3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 9, 2024
in Esai
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Gambar Harmonisasi Rangkaian Hari Suci Nyepi di Bali (Diambil dari Rekaman Winduswastika, 2024)

“Saat semua semakin cepat, Bali berani berhenti dan menyepi.”

Seperti itulah salah satu kutipan lirik lagu Navicula yang di bulan Maret akan selalu bergema. Lirik sederhana yang menjadi simbolis curhatan keagungan, curhatan keistimewaan, dan curhatan kedamaian. Segala curhatan untuk Bali sebagai pulau suci yang dikenal sebagai The Last Paradise. Bukan semata-mata karena alamnya, bukan semata-mata karena pariwisatanya, bukan juga soal budaya, adat, dan tradisinya. Hal ini tentang Nyepi, hakikat yang diyakini bisa merangkul segalanya.

Menimbang sifatnya yang bisa merangkul semua, tak pelak menjadikan Nyepi juga menggaet hitam dan putih. Di satu sisi, Nyepi begitu dikagumi karena menjadi hakikat pemberi kedamaian dalam satu hari. Ia mampu menghemat listrik, menahan adanya Sang Bhuta Polusi, serta mampu memberikan ruang bagi alam untuk tertawa kembali. Namun di sisi lain, Nyepi ternyata juga mampu mengundang ketidaknyamanan dan ketidaktahanan bagi beberapa oknum, sang pembuat keriuhan.

Tidak lepas dari ingatan, beberapa kasus keriuhan muncul menyertai hari suci Nyepi. Dari oknum fans sepak bola yang menghina Nyepi karena layanan televisi dan internet dihentikan sementara, kasus bule yang adu mulut dengan Pecalang karena mengalami kemacetan saat prosesi Nyepi yaitu Melasti, bahkan yang paling populis adalah oknum warga di Desa Sumberklampok yang membuka portal secara paksa untuk dapat pergi ke Pantai Segara Rupek di hari H Nyepi (Adnyana, 2023).

Tidak jauh berbeda dengan dunia nyata, dunia maya bahkan jauh lebih mengerikan. Tidak lepas dari ingatan ketika Pawai Ogoh-ogoh serangkaian Nyepi di Jakarta pada tahun 2023 lalu dikaitkan dengan festival penyembah setan di Brazil. Lebih lanjut di platform media sosial “X”, juga menampilkan oknum yang bercuit menggiring opini, bahwa Nyepi sebagai suatu budaya telah melarang umat Muslim menjalankan ajaran agamanya, yaitu Shalat Tarawih. Padahal berkaca dari sisi kesepakatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali dan yang sudah biasa berlaku di Bali, umat Muslim saat Nyepi tetap diperkenankan menjalankan Shalat Tarawih ke Masjid dengan himbauan berjalan kaki, serta diharapkan tidak memakai pengeras suara.

Jadi dari semua keriuhan tersebut, apakah memang benar Nyepiadalah sekedar budaya yang tidak boleh melangkahi agama? Dan Apakah seruan antara Nyepi dan toleransi hanya sekedar basa-basi?

Nyepi adalah Relasi Agama dan Budaya itu Sendiri

Menurut Clyde Kluckhohn, sistem religi yang dalam hal ini agama, merupakan salah satu bagian dari tujuh (7) unsur kebudayaan secara universal. Budaya adalah hakikat kompleks yang menyangkut tentang hasil olah budi-daya manusia berupa cipta, rasa, dan karsa. Sementara agama, lahir sebagai bagian dari dimensi budaya yang secara khusus memberikan pedoman keyakinan serta sistem pengatur tata cara peribadatan umat manusia di dunia (Sutarji, 2007).

Dari sisi landasan teologis, Nyepi secara konkret didasarkan pada sumber-sumber pustaka suci yang diyakini oleh umat Hindu. Hal ini dibuktikan dengan adanya Lontar Sri Jaya Kasunu, Lontar Sundarigama, dan Lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang memberikan pedoman umat Hindu untuk melaksanakan Nyepi beserta rangkaiannya (Gateri, 2021). Sehingga sudah jelas bahwa Nyepi bukan hanya sekedar budaya yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Melainkan Ia adalah hakikat dari relasi antara agama dan budaya, yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Sebagai contoh tentang tujuan Upacara Melasti sebagai awalan dari rangkaian hari suci Nyepi. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala tertuang kutipan suci sebagai berikut: “Melasti ngarania ngiring prawatek Dewata anganyut aken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana.” yang terjemahannya: Melasti merupakan aktivitas mengiringi Para Dewata, guna menumbuhkembangkan sraddha dan bhakti kepada Tuhan, menghanyutkan segala kenestapaan dunia, penderitaan masyarakat, serta kotoran alam semesta (Gaduh & Ambarnuari, 2020).

Lebih lanjut tentang Tawur Agung Kesanga dan Nyepi yang terlaksana di Sasih Kadasa, dalam Lontar Seri Aji Kasanu disebutkan: ”….ring tileming sasih kesanga, patut maprakerti caru tawur wastanya, sadulur Nyepi awengi…” yang terjemahannya bahwa pada hari Tilem Sasih Kesanga, umat manusia wajib melaksanakan upacara Bhuta Yadnya, yaitu persembahan Caru yang dikenal dengan istilah Tawur. Disambung dengan perayaan Nyepi satu malam, dimana umat manusia diarahkan untuk melaksanakan Catur Bratha Penyepian yang terdiri atas: Amati Gni (Tidak menyalakan api, Amati Karya (Tidak boleh bekerja), Amati Lelanguan (Tidak boleh berhura-hura), dan Amati Lelungan (Tidak boleh bepergian).

Kemudian terakhir dari sisi praktis, pelaksanaan waktu dan sistematika rangkaian hari suci Nyepi tetap disesuaikan dengan adat, tradiri, dan budaya masyarakat setempat. Pelaksanaan prosesi Nyepi senantiasa bersifat fleksibel dengan tetap bersandar pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dikenal dengan Desa Mawicara, dimana umat Hindu dalam melaksanakan Penyepian selalu taat pada aturan tanah yang sedang mereka pijak, dan langit yang sedang mereka sedang junjung. Relasi agama dan budaya inilah yang pada hakikatnya menjadikan Nyepi istimewa.

Wajah Asli Nyepi adalah Ruang Harmoni

Disamping kasus-kasus dan berita miring tentang keriuhan, Nyepi pada hakikatnya merupakan ruang yang harmoni untuk menbar kedamaian. Sebagai bagian dari keluarga besar pulau Dewata, Nyepi beserta rangkaiannya sesungguhnya sudah lumrah dirasakan oleh semua pihak tanpa memandang latar belakang. Bahkan dengan kekhasan budayanya, Bali melalui Nyepi memberikan pandangan bahwa inilah hakikat Toleransi yang sesungguhnya. Bukan hanya sekedar riuk dari teori-teori belaka.

Dalam prosesi Nyepi, tidak jarang ditemukan pemandangan ibu-ibu berhijab yang memberikan minuman gratis pada umat Hindu yang sedang berjalan kaki menuju pantai saat Melasti. Terlihat juga pemandangan suara gong dan suara rebab yang saling bersahutan di penyambutan Hari Suci Nyepi yang berbarengan dengan Bulan Suci Ramadhan. Serta hal paling lumrah, pemandangan Pecalang (Pihak keamanan dari sisi adat) yang turut memberikan jaminan keamanan saat umat Muslim melaksanakan Shalat Tarawih di Hari Suci Nyepi. 

Di dunia maya juga tidak mau kalah. Tidak jarang ada cuitan dari warganet yang mengagumi budaya Nyepi akan prosesinya yang beragam. Banyak warganet juga bersiul ingin melihat pawai Ogoh-ogoh dan turut merasakan sensasi Nyepi satu hari di Bali. Hal ini juga ditambah, dengan mulai munculnya daerah-daerah luar Bali yang berkenan memberikan ruang terbuka bagi umat Hindu untuk melaksanakan proses Melasti, pawai Ogoh-ogoh, hingga Nyepi.

Jadi dapat disimpulkan, entah keriuhan atau kedamaian adalah sisi yang pasti akan selalu mengiringi Nyepi di setiap eksistensi. Sekarang kembali lagi pada pilihan masing-masing Citta untuk apakah lebih fokus di keriuhannya? atau kedamaiannya? Terlebih ketika sudah mengenal baik Nyepi sebagai hakikat yang merangkul semua. Terlebih tahu bahwa Nyepi lahir dari relasi agama dan budaya yang begitu istimewa. Pilihan terbaik tentunya adalah memancarkan wajah Nyepi, sebagai relasi agama dan budaya untuk harmoni. [T]

Sumber Referensi:

Gaduh, A. W. & Ambarnuari, M. (2020). Perayaan Hari Suci Nyepi sebagai Implementasi Ajaran Yoga. Jurnal Yoga dan Kesehatan, 3(1): 22-37.

Gateri, N. W. (2021). Makna Hari Raya Nyepi sebagai Peningkatan Spiritual. Jurnal Ilmu Agama dan Budaya Hindu, 19(2): 150-162.

Sutardi, Tedi. 2007. Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Bahasa. Bandung: PT Setia Purna Inves.

BACA artikel lain tentang HARI NYEPI atau esai/opini lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
3 Berita Baik dari Buleleng Barat, Setelah Ribut-ribut Nyepi di Sumberklampok
Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?
Perayaan Nyepi di (Kota Budaya) Surakarta: Berbeda dan Meriah
Tags: baliHari Raya NyepihinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Next Post

Perempuan Dalam Politik Indonesia

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Perempuan Dalam Politik Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co