4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Melajah Kalah”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
April 25, 2024
in Esai
“Melajah Kalah”

Darma Permana (penulis)

SUDAH menjadi hakikat, bahwa semua orang di dunia adalah insan yang ingin menang. Entah menang dalam menjalin sebuah hubungan, menang dalam suatu pertandingan, atau menang dalam menghadapi derasnya tantangan kehidupan. Mendapatkan kemenangan, menjadi simbolisasi dari kegemilangan, buah dari kebahagiaan, serta sumber dari segala keriuhan. Sehingga tidak jarang, apapun bisa diperbuat oleh seseorang untuk memperoleh substansi yang disebut dengan menang.

Hal sebaliknya terjadi pada kalah. Substansi kebalikan dari menang ini, bisa terbilang hal yang sangat dihindari. Kalah biasanya menjadi sumber dari kesedihan, alasan dari kepiluan, serta puncak dari kenestapaan. Tidak jarang hampir semua insan membenci kekalahan. Kalah bahkan sering disalahkan sebagai penyebab hancurnya mimpi-mimpi untuk mencapai kecemerlangan.

Namun pernahkah seseorang berpikir untuk kalah? Yap pemandangan inilah yang diri ini lihat ketika mendapati gerombolan anak kecil tengah bermain sepeda di gang Pura Dalem. Tampak seorang anak kecil sebut saja Made, diejek oleh teman-temannya karena memiliki sepeda yang berpenampilan butut. Muka merah, kesal, dan sedih menyelimuti wajah Made pada saat itu sambil mengusap – usap debu di sepedanya.

Tiba-tiba, datanglah seorang anak kecil lainnya dengan perawakan lebih tinggi menghampiri Made. Sebut saja anak itu bernama Nyoman, kemudian mengajak Made untuk balapan sepeda menuju depan Pura Dalem. Pertama-tama Made menolak, namun dengan rayuan Nyoman, Made akhirnya menyanggupi perlombaan tersebut.

Tidak disangka-sangka, Made memenangkan perlombaan sepeda tersebut. Seketika wajah muram Made, berubah menjadi wajah ceria penuh kebanggan. Teman-temannya, juga seakan dibungkam dan akhirnya balik memuji kecepatan sepedanya Made.

Di tengah pemandangan tersebut, alis di mata kiri ini tiba-tiba naik dengan sendirinya. Hal yang mengherankan adalah, ketika Nyoman juga tampak tersenyum dari kejauhan. Tidak terlihat wajah sedih, muram, atau bahkan kesal pada diri Nyoman. Ia bahkan juga ikut memuji Made sambil tertawa dengan bahagia bersama teman-temannya yang lain. Padahal secara realitas, ia tidak bisa menepis baru saja kalah dari temannya yang katanya memiliki sepeda butut.

Asumsi liar dalam Citta ini pun muncul. Apakah memang Nyoman sengaja mengalah? Apakah memang Made memiliki kemampuan yang lebih dalam bersepeda? Atau memang sepeda Made yang katanya butut lebih cepat dari punyanya Nyoman? Namun apapun asumsi diri ini, tetap saja yang menang akan tetaplah menang, yang kalah tetaplah kalah.

Setelah berpikir panjang, bibir pada diri ini akhirnya tersenyum. Sambil kedua tangan menyeluk ke kantong celana, serta mata tambah berbinar melihat anak-anak yang bermain penuh riang gembira, sanubari ini akhirnya terketuk dan berkata: “Nyoman sudah mengusai ilmu agung yang bernama ‘Melajah Kalah’.”

Esensi Melajah Kalah

‘Melajah Kalah’ adalah kosakata dalam bahasa Bali yang berarti ‘Belajar Kalah’. Di tengah berlomba-lombanya insan belajar untuk menang, melajah kalah adalah salah satu ilmu agung yang bisa dikuasai. Dengan belajar untuk kalah, seseorang akan dapat memaknai apa sesungguhnya arti dari kemenangan yang sesungguhnya.

Untuk apa seseorang harus belajar kalah? Bukanlah lebih elok untuk belajar menang untuk memperoleh substansi yang disebut cemerlang?

Satu hal yang terkadang sulit diterima oleh manusia adalah menerima kekalahan. Manusia terkadang selalu siap untuk bertanding, senantiasa berusaha untuk berjuang, dan tak kenal menyerah untuk memperoleh kemenangan. Padahal dibalik mengincar kemenangan, kemungkinan kalah pasti akan selalu menyertai, kemungkinan gagal pasti akan senantiasa menemani, dan kemungkinan salah pasti akan bisa terjadi.

Jadi Apakah salah ketika manusia sulit menerima kekalahan dan selalu mengincar kemenangan? Tidak, tidak ada yang salah! Bahkan di era saat ini, sikap pantang menyerah memang wajib dimiliki oleh setiap insan untuk benar-benar mencapai suatu tujuan. Namun yang perlu diingat! Sejarah selalu mencatat, bahwa orang yang selalu terpaku pada meraih kemenangan, tanpa mau belajar dari kekalahan dan kekurangan pasti berakhir dengan mengenaskan.

Testimoni Melajah Kalah

Catatan Histori pernah merekam, bahwa orang yang tidak mau belajar kalah, justru menjadikannya sarana dendam untuk meraih kemenangan dengan cara yang tidak wajar. Duryodhana, Ibu Kaikeyi, Sangkuni, serta tokoh Pewayangan lainnya sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan ketika persaingan meraih kekuasaan. Ketika kekalahan dirubah jadi sarana dendam dan iri hati, kemenangan pun berusaha diperoleh dengan cara menyingkirkan. Menang memang didapat, namun yang didapat adalah kemenangan semu, sementara, serta justru dibumbui akhir yang begitu menyakitkan.

Hal yang sebaliknya justru terjadi dengan pihak yang mau melajah kalah. Sang Dharmawangsa (Yudistira), Sang Rama, serta beberapa tokoh agung lainnya bisa dijadikan suri tauladan bagaimana seni menerima kekalahan. Tidak bisa terbantahkan, bahwa Pihak Pandawa yang diwakili Sang Dharmawangsa memang kalah saat bermain dadu dengan pihak Kurawa yang diwakili Paman Sangkuni.

Begitu juga dengan Sang Rama yang kalah dari sisi intrik Politik dan janji dengan Ibunya Kaikeyi untuk meraih kekuasaan. Namun perbedaannya adalah, keduanya mau belajar dan tersenyum menerima kekalahan, merenungi kesalahan dan kekeliruan, dan pada akhirnya mampu meraih kemenangan melalui cara yang semestinya. Pengasingan hasil dari kekalahan pun tidak menjadi ajang mereka untuk mencela diri, menabur dendam, atau bahkan berputus asa. Namun justru sebaliknya, pengasingan menjadi masa yang agung bagi tokoh – tokoh tersebut untuk mengintrospeksi diri meraih asa.

Tidak hanya pewayangan, hal yang sama juga terjadi pada beberapa tokoh sejarah, tokoh fabel, bahkan tokoh cerita rakyat yang tidak mau belajar dari kekalahan. Tidak lekang dari ingatan bagaimana cerita rakyat Bali ‘Men Sugih’ yang karena merasa kalah dari Men Tiwas, pada akhirnya berusaha menang dengan cara menipu dan berbohong kepada Kidang Emas yang dipercaya mampu memberikan kekayaan.

Begitu juga Ni Kasuna, yang merasa kalah dari saudaranya Ni Bawang pada akhirnya mulai memfitnah dan menyakiti diri sendiri untuk merasa dikasihani oleh Sang Cerucuk Kuning. Pada akhirnya nasib keduanya tetap sama, kedukaan dan kematian datang sebagai hadiahnya.

Puncak Melajah Kalah

  Dengan demikian, melajah kalah bukanlah ilmu biasa yang bisa dilewatkan begitu saja. Melajah kalah justru adalah ilmu agung, sebagai sumber dari datangnya hal yang luar biasa.

Namun sama seperti sebuah proses pembelajaran, malajah kalah bisa dikuasai dengan tekun dan terus berjuang dalam meraih barisan kekalahan. Karena pada saatnya tiba, melajah kalah akan mampu merubah tumpukan kekalahan jadi senyuman, serta berakhir dengan kemenangan yang sesungguhnya. “Jadi sudah siapkah diri ini melajah kalah?” Ujar diri ini dalam hati. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: pewayanganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Next Post

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co