2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
March 19, 2019
in Esai
“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

E.Alexander Power/Wikipedia

Dua tahun sesudah Perang Dunia I berakhir, seorang wartawan perang Amerika Serikat mendarat beserta rombongannya di Boeleleng dengan sedikit kecewa. Fasalnya, ia hanya menemui sebuah bandar yang sepi, berjarak kira-kira 3 mil dari pusat keresidenan di Singaraja.

Imajinasinya tentang sebuah sambutan dengan tari-tarian dari gadis-gadis pribumi yang bertelanjang dada membawa bebunga, segera buyar. Padahal sebelumnya, dari pejabat-pejabat Belanda di Makassar, ia telah dikabari akan keramahan eksotik yang bakal menyambut mereka begitu tiba di salah satu Pulau Surga di Insulinde Belanda itu.

“Kemana orang-orang” tanyanya pada seorang pemandu lokal keturunan China ketika mereka sudah berada di sebuah Concordia Club.

“Menjeepee,” terang si pemandu.

“Apakah itu semacam penyakit, seperti kolera? Hingga penduduk menghilang dari pemukiman?”

“Tidak ada kholera, menjeepee sejak fajar” kata si pemandu lagi.

Si wartawan akhirnya mahfum, ia datang pada hari yang tidak tepat untuk mewujudkan angan-angannya akan sebuah kemeriahan eksotis itu. Ia menulis, “Mereka menyebutnya Menjepee, yang secara harfiah berarti ‘diam’. Orang Bali adalah orang-orang Hindu terakhir yang tersisa di Kepulauan… Selama Menjepee, yang berlangsung dua puluh empat jam, tidak ada pribumi yang diizinkan ke luar tembok kampungnya kecuali alasan yang paling mendesak. Bahkan untuk itu dia harus mendapatkan izin dari pendetanya. Jika seseorang melanggar, dia diberi sangsi dengan cara dikucilkan di kampungnya…”

Tidak ada lagi yang dikatakan E.Alexander Power tentang menjeepee, kecuali upayanya untuk bisa ke Denpasar demi melihat keindahan dan kecantikan gadis-gadis insulinde sebagaimana telah ia dengar  dari orang-orang Belanda di Borneo dan Celebes. Ia memutuskan untuk pergi hari itu juga karena waktunya terbatas di Bali. Pemandu Chinanya, menyarankannya untuk bertemu Residen di Singaraja yang mungkin bisa memberi jalan keluar.

Ia mengisahkan bahwa pemandu China-nya mengatakan memang ada empat buah mobil di Boeleleng yang bisa membawanya ke Denpasar. Tetapi semua sopirnya orang Bali yang sedang Menjeepee. Tanpa pertolongan Residen, tak mungkin baginya mendapat tumpangan. Beruntung, Residen memberikan jalan keluar dengan mendekati seorang pendeta yang kemudian mengizinkan seorang warga untuk mengemudi kendaraan ke Denpasar membawa si wartawan itu.

Rupanya, menjeepee, seperti Hari Nyepi sekarang ini, bukanlah topik yang diminati oleh para pelancong Barat masa awal di Bali. Dari catatan Power ini kita juga tahu, menjeepee yang sakral, tidak menghalangi residen dan  pemimpin agama lokal untuk bernegosiasi. Mungkin itu semacam keramahan tropikal bagi si tuan putih yang menguasai bangsa kita kala itu.  

Kisah itu dipetik dari buku Where The Strange Trails Go Down bagian 7, dengan subjudul  Down To Island Eden yang khusus berisi catatan pengalaman Alexander Power singgah di pulau Bali. Dipublikasikan pertama kali pada Oktober 1921, buku ini merangkum semua pengalaman perjalanan Alexander Power ke Kepulauan Melayu. Berangkat dari Teluk Manila pada akhir Februari 1920, ia bersama rombongannya bertualang ke Sulu, Borneo, Celebes, Bali, Java, Sumatra, Semenanjung Melayu, Siam, Cambodia, Annam, dan Cochin-China dengan sebuah kapal Negros (kapal penjaga pantai Philipina) berkapasitas 150 ton,  tinggi 150 kaki, dan jumlah awak enam puluh orang.  

Selain dirinya dan nahkoda kapal bernama Kapten AB Galvez, ikut dalam rombongan itu Nyonya Winsome seorang dokter, kameramen John L. Hawkinson, tiga orang teman gubernur jenderal di Manila dan istrinya sendiri, nyonya Edward Alexander Power. Penuh gairah, ia menyebut perjalanan wisatanya itu sebagai perjalanan ke negeri-negeri asing. Di mana pulau-pulau sihir dan peri laut terapung di bawah kemuliaan matahari tropis.

Selama di Bali, perhatian Alexander Power lebih tertuju pada kemolekan alam yang menggetarkannya, kecantikan sawah-sawahnya, dan yang lebih utama profil biologis gadis-gadisnya. Dengan gaya bombastis, ia melukiskan wanita-wanita Bali laksana mawar nan semerbak di bawah matahari yang membuat kulit mereka sawo matang, lentur, dan postur lebih tinggi daripada wanita-wanita Melayu yang pernah ia lihat di Malaysia. Kemolekan tubuh wanita-wanita Bali, katanya, sudah tersohor hingga ke Malaysia, di antara pelaut-pelaut dan orang-orang Barat yang pernah mencapai Kepulauan.

Tidak begitu rinci penjelasannya mengenai kemolekan wanita Bali yang tersohor itu. Apakah karena erotikanya, atau karena hal lain. Namun dari catatan sejarah kita bisa mengerti, mungkin itu pengaruh popularitas budak-budak perempuan dari Bali yang mahal harganya di Batavia tempo dulu. Banyak dari mereka menjadi istri tak resmi orang-orang Eropa. Sejumlah dagh register telah mencatat perihal kasus-kasus yang menghebohkan berkaitan dengan hubungan asmara antara budak-budak itu dengan tuan Eropa-nya.

Barangkali, cerita-cerita semacam itulah yang didengar si wartawan perang ini ketika di Malaysia.  Ia memuji, betapa karakter perempuan Bali dianugerahi ketenangan, sepi dan tampak terhormat. Tubuh mereka dibungkus kain dari pinggang ke pergelangan kaki. Menampakan setiap garis dan kontur pinggul dan tungkai bawah yang aduhai. Tapi dari pinggang ke atas sepenuhnya telanjang.

Sekalipun demikian, ia juga melihat kehidupan mereka yang penuh resiko karena adanya kebiasaan membakar diri bersama mayat suami yang dibakar. Terutama bagi gadis-gadis muda yang bersuamikan lelaki tua. Wanita-wanita itu, kata Alexander Power terikat pada sumpah untuk ikut membakar diri. Larangan keras pemerintah Belanda, tidak sepenuhnya menghentikan praktek tersebut. Bahkan belum berselang lama dengan kedatangannya di Bali, ada dua perempuan yang meminta izin kepada raja Kloeng Kloeng membakar diri dalam prosesi pembakaran mayat suami mereka.

Wartawan Amerika ini mengaku tidak terlalu menikmati tari-tarian asli yang digelar oleh controleur di Kloeng Kloeng untuk menyambutnya. Namun ia mengagumi seni kostum mereka, gerakannya yang sulit, dan terlebih pula cara-cara komunitas desa mendukung pendanaan untuk menyediakan kostum bagi tarian itu.

Bali termasuk wilayah padat dalam amatannya. Setiap mil persegi, terdapat 325 penduduk. Daya tahan tubuh orang Bali menurutnya lebih baik dari orang-orang di pulau-pulau laut selatan, lantaran iklim yang sehat. Jadi populasi meningkat dengan cepat.  Kekurangan yang paling kentara adalah infrastruktur pelabuhan. Ia mengatakan, kapal-kapal Eropa jarang singgah di pulau ini lantaran kualitas pelabuhan-pelabuhan yang ada tidak memadai. Semasanya pemerintah Belanda belum mempunyai hotel, jadi ia menginap di sebuah pesanggrahan milik pemerintah yang buruk kondisinya.

Cukup mengejutkan, karena di bagian akhir catatannya ia berpendapat, lebih baik orang Bali tidak mempunyai pelabuhan besar, supaya pesonanya tetap tersembunyi. Sebab daya pikat pulau ini yang menurutnya lebih baik daripada bujukan seorang bankir di Amerika, pastilah akan mendatangkan mimpi buruk buat mereka sendiri jika pelaut-pelaut kulit putih menjambanginya. [T]

Tags: Amerika SerikatbaliHari Raya NyepiPariwisata
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Diskursus Kecil Ala ILC – Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

Next Post

Yang Kita Cari Adalah Hening

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Yang Kita Cari Adalah Hening

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co