12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar…

Nyoman Noviantini by Nyoman Noviantini
March 8, 2019
in Esai
Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar…

Deru suara meja dorong, ketukan lembut perawat dan gemerisik hujan, membangunkanku dari tidurku.

Dinginnya pagi dan suara lembut ibuku menyambutku di pagi ini, dengan rasa pegal di sekujur tubuhku, aku duduk termenung mencoba mengembalikan kesadaranku. Mengingat-ingat kembali mimpiku, dan di mana tempat aku terbangun.

Ya, saat ini aku bermalam di rumah sakit, tepatnya RSUD Kabupaten Buleleng, bersama dengan ibu dan saudaraku. Sudah 7 hari kami bermalam di tempat ini, kali keempat sejak sebulan terakhir bapak dinyatakan opname karena sakit yang diidapnya. Tempat ini seakan menjadi rumah kedua bagi keluarga kami, sejak 25 tahun lalu bapak mengidap penyakit Diabetes Melitus yang tak heran menyebabkan ia berulang kali diopname di rumah sakit.

Hari ini merupakan Hari Raya Nyepi bagi kami umat Hindu di Bali, berbeda dengan tahun sebelumnya, Nyepi kali ini kami laksanakan di rumah sakit. Bukan kali pertama, kami melaksanakan Nyepi di tempat ini, beberapa tahun silam tepatnya di tahun 2011 kami juga melaksanakan Nyepi disini, dan oleh karena suatu sebab yang sama.

Hujan turun seakan tak mengenal waktu, dari pagi hingga malam hari, hanya sempat beberapa kali reda, akan tetapi turun kembali. Beberapa sudut tempat terasa lembab, lantai yang dingin semakin dingin, plafon yang bocor, cacing tanah yang bermunculan, nyamuk keluyuran hingga bau tak sedap dari sampah yang terkena hujan. Sedikit terasa menyiksa, bagi kami yang tidur di lantai, yang hanya beralaskan tikar dan kasur lantai setebal 5 cm. Cukup untuk membuat tubuh kami terasa pegal ketika pagi datang.

Perayaan Nyepi di tempat ini tak begitu terasa, beberapa petugas dan perawat menjalankan kewajibannya sebagai mana biasa, kantin senantiasa buka selama 24 jam. AC, lampu dan beberapa peralatan lainnya tetap dioperasikan, dan suara bising tetap terdengar.

Catur Bratha Penyepian tak dapat kami laksanakan disini, oleh karena bapak yang tidak bisa tidur di siang hari tanpa AC (ketika hujan reda), dan penanganan perawat yang tidak bisa dilakukan tanpa penerangan lampu di malam hari. Internet masih bisa kami akses di sini, semata-mata untuk menghubungi kakak pertamaku yang tidak bisa bergabung dengan kami hari ini di sini, berat baginya untuk tetap bekerja di hari Nyepi dengan keadaan bapak yang sedang dirawat di rumah sakit, disela-sela waktunya ia menghubungiku untuk sekadar tahu bagaimana perkembangan kesehatan bapak.

Dan sebagian dari kalian mungkin juga bertanya, mengapa aku bisa menulis ini dan mengapa aku tak menjalankan Catur Bratha Penyepian yang dimana adalah tentang pengendalian diri sendiri.

Di pagi hari ketika aku terbangun dan usai membersihkan diri, aku sudah diminta untuk pergi ke bagian PMI yang jaraknya cukup jauh untuk mengambil sekantung darah untuk bapak, sehingga Amati Lelungan (tidak berpergian) dalam Catur Bratha Penyepian sudah aku langgar (meskipun sebenarnya tidak keluar dari areal RSUD Kabupaten Buleleng).

Amati Geni (tidak menyalakan api) sudah dilanggar dari awal karena lampu di ruang kami tidak pernah mati dari malam sebelumnya. Amati Lelanguan (tidak berfoya-foya) dilanggar pada saat aku mulai mengaktifkan handphone dan mengakses internet untuk mengabari kakak, usai itulah aku tak dapat mengendalikan diri sehingga dari siang hingga sore hari aku hanya mengutak-atik handphone dan menonton video di youtube, sungguh pengakuan yang mempermalukan diri sendiri. Dan

Amati Karya (tidak bekerja) terasa dilanggar karena beberapa kali aku melakukan pekerjaan kecil seperti membantu ibu membersihkan rembesan air hujan yang masuk ruangan akibat lubang-lubang kecil, dan membereskan tempat sampah yang tak jauh dari ruang kami karena mulai tercium bau yang tak sedap.

Aku dan keluarga juga tidak berpuasa, kondisi kesehatan kami yang tidak memungkinkannya. Ibuku sempat pergi ke dokter tempo hari karena suhu tubuhnya tinggi dan flu menyerang. Akupun mulai pilek dari 2 hari yang lalu akibat cuaca yang tak bersahabat, beberapa kali berpergian diguyur hujan dan tidur yang tidak cukup di malam hari.

Hal ini menyebabkan kami harus mengosumsi obat untuk memulihkan kondisi kesehatan, sehingga tanpa makan terlebih dahulu kami tidak bisa meminum obat kami masing-masing. Mungkin bisa dikatakan sebagai alasan pembelaan diri, tapi bagaimanapun itu, inilah keadaan kami disini.

Apa yang aku rasakan hari ini, mungkin juga dirasakan oleh mereka yang juga berada di tempat yang sama denganku. Ketika menuju ke bagian PMI, aku melewati beberapa ruang yang keluarga penunggu pasien tidur di pinggiran luar ruangan. Rasa iba menghampiri benakku, di hari yang dingin mereka tidur di luar ruangan dan hanya dengan alas tikar tanpa kasur lantai. Rasa pegal di tubuh seakan hilang, rasa menyesal sudah mengeluh mulai bermunculan.

Masih banyak bahkan sebagian besar dari penunggu pasien di tempat ini tidur dan melakukan aktifitasnya di luar ruangan. Hal ini tentunya bukan merupakan pilihan bagi mereka dan juga kami, kondisi kesehatan salah satu keluarga yang menurun di saat yang salah menjadikan malam-malam yang kami lewati begitu menyiksa diri. Berat, namun harus dijalani…

Tak begitu banyak hal yang aku lakukan di hari ini, sebagian besarnya adalah tidur dan merenung ketika mulai bosan dengan handphone. Banyak hal yang aku pelajari selama disini, utamanya tentang kesabaran diri. Terhitung sejak Hari Raya Kuningan beberapa bulan lalu, kali pertama bapak diopname, sempat pulang beberapa kali namun kembali lagi kesini sebanyak 4 kali, yang bisa dihitung sudah sebulan kami disini. Bukan hal yang mudah untuk dijalani, tanpa kesabaran diri mungkin aku sudah lari.

Bagaimana tidak, dari 3 bersaudara aku adalah anak terakhir dan satu-satunya perempuan. Satu-satunya anak yang bisa diandalkan untuk merawat bapak yang belum bisa bangun dan berjalan hingga saat ini. Butuh pengendalian dan penyesuaian diri, dan juga tidak sebagai keluhan diri. Di beberapa hari pertama aku masih sering mengeluh, namun ketika kondisi bapak menurun dan sempat koma beberapa hari, menghadirkan ketakutan akan kehilangan. Menjadikan pelajaran dan intropeksi diri, bahwa apa yang dimiliki saat ini bisa pergi tanpa permisi…

Apa yang aku tulis disini bukanlah semata-mata sebagai keluhan dari isi hati, ataupun berbangga diri karena menjalani Nyepi yang berbeda. Tetapi lebih kepada berbagi cerita kepada kalian semua, sebagai cerminan bahwa aku dan semua orang yang ada disini, oleh karena keadaan tidak dapat melaksanakan Catur Bratha Penyepian sebagaimana yang bisa kalian lakukan di luar sana, yang dimana hal ini aku rasa sebagai dosa diri.

Dan juga tulisan ini sebagai kenangan di masa depan, bahwa aku pernah mengalami hal ini disini, sebagai ingatan yang tak pernah pudar, terlebih kepada support dari keluarga besar yang tak henti-hentinya selama kami berada disini, baik berupa moril maupun materiil.

Semoga, hal ini menjadi kali terakhir aku dan seluruh penunggu pasien yang ada disini merasakannya. Dan semoga kalian semua juga tidak pernah mengalami hal serupa, hari ini, esok, dan selamanya.
Singaraja, 7 Maret 2019

Tags: Hari Raya Nyepi
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar Ikhlas dari Pertiwi

Next Post

Di Pemuteran, Sekeha Teruna dan Pemuda Ansor Riang Bersama dalam Pawai Ogoh-ogoh

Nyoman Noviantini

Nyoman Noviantini

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Panji Sakti Singaraja. Pacaran sambil kuliah, suka jalan-jalan,

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Di Pemuteran, Sekeha Teruna dan Pemuda Ansor Riang Bersama dalam Pawai Ogoh-ogoh

Di Pemuteran, Sekeha Teruna dan Pemuda Ansor Riang Bersama dalam Pawai Ogoh-ogoh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co