4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Melajah Kalah”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
April 25, 2024
in Esai
“Melajah Kalah”

Darma Permana (penulis)

SUDAH menjadi hakikat, bahwa semua orang di dunia adalah insan yang ingin menang. Entah menang dalam menjalin sebuah hubungan, menang dalam suatu pertandingan, atau menang dalam menghadapi derasnya tantangan kehidupan. Mendapatkan kemenangan, menjadi simbolisasi dari kegemilangan, buah dari kebahagiaan, serta sumber dari segala keriuhan. Sehingga tidak jarang, apapun bisa diperbuat oleh seseorang untuk memperoleh substansi yang disebut dengan menang.

Hal sebaliknya terjadi pada kalah. Substansi kebalikan dari menang ini, bisa terbilang hal yang sangat dihindari. Kalah biasanya menjadi sumber dari kesedihan, alasan dari kepiluan, serta puncak dari kenestapaan. Tidak jarang hampir semua insan membenci kekalahan. Kalah bahkan sering disalahkan sebagai penyebab hancurnya mimpi-mimpi untuk mencapai kecemerlangan.

Namun pernahkah seseorang berpikir untuk kalah? Yap pemandangan inilah yang diri ini lihat ketika mendapati gerombolan anak kecil tengah bermain sepeda di gang Pura Dalem. Tampak seorang anak kecil sebut saja Made, diejek oleh teman-temannya karena memiliki sepeda yang berpenampilan butut. Muka merah, kesal, dan sedih menyelimuti wajah Made pada saat itu sambil mengusap – usap debu di sepedanya.

Tiba-tiba, datanglah seorang anak kecil lainnya dengan perawakan lebih tinggi menghampiri Made. Sebut saja anak itu bernama Nyoman, kemudian mengajak Made untuk balapan sepeda menuju depan Pura Dalem. Pertama-tama Made menolak, namun dengan rayuan Nyoman, Made akhirnya menyanggupi perlombaan tersebut.

Tidak disangka-sangka, Made memenangkan perlombaan sepeda tersebut. Seketika wajah muram Made, berubah menjadi wajah ceria penuh kebanggan. Teman-temannya, juga seakan dibungkam dan akhirnya balik memuji kecepatan sepedanya Made.

Di tengah pemandangan tersebut, alis di mata kiri ini tiba-tiba naik dengan sendirinya. Hal yang mengherankan adalah, ketika Nyoman juga tampak tersenyum dari kejauhan. Tidak terlihat wajah sedih, muram, atau bahkan kesal pada diri Nyoman. Ia bahkan juga ikut memuji Made sambil tertawa dengan bahagia bersama teman-temannya yang lain. Padahal secara realitas, ia tidak bisa menepis baru saja kalah dari temannya yang katanya memiliki sepeda butut.

Asumsi liar dalam Citta ini pun muncul. Apakah memang Nyoman sengaja mengalah? Apakah memang Made memiliki kemampuan yang lebih dalam bersepeda? Atau memang sepeda Made yang katanya butut lebih cepat dari punyanya Nyoman? Namun apapun asumsi diri ini, tetap saja yang menang akan tetaplah menang, yang kalah tetaplah kalah.

Setelah berpikir panjang, bibir pada diri ini akhirnya tersenyum. Sambil kedua tangan menyeluk ke kantong celana, serta mata tambah berbinar melihat anak-anak yang bermain penuh riang gembira, sanubari ini akhirnya terketuk dan berkata: “Nyoman sudah mengusai ilmu agung yang bernama ‘Melajah Kalah’.”

Esensi Melajah Kalah

‘Melajah Kalah’ adalah kosakata dalam bahasa Bali yang berarti ‘Belajar Kalah’. Di tengah berlomba-lombanya insan belajar untuk menang, melajah kalah adalah salah satu ilmu agung yang bisa dikuasai. Dengan belajar untuk kalah, seseorang akan dapat memaknai apa sesungguhnya arti dari kemenangan yang sesungguhnya.

Untuk apa seseorang harus belajar kalah? Bukanlah lebih elok untuk belajar menang untuk memperoleh substansi yang disebut cemerlang?

Satu hal yang terkadang sulit diterima oleh manusia adalah menerima kekalahan. Manusia terkadang selalu siap untuk bertanding, senantiasa berusaha untuk berjuang, dan tak kenal menyerah untuk memperoleh kemenangan. Padahal dibalik mengincar kemenangan, kemungkinan kalah pasti akan selalu menyertai, kemungkinan gagal pasti akan senantiasa menemani, dan kemungkinan salah pasti akan bisa terjadi.

Jadi Apakah salah ketika manusia sulit menerima kekalahan dan selalu mengincar kemenangan? Tidak, tidak ada yang salah! Bahkan di era saat ini, sikap pantang menyerah memang wajib dimiliki oleh setiap insan untuk benar-benar mencapai suatu tujuan. Namun yang perlu diingat! Sejarah selalu mencatat, bahwa orang yang selalu terpaku pada meraih kemenangan, tanpa mau belajar dari kekalahan dan kekurangan pasti berakhir dengan mengenaskan.

Testimoni Melajah Kalah

Catatan Histori pernah merekam, bahwa orang yang tidak mau belajar kalah, justru menjadikannya sarana dendam untuk meraih kemenangan dengan cara yang tidak wajar. Duryodhana, Ibu Kaikeyi, Sangkuni, serta tokoh Pewayangan lainnya sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan ketika persaingan meraih kekuasaan. Ketika kekalahan dirubah jadi sarana dendam dan iri hati, kemenangan pun berusaha diperoleh dengan cara menyingkirkan. Menang memang didapat, namun yang didapat adalah kemenangan semu, sementara, serta justru dibumbui akhir yang begitu menyakitkan.

Hal yang sebaliknya justru terjadi dengan pihak yang mau melajah kalah. Sang Dharmawangsa (Yudistira), Sang Rama, serta beberapa tokoh agung lainnya bisa dijadikan suri tauladan bagaimana seni menerima kekalahan. Tidak bisa terbantahkan, bahwa Pihak Pandawa yang diwakili Sang Dharmawangsa memang kalah saat bermain dadu dengan pihak Kurawa yang diwakili Paman Sangkuni.

Begitu juga dengan Sang Rama yang kalah dari sisi intrik Politik dan janji dengan Ibunya Kaikeyi untuk meraih kekuasaan. Namun perbedaannya adalah, keduanya mau belajar dan tersenyum menerima kekalahan, merenungi kesalahan dan kekeliruan, dan pada akhirnya mampu meraih kemenangan melalui cara yang semestinya. Pengasingan hasil dari kekalahan pun tidak menjadi ajang mereka untuk mencela diri, menabur dendam, atau bahkan berputus asa. Namun justru sebaliknya, pengasingan menjadi masa yang agung bagi tokoh – tokoh tersebut untuk mengintrospeksi diri meraih asa.

Tidak hanya pewayangan, hal yang sama juga terjadi pada beberapa tokoh sejarah, tokoh fabel, bahkan tokoh cerita rakyat yang tidak mau belajar dari kekalahan. Tidak lekang dari ingatan bagaimana cerita rakyat Bali ‘Men Sugih’ yang karena merasa kalah dari Men Tiwas, pada akhirnya berusaha menang dengan cara menipu dan berbohong kepada Kidang Emas yang dipercaya mampu memberikan kekayaan.

Begitu juga Ni Kasuna, yang merasa kalah dari saudaranya Ni Bawang pada akhirnya mulai memfitnah dan menyakiti diri sendiri untuk merasa dikasihani oleh Sang Cerucuk Kuning. Pada akhirnya nasib keduanya tetap sama, kedukaan dan kematian datang sebagai hadiahnya.

Puncak Melajah Kalah

  Dengan demikian, melajah kalah bukanlah ilmu biasa yang bisa dilewatkan begitu saja. Melajah kalah justru adalah ilmu agung, sebagai sumber dari datangnya hal yang luar biasa.

Namun sama seperti sebuah proses pembelajaran, malajah kalah bisa dikuasai dengan tekun dan terus berjuang dalam meraih barisan kekalahan. Karena pada saatnya tiba, melajah kalah akan mampu merubah tumpukan kekalahan jadi senyuman, serta berakhir dengan kemenangan yang sesungguhnya. “Jadi sudah siapkah diri ini melajah kalah?” Ujar diri ini dalam hati. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: pewayanganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Next Post

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co