12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 12, 2023
in Esai
Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

BURUNG juga punya nasibnya sendiri. Memangnya hanya manusia saja yang boleh mempunyai nasib? Jangan ke-ge-eran!  Semua makhluk punya nasibnya sendiri, termasuk burung-burung. Nasib baik dan nasib buruk barangkali juga berlaku untuk burung.

Ada burung yang bernasib baik, ada pula burung yang bernasib buruk, sial, malang, dst. Tetapi kita cukupkan saja sampai di sini soal nasib-nasib unggas ini. Selain karena saya bukan ahli burung, tentu saja saya juga tidak tahu-menahu soal nasib burung secara ilmiah atau akademik─itu pun jika ada ahli yang meneliti tentang nasib burung.

Saya menulis tentang burung hanya karena kejadian malam itu.  Malam yang, mungkin bagi beberapa orang sepakat, bahwa waktu ini memang paling pas untuk merehatkan tubuh, menjulurkan segala penat, meluruskan semua kusut, atau menidurkan segala risau.

Bayangkan saja, bagaimana nikmatnya menyeruput kopi, mengisap rokok, sebatang demi sebatang, mengembuskan asap yang dengan itu seakan-akan semua masalah terselesaikan dengan sendirinya. Memandang taburan bintang yang seolah seperti mata-mata malaikat, atau  layaknya seorang ibu yang menidurkan anaknya dengan nyanyian-nyanyian kataknya. Benar-benar waktu yang sudah yang menenangkan.

Meskipun tak semua orang begitu─tak semua orang dapat menikmati malam dengan leha-leha, ongkang-ongkang kaki sambil menyeruput kopi. Ada juga mereka yang menjadikan malam sebagai ruang untuk menyambung kehidupan. Saya salut dengan orang yang tak kenal waktu itu. Siang sampai malam mereka lewati dengan keberanian. Lantas, sebenarnya apa yang memupuk keberanian mereka?

Menurut saya, harapan dan keyakinanlah yang menjadi pondasi mereka untuk melangkah. Ya, apalagi jika bukan harapan dan keyakinan? Andai saja kedua hal itu tak pernah menemani mereka, betapa terpuruknya mereka menjalani hidup ini. Karena kedua pasang kaki saja tak cukup untuk melangkah di gelapnya malam.

***

Kembali pada pembahasa tentang burung. Malam itu, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, saat sedang berlangsung pemutaran dan diskusi film mengenal Sumatera Selatan lewat platform Singaraja Menonton yang dikelola Bli Kardian─akrab dipanggil Cotecx. Saat sedang asik-asiknya menikmati obrolan teman-teman yang sedang mengutarakan pendapatnya setelah menonton beberapa film, kami dikagetkan dengan seekor burung yang tiba-tiba jatuh dari atap.

Kami sempat mengira burung itu mati, karena beberapa saat setelah jatuh, burung itu tak bergerak sedikit pun─bahkan seinci pun tidak. Tetapi, aneh bin ajaib, setelah saya pegang dan saya elus-elus bulunya, ia terbangun─ia hanya pingsan. Waktu itu saya merasa tangan saya memiliki sentuhan magis.

Entah apa motif burung itu, saya tak tahu─memangnya orang macam apa yang kepikiran untuk bertanya, “Kamu kenapa, Burung?”. Entah disengaja atau nasib sial sedang menimpanya, yang jelas burung itu terbang tak terkendali, mungkin tanpa sadar, menukik dari atas kemudian menabrakkan diri ke atap hingga tersungkur ke tanah. Darrrr! Bunyi itu membuat kami kaget.

Untuk memastikan burung itu masih mempunyai harapan hidup atau tidak, saya dengan sukarela, tanpa motif apa pun, menimangnya dengan telapak tangan, sembari saya elus secara perlahan.

Bahkan saking nekatnya, saya sempat mempunyai niatan untuk meminta doa kepada semua pengunjung untuk kesembuhan si burung. Tapi untungnya, sebelum kekonyolan itu terjadi, burung itu sudah sadarkan diri kemudian terbang kedalam rumah dan hinggap di sertifikat Parama Patram Budaya milik Komunitas Mahima.

Sebelum ia benar-benar pergi, dan ini yang akan terus saya ingat, burung itu meninggalkan kotoran yang cair dan luber di telapak tangan kiri saya. Meskipun itu menjijikan, tetap saya apresiasi–mungkin itu cara dia berterimakasih kepada saya yang sudah menjaganya sampai siuman. Tentang kotoran burung yang menempel di telapak tangan itu, tak ada satu pun yang menyadarinya.

Barang sial sepertinya memang sudah digariskan di jidat si burung. Atau barangkali si burung memang lahir pas pada hari Rabu Wekasan. Keesokan harinya, Pak Ole—pemilik rumah sekaligus pimred tatkala.co─memberikan kabar. Bahwa, semalam setelah semua pengunjung pulang, burung itu ternyata diterkam seekor kucing. Naas. Benar-benar malang sekali nasibnya.

***

Melihat kejadian burung jatuh secara tiba-tiba di Mahima itu, saya teringat satu fenomena yang aneh di India. Saya sempat membaca beberapa artikel tentang adanya ribuan burung yang melakukan bunuh diri masal dengan cara menabrakkan tubuhnya ke tiang. Itu terjadi di Desa Jatinga, Dima Hasao di sebelah timur laut India.

Menurut tulisan Afif Farhanyang bejudul Misteri Burung Bunuh Diri Massal Di India (detikTravel, 24/02/16), menyebutkan bahwa fenomena tersebut terjadi setiap tahun pada bulan September – November.

Bahwasannya di desa Jatinga, lembah Pegunungan Haflong, pada sekitar pukul 19.00 – 22.00 malam, jalanan di setiap sudut desa itu akan dipenuhi oleh ribuan burung yang mati atau masih sekarat karena menabrakkan diri ke rumah, bangunan-bangunan lain atau pepohonan. Fenomena Bird Deaths itu sudah berlangsung sejak 1900-an.

Menurut kepercayaan setempat, penyebabnya adalah roh-roh yang berada di atas langit “memukul” burung-burung itu hingga jatuh ke tanah. Kemudian dijadikan santapan oleh masyarakat.

Meskipun belum ada jawaban yang pasti tentang fenomena itu, ahli biologi dan ilmuwan setempat memberikan jawaban mengenai hal tersebut. Pertama, burung-burung tersebut terjebak kabut sehingga penglihatannya terganggu; dan yang kedua,burung-burung itu tertarik pada sorot lampu dari rumah-rumah warga, sehingga mereka mengikuti arah lampu tersebut. Meskipun, pada akhirnya malah menabrak rumah, bangunan atau pepohonan.

Nah, apakah burung yang menabrakkan diri ke atap rumah Pak Ole itu terinspirasi oleh burung-burung di India? Meskipun, di Singaraja tidak ada kepercayaan tentang roh yang memukul burung-burung.

Atau jangan-jangan burung itu sedang sedih, karena sudah tidak mempunyai teman karena teman-temannya sudah habis ditangkap. Atau sedih karena anaknya telah dicuri oleh “pecinta burung”, atau bisa jadi dia sedang ketakutan karena melihat teman-temannya ditembak para pemburu. Sehingga harapan dan keyakinan burung itu untuk tetap hidup lenyap dengan kemudian nekat menabrakkan dirinya. Jika benar seperti itu, sungguh saya benar-benar merasa bersalah. Karena dari semua hal itu, saya pernah melakukannya.

Seandainya semua burung mengalami kesedihan, dan nekat melakukan bunuh diri masal, betapa meruginya kita sebagai manusia. Saya tak bisa membayangkan betapa minornya suara alam tanpa kicuan burung. Betapa ganjilnya pagi tanpa adanya obrolan para burung. Sungguh, sesuatu yang tak mungkin saya untuk amini.

Meskipun ada juga faktor yang mungkin menyebabkan populasi burung menghilang selain ulah para pemburu. Seperti, misalnya penggunaan pestisida dalam budaya tanam menanam.

Saya pernah membaca status Facebook Mas Jaswanto tentang cerita dia selama berada di Rumah Intaran. Dia bercerita, setiap pagi ia mengamati burung-burung yang hinggap di pohon-pohon pekarangan Rumah Intaran. Tetapi aneh, pohon mangga di sebelah Rumah Intaran tak disambangi burung-burung. Ternyata, setelah ia bertanya kepada pemilik rumah, pohon itu disemprot pestisida sedangkan pohon-pohon di Rumah Intaran tidak.

Dengan demikian, bisa jadi, penggunaan pestisida menjadi salah satu penyebab berkurangnya populasi burung. Bayangkan saja, jika satu desa, semua tanamannya dirawat dengan pestisida yang notabene berbahan baku kimia.

Apa yang terjadi? Sudah jelas, burung akan enggan untuk hinggap di tanaman-tanaman itu dan menyebabkan melimpahnya populasi ulat. Ini sudah pasti  karena akan mengubah siklus rantai makanan, karena tidak ada burung yang memakan ulat-ulat itu. Lantas siapa yang rugi?

***

Kita masih mempunyai harapan, kelak anak cucu kita akan merasakan betapa harunya bangun pagi disambut dengan aneka kicauan burung, tanaman tumbuh subur, karena nutrisi yang ia serap alami, dan segarnya embun yang jatuh di sudut rumah.

Harapan itu akan terwujud kalau kita mau dan sadar untuk menjaga kelestarian alam. Meskipun, kita tak bisa merawat alam dengan sepenuhnya, setidaknya jangan merusak tatanan alam yang sudah ada.

Bukankah sebagai seorang manusia, sudah sepantasnya kita menjaga alam? Jika nasib semua burung apes, maka nasib kita juga akan tidak baik-baik saja.

Hubungan yang terbangun tidak hanya sekadar Hablum Minallah, dan Hablum minannas saja, tetapi, Hablum minal alam juga sebagai cerminan Islam yang Rahmatan lil alamin. [T]

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan
Bacaan Menunjukkan Bangsa? || Renungan Tentang “Catatan Pinggir” GM
Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan
Tags: alamfaunalingkunganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan

Next Post

Bukan Guru Abal-Abal

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Bukan Guru Abal-Abal

Bukan Guru Abal-Abal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co