24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bacaan Menunjukkan Bangsa? || Renungan Tentang “Catatan Pinggir” GM

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
January 3, 2021
in Esai

Buku Catatan Pinggir

Musim pandemi membuat waktu terasa panjang dan luang. Kita jadi bisa menikmati hobi yang selama waktu normal biasanya susah kita lakukan. Termasuk waktu membaca tulisan penulis kesayangan kita. Sekaligus membaca tulisan yang mengkritisi penulis kita.

Hari itu sebuah status/review singkat lewat di time line facebook saya. Review itu mengkritisi tulisan Goenawan Mohamad (GM) dalam esainya yang populer, Catatan Pinggir, yang untuk selanjutnya saya sebut Caping saja.

Review singkat yang kritis itu sebenarnya ditulis oleh seseorang yang tak begitu saya kenal, namun diteruskan dan disetujui juga oleh Made Supriatma, seorang penulis yang juga idola saya. Karena GM dan Made Supriatma sama-sama penulis idola saya, maka saya pun jadi ikut merenung-renung kembali terhadap Caping yang saya gemari, sekaligus merenungkan juga kritik terhadap Caping.

Goenawan Mohamad adalah sastrawan dan wartawan, yang menulis Caping di Tempo sejak sekitar 50 tahun lalu. Sementara Made Supriatma, adalah salah satu penulis opini politik terkemuka saat ini, putra terbaik Bali dalam hal pemikiran politik untuk saat ini. Beliau satu-satunya orang Bali yang menjadi lulusan Cornell, sama dengan George Aditjondro yang terkenal dengan bukunya Gurita Cikeas itu. Mereka berdua sama-sama didikan langsung Ben Anderson, Indonesianis yang pemikirannya tentang Indonesia banyak dijadikan rujukan oleh penulis lain di tingkat internasional.

Caping dan kritik terhadapnya membangun opini bahwa “Bacaan menunjukkan bangsa”.  Baru kali ini saya dengar ada opini seperti itu. Yang sering kita dengar adalah, bahasa menunjukkan bangsa. Saat kita diajarkan oleh orang tua kita untuk selalu berbahasa yang sopan kepada siapapun, karena dari bahasa kita, orang akan bisa menilai bagaimana kita dididik di sebuah keluarga, di lingkungan seperti apa kita bertumbuh.

Tetapi saat kualitas suatu bangsa, dinilai dari kegemaran bangsa tersebut pada suatu tulisan, dalam hal ini Caping karya GM, maka saat itulah kita mesti mengkritisi kembali, menanyakan diri kita, mengapa kita menyukai tulisan itu, dan apakah tulisan itu memang begitu besar pengaruhnya terhadap nilai-nilai kita, keseharian kita dan cara kita mendudukkan sebuah persoalan.

Saya tuliskan kutipan review singkat itu:

Caping dan Instatory

Mengapa esai2 Catatan pinggir (Caping) Gonawan Mohamad (GM) banyak disukai pembaca? Setelah mengenal Instagram, saya semakin sadar Caping GM ini persis dalam foto2 Instatory yang berganti setiap 15 detik…….

Digemarinya Caping GM tentu terhubung dengan pendidikan dasar kita yang bertujuan “tahu sedikit tentang banyak hal”. Sedikit Matematika, Sedikit Bahasa Inggris, sedikit olahraga, sedikit agama, sedikit Fisika. Pendidikan kita adalah pendidikan Instatory. Bukan “tahu banyak tentang sedikit hal” melainkan “tahu banyak, tapi per 15 detik saja”

Itu adalah review singkat yang mengusik keimanan saya. Karena saya mengoleksi hampir seluruh buku Caping GM, dan menganggap buku tersebut laksana sebuah kitab, yang menuntun saya dalam memandang sebuah masalah, persoalan bangsa maupun dunia. Setelah menenangkan perasaan , baru bisa saya melihat sedikit garis merah dari kritik itu, terutama kalau dikaitkan dengan sistem pendidikan di negara kita. Pendidikan yang menghendaki anak bangsanya tahu banyak hal, meski tak cukup dalam.

Generasi seperti apakah yang diharapkan dari sistem pendidikan seperti itu. Saya merasa mendapat pembenaran dari pernyataan ini. Saya yang dididik dalam sistem ini, tak salah kalau saya menggemari Caping. Seperti itulah jadinya kesimpulan yang bisa diambil oleh si empunya kritik. Pendidikan di negeri ini memang nyaris seperti yang dituliskan kritik tadi, begitu banyak mata pelajaran yang hendak dijejalkan ke kepala anak anak kita, seakan otak mereka adalah balon yang bisa berkembang untuk memuat semua yang diajarkan kepada mereka.

Ke depan sebaiknya kita bisa meniru negara lain yang sistem pendidikannya lebih baik dan terbukti menghasilkan generasi muda yang lebih berhasil. Anak anak cukup diberikan beberapa mata pelajaran wajib, dan sisanya pelajaran pilihan. Tapi perlu pengkajian yang mendalam saat memilih pelajaran mana yang termasuk pelajaran wajib itu. Saat ada wacana menghapus pelajaran sejarah kemarin, terlihat resistensi dari sebagian kalangan masyarakat yang tak menghendaki pelajaran tersebut dihilangkan.

Tapi seiring waktu saya melihat jumlah mata pelajaran di sekolah mulai dirampingkan. Mata pelajaran untuk anak anak saya yang masih SD terlihat tak terlalu banyak seperti zaman bapaknya dulu. Tapi ada yang sedikit mengusik saat saya membaca laporan hasil pendidikan semesteran mereka. Penilaian hasil ketuntasan pelajaran yang memisahkan antara kemampuan kognitif dan afektif anak terhadap pelajaran.

Penilaian kognitif pelajaran agama atau bahasa daerah misalnya, mungkin bisa melalui tes tertulis. Tetapi untuk menilai kemampuan afektif mereka, saya kira perlu usaha  yang cukup berat dari para guru untuk melakukannya. Syarat yang paling mutlak adalah kapasitas ruang kelas yang tak terlalu besar, maksimal dalam satu kelas diisi oleh 20 -25 orang, sehingga sang guru bisa lebih optimal untuk melakukan penilaian afektif dari anak didiknya. Tapi bagaimanapun juga kita mesti mengapresiasi sekecil apapun usaha ke arah kemajuan yang diambil pemangku kebijakan di bidang pendidikan nasional kita.

Mengaitkan kegemaran orang akan sebuah tulisan, hanya berdasarkan jenis pendidikan yang diterima, bagi saya juga terlalu menyederhanakan persoalan. Saya merasa kesukaan kita tentang banyak hal secara sepintas barangkali juga berhubungan dengan kecenderungan sosial kita. Orang akan lebih menghargai mereka yang punya banyak teman, dan untuk bisa mempunya banyak teman kita mesti menguasai banyak bahan pembicaraan meski secara sepintas. Di negeri ini pilihan untuk memilih sikap individualistis dianggap sebagai salah satu dosa tak termaafkan.

Kembali ke kritik terhadap tulisan GM tadi, saya merasa memang banyak orang berharap terlalu besar pada tulisan yang dibaca. Barangkali ada harapan besar bahwa setelah membaca sebuah tulisan, seseorang akan tercerahkan, bisa mengambil peran dalam masyarakat secara nyata. Saya sendiri memandang Caping sebagai karya sastra atau seni yang menyentuh jiwa, untuk itu tulisan itu saya beri nilai dengan sederhana. Seperti saat Sapardi ditanya tentang apa kelebihan puisi Chairil Anwar dibanding karya penyair lain seangkatannya. Jawabnya singkat : “Chairil mengenalkan kata-kata baru yang memperkaya khazanah bahasa nasional kita“.

Saya pribadi sangat menikmati tulisan Caping yang ditulis dengan gaya bercerita. Karena saya percaya sebuah cerita yang bagus ibarat pencuri ulung, yang menyelinap jauh ke dasar ingatan kita, mendekam di sana dalam waktu yang lama, dan setiap saat bisa kita panggil keluar saat dibutuhkan (AS.Laksana).

Cerita tentang Anne Frank yang tertangkap agen Nazi di rumahnya di Amsterdam, misalnya, atau kisah perbudakan yang memilukan di awal abad ke 19 di Bali Utara, dan juga riwayat pangeran aneh dari Mataram yang meninggalkan kemewahan kerajaan untuk menjadi rakyat biasa, dan dipergoki sedang menggali sumur di daerah Kroya. Kisah seperti itu sangat menyentuh hati saya, dan rasanya akan terus bersembunyi dengan manis di pojok ingatan saya, layaknya pencuri kelas wahid.

Kritik yang diajukan terhadap penulis kesukaan, apalagi yang diamini juga oleh penulis kesukaan saya, tentu tak seketika membuat si pengkritik tiba-tiba tak saya sukai lagi. Saya justru berterima kasih, karena ia memberikan sudut pandang lain yang tak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Tetapi, di sisi lain, saya berharap kritik itu juga bersifat memperbaiki, atau melengkapi, tak melulu menunjukkan kekurangan sebuah karya yang kita tahu pasti dibuat sepenuh hati oleh penciptanya.

Namun bagaimana pun, saya sendiri merasa pas sekali penggambaran tentang penyuka Caping yang tahu banyak tapi sedikit-sedikit. Penggambaran itu sungguh pas juga dialamatkan ke  diri saya sendiri. Namun, sebagai tamatan S1 saya merasa cukup puas dengan hidup saya saat ini, sebagai kelas menengah di masyarakat dengan peran yang saya anggap sesuai dengan kapasitas saya.  Tetapi saya punya banyak teman yang juga penyuka Caping GM berhasil di profesinya, juga bisa aktif di berbagai kegiatan lain, semacam kegiatan sosial, dan sekaligus menjadi pimpinan sebuah institusi yang cukup besar.

Untuk situasi ini saya teringat sebuah pesan dari seorang ilmuwan Amerika yang saya lupa namanya. “Nak, untuk bisa menjadi seseorang yang sukses dalam kehidupanmu, kuasailah satu bidang secara mendalam, lalu ketahuilah banyak bidang lain secukupnya, niscaya kehidupanmu akan paripurna”.

Jadi kita bisa tetap membaca Caping dengan gembira, tanpa mengurangi keseriusan kita di bidang yang kita tekuni. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Next Post

Pikiran, Kunci Sehat di Tahun 2021

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Pikiran, Kunci Sehat di Tahun 2021

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co