4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
February 24, 2020
in Esai
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli

Esai ini meraih Juara 1 dalam  Lomba Esai Kategori Umum Menyongsong HUT ke-36 Peradah Indonesia dan HUT ke-816 Kota Bangli yang diselenggarakan DPK Peradah Bangli, 2020  


“…. pendidikan bagi anak bukanlah alat untuk memenuhi hasrat pribadinya, tapi pada akhirnya sebagai alat untuk kemajuan sosial dan lingkungannya”

Jika kita amati secara seksama, sepuluh tahun terakhir ini, perhatian pemerintah kabupaten Bangli terhadap pendidikan sungguh luar biasa. Kondisi ini tampak, terutama dengan telah direnovasinya kembali sekolah-sekolah yang rusak tergerus usia atau dibangunnya gedung sekolah baru. Hal ini tampaknya tidak terlepas dari peranan media masa, terutama cetak dan elektronik. Pada periode ini, secara intens ruang media menunjukkan kepada kita rusaknya gedung-gedung sekolah terutama gedung Sekolah Dasar. Media telah membuka kesadaran kita betapa kita tengah berada pada masa hancurnya pendidikan. Dalam konteks ini, pemerintah Bangli pun tanggap dan merespon kondisi itu dengan baik.

Pembangunan kembali gedung-gedung sekolah yang rusak atau yang  lapuk dimakan waktu utamanya di daerah-daerah terpencil di Bangli memang hanya membutuhkan waktu tidak sampai dua tahun. Artinya, pembangunan kembali infrastruktur pendidikan kita memang mudah dan cepat. Tetapi dibalik lapuknya gedung-gedung sekolah, masih tersisa persoalan besar pendidikan untuk membangun sumber daya manusia Bangli, yaitu lapuknya semangat, motivasi, dedikasi tenaga pendidik untuk akses pendidikan anak-anak di daerah/desa terisolir. Di sinilah sesungguh persoalan pendidikan Bangli ini ditemukan. Namun secara sentral, pemerintah patut dipuji dengan proyek nasional sertifikasi guru yang menelan banyak anggaran negara. Pemerintah bersikap bahwa kualitas guru harus ditingkatkan dan proyek sertifikasi guru adalah pilihan yang paling “manis” dan memungkinkan untuk kemajuan pendidikan anak bangsa.

Walaupun demikian, sebagai langkah besar, sertifikasi guru memang harus dijalankan secara tuntas terlepas dari segala kekurangannya. Soal kualitas guru sebagai akar persoalan pendidikan memang tidak semudah membangun kembali gedung-gedung sekolah yang lapuk. Pada konteks peningkatan mutu guru, entah berapa banyak pelatihan atau penataran guru yang telah diselenggarakan oleh pemerintah lewat departemen terkait, namun motivasi dan mutu guru tetap saja rendah, tidak tampak adanya peningkatan dedikasi, motivasi, dan profesionalisme guru-guru kita. Keadaan ini sebenarnya ancaman bagi pendidikan khususnya di kabupaten Bangli. Pemerintah rupanya sulit mengambil keputusan pada konteks ini. Jika dikeluarkan, akan terjadi kekurangan tenaga pendidik terutama di desa/daerah terpencil. Jalan yang dipilih adalah membiarkan apa adanya, dengan sekadar pembinaan.

Di sisi lain, pendidikan di Bangli terutama pendidikan dasar masih menyisakan kesenjangan antara kampung/desa dengan perkotaan. Di daerah- daerah terpencil di Bangli, atau di banyak desa di pedalaman, di balik bukit, di lereng gunung, anak-anak yang belum disentuh akses pendidikan yang layak secara merata seperti layaknya di perkotaan. Di Batu Meyeh, Peradi, Buluh, yang terpencil dan belum tersentuh internet, perpustakaan yang tak layak, Dusun Bunutin di Trunyan yang belum ada akses transportasi, ataupun lokasi-lokasi di perbukitan Kaldera Kintamani, di daerah itu anak-anak pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sejak pukul 05.00 pagi. Ironisnya lagi, sampai di sekolah mereka tidak menjumpai guru pengajar. Sekolah di daerah terpencil juga minim atau jaraknya berjauhan, kalaupun ada, tidak memiliki sarana yang representatif untuk fasilitas belajar, termasuk buku-buku pelajaran. Untuk mengajar seorang guru masih harus menggunting koran-koran bekas untuk dijadikan kliping sebagai media pembelajaran membaca siswa.

Berdasarkan kondisi tersebut, anak-anak di daerah terpencil di Bangli merasa bersekolah adalah “beban”. Bersekolah hanya menyita waktu produktif mereka. Fenomena seperti itu dapat menjadikan anak-anak jenuh dan bosan bersekolah. Mereka pada akhirnya memilih hidup untuk bekerja saja  dengan orang tuanya daripada bersekolah hanya untuk menyita waktu produktifnya.

Ditinjau dari aspek pengajar (guru), jarang ada guru yang mau bertugas di sekolah-sekolah di daerah terpencil. Walaupun ada yang mau bertugas, hal itu hanya digunakan sebagai batu loncatan saja agar mau diangkat menjadi CPNS oleh pemerintah. Setelah mereka diangkat, pasti akan segera mengajukan mutasi untuk pindah tugas ke kota. Di samping itu, guru di tempat terpencil mengajarnya pun jarang. Kondisi ini sesungguhnya merupakan masalah besar bagi pendidikan di Bangli, terutama anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang ideal dan manjadi pemicu enggannya mereka bersekolah.

Sebenarnya setiap tempat, tak terkecuali desa/daerah terpencil mendambakan anak-anak yang terdidik, cerdas, dan pintar. Pada ranah inilah pendidikan anak-anak sebenarnya tengah membutuhkan pedagogi harapan. Membangun pendidikan di desa terpencil di Bangli dengan gerakan-gerakan  moral baru yang lebih mendasar dan kepedulian sosial harus dikerjakan. Ada empat pilar yang perlu dibangun untuk menyelamatkan pembangunan pendidikan anak-anak di desa terpencil di Bangli. Keempat pilar itu dalam akselerasinya tidak bersifat sepihak, harus dilakukan bersama seluruh komponen dengan bergandengan tangan. Pertama, menyiapkan tenaga pengajar yang mau mengikhlaskan diri untuk ditempatkan di daerah terpencil. Untuk mengantisipasi keluhan dan malasnya guru yang ditempatkan di desa terpencil yang berdampak tidak idealnya anak-anak mendapat pelayanan pendidikan, maka pemerintah/dewan pendidikan di Bangli dapat mengangkat atau mempekerjakan sumber daya manusia setempat yang dianggap mampu mengemban tugas sebagai pendidik.

Di samping itu, esensi penting yang perlu ditanamkan kepada para pemuda intelektual yang dimiliki desa/daerah terpencil di Bangli adalah mau kembali mengabdi dan membangun desanya setelah tamat menuntut ilmu di kota atau setelah mempunyai skil sebagai pendidik. Inilah di Bangli/Bali yang disebut istilah “ngayah”. Tidak terburu-buru harus menjadi “korban” di kota urban. Tetapi pemuda intelektual ini mesti kembali ke konsep prilaku ngayah yang sejati untuk sebuah peradaban pendidikan bagi anak-anak desa yang lebih baik. Mungkin secara ekonomi hal ini dianggap mengalami kemunduran tetapi untuk sebuah pembangunan pendidikan: mengangkat prestasi, prestise, dan memberdayakan sumber daya desa dan daerah Bangli, sedang kembali untuk penyembuhan.

Kedua, mitos “kemiskinan edukasi” guru di desa terpencil di Bangli perlu ditanggulangi. Kebijakan-kebijakan pemerintah Kabupaten Bangli untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidikan yang salah satunya menyasar para guru utamanya tingkat pendidikan dasar, hendaknya tidak ditanggapi secara negatif oleh para guru yang ada di desa terpencil. Hal inilah yang menjadikan banyak sekali proyek-proyek pelatihan guru, diklat guru, dan lain-lain, berjalan hanya sebatas formalitas. Nilai positif proyek tersebut tidak pernah diambil. Mereka selalu merasa tidak memerlukan program-program peningkatan atau pengembangan kualitas diri. Ketiga, kepedulian sosial dibidang pendidikan di Bangli, bisa dilakukan dengan jalan membuka sekolah-sekolah swadaya yang dekat dengan anak-anak di desa terpencil. Dalam hal ini, kepedulian sosial sangat penting bagi pendidikan anak-anak yang dimarjinalkan. Mendapatkan kesempatan pendidikan yang baik adalah hak semua anak, termasuk yang hidup di kampung- kampung terpencil di Bangli. Bahwasanya “pendidikan bagi anak bukanlah alat untuk memenuhi hasrat pribadinya, tapi pada akhirnya sebagai alat untuk kemajuan sosial dan lingkungannya”.

Bagi desa terpencil/terisolir di Bangli yang merasa rapuh seperti saat ini, satu generasi sangatlah berarti. Bagi daerah yang kecil yang tidak banyak memiliki sumber daya alam dan tidak memiliki aset laut seperti Bangli, misalnya, satu desa yang begitu terpelosok dengan sejengkal tanah dan setetes air sangatlah berharga. Dengan credo itu kepedulian sosial kita untuk akses pendidikan bagi anak-anak akan memberikan bumi Bangli yang lebih layak dan kehidupan yang lebih baik kepada semua anak yang nantinya akan meneruskan generasi berikutnya.

Keempat, Penyedian infastruktur (termasuk akses jalan dan internet yang layak) dan sarana belajar yang refresentatif bagi desa terisolir. Untuk mewujudkan ini, kita mesti konsisten dengan cerita lama “negeri ini mesti lepas dari budaya korup”. Di tengah revolusi pendidikan yang dijalankan oleh para guru yang juga tengah menerima kebenaran mitos kemiskinan ekonomi (karena suntikan sertifikasi masih juga dirasakan kurang), anak-anak di Bangli secara tidak sadar telah dimasukkan ke dalam kultur pendidikan yang semakin terpuruk. Pada anak- anak itu, para guru rupanya tengah menjalankan konvensi-konvensi sosial- ekonomi. Anak-anaklah yang menjadi korbannya.

Siapakah yang akan menyelamatkan mereka? Hal ini memang tidak semata-mata persoalan edukatif, tetapi politik ekonomi, yang memang kondisi ini sudah sejak lama telah ditemukan dalam pemikiran-pemikiran Paulo Fraire. Walaupun demikian, Fraire menuding bukan oknum guru yang memang memplopori hal itu  terjadi, melainkan negaralah yang menjadikan kultur pendidikan, khususnya pendidikan di negara dunia ketiga begitu korup. Sebagai konsekuensinya dan menjadi  keluhan di tengah perasaan tidak berdaya adalah “robohnya mental anak sebagai aset daerah” dan “keroposnya jiwa generasi penerus” yang sebenarnya belum pantas roboh dan keropos. Kultur ini harus didekonstruksi, harus dihancurkan, untuk membangun dan menyelamatkan pendidikan di pelosok-pelosok desa di Bangli. [T]

Kintamani, Januari 2020

Tags: BangliBaturPendidikan
Share116TweetSendShareSend
Previous Post

Berdamai Dengan Rasa Malas Efektif Bantu Lawan Rasa Malas

Next Post

Kalau Dibolehkan Mengarang [Cerita Tentang Bangli]

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kalau Dibolehkan Mengarang [Cerita Tentang Bangli]

Kalau Dibolehkan Mengarang [Cerita Tentang Bangli]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co