23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
March 19, 2019
in Esai
“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

E.Alexander Power/Wikipedia

Dua tahun sesudah Perang Dunia I berakhir, seorang wartawan perang Amerika Serikat mendarat beserta rombongannya di Boeleleng dengan sedikit kecewa. Fasalnya, ia hanya menemui sebuah bandar yang sepi, berjarak kira-kira 3 mil dari pusat keresidenan di Singaraja.

Imajinasinya tentang sebuah sambutan dengan tari-tarian dari gadis-gadis pribumi yang bertelanjang dada membawa bebunga, segera buyar. Padahal sebelumnya, dari pejabat-pejabat Belanda di Makassar, ia telah dikabari akan keramahan eksotik yang bakal menyambut mereka begitu tiba di salah satu Pulau Surga di Insulinde Belanda itu.

“Kemana orang-orang” tanyanya pada seorang pemandu lokal keturunan China ketika mereka sudah berada di sebuah Concordia Club.

“Menjeepee,” terang si pemandu.

“Apakah itu semacam penyakit, seperti kolera? Hingga penduduk menghilang dari pemukiman?”

“Tidak ada kholera, menjeepee sejak fajar” kata si pemandu lagi.

Si wartawan akhirnya mahfum, ia datang pada hari yang tidak tepat untuk mewujudkan angan-angannya akan sebuah kemeriahan eksotis itu. Ia menulis, “Mereka menyebutnya Menjepee, yang secara harfiah berarti ‘diam’. Orang Bali adalah orang-orang Hindu terakhir yang tersisa di Kepulauan… Selama Menjepee, yang berlangsung dua puluh empat jam, tidak ada pribumi yang diizinkan ke luar tembok kampungnya kecuali alasan yang paling mendesak. Bahkan untuk itu dia harus mendapatkan izin dari pendetanya. Jika seseorang melanggar, dia diberi sangsi dengan cara dikucilkan di kampungnya…”

Tidak ada lagi yang dikatakan E.Alexander Power tentang menjeepee, kecuali upayanya untuk bisa ke Denpasar demi melihat keindahan dan kecantikan gadis-gadis insulinde sebagaimana telah ia dengar  dari orang-orang Belanda di Borneo dan Celebes. Ia memutuskan untuk pergi hari itu juga karena waktunya terbatas di Bali. Pemandu Chinanya, menyarankannya untuk bertemu Residen di Singaraja yang mungkin bisa memberi jalan keluar.

Ia mengisahkan bahwa pemandu China-nya mengatakan memang ada empat buah mobil di Boeleleng yang bisa membawanya ke Denpasar. Tetapi semua sopirnya orang Bali yang sedang Menjeepee. Tanpa pertolongan Residen, tak mungkin baginya mendapat tumpangan. Beruntung, Residen memberikan jalan keluar dengan mendekati seorang pendeta yang kemudian mengizinkan seorang warga untuk mengemudi kendaraan ke Denpasar membawa si wartawan itu.

Rupanya, menjeepee, seperti Hari Nyepi sekarang ini, bukanlah topik yang diminati oleh para pelancong Barat masa awal di Bali. Dari catatan Power ini kita juga tahu, menjeepee yang sakral, tidak menghalangi residen dan  pemimpin agama lokal untuk bernegosiasi. Mungkin itu semacam keramahan tropikal bagi si tuan putih yang menguasai bangsa kita kala itu.  

Kisah itu dipetik dari buku Where The Strange Trails Go Down bagian 7, dengan subjudul  Down To Island Eden yang khusus berisi catatan pengalaman Alexander Power singgah di pulau Bali. Dipublikasikan pertama kali pada Oktober 1921, buku ini merangkum semua pengalaman perjalanan Alexander Power ke Kepulauan Melayu. Berangkat dari Teluk Manila pada akhir Februari 1920, ia bersama rombongannya bertualang ke Sulu, Borneo, Celebes, Bali, Java, Sumatra, Semenanjung Melayu, Siam, Cambodia, Annam, dan Cochin-China dengan sebuah kapal Negros (kapal penjaga pantai Philipina) berkapasitas 150 ton,  tinggi 150 kaki, dan jumlah awak enam puluh orang.  

Selain dirinya dan nahkoda kapal bernama Kapten AB Galvez, ikut dalam rombongan itu Nyonya Winsome seorang dokter, kameramen John L. Hawkinson, tiga orang teman gubernur jenderal di Manila dan istrinya sendiri, nyonya Edward Alexander Power. Penuh gairah, ia menyebut perjalanan wisatanya itu sebagai perjalanan ke negeri-negeri asing. Di mana pulau-pulau sihir dan peri laut terapung di bawah kemuliaan matahari tropis.

Selama di Bali, perhatian Alexander Power lebih tertuju pada kemolekan alam yang menggetarkannya, kecantikan sawah-sawahnya, dan yang lebih utama profil biologis gadis-gadisnya. Dengan gaya bombastis, ia melukiskan wanita-wanita Bali laksana mawar nan semerbak di bawah matahari yang membuat kulit mereka sawo matang, lentur, dan postur lebih tinggi daripada wanita-wanita Melayu yang pernah ia lihat di Malaysia. Kemolekan tubuh wanita-wanita Bali, katanya, sudah tersohor hingga ke Malaysia, di antara pelaut-pelaut dan orang-orang Barat yang pernah mencapai Kepulauan.

Tidak begitu rinci penjelasannya mengenai kemolekan wanita Bali yang tersohor itu. Apakah karena erotikanya, atau karena hal lain. Namun dari catatan sejarah kita bisa mengerti, mungkin itu pengaruh popularitas budak-budak perempuan dari Bali yang mahal harganya di Batavia tempo dulu. Banyak dari mereka menjadi istri tak resmi orang-orang Eropa. Sejumlah dagh register telah mencatat perihal kasus-kasus yang menghebohkan berkaitan dengan hubungan asmara antara budak-budak itu dengan tuan Eropa-nya.

Barangkali, cerita-cerita semacam itulah yang didengar si wartawan perang ini ketika di Malaysia.  Ia memuji, betapa karakter perempuan Bali dianugerahi ketenangan, sepi dan tampak terhormat. Tubuh mereka dibungkus kain dari pinggang ke pergelangan kaki. Menampakan setiap garis dan kontur pinggul dan tungkai bawah yang aduhai. Tapi dari pinggang ke atas sepenuhnya telanjang.

Sekalipun demikian, ia juga melihat kehidupan mereka yang penuh resiko karena adanya kebiasaan membakar diri bersama mayat suami yang dibakar. Terutama bagi gadis-gadis muda yang bersuamikan lelaki tua. Wanita-wanita itu, kata Alexander Power terikat pada sumpah untuk ikut membakar diri. Larangan keras pemerintah Belanda, tidak sepenuhnya menghentikan praktek tersebut. Bahkan belum berselang lama dengan kedatangannya di Bali, ada dua perempuan yang meminta izin kepada raja Kloeng Kloeng membakar diri dalam prosesi pembakaran mayat suami mereka.

Wartawan Amerika ini mengaku tidak terlalu menikmati tari-tarian asli yang digelar oleh controleur di Kloeng Kloeng untuk menyambutnya. Namun ia mengagumi seni kostum mereka, gerakannya yang sulit, dan terlebih pula cara-cara komunitas desa mendukung pendanaan untuk menyediakan kostum bagi tarian itu.

Bali termasuk wilayah padat dalam amatannya. Setiap mil persegi, terdapat 325 penduduk. Daya tahan tubuh orang Bali menurutnya lebih baik dari orang-orang di pulau-pulau laut selatan, lantaran iklim yang sehat. Jadi populasi meningkat dengan cepat.  Kekurangan yang paling kentara adalah infrastruktur pelabuhan. Ia mengatakan, kapal-kapal Eropa jarang singgah di pulau ini lantaran kualitas pelabuhan-pelabuhan yang ada tidak memadai. Semasanya pemerintah Belanda belum mempunyai hotel, jadi ia menginap di sebuah pesanggrahan milik pemerintah yang buruk kondisinya.

Cukup mengejutkan, karena di bagian akhir catatannya ia berpendapat, lebih baik orang Bali tidak mempunyai pelabuhan besar, supaya pesonanya tetap tersembunyi. Sebab daya pikat pulau ini yang menurutnya lebih baik daripada bujukan seorang bankir di Amerika, pastilah akan mendatangkan mimpi buruk buat mereka sendiri jika pelaut-pelaut kulit putih menjambanginya. [T]

Tags: Amerika SerikatbaliHari Raya NyepiPariwisata
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Diskursus Kecil Ala ILC – Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

Next Post

Yang Kita Cari Adalah Hening

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Yang Kita Cari Adalah Hening

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co