23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar Ikhlas dari Pertiwi

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
March 6, 2019
in Esai
Belajar Ikhlas dari Pertiwi

JIKA alam semesta ini adalah ruang perenungan, sungguh melimpah sumber renungan yang tersaji apik – menampakkan dirinya. Sumber itu tidak jauh dari diri kita, keberadaan kita, keseharian kita, dekat sekali – nenten doh, paek sajan – kata tetua Bali.

Alam senantiasa menyiratkan pesan purba nun filosofis, membabarkan di depan mata kita semesta makna, yang tidak hanya bisa dilihat, diraba, dirasa, dicium baunya, tetapi juga dibaca, dipikirkan, direnungkan, dimaknai, dibathinkan dalam hening.

Kadang kita alpa belajar dari alam, sesuatu yang paling dekat. Terlalu jumawa manusia ini, menggurui alam, memunggungi alam, mengubah alam, hanya karena merasa punya pikiran yang canggih.

Kita juga bangga, belajar pikiran-pikiran besar para filsuf nun jauh di sana. Kita mencari ‘air spiritual’ pelega dahaga bathin nun jauh di sana. “Yang jauh di sana selalu lebih megah dari yang disini”. Begitu kebiasaan kita. Saya tidak belajar dari yang jauh di sana, tetapi yang dekat di sini. Sangat dekat, bahkan ia adalah aku!

Mari kita renungkan, adakah yang lebih ikhlas dari pertiwi – tanah? Adakah yang lebih nrimo daripada tanah? Pesan filosofis purba apa yang bisa kita singkap dari tanah? Bukankah kita menyebut ‘rumah’ bangsa kita ini tanah air?
Ada apa dengan tanah? Cukupkah tanah dibaca sebatas menghasilkan rupiah dengan cepat? Bukankah tanah memicu sumber konflik? Bukankah tanah dipergunjingkan oleh para pencari kuasa bangsa ini? Sudahkah mereka belajar dari tanah? Ada pertanyaan lagi? Cukup sampai di sini dulu.

Peradaban bathin dan spiritual Bali, sangat dekat dengan tanah sebagai sumber kehidupan. Tanah seolah menjadi guru spiritual mereka yang ‘diam’. Mereka selalu menyisakan kesadaran untuk menjaga keseimbangan, siklus alam, dengan sangat apik.

Cobalah simak ritual-ritual mereka, mantra-mantra mereka, seha-seha mereka, tidak jauh-jauh dari rasa syukur kepada semesta: ibu purba kita.

Bathin spiritual mereka, diperkaya kosa kata-kosa kata kosmik. Mereka tidak memperlakukan alam sebagai obyek, melainkan sebagai subyek. Mereka membiarkan alam hening sejenak – dalam waktu sehari (Nyepi) – memperbaiki raganya yang tercemar.

Tetua kita belajar, betapa alam punya cara sendiri menyembuhkan diri. Tak perlu dokter pikiran. Cukup jeda, di titik hening, nol, kosong, sipeng!

Begitu pula tanah – pertiwi, mengajarkan kita apa itu ikhlas – filsafat keikhlasan. Ada keikhlasan dalam unsur yang kasar. Bukan hanya di unsur yang halus. Kekasaran dan keikhlasan berhubungan sangat dekat.

Tanah tak pernah meminta jenis akar yang tumbuh, tanah tak pernah meminta jenis air yang meresap, tak pernah meminta jenis manusia yang dikubur, tak pernah jua meminta jenis makhluk renik yang berumah di dalamnya.

Coba kita buka lagi lembar-lembar teks Jawa Kuna khususnya bergenre tutur atau tatwa, di sana tanah dikisahkan sebagai unsur paling kasar dalam lingkar panca maha bhuta. Sebut saja yang paling halus adalah ether. Karakternya berada di puncak, meresapi semuanya, namun ia tidak diresapi apapun itu. Ether hanya punya satu kualitas halus: bunyi. Unsur yang halus, memiliki kualitas yang halus pula.

Memang teori-teori penciptaan dalam teks Jawa Kuna yang dipengaruhi filsafat Nyaya, Waisesika dan Sankhya, ada penjenjangan vertikal unsur-unsur materiil dari yang halus sampai kasar dengan kulitas masing-masing. Di sana disebutkan yang halus selalu meresap ke dalam yang kasar.

Menariknya, semakin kasar, justru memiliki kualitas yang lebih komplit. Sebagai unsur kasar, tanah disebut tidak meresapi apapun, tapi ia diresapi oleh apapun: air, udara, api, gas. Ia berada di dasar. Tidak seperti ether, air, dan api, tanah memiliki lima kualitas sekaligus: bunyi, sentuhan, bentuk, bau, dan rasa. Berbeda dengan ether yang hanya memiliki satu kualitas.

Di titik ini, tanah ibarat “rumah” segala asas, istana segala kualitas unsur-unsur halus. Tanah adalah ruang keragaman, kebhinekaan, keanekaan, tempat segala sesuatu yang plural. Tanah menerima segala unsur halus di dalamnya dengan sangat ikhlas. Di dalam dan di atas tanahlah segala sesuatu tumbuh, menumpuk.

Patimbhunan tatwa kabeh – begitu teks Dharma Patanjala. Ikang prthivitattva ya patimbunan ing tattwa kabeh”, begitu teks tutur lain menyebutnya. Tanah adalah tempat sarwa tatwa tumbuh sangat subur.

Meski ia disebut asas atau unsur yang paling kasar, tetapi tanah punya sifat menerima peresapan-peresapan unsur yang lebih halus darinya. Ia seolah tidak ‘punya sifat’ meresapi, tetapi ditakdirkan untuk menerima peresapan. Sifat menerima inilah yang bisa kita berikan kepada tanah.

Justru di dalam sifat menerima itulah, ia memiliki kualitas yang jamak – sarwa tatwa. Jika dibaca dengan perenungan, sebenarnya dari tanahlah kita bisa belajar banyak tentang kebhinekaan, keragaman, menumbuhkan sikap nrimo, ikhlas atas apapun yang meresapinya.

Jika memang di dalam raga sarira ini memiliki unsur pertiwi atau tanah di dalamnya, bukankah teks filosofis berjudul tanah itu sangat dekat dengan diri kita? Bahkan diri kita itu sendiri?

Mengapa kita lupa membaca dan memaknainya, atau belajar ikhlas darinya? Atau memang kesadaran kita cenderung ke puncak, ke atas, ke yang sangat halus dari yang halus? Ke yang jauh di sana? Padahal yang halus dari yang halus, ikut berumah di tanah.

Sekian, hormat dan pujaku pada pertiwi………..

Tags: filosofiHari Raya Nyepihindurenungan
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

Next Post

Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar…

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar…

Catatan Nyepi: Sedih, Saya di Rumah Sakit, Saya Melanggar...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co