12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
March 8, 2024
in Esai
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Bantal Bleleng | Foto: The Catar Cottage

APA yang paling ikonik dari perayaan Nyepi di Nusa Penida (NP)? Jika ditanyakan kepada generasi NP tahun 80-an dan 90-an, maka jawabannya ialah bantal bleleng. Jajan ini seolah-olah wajib ada saat Nyepi—meskipun sudah berlimpahan pangan lainnya. Bantal bleleng dianggap penting, pelengkap dan penanda Nyepi. Sampai ada ungkapan (di kampung saya), “Tanpa bantal bleleng seperti tidak merayakan Nyepi”.

Kedengarannya dahsyat sekali. Ya, bantal bleleng memang mampu menguatkan kesadaran kolektif warga di kampung saya. Kesadaran untuk mengadakan bantal bleleng menjelang Nyepi secara berulang dan konsisten. Jadi, jangan heran jika setiap menjelang Nyepi, dapur-dapur warga bergelantungan dengan bantal bleleng.

Lalu, apa sih istimewanya bantal bleleng itu? Secara komposisi, sebetulnya mirip saja dengan bantal ketan pada umumnya. Ada parutan kelapa, kacang, dan pisang. Namun, perbedaan pokoknya ialah bahan utamanya yaitu bleleng. Bleleng adalah varietas sorgum (di Bali dikenal dengan nama jagung gimbal), satu kelas dengan tumbuhan serealia seperti padi, jagung dan gandum.

Biji bleleng mirip beras atau ketan. Akan tetapi, bentuknya lebih pendek, lebih besar, bulat dan montok. Sekilas, warnanya seperti beras merah. Tekstur bijinya lebih keras. Karena itu, dibutuhkan energi yang ekstra dalam proses pengolahannya menjadi bantal terutama saat proses penghalusan biji bleleng.

Untuk mendapatkan biji bleleng yang halus, bleleng harus ditumbuk berkali-kali di dalam lesung batu. Biji yang sudah halus direndam (kurang lebih setengah hari) agar tekstur bijinya menjadi lebih lunak.

Bleleng atau sorgum sedang berbuah | Foto: I Ketut Serawan

Selanjutnya, biji bleleng ditiriskan dan dijadikan adonan bersama parutan kelapa, kacang merah khas NP, garam secukupnya (tanpa gula) dan potongan buah pisang. Adonan ini dimasukkan ke dalam kulit bantal yang terbuat dari daun kelapa lalu diikat.

Nah, menunggu proses matang juga membutuhkan waktu ekstra. Adonan harus direbus dengan api kayu bakar kurang lebih 6 jam. Rentang waktu ini mampu menghasilkan bantal bleleng yang “lepah”, beraroma khas, dan layak dikonsumsi selama kurang lebih 2 hari.

Bantal bleleng memiliki cita rasa yang berbeda. Legit, permukaan luarnya lengket seperti sagu, dalamnya sedikit gesar/ pesak (kasar) dan rasanya sedikit hambar. Namun, rasa hambar ini tidak kentara karena ditopang oleh garam, rasa kacang merah dan manis buah pisang. Komposisi bahan inilah yang membangun satu kesatuan rasa bantal bleleng, yang sangat akrab, familiar dan favorit bagi lidah generasi NP tahun 80-an dan 90-an.

Mengapa Bantal Bleleng Menjadi Ikon Nyepi?

Seberapa hebat sih rasa bantal bleleng itu sesungguhnya? Mengapa mampu menjadi pangan ikonik perayaan Nyepi era anak NP 80-an dan 90-an? Jika ngomongin soal rasa tentu sangat personal dan relatif. Namun, ketika panganan itu mampu merebut (mencuri) lidah masyarakat secara masif,  kita harus angkat tangan. Dalam artian, lidah massal itu objektif menilai bahwa rasa bantal bleleng memang enak (favorit).   

Di luar faktor rasa, bantal bleleng juga memiliki kelebihan yakni hasil bumi lokal. Biji bleleng ditanam hampir oleh semua petani di NP. Biji bleleng ditanam dengan model tumpang sari, selang-seling di antara tumbuhan palawija lainnya seperti jagung, kacang merah dan singkong.  

Di antara palawija lainnya, bleleng termasuk tumbuhan kuat dan bandel. Tumbuhan asal Afrika ini memiliki daya adaptasi yang luas, toleran terhadap kekeringan, produktivitas tinggi, dan lebih tahan terhadap hama serta penyakit. Pohon bleleng mirip dengan jagung. Pohon dengan tinggi rata-rata 2,6-4 m dilapisi lilin (putih) yang tebal pada batang dan pelepah daunnya. Bleleng memiliki morfologi yang mencakup akar, batang, daun, tunas, bunga, dan biji.  

Dengan kelebihannya itu, bleleng sangat baik dan cocok hidup di NP yang kering dan berbatu kapur. Panen bleleng hampir tak pernah gagal. Masyarakat di kampung saya tidak perlu repot-repot mendatangkan biji bleleng dari luar daerah (seperti halnya ketan atau beras). Biji bleleng ada di sekitar warga. Jadi, secara ekonomi (biaya) sangat murah meriah. Dulu, kalau tidak punya bleleng sangat mudah dikasi gratis oleh tetangga. Pokoknya, tidak sampai membeli bahan (bleleng).

Selain faktor rasa dan ekonomis, bantal bleleng menjadi favorit (ikon) bisa jadi karena proses adaptasi lidah kelompok. Karena panganan itu dekat dan selalu diadakan, cepat atau lambat lidah suatu kelompok itu akan terbiasa merasakan enaknya bantal bleleng.

Cita rasa lidah yang sama, memberikan kesempatan kepada bleleng untuk terus eksis ditanam di ladang-ladang warga. Sama halnya dengan jagung dan singkong di NP. Jagung dan singkong merupakan makanan pokok (nasi) bagi masyarakat NP. Kedua palawija ini tidak pernah absen ditanam oleh para petani di NP.

Faktor ikonik lainnya ialah bantal bleleng termasuk jajan yang mungkin paling awet pada zamannya. Zaman ketika kulkas belum merambah ke rumah-rumah warga. Mungkin satu-satunya jajan yang bisa bertahan sampai 2 harian ialah bantal bleleng.  

Jadi, kuat dugaan bahwa unsur keawetan ini menyebabkan bantal bleleng menjadi panganan favorit dan ikonik saat Nyepi. Ya, karena bantal bleleng sejalan dengan spirit (salah satu aspek) Catur Berata Penyepian yaitu tidak boleh menyalakan api. Maksudnya, selama Nyepi bantal bleleng memang tidak perlu lagi bersentuhan dengan api.  

Menyalakan api zaman tahun 80-an dan 90-an, sangat riskan bagi warga. Pasalnya, setiap warga masih menggunakan api kayu bakar. Bisa dibayangkan bukan kalau api menyala? Asapnya akan cepat meluber. Ini akan mengundang pecalang datang dan siap-siaplah terkena awig-awig denda desa adat. 

Bleleng atau sorgum sedang berbuah | Foto: I Ketut Serawan

Di samping awetnya, bantal bleleng juga ramah dikonsumsi oleh segala umur baik anak-anak, remaja termasuk orang tua. Hal ini tidak lepas dari kandungan nutrisi dari biji bleleng itu sendiri. Mungkin soal kandungan ini sedikit masyarakat yang menyadarinya, karena harus dibuktikan dengan research (penelitian).

Terkait dengan kandungan, ada berbagai sumber terpercaya yang menyebutkan bahwa bleleng (sorgum) memiliki kandungan Glikemik Indeks (zat gula) yang rendah tetapi nilai karbohidratnya ekuivalen dengan beras. Jenis karbohidrat yang dikandung oleh biji bleleng yaitu pati, gula terlarut, dan serat. Kandungan gula terlarut pada bleleng (sorgum) terdiri dari sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltosa. Selain itu, bleleng juga bebas gluten (senyawa protein).

Artinya, bleleng juga layak dijadikan makanan pokok. Namun, nyatanya bleleng tidak favorit dijadikan makanan pokok (nasi) di NP. Soal makanan pokok, nasib bleleng tidak seperti jagung dan singkong. Bleleng lebih khusus diolah menjadi jajan seperti jaja bleleng (seperti jaja kukus), bantal bleleng, dan tipat bleleng.

Namun, di antara berbagai olahan biji bleleng, batal bleleng dianggap paling favorit. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, bantal bleleng diberikan tempat khusus setiap pergantian tahun Caka. Momen yang disakralkan oleh masyarakat Bali, termasuk masyarakat NP. 

Karena itu, mengunyah bantal bleleng di hari Nyepi seperti ritual membangunkan kesadaran tubuh. Kesadaran tentang merayakan Nyepi. Kesadaran itu bertambah kuat ketika malam bertahta, sambil mendengar suara alam dan memandang langit. Dalam kondisi demikian, mengunyah bantal bleleng seperti mengunyah sepi dan damai.

Sayang, momen spiritual itu kini mengalami dinamika. Dalam 3 tahun belakangan ini, eksistensi bantal bleleng mulai oleng. Pasalnya, para petani sudah tak kuasa melawan hama burung pemakan biji bleleng. Puluhan burung perkutut, tekukur, perit, dan ratusan burung punan siap menjarah ketika pohon bleleng berbuah di ladang-ladang pak tani.   

Hama burung itu seperti tak terkendali. Akhirnya, dari 2 tahun terakhir ayah saya (termasuk petani lain) sama sekali tidak menanam biji bleleng. Artinya, besar kemungkinan Nyepi di NP pada masa mendatang tanpa bantal bleleng. Lalu, apa jadinya Nyepi tanpa bantal bleleng? Masihkan para warga menemukan esensinya di malam gelap sepi? Atau jangan-jangan esensi Nyepi akan diseret ke arah bimbang, menyimpang dan hilang terurai dalam perut-perut burung pemakan biji bleleng itu.[T]

NYEPI BUKAN PERAYAAN TAHUN BARU ŚAKA
“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali
Bukan Caka, tapi Saka – Selamat Tahun Baru Saka, Selamat Nyepi…
Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar…
Tags: bantal blelengHari Raya NyepiNusa PenidaNyepi 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan

Next Post

Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co