4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Melajah Kalah”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
April 25, 2024
in Esai
“Melajah Kalah”

Darma Permana (penulis)

SUDAH menjadi hakikat, bahwa semua orang di dunia adalah insan yang ingin menang. Entah menang dalam menjalin sebuah hubungan, menang dalam suatu pertandingan, atau menang dalam menghadapi derasnya tantangan kehidupan. Mendapatkan kemenangan, menjadi simbolisasi dari kegemilangan, buah dari kebahagiaan, serta sumber dari segala keriuhan. Sehingga tidak jarang, apapun bisa diperbuat oleh seseorang untuk memperoleh substansi yang disebut dengan menang.

Hal sebaliknya terjadi pada kalah. Substansi kebalikan dari menang ini, bisa terbilang hal yang sangat dihindari. Kalah biasanya menjadi sumber dari kesedihan, alasan dari kepiluan, serta puncak dari kenestapaan. Tidak jarang hampir semua insan membenci kekalahan. Kalah bahkan sering disalahkan sebagai penyebab hancurnya mimpi-mimpi untuk mencapai kecemerlangan.

Namun pernahkah seseorang berpikir untuk kalah? Yap pemandangan inilah yang diri ini lihat ketika mendapati gerombolan anak kecil tengah bermain sepeda di gang Pura Dalem. Tampak seorang anak kecil sebut saja Made, diejek oleh teman-temannya karena memiliki sepeda yang berpenampilan butut. Muka merah, kesal, dan sedih menyelimuti wajah Made pada saat itu sambil mengusap – usap debu di sepedanya.

Tiba-tiba, datanglah seorang anak kecil lainnya dengan perawakan lebih tinggi menghampiri Made. Sebut saja anak itu bernama Nyoman, kemudian mengajak Made untuk balapan sepeda menuju depan Pura Dalem. Pertama-tama Made menolak, namun dengan rayuan Nyoman, Made akhirnya menyanggupi perlombaan tersebut.

Tidak disangka-sangka, Made memenangkan perlombaan sepeda tersebut. Seketika wajah muram Made, berubah menjadi wajah ceria penuh kebanggan. Teman-temannya, juga seakan dibungkam dan akhirnya balik memuji kecepatan sepedanya Made.

Di tengah pemandangan tersebut, alis di mata kiri ini tiba-tiba naik dengan sendirinya. Hal yang mengherankan adalah, ketika Nyoman juga tampak tersenyum dari kejauhan. Tidak terlihat wajah sedih, muram, atau bahkan kesal pada diri Nyoman. Ia bahkan juga ikut memuji Made sambil tertawa dengan bahagia bersama teman-temannya yang lain. Padahal secara realitas, ia tidak bisa menepis baru saja kalah dari temannya yang katanya memiliki sepeda butut.

Asumsi liar dalam Citta ini pun muncul. Apakah memang Nyoman sengaja mengalah? Apakah memang Made memiliki kemampuan yang lebih dalam bersepeda? Atau memang sepeda Made yang katanya butut lebih cepat dari punyanya Nyoman? Namun apapun asumsi diri ini, tetap saja yang menang akan tetaplah menang, yang kalah tetaplah kalah.

Setelah berpikir panjang, bibir pada diri ini akhirnya tersenyum. Sambil kedua tangan menyeluk ke kantong celana, serta mata tambah berbinar melihat anak-anak yang bermain penuh riang gembira, sanubari ini akhirnya terketuk dan berkata: “Nyoman sudah mengusai ilmu agung yang bernama ‘Melajah Kalah’.”

Esensi Melajah Kalah

‘Melajah Kalah’ adalah kosakata dalam bahasa Bali yang berarti ‘Belajar Kalah’. Di tengah berlomba-lombanya insan belajar untuk menang, melajah kalah adalah salah satu ilmu agung yang bisa dikuasai. Dengan belajar untuk kalah, seseorang akan dapat memaknai apa sesungguhnya arti dari kemenangan yang sesungguhnya.

Untuk apa seseorang harus belajar kalah? Bukanlah lebih elok untuk belajar menang untuk memperoleh substansi yang disebut cemerlang?

Satu hal yang terkadang sulit diterima oleh manusia adalah menerima kekalahan. Manusia terkadang selalu siap untuk bertanding, senantiasa berusaha untuk berjuang, dan tak kenal menyerah untuk memperoleh kemenangan. Padahal dibalik mengincar kemenangan, kemungkinan kalah pasti akan selalu menyertai, kemungkinan gagal pasti akan senantiasa menemani, dan kemungkinan salah pasti akan bisa terjadi.

Jadi Apakah salah ketika manusia sulit menerima kekalahan dan selalu mengincar kemenangan? Tidak, tidak ada yang salah! Bahkan di era saat ini, sikap pantang menyerah memang wajib dimiliki oleh setiap insan untuk benar-benar mencapai suatu tujuan. Namun yang perlu diingat! Sejarah selalu mencatat, bahwa orang yang selalu terpaku pada meraih kemenangan, tanpa mau belajar dari kekalahan dan kekurangan pasti berakhir dengan mengenaskan.

Testimoni Melajah Kalah

Catatan Histori pernah merekam, bahwa orang yang tidak mau belajar kalah, justru menjadikannya sarana dendam untuk meraih kemenangan dengan cara yang tidak wajar. Duryodhana, Ibu Kaikeyi, Sangkuni, serta tokoh Pewayangan lainnya sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan ketika persaingan meraih kekuasaan. Ketika kekalahan dirubah jadi sarana dendam dan iri hati, kemenangan pun berusaha diperoleh dengan cara menyingkirkan. Menang memang didapat, namun yang didapat adalah kemenangan semu, sementara, serta justru dibumbui akhir yang begitu menyakitkan.

Hal yang sebaliknya justru terjadi dengan pihak yang mau melajah kalah. Sang Dharmawangsa (Yudistira), Sang Rama, serta beberapa tokoh agung lainnya bisa dijadikan suri tauladan bagaimana seni menerima kekalahan. Tidak bisa terbantahkan, bahwa Pihak Pandawa yang diwakili Sang Dharmawangsa memang kalah saat bermain dadu dengan pihak Kurawa yang diwakili Paman Sangkuni.

Begitu juga dengan Sang Rama yang kalah dari sisi intrik Politik dan janji dengan Ibunya Kaikeyi untuk meraih kekuasaan. Namun perbedaannya adalah, keduanya mau belajar dan tersenyum menerima kekalahan, merenungi kesalahan dan kekeliruan, dan pada akhirnya mampu meraih kemenangan melalui cara yang semestinya. Pengasingan hasil dari kekalahan pun tidak menjadi ajang mereka untuk mencela diri, menabur dendam, atau bahkan berputus asa. Namun justru sebaliknya, pengasingan menjadi masa yang agung bagi tokoh – tokoh tersebut untuk mengintrospeksi diri meraih asa.

Tidak hanya pewayangan, hal yang sama juga terjadi pada beberapa tokoh sejarah, tokoh fabel, bahkan tokoh cerita rakyat yang tidak mau belajar dari kekalahan. Tidak lekang dari ingatan bagaimana cerita rakyat Bali ‘Men Sugih’ yang karena merasa kalah dari Men Tiwas, pada akhirnya berusaha menang dengan cara menipu dan berbohong kepada Kidang Emas yang dipercaya mampu memberikan kekayaan.

Begitu juga Ni Kasuna, yang merasa kalah dari saudaranya Ni Bawang pada akhirnya mulai memfitnah dan menyakiti diri sendiri untuk merasa dikasihani oleh Sang Cerucuk Kuning. Pada akhirnya nasib keduanya tetap sama, kedukaan dan kematian datang sebagai hadiahnya.

Puncak Melajah Kalah

  Dengan demikian, melajah kalah bukanlah ilmu biasa yang bisa dilewatkan begitu saja. Melajah kalah justru adalah ilmu agung, sebagai sumber dari datangnya hal yang luar biasa.

Namun sama seperti sebuah proses pembelajaran, malajah kalah bisa dikuasai dengan tekun dan terus berjuang dalam meraih barisan kekalahan. Karena pada saatnya tiba, melajah kalah akan mampu merubah tumpukan kekalahan jadi senyuman, serta berakhir dengan kemenangan yang sesungguhnya. “Jadi sudah siapkah diri ini melajah kalah?” Ujar diri ini dalam hati. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: pewayanganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Next Post

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co