24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
February 12, 2023
in Esai
Nasib Sang Burung dan Nasib Kita, Sebuah Renungan

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

BURUNG juga punya nasibnya sendiri. Memangnya hanya manusia saja yang boleh mempunyai nasib? Jangan ke-ge-eran!  Semua makhluk punya nasibnya sendiri, termasuk burung-burung. Nasib baik dan nasib buruk barangkali juga berlaku untuk burung.

Ada burung yang bernasib baik, ada pula burung yang bernasib buruk, sial, malang, dst. Tetapi kita cukupkan saja sampai di sini soal nasib-nasib unggas ini. Selain karena saya bukan ahli burung, tentu saja saya juga tidak tahu-menahu soal nasib burung secara ilmiah atau akademik─itu pun jika ada ahli yang meneliti tentang nasib burung.

Saya menulis tentang burung hanya karena kejadian malam itu.  Malam yang, mungkin bagi beberapa orang sepakat, bahwa waktu ini memang paling pas untuk merehatkan tubuh, menjulurkan segala penat, meluruskan semua kusut, atau menidurkan segala risau.

Bayangkan saja, bagaimana nikmatnya menyeruput kopi, mengisap rokok, sebatang demi sebatang, mengembuskan asap yang dengan itu seakan-akan semua masalah terselesaikan dengan sendirinya. Memandang taburan bintang yang seolah seperti mata-mata malaikat, atau  layaknya seorang ibu yang menidurkan anaknya dengan nyanyian-nyanyian kataknya. Benar-benar waktu yang sudah yang menenangkan.

Meskipun tak semua orang begitu─tak semua orang dapat menikmati malam dengan leha-leha, ongkang-ongkang kaki sambil menyeruput kopi. Ada juga mereka yang menjadikan malam sebagai ruang untuk menyambung kehidupan. Saya salut dengan orang yang tak kenal waktu itu. Siang sampai malam mereka lewati dengan keberanian. Lantas, sebenarnya apa yang memupuk keberanian mereka?

Menurut saya, harapan dan keyakinanlah yang menjadi pondasi mereka untuk melangkah. Ya, apalagi jika bukan harapan dan keyakinan? Andai saja kedua hal itu tak pernah menemani mereka, betapa terpuruknya mereka menjalani hidup ini. Karena kedua pasang kaki saja tak cukup untuk melangkah di gelapnya malam.

***

Kembali pada pembahasa tentang burung. Malam itu, di Rumah Belajar Komunitas Mahima, saat sedang berlangsung pemutaran dan diskusi film mengenal Sumatera Selatan lewat platform Singaraja Menonton yang dikelola Bli Kardian─akrab dipanggil Cotecx. Saat sedang asik-asiknya menikmati obrolan teman-teman yang sedang mengutarakan pendapatnya setelah menonton beberapa film, kami dikagetkan dengan seekor burung yang tiba-tiba jatuh dari atap.

Kami sempat mengira burung itu mati, karena beberapa saat setelah jatuh, burung itu tak bergerak sedikit pun─bahkan seinci pun tidak. Tetapi, aneh bin ajaib, setelah saya pegang dan saya elus-elus bulunya, ia terbangun─ia hanya pingsan. Waktu itu saya merasa tangan saya memiliki sentuhan magis.

Entah apa motif burung itu, saya tak tahu─memangnya orang macam apa yang kepikiran untuk bertanya, “Kamu kenapa, Burung?”. Entah disengaja atau nasib sial sedang menimpanya, yang jelas burung itu terbang tak terkendali, mungkin tanpa sadar, menukik dari atas kemudian menabrakkan diri ke atap hingga tersungkur ke tanah. Darrrr! Bunyi itu membuat kami kaget.

Untuk memastikan burung itu masih mempunyai harapan hidup atau tidak, saya dengan sukarela, tanpa motif apa pun, menimangnya dengan telapak tangan, sembari saya elus secara perlahan.

Bahkan saking nekatnya, saya sempat mempunyai niatan untuk meminta doa kepada semua pengunjung untuk kesembuhan si burung. Tapi untungnya, sebelum kekonyolan itu terjadi, burung itu sudah sadarkan diri kemudian terbang kedalam rumah dan hinggap di sertifikat Parama Patram Budaya milik Komunitas Mahima.

Sebelum ia benar-benar pergi, dan ini yang akan terus saya ingat, burung itu meninggalkan kotoran yang cair dan luber di telapak tangan kiri saya. Meskipun itu menjijikan, tetap saya apresiasi–mungkin itu cara dia berterimakasih kepada saya yang sudah menjaganya sampai siuman. Tentang kotoran burung yang menempel di telapak tangan itu, tak ada satu pun yang menyadarinya.

Barang sial sepertinya memang sudah digariskan di jidat si burung. Atau barangkali si burung memang lahir pas pada hari Rabu Wekasan. Keesokan harinya, Pak Ole—pemilik rumah sekaligus pimred tatkala.co─memberikan kabar. Bahwa, semalam setelah semua pengunjung pulang, burung itu ternyata diterkam seekor kucing. Naas. Benar-benar malang sekali nasibnya.

***

Melihat kejadian burung jatuh secara tiba-tiba di Mahima itu, saya teringat satu fenomena yang aneh di India. Saya sempat membaca beberapa artikel tentang adanya ribuan burung yang melakukan bunuh diri masal dengan cara menabrakkan tubuhnya ke tiang. Itu terjadi di Desa Jatinga, Dima Hasao di sebelah timur laut India.

Menurut tulisan Afif Farhanyang bejudul Misteri Burung Bunuh Diri Massal Di India (detikTravel, 24/02/16), menyebutkan bahwa fenomena tersebut terjadi setiap tahun pada bulan September – November.

Bahwasannya di desa Jatinga, lembah Pegunungan Haflong, pada sekitar pukul 19.00 – 22.00 malam, jalanan di setiap sudut desa itu akan dipenuhi oleh ribuan burung yang mati atau masih sekarat karena menabrakkan diri ke rumah, bangunan-bangunan lain atau pepohonan. Fenomena Bird Deaths itu sudah berlangsung sejak 1900-an.

Menurut kepercayaan setempat, penyebabnya adalah roh-roh yang berada di atas langit “memukul” burung-burung itu hingga jatuh ke tanah. Kemudian dijadikan santapan oleh masyarakat.

Meskipun belum ada jawaban yang pasti tentang fenomena itu, ahli biologi dan ilmuwan setempat memberikan jawaban mengenai hal tersebut. Pertama, burung-burung tersebut terjebak kabut sehingga penglihatannya terganggu; dan yang kedua,burung-burung itu tertarik pada sorot lampu dari rumah-rumah warga, sehingga mereka mengikuti arah lampu tersebut. Meskipun, pada akhirnya malah menabrak rumah, bangunan atau pepohonan.

Nah, apakah burung yang menabrakkan diri ke atap rumah Pak Ole itu terinspirasi oleh burung-burung di India? Meskipun, di Singaraja tidak ada kepercayaan tentang roh yang memukul burung-burung.

Atau jangan-jangan burung itu sedang sedih, karena sudah tidak mempunyai teman karena teman-temannya sudah habis ditangkap. Atau sedih karena anaknya telah dicuri oleh “pecinta burung”, atau bisa jadi dia sedang ketakutan karena melihat teman-temannya ditembak para pemburu. Sehingga harapan dan keyakinan burung itu untuk tetap hidup lenyap dengan kemudian nekat menabrakkan dirinya. Jika benar seperti itu, sungguh saya benar-benar merasa bersalah. Karena dari semua hal itu, saya pernah melakukannya.

Seandainya semua burung mengalami kesedihan, dan nekat melakukan bunuh diri masal, betapa meruginya kita sebagai manusia. Saya tak bisa membayangkan betapa minornya suara alam tanpa kicuan burung. Betapa ganjilnya pagi tanpa adanya obrolan para burung. Sungguh, sesuatu yang tak mungkin saya untuk amini.

Meskipun ada juga faktor yang mungkin menyebabkan populasi burung menghilang selain ulah para pemburu. Seperti, misalnya penggunaan pestisida dalam budaya tanam menanam.

Saya pernah membaca status Facebook Mas Jaswanto tentang cerita dia selama berada di Rumah Intaran. Dia bercerita, setiap pagi ia mengamati burung-burung yang hinggap di pohon-pohon pekarangan Rumah Intaran. Tetapi aneh, pohon mangga di sebelah Rumah Intaran tak disambangi burung-burung. Ternyata, setelah ia bertanya kepada pemilik rumah, pohon itu disemprot pestisida sedangkan pohon-pohon di Rumah Intaran tidak.

Dengan demikian, bisa jadi, penggunaan pestisida menjadi salah satu penyebab berkurangnya populasi burung. Bayangkan saja, jika satu desa, semua tanamannya dirawat dengan pestisida yang notabene berbahan baku kimia.

Apa yang terjadi? Sudah jelas, burung akan enggan untuk hinggap di tanaman-tanaman itu dan menyebabkan melimpahnya populasi ulat. Ini sudah pasti  karena akan mengubah siklus rantai makanan, karena tidak ada burung yang memakan ulat-ulat itu. Lantas siapa yang rugi?

***

Kita masih mempunyai harapan, kelak anak cucu kita akan merasakan betapa harunya bangun pagi disambut dengan aneka kicauan burung, tanaman tumbuh subur, karena nutrisi yang ia serap alami, dan segarnya embun yang jatuh di sudut rumah.

Harapan itu akan terwujud kalau kita mau dan sadar untuk menjaga kelestarian alam. Meskipun, kita tak bisa merawat alam dengan sepenuhnya, setidaknya jangan merusak tatanan alam yang sudah ada.

Bukankah sebagai seorang manusia, sudah sepantasnya kita menjaga alam? Jika nasib semua burung apes, maka nasib kita juga akan tidak baik-baik saja.

Hubungan yang terbangun tidak hanya sekadar Hablum Minallah, dan Hablum minannas saja, tetapi, Hablum minal alam juga sebagai cerminan Islam yang Rahmatan lil alamin. [T]

Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan
Bacaan Menunjukkan Bangsa? || Renungan Tentang “Catatan Pinggir” GM
Tanah Air – Sebuah Renungan Tentang Kewarganegaraan
Tags: alamfaunalingkunganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

5 Film Terbaik yang Sebaiknya Ditonton Calon Wartawan atau Wartawan

Next Post

Bukan Guru Abal-Abal

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bukan Guru Abal-Abal

Bukan Guru Abal-Abal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co