4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau Dibolehkan Mengarang [Cerita Tentang Bangli]

Manik Sukadana by Manik Sukadana
February 24, 2020
in Esai
Kalau Dibolehkan Mengarang [Cerita Tentang Bangli]

Ilustrasi diolah dari sumber Google dan Wikipedia

Esai ini meraih Juara 2 dalam  Lomba Esai Kategori Umum Menyongsong HUT ke-36 Peradah Indonesia dan HUT ke-816 Kota Bangli yang diseselenggarakan DPK Peradah Bangli, 2020  

Kalau boleh saya mengarang cerita tentang Bangli, maka kemungkinan saya akan meminjam ending dari seorang teman, bahwa sejarah Bangli berakhir dengan terpecah belah. Daerah terbagi menjadi bagian-bagian kecil lalu bergabung dengan kabupaten lain di sekitarnya. Dengan demikian, Kintamani akan masuk menjadi wilayah Buleleng dan beberapa kecamatan lain juga ikut menyusul sesuai dengan pilihannya. Agar dapat meyakinkan, akan dikarang perihal yang memungkinkan terjadinya peristiwa epik itu.

Barangkali ada hubungan antara kekuasaan suatu wilayah dan seberapa besar kekuatan ekonominya. Bahkan, banyak perang yang terjadi di dunia cikal bakalnya hanyalah soal rebutan dagangan. Tentu saja pusat kontrol kekuasaan selalu menjadi tempat idola bagi pedagang. Di mana ada keramaian, di situ ada peredaran. Pada era kerajaan, bangunan kerajaan akan bersebelahan dengan pasar. Selain sebagai tempat raja atau pangeran “mengintip” gadis jelita, lalu lintas keuangan di pasar adalah nadi titah-titah raja. Pasar menjadi lahan dan “kurir” segala informasi di samping sebagai sumber pendapatan upeti terbesar. Pasar adalah alat kendali.

Akan saya karang bahwa Bangli bukan opsi pertama orang desa menjual hasil buminya. Di bagian utara, banyak orang memlilih berjualan hanya di Pasar Kintamani dengan alasan jarak yang dekat. Namun untuk orang yang lebih serius, mereka akan pergi ke Pasar Banyuasri Buleleng atau Pasar Badung. Untuk menjual sapi, peternak harus ke Beringkit. Bagi pemilik lahan jeruk, lewat tengkulak, barang dagangan sudah bisa langsung dikirim ke luar Bali. Di bagian selatan dan barat mungkin berbeda. Bukan lagi perkara barang dagangan, mungkin masalah tempat sang istri tercinta bersalon atau menjarit kain kebaya. Bukan hanya persoalan hasil hewani dan nabati, dalam membeli alat elektronik berat seperti kulkas dan televisi, kota yang kecil itu bukanlah idola. Banyak orang lebih percaya kepada toko-toko yang ada di wilayah Singaraja atau Denpasar. Konon katanya, barang di dua daerah itu lebih berkualitas dan bervariasi – di samping harga yang lebih rasional. Memang, dari skala dunia, Bali itu juga kecil sehingga perjalanan ke Bangli atau Denpasar serasa tidaklah jauh beda.

Apabila gejala kritis itu terus berlanjut, makin dekatlah kota tersebut dengan canda satir kawan-kawan dari luar Bangli sebagai “Kota Sepi atau “Kota Mati”. Barangkali, orang seperti saya yang ke Kota Bangli hanya untuk mengurus hal-hal administrasi tidak merasakan romantika kesumringahan kota. Tidak mengetahui dengan baik kegembiraan peristiwa-peristiwa budaya indie di sana. Pun kalau ada diskusi sastra dan budaya, dukungan dari pihak berwajib setempat tidak deras. Hanya tetes-tetes atau malahan buntu.

Dalam strategi “perang”, mungkin, Bangli masih kalah. Melihat dari laku sebelumnya, kalau tidak salah sekitar Abad ke-17, pemerintah yang berkuasa di Bangli harus mengimport prajurit cina agar dapat mempertahankan wilayah bagian utara Bangli dari gencaran Kerajaan Bali Utara. Kalau tidak, mungkin Kintamani sudah menjadi bagian Buleleng sekarang. Maka, makin “keringlah” pesona Bangli. Sudah tidak punya laut ditambah pegunungan dan danau berserta jair–nya lagi. Lalu, siapakah kiranya juru selamat yang akan hadir pada abad ini? Seandainya saya dibolehkan mengarang, maka akan saya ciptakan juru selamat yang agung nan mulia itu.

Oke, mungkin, karangan dengan akhir seperti itu akan menimbulkan perpecahan. Mari, izinkan saya menciptakan ending lain. Bagaimana kalau Bangli berhasil menguasai daratan? Anggaplah peristiwa itu bersamaan dengan perpindahan Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Selagi investor berbondong-bondong ke sana – atau malahan sudah menunggu di sana –, Bangli pada saat yang sama sedang mempertajam taringnya.

Anggaplah akan ada megaproyek kereta cepat seperti Kereta Peluru Shinkansen di Jepang yang dapat mengantarkan orang dengan kecepatan 300km/jam. Seluruh titik temu kereta peluru itu anggaplah ada di Bangli dengan nama mentereng nan kinclong “Megastasiun Bangli”. Kita anggap pula rencana kereta ringan jurusan Bandara-Kuta yang masih tahap survei kelayakan tersebut di-upgrade lalu dikembangkan sehingga menjangkau pelosok Bali. Tentu, perjalanan dari Singaraja ke Bangli hanya akan membutuhkan waktu kurang dari 20 menit. Apalagi Jurusan Kintamani-Bangli, belum habis satu cerpen dibaca, penumpang jurusan itu sudah sampai di tujuan. Megastasiun itu akan menghubungkan seluruh kota di setiap kabupaten di Bali. Orang yang bepergian dari Jembrana ke Karangasem mesti singgah dulu di Bangli, begitu juga jurusan dari dari Singaraja ke Denpasar.

 Bayangkan, Bangli menjadi pusat stasiun utama. Kota kecil tersebut akan memiliki kontrol penuh transportasi antarkabupaten di Bali – mungkin juga termasuk kendali ekonomi. Secara perlahan, pemerintah pusat tentu akan melirik Bangli sebagai posisi strategis dalam bisnis maupun poros kekuasaan provinsi. Bangli yang tidak memiliki laut akan menguasai kabupaten lain yang memiliki laut di Balidwipa.

Adanya stasiun untuk manusia, tentu pula ada stasiun barang. Prosedurnya sama dengan pengangkutan manusia. Barang yang dikirim ke Pelabuhan Gilimanuk dapat langsung ditransfer ke Megastasiun Bangli lalu disebarkan ke seluruh daerah layaknya sebuah pelabuhan. Dengan demikian, kargo yang dikirim ke Lombok wajib singgah di stasiun itu. Bagaimana, ambisius bukan?

Mungkin, impian kereta super cepat itu terlalu jauh. Oke, mari kita perkecil lingkupnya. Anggaplah, pada pada tahun 2024 tersebut, Bangli memiliki brand yang trending sehingga orang-orang dari luar daerah mau berduyun-duyun untuk berkunjung dan bermalam di sana. Atau adanya sebuah ikon kota atau daerah yang terurus dengan baik seperti lumba-lumba di Lovina Buleleng atau tebing tepi pantai di Nusa Penida.

Anggaplah setelah empat dekade, pemerintah masih menjaga dan merawat  Balai Seni Toya Bungkah milik Sutan Takdir Alisyahbana (STA), niscaya, Bangli atau Kintamani khususnya memiliki ikon budaya dan sastra. Balai seni itu berdiri setelah kunjungan beliau bersama Sastrawan Anak Agung Pandji Tisna pada tahun 1938 ke Toya Bungkah. STA diantar oleh orang hebat. Bagaimana tidak, Panji Sakti adalah sastrawan angkatan Pujangga Baru yang sekaligus adalah keturunan raja dan pernah menjadi Raja Buleleng.

 Dengan usahanya, STA bersama kawan-kawan masa itu berhasil mengadakan pertemuan budaya tingkat internasional di sana. Yang datang pada acara tersebut juga bukan orang-orang sembarangan. Sayang, apabila Balai Seni Toya Bungkah masih terawat, tentu, kunjungan kampus-kampus yang terdapat jurusan bahasa dan sastra Indonesia tidak akan absen singgah ke Danau Batur jika studi dan wisata ke Bali.          

Bangli mesti memiliki ikon yang unik dan tidak duanya. Anggaplah festival yang dilaksanakan tahun lalu itu adalah sebuah festival yang bukan hasil produk dan pemikiran orang Bangli. Festival yang muncul dari ketiadaan dengan niat yang tidak benar-benar tulus dan serius. Ikon yang dibuat tersebut tentu janganlah sampai menjadi pengganjal mata. Bayangkan, seperti sebuah rumah yang dibuat dengan tampak depan yang elok dan megah, kita paksa pasang sejejer kabel tiang listrik yang membentang begitu saja. Kabel-kabel yang tidak tahu aturan itu menodai keindahan yang layak disebut mahakarya. Akan lucu kalau Kawah Batur ternodai kabel-kabel tidak estetis nan sembarang begitu.

 Tentang Kintamani, Kaldera Batur dapat dikatakan unik. Gunung dan danau yang dikelilingi benteng batuan keras dan kering itu tampak kokoh. Juga danau yang mirip seperti bulan sabit itu. Keunikan juga terkabar dari tutur banyak orang yang selalu mengaitkan daerah kawasan Gunung Batur dengan peradaban Bali Mula. Masa yang begitu otentik dan misterius.

Jika boleh mengarang, saya akan bangun sebuah Museum Peradaban Bali Mula di Kawasan Kecamatan Kintamani. Lokasi bangunan tinggal dipilih di desa mana saja, tentu, asalkan terus dirawat dengan baik. Atau bahkan bisa saja dibangun di seluruh desa di kecamatan itu agar tidak ada keributan dan keirian antardesa. 

Apa saja isinya? Oh, kalau saya dibolehkan mengarang tentu saja akan berisi banyak hal. Bayangkan, sebuah Museum dengan langit-langit yang tinggi. Ketika baru masuk gedung, pengunjung harus dihadang dengan bangunan rumah tradisional. Rumah itu beratap pipih-pipih bambu. Di samping kanan, dipamerkan prasasti (jikalau memungkinkan) atau dapat berupa foto prasasti besar dengan kualitas bagus, tentu juga beserta deskripsinya. Selanjutnya, ada pameran audio-visual yang berisi informasi bahasa-bahasa unik – yang dapat dianggap sebagai peninggalan hidup bahasa Bali Mula – tiap desa. Banyak desa di Wilayah Kecamatan Kintamani memiliki dialek yang unik misalnya variasi vokal akhir /o/ di Desa Manikliyu atau variasi vokal akhir /a/ di Desa Pinggan. Profil kekuatan kuliner, budaya, dan ekonomi tiap desa juga penting untuk dimasukkan. Sebelahnya, ada pameran tradisi. Di sana akan dipaparkan semua tradisi kuno yang masih dijalankan hingga kini. Tidak lupa, mitos dan cerita tiap desa yang diturunkan secara lisan. Ada banyak pendongeng yang akan disewa untuk menyampaikan kisah-kisah unik dari tiap desa. Akan saya karang juga deretan pajangan tentang pura-pura bersejarah dan unik di sekitar Kawasan Gunung Batur. Semua konten berasal dari Kawasan Kaldera batur.

Dengan ambisi yang serius, saya gambarkan pula bahwa museum itu akan terus “oper bola” dengan Museum Geopark Batur dalam hal pengunjung wisata. Museum peradaban kuno Bali tersebut menjadi ikon wisata yang dapat mencerdaskan pengunjungnya. Ikon wisata yang membuat orang merasa menyesal untuk tidak datang ke sana, khususnya pelajar, mahasiswa maupun umum. Tentu karangan saya tentang daerah itu akan begitu kaya dan menarik.  

Tapi tunggu, mungkinkah ending cerita saya ini tidak seperti di atas? Bagaimana kalau ternyata keadaan Bangli sama seperti sediakala dan tidak ada perubahan? Bangli masih bukan menjadi idola yang diidam-idamkan. Bangli dengan kota tuanya yang masih terkesan biasa-biasa saja.

Hari sudah gelap ketika saya belum menyelesaikan karangan ini. Namun, ada pikiran yang mengganjal. Jangan-jangan, apa yang saya tulis ini adalah perbuatan sia-sia? Sebab, semua karangan ini, mungkin, tidak akan pernah terjadi. Apalagi di daerah saya sendiri, sebab konon mengarang – katanya – akan dilarang. [T]

Singaraja, 02-02-2020

Tags: BangliKintamaniLiterasimengarang
Share96TweetSendShareSend
Previous Post

Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli

Next Post

Galungan-Kuningan di Desa Adat Tegal, Abiansemal: Ngelawang Sakral, 8 Barong, 6 Hari, 8 Banjar

Manik Sukadana

Manik Sukadana

Bergaul di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan. Menulis puisi, cerpen dan esai. Kini menjadi desainer di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Galungan-Kuningan di Desa Adat Tegal, Abiansemal: Ngelawang Sakral, 8 Barong, 6 Hari, 8 Banjar

Galungan-Kuningan di Desa Adat Tegal, Abiansemal: Ngelawang Sakral, 8 Barong, 6 Hari, 8 Banjar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co