24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Melajah Kalah”

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
April 25, 2024
in Esai
“Melajah Kalah”

Darma Permana (penulis)

SUDAH menjadi hakikat, bahwa semua orang di dunia adalah insan yang ingin menang. Entah menang dalam menjalin sebuah hubungan, menang dalam suatu pertandingan, atau menang dalam menghadapi derasnya tantangan kehidupan. Mendapatkan kemenangan, menjadi simbolisasi dari kegemilangan, buah dari kebahagiaan, serta sumber dari segala keriuhan. Sehingga tidak jarang, apapun bisa diperbuat oleh seseorang untuk memperoleh substansi yang disebut dengan menang.

Hal sebaliknya terjadi pada kalah. Substansi kebalikan dari menang ini, bisa terbilang hal yang sangat dihindari. Kalah biasanya menjadi sumber dari kesedihan, alasan dari kepiluan, serta puncak dari kenestapaan. Tidak jarang hampir semua insan membenci kekalahan. Kalah bahkan sering disalahkan sebagai penyebab hancurnya mimpi-mimpi untuk mencapai kecemerlangan.

Namun pernahkah seseorang berpikir untuk kalah? Yap pemandangan inilah yang diri ini lihat ketika mendapati gerombolan anak kecil tengah bermain sepeda di gang Pura Dalem. Tampak seorang anak kecil sebut saja Made, diejek oleh teman-temannya karena memiliki sepeda yang berpenampilan butut. Muka merah, kesal, dan sedih menyelimuti wajah Made pada saat itu sambil mengusap – usap debu di sepedanya.

Tiba-tiba, datanglah seorang anak kecil lainnya dengan perawakan lebih tinggi menghampiri Made. Sebut saja anak itu bernama Nyoman, kemudian mengajak Made untuk balapan sepeda menuju depan Pura Dalem. Pertama-tama Made menolak, namun dengan rayuan Nyoman, Made akhirnya menyanggupi perlombaan tersebut.

Tidak disangka-sangka, Made memenangkan perlombaan sepeda tersebut. Seketika wajah muram Made, berubah menjadi wajah ceria penuh kebanggan. Teman-temannya, juga seakan dibungkam dan akhirnya balik memuji kecepatan sepedanya Made.

Di tengah pemandangan tersebut, alis di mata kiri ini tiba-tiba naik dengan sendirinya. Hal yang mengherankan adalah, ketika Nyoman juga tampak tersenyum dari kejauhan. Tidak terlihat wajah sedih, muram, atau bahkan kesal pada diri Nyoman. Ia bahkan juga ikut memuji Made sambil tertawa dengan bahagia bersama teman-temannya yang lain. Padahal secara realitas, ia tidak bisa menepis baru saja kalah dari temannya yang katanya memiliki sepeda butut.

Asumsi liar dalam Citta ini pun muncul. Apakah memang Nyoman sengaja mengalah? Apakah memang Made memiliki kemampuan yang lebih dalam bersepeda? Atau memang sepeda Made yang katanya butut lebih cepat dari punyanya Nyoman? Namun apapun asumsi diri ini, tetap saja yang menang akan tetaplah menang, yang kalah tetaplah kalah.

Setelah berpikir panjang, bibir pada diri ini akhirnya tersenyum. Sambil kedua tangan menyeluk ke kantong celana, serta mata tambah berbinar melihat anak-anak yang bermain penuh riang gembira, sanubari ini akhirnya terketuk dan berkata: “Nyoman sudah mengusai ilmu agung yang bernama ‘Melajah Kalah’.”

Esensi Melajah Kalah

‘Melajah Kalah’ adalah kosakata dalam bahasa Bali yang berarti ‘Belajar Kalah’. Di tengah berlomba-lombanya insan belajar untuk menang, melajah kalah adalah salah satu ilmu agung yang bisa dikuasai. Dengan belajar untuk kalah, seseorang akan dapat memaknai apa sesungguhnya arti dari kemenangan yang sesungguhnya.

Untuk apa seseorang harus belajar kalah? Bukanlah lebih elok untuk belajar menang untuk memperoleh substansi yang disebut cemerlang?

Satu hal yang terkadang sulit diterima oleh manusia adalah menerima kekalahan. Manusia terkadang selalu siap untuk bertanding, senantiasa berusaha untuk berjuang, dan tak kenal menyerah untuk memperoleh kemenangan. Padahal dibalik mengincar kemenangan, kemungkinan kalah pasti akan selalu menyertai, kemungkinan gagal pasti akan senantiasa menemani, dan kemungkinan salah pasti akan bisa terjadi.

Jadi Apakah salah ketika manusia sulit menerima kekalahan dan selalu mengincar kemenangan? Tidak, tidak ada yang salah! Bahkan di era saat ini, sikap pantang menyerah memang wajib dimiliki oleh setiap insan untuk benar-benar mencapai suatu tujuan. Namun yang perlu diingat! Sejarah selalu mencatat, bahwa orang yang selalu terpaku pada meraih kemenangan, tanpa mau belajar dari kekalahan dan kekurangan pasti berakhir dengan mengenaskan.

Testimoni Melajah Kalah

Catatan Histori pernah merekam, bahwa orang yang tidak mau belajar kalah, justru menjadikannya sarana dendam untuk meraih kemenangan dengan cara yang tidak wajar. Duryodhana, Ibu Kaikeyi, Sangkuni, serta tokoh Pewayangan lainnya sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan ketika persaingan meraih kekuasaan. Ketika kekalahan dirubah jadi sarana dendam dan iri hati, kemenangan pun berusaha diperoleh dengan cara menyingkirkan. Menang memang didapat, namun yang didapat adalah kemenangan semu, sementara, serta justru dibumbui akhir yang begitu menyakitkan.

Hal yang sebaliknya justru terjadi dengan pihak yang mau melajah kalah. Sang Dharmawangsa (Yudistira), Sang Rama, serta beberapa tokoh agung lainnya bisa dijadikan suri tauladan bagaimana seni menerima kekalahan. Tidak bisa terbantahkan, bahwa Pihak Pandawa yang diwakili Sang Dharmawangsa memang kalah saat bermain dadu dengan pihak Kurawa yang diwakili Paman Sangkuni.

Begitu juga dengan Sang Rama yang kalah dari sisi intrik Politik dan janji dengan Ibunya Kaikeyi untuk meraih kekuasaan. Namun perbedaannya adalah, keduanya mau belajar dan tersenyum menerima kekalahan, merenungi kesalahan dan kekeliruan, dan pada akhirnya mampu meraih kemenangan melalui cara yang semestinya. Pengasingan hasil dari kekalahan pun tidak menjadi ajang mereka untuk mencela diri, menabur dendam, atau bahkan berputus asa. Namun justru sebaliknya, pengasingan menjadi masa yang agung bagi tokoh – tokoh tersebut untuk mengintrospeksi diri meraih asa.

Tidak hanya pewayangan, hal yang sama juga terjadi pada beberapa tokoh sejarah, tokoh fabel, bahkan tokoh cerita rakyat yang tidak mau belajar dari kekalahan. Tidak lekang dari ingatan bagaimana cerita rakyat Bali ‘Men Sugih’ yang karena merasa kalah dari Men Tiwas, pada akhirnya berusaha menang dengan cara menipu dan berbohong kepada Kidang Emas yang dipercaya mampu memberikan kekayaan.

Begitu juga Ni Kasuna, yang merasa kalah dari saudaranya Ni Bawang pada akhirnya mulai memfitnah dan menyakiti diri sendiri untuk merasa dikasihani oleh Sang Cerucuk Kuning. Pada akhirnya nasib keduanya tetap sama, kedukaan dan kematian datang sebagai hadiahnya.

Puncak Melajah Kalah

  Dengan demikian, melajah kalah bukanlah ilmu biasa yang bisa dilewatkan begitu saja. Melajah kalah justru adalah ilmu agung, sebagai sumber dari datangnya hal yang luar biasa.

Namun sama seperti sebuah proses pembelajaran, malajah kalah bisa dikuasai dengan tekun dan terus berjuang dalam meraih barisan kekalahan. Karena pada saatnya tiba, melajah kalah akan mampu merubah tumpukan kekalahan jadi senyuman, serta berakhir dengan kemenangan yang sesungguhnya. “Jadi sudah siapkah diri ini melajah kalah?” Ujar diri ini dalam hati. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tumpek Krulut Adopsi Hari Valentine?
Rwa Bhineda Pasti Ada
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni
Tags: pewayanganrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Memelihara Wadak, Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan di Desa Mengani

Next Post

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co