Surabaya

"Colors Is In The Atmosphere" -- 3 Perupa Bali Dalam Pameran "Love Is In The Air " di Teh Villa Gallery Surabaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co