2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 12, 2023
in Esai
Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

BURUNG juga punya nasibnya sendiri. Memangnya hanya manusia saja yang boleh mempunyai nasib? Jangan ke-ge-eran!  Semua makhluk punya nasibnya sendiri, termasuk burung-burung. Nasib baik dan nasib buruk barangkali juga berlaku untuk burung.

Ada burung yang bernasib baik, ada pula burung yang bernasib buruk, sial, malang, dst. Tetapi kita cukupkan saja sampai di sini soal nasib-nasib unggas ini. Selain karena saya bukan ahli burung, tentu saja saya juga tidak tahu-menahu soal nasib burung secara ilmiah atau akademik─itu pun jika ada ahli yang meneliti tentang nasib burung.

Saya menulis tentang burung hanya karena kejadian malam itu.  Malam yang, mungkin bagi beberapa orang sepakat, bahwa waktu ini memang paling pas untuk merehatkan tubuh, menjulurkan segala penat, meluruskan semua kusut, atau menidurkan segala risau.

Bayangkan saja, bagaimana nikmatnya menyeruput kopi, mengisap rokok, sebatang demi sebatang, mengembuskan asap yang dengan itu seakan-akan semua masalah terselesaikan dengan sendirinya. Memandang taburan bintang yang seolah seperti mata-mata malaikat, atau  layaknya seorang ibu yang menidurkan anaknya dengan nyanyian-nyanyian kataknya. Benar-benar waktu yang sudah yang menenangkan.

Meskipun tak semua orang begitu─tak semua orang dapat menikmati malam dengan leha-leha, ongkang-ongkang kaki sambil menyeruput kopi. Ada juga mereka yang menjadikan malam sebagai ruang untuk menyambung kehidupan. Saya salut dengan orang yang tak kenal waktu itu. Siang sampai malam mereka lewati dengan keberanian. Lantas, sebenarnya apa yang memupuk keberanian mereka?

Menurut saya, harapan dan keyakinanlah yang menjadi pondasi mereka untuk melangkah. Ya, apalagi jika bukan harapan dan keyakinan? Andai saja kedua hal itu tak pernah menemani mereka, betapa terpuruknya mereka menjalani hidup ini. Karena kedua pasang kaki saja tak cukup untuk melangkah di gelapnya malam.

***

Kembali pada pembahasa tentang burung. Malam itu, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, saat sedang berlangsung pemutaran dan diskusi film mengenal Sumatera Selatan lewat platform Singaraja Menonton yang dikelola Bli Kardian─akrab dipanggil Cotecx. Saat sedang asik-asiknya menikmati obrolan teman-teman yang sedang mengutarakan pendapatnya setelah menonton beberapa film, kami dikagetkan dengan seekor burung yang tiba-tiba jatuh dari atap.

Kami sempat mengira burung itu mati, karena beberapa saat setelah jatuh, burung itu tak bergerak sedikit pun─bahkan seinci pun tidak. Tetapi, aneh bin ajaib, setelah saya pegang dan saya elus-elus bulunya, ia terbangun─ia hanya pingsan. Waktu itu saya merasa tangan saya memiliki sentuhan magis.

Entah apa motif burung itu, saya tak tahu─memangnya orang macam apa yang kepikiran untuk bertanya, “Kamu kenapa, Burung?”. Entah disengaja atau nasib sial sedang menimpanya, yang jelas burung itu terbang tak terkendali, mungkin tanpa sadar, menukik dari atas kemudian menabrakkan diri ke atap hingga tersungkur ke tanah. Darrrr! Bunyi itu membuat kami kaget.

Untuk memastikan burung itu masih mempunyai harapan hidup atau tidak, saya dengan sukarela, tanpa motif apa pun, menimangnya dengan telapak tangan, sembari saya elus secara perlahan.

Bahkan saking nekatnya, saya sempat mempunyai niatan untuk meminta doa kepada semua pengunjung untuk kesembuhan si burung. Tapi untungnya, sebelum kekonyolan itu terjadi, burung itu sudah sadarkan diri kemudian terbang kedalam rumah dan hinggap di sertifikat Parama Patram Budaya milik Komunitas Mahima.

Sebelum ia benar-benar pergi, dan ini yang akan terus saya ingat, burung itu meninggalkan kotoran yang cair dan luber di telapak tangan kiri saya. Meskipun itu menjijikan, tetap saya apresiasi–mungkin itu cara dia berterimakasih kepada saya yang sudah menjaganya sampai siuman. Tentang kotoran burung yang menempel di telapak tangan itu, tak ada satu pun yang menyadarinya.

Barang sial sepertinya memang sudah digariskan di jidat si burung. Atau barangkali si burung memang lahir pas pada hari Rabu Wekasan. Keesokan harinya, Pak Ole—pemilik rumah sekaligus pimred tatkala.co─memberikan kabar. Bahwa, semalam setelah semua pengunjung pulang, burung itu ternyata diterkam seekor kucing. Naas. Benar-benar malang sekali nasibnya.

***

Melihat kejadian burung jatuh secara tiba-tiba di Mahima itu, saya teringat satu fenomena yang aneh di India. Saya sempat membaca beberapa artikel tentang adanya ribuan burung yang melakukan bunuh diri masal dengan cara menabrakkan tubuhnya ke tiang. Itu terjadi di Desa Jatinga, Dima Hasao di sebelah timur laut India.

Menurut tulisan Afif Farhanyang bejudul Misteri Burung Bunuh Diri Massal Di India (detikTravel, 24/02/16), menyebutkan bahwa fenomena tersebut terjadi setiap tahun pada bulan September – November.

Bahwasannya di desa Jatinga, lembah Pegunungan Haflong, pada sekitar pukul 19.00 – 22.00 malam, jalanan di setiap sudut desa itu akan dipenuhi oleh ribuan burung yang mati atau masih sekarat karena menabrakkan diri ke rumah, bangunan-bangunan lain atau pepohonan. Fenomena Bird Deaths itu sudah berlangsung sejak 1900-an.

Menurut kepercayaan setempat, penyebabnya adalah roh-roh yang berada di atas langit “memukul” burung-burung itu hingga jatuh ke tanah. Kemudian dijadikan santapan oleh masyarakat.

Meskipun belum ada jawaban yang pasti tentang fenomena itu, ahli biologi dan ilmuwan setempat memberikan jawaban mengenai hal tersebut. Pertama, burung-burung tersebut terjebak kabut sehingga penglihatannya terganggu; dan yang kedua,burung-burung itu tertarik pada sorot lampu dari rumah-rumah warga, sehingga mereka mengikuti arah lampu tersebut. Meskipun, pada akhirnya malah menabrak rumah, bangunan atau pepohonan.

Nah, apakah burung yang menabrakkan diri ke atap rumah Pak Ole itu terinspirasi oleh burung-burung di India? Meskipun, di Singaraja tidak ada kepercayaan tentang roh yang memukul burung-burung.

Atau jangan-jangan burung itu sedang sedih, karena sudah tidak mempunyai teman karena teman-temannya sudah habis ditangkap. Atau sedih karena anaknya telah dicuri oleh “pecinta burung”, atau bisa jadi dia sedang ketakutan karena melihat teman-temannya ditembak para pemburu. Sehingga harapan dan keyakinan burung itu untuk tetap hidup lenyap dengan kemudian nekat menabrakkan dirinya. Jika benar seperti itu, sungguh saya benar-benar merasa bersalah. Karena dari semua hal itu, saya pernah melakukannya.

Seandainya semua burung mengalami kesedihan, dan nekat melakukan bunuh diri masal, betapa meruginya kita sebagai manusia. Saya tak bisa membayangkan betapa minornya suara alam tanpa kicuan burung. Betapa ganjilnya pagi tanpa adanya obrolan para burung. Sungguh, sesuatu yang tak mungkin saya untuk amini.

Meskipun ada juga faktor yang mungkin menyebabkan populasi burung menghilang selain ulah para pemburu. Seperti, misalnya penggunaan pestisida dalam budaya tanam menanam.

Saya pernah membaca status Facebook Mas Jaswanto tentang cerita dia selama berada di Rumah Intaran. Dia bercerita, setiap pagi ia mengamati burung-burung yang hinggap di pohon-pohon pekarangan Rumah Intaran. Tetapi aneh, pohon mangga di sebelah Rumah Intaran tak disambangi burung-burung. Ternyata, setelah ia bertanya kepada pemilik rumah, pohon itu disemprot pestisida sedangkan pohon-pohon di Rumah Intaran tidak.

Dengan demikian, bisa jadi, penggunaan pestisida menjadi salah satu penyebab berkurangnya populasi burung. Bayangkan saja, jika satu desa, semua tanamannya dirawat dengan pestisida yang notabene berbahan baku kimia.

Apa yang terjadi? Sudah jelas, burung akan enggan untuk hinggap di tanaman-tanaman itu dan menyebabkan melimpahnya populasi ulat. Ini sudah pasti  karena akan mengubah siklus rantai makanan, karena tidak ada burung yang memakan ulat-ulat itu. Lantas siapa yang rugi?

***

Kita masih mempunyai harapan, kelak anak cucu kita akan merasakan betapa harunya bangun pagi disambut dengan aneka kicauan burung, tanaman tumbuh subur, karena nutrisi yang ia serap alami, dan segarnya embun yang jatuh di sudut rumah.

Harapan itu akan terwujud kalau kita mau dan sadar untuk menjaga kelestarian alam. Meskipun, kita tak bisa merawat alam dengan sepenuhnya, setidaknya jangan merusak tatanan alam yang sudah ada.

Bukankah sebagai seorang manusia, sudah sepantasnya kita menjaga alam? Jika nasib semua burung apes, maka nasib kita juga akan tidak baik-baik saja.

Hubungan yang terbangun tidak hanya sekadar Hablum Minallah, dan Hablum minannas saja, tetapi, Hablum minal alam juga sebagai cerminan Islam yang Rahmatan lil alamin. [T]

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan
Bacaan Menunjukkan Bangsa? || Renungan Tentang “Catatan Pinggir” GM
Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan
Tags: alamfaunalingkunganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan

Next Post

Bukan Guru Abal-Abal

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bukan Guru Abal-Abal

Bukan Guru Abal-Abal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co