2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Kita Cari Adalah Hening

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 19, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hening itu dalam hati masing-masing.

Hening itu dalam pikiran masing-masing. Hening itu pada diri masing-masing. Hening itu pada lingkungan masing-masing. Mana mungkin mencari hening keluar, jika dalam hati dan pikiran hening tidak bermukim. Mana mungkin hati dan pikiran hening, jika di luaran sana situasi sedang keruh. Intinya, hening itu berasal dari dalam dan luar diri masing-masing.

Ngomong selalu gampang. Giliran diuji keadaan, keruh itu-itu juga yang menenggelamkan. Boleh saja bikin puisi sekardus, tapi yang namanya perasaan siapa tahu kan? Biasanya yang namanya perasaan tetap begitu-begitu saja. Sedikit saja lengah, maka dia akan jatuh terpuruk pada kesedihan yang tidak bisa dijelaskan. Kesedihan bisa diterjemahkan begini “yang ditemui bukanlah yang dicari, yang datang bukan yang dinanti”.

Saat kesedihan itu datang, boleh saja bikin tulisan se-bus besar, tapi siapa yang menjamin kalau kesedihan yang keruh itu bisa hilang kemudian? Saya tidak ingin mengatakan kalau perasaan-perasaan semacam itu tidak baik. Bahkan kesedihan bisa menyediakan dirinya sebagai benih banyak hal. Bukan hanya tulisan, tapi juga cara hidup. Contohnya Sutasoma, tokoh sentral pada kakawin Sutasoma atau Purusadhasanta, sedih karena melihat penderitaan orang lain, lalu berhasil mengatasinya dan menjadi Buddha.

Keheningan yang kita bicarakan kali ini, sudah menjadi topik hangat pada jaman dahulu. Seringkali keheningan itu dihubungkan dengan Bulan dan bayangannya. Bulan berada di atas, dan bayangannya ada pada air telaga. Di telaga itu hiduplah seekor burung Cangak. Cangak itu, diam-diam merindukan Bulan. Boleh kan saya rubah sedikit peribahasanya? Cangak merindukan Rembulan. Si Cangak itu, ingin bertanya kepada Bulan. Begini “Apa yang bisa hamba temukan di telaga ini selain bayang-bayang Puan?”.

Bayangan bulan di dalam telaga konon adalah ciri keheningan. Hanya setelah heninglah segala yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa dipikirkan. Segala yang tidak diketahui bisa diketahui. Bahkan segala yang samar-samar bisa menjadi jelas. Begitu rumusnya menurut Mpu Kano. Siapa Mpu Kano? Beliau adalah penanggungjawab kakawin Arjunawiwaha. Beliau lebih dikenal dengan nama Mpu Kanwa.

Selain Mpu Kanwa, ada lagi penyair yang tergila-gila pada rembulan. Namanya Rumi. Dia dengan senang hati menjadi budak bagi Rembulan. Ia berkata “Akulah budak sang bulan. Ini satu-satunya yang ku ingin. Jadi Jangan banyak bicara padaku tentang yang lain daripada bulan, lilin, rasa manis gula”. Begitulah, Bulan dan bayangannya di dalam telaga adalah hening. Hening yang kita cari beramai-ramai.

Ada banyak karya shastra yang lahir dari permenungan terhadap pencarian hening ini. Bahkan ada salah satu jenis karya shastra kakawin yang khusus membicarakan cara mengadakan hening. Apalagi jika membaca teks-teks yang agak tua, seperti teks tutur dan tattwa, itu pembicaraan super duper buanyak. Kebanyakan teks itu berbahasa Jawa Kuna, jadi untuk mengerti, seseorang musti memahami bahasanya.

Salah satu contohnya mari kita baca ungkapan berikut ini; amrati mani karnni yatika ni mesya taya sah. Amrati berarti memberati. Mani berarti permata. Karnni adalah telinga. Yatika berarti itu. Ni adalah partikel penghubung. Mesya berarti berisi. Taya berarti tidak. Sah berarti lepas. Jika digabung menjadi “memberati permata telinga itu berisi tidak lepas”. Apa maksudnya?

Hasil terjemahan sepenggal-sepenggal di atas, akan saya sesuaikan sedikit. Kata taya yang berarti tidak, bisa berafiliasi dengan kata “ketiadaan” atau “kekosongan”. Kata “memberati permata telinga” saya artikan bahwa kemampuan yang dimiliki telinga itulah yang diberatkan atau dikonsentrasikan. Kemampuan telinga tentu saja adalah mendengar. Jadi ungkapan tadi setelah saya sesuaikan, menjadi “telinga mendengar isi ketiadaan yang seolah lepas”. Bagaimana telinga mendengar isi ketiadaan? Jawabannya bisa didapat dengan menutup telinga!

Ungkapan tadi yang kita bicarakan, adalah kata-kata Kresna kepada Nilacandra dalam sebuah karya shastra kakawin berjudul Nilacandra atau Siwa-Buddhakalpa. Ungkapan itu dikatakan oleh Kresna saat membahas tentang tahapan yoga. Penjelasan selanjutnya adalah tentang bagaimana cara-cara beryoga. Penjelasan lanjutan itu tidak saya terangkan pada tulisan ini. Bukan karena pelit, tapi penjelasannya sangat teknis dan panjang. Tangan Cangak saya yang mungil ini pun mulai kelelahan. Maaf.

Maksud saya menunjukkan ungkapan itu, hanya karena saya ingin menunjukkan bahwa keheningan itu memang dicari-cari. Bahwa keheningan itu bisa didapat dengan menutup telinga, adalah salah satu jalannya. Tentu saja, keheningan bisa didapat dengan cara yang lain. Tapi jalan termudah dan terdekat adalah dengan menutup telinga. Bisa juga ditambah dengan menutup mata. Jangan dulu menutup hidung, dan mulut, nanti tidak bisa bernafas.

.

CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali

.

Oh iya. Hampir saya lupa. Saat saya ketik tulisan ini, di luar sedang hujan. Ibu sedang menyapu. Saya tahu itu, bahkan saat saya tidak melihatnya. Saya diberitahu oleh indera yang lain, suara sapunya sampai ketelinga saya. Bapak mungkin sedang di Pura karena besok Purnama. Besok adalah hari dimana bulan bersinar penuh menurut perhitungan wariga. Bulan Purnama Kadasa adalah bulan indah yang saya nanti-nanti.

Pernah sekali waktu saya perhatikan, pendar bulan saat Purnama Kadasa berbeda dengan yang lain. Di sekeliling rembulan, terlihat cahaya lain seperti cahaya berlapis-lapis. Mungkin itu yang disebut makalangan oleh nenek saya dahulu.

Di antara segala bentuk keindahan yang ditawarkan bulan purnama. Pikiran menghianati situasi. Ia jauh-jauh pergi ke New Zealand. Tapi karena ia sangat cepat, jarak menjadi tidak berarti. New Zealand adalah nama tempat yang dari dulu saya dengar penuh kedamaian, tapi di tempat itu pula banyak orang meninggal karena kedamaian itu dikhianati. Entah apa sebabnya. Ada yang bilang karena agama.

Tapi agama adalah akhlak yang bagai perahu untuk menyeberangi lautan tidak hanya dengan pandangan. Setidaknya itu yang dikatakan Syekh Fattaah dalam Gubahan Pecinta (A Travel Guide). Agama adalah Sang Hyang, yang berarti sangat mulia dan dihormati. Setidaknya begitu menurut penuturan teks-teks lontar sehingga ia disebut Sang Hyang Agama. Lalu apa sebabnya? Saya tidak mau berasumsi, atau berspekulasi. Katakanlah saya pengecut, bahkan untuk sekadar spekulasi. 

Belum lagi habis pikiran itu menjelajahi bagian dunia lain, saya hanya bisa melihat berita-berita tentang banjir dan gempa yang melanda. Konon situasi itu, bisa disiasati dengan suatu cara. Jika ada gempa, berlindung pada tanah lapang. Jika ada badai dan petir menyambar, berlindung pada gua. Jika ada banjir, berlindung pada tanah yang tinggi. Jika semua itu datang bersamaan kemana harusnya berlindung? Atau jika segala bencana itu merasuk hingga ke dalam alam pikiran kemana mestinya berlindung?

Terlalu banyak hal-hal yang terjadi di luaran sana. Dan belum ditemukan suatu solusi yang bisa melindungi banyak orang. Ada banyak masalah besar yang belum terselesaikan. Seperti telaga ini, yang kian hari makin mengering. Saya sungguh ingin bertanya pada para bijaksana, haruskah kita tinggalkan telaga ini? Ataukah kita akan menetap disini? Dimanakah telaga baru yang menawarkan kedamaian bagi semua penghuninya?

Dimanakah mestinya dicari segala keheningan? Kita memang mencari hening itu kemana-mana. Tapi di atas semua itu, kita hanya ingin mencari dan menanti sesuatu yang sederhana tapi sulit ditemukan. KEBAHAGIAAN. [T] 

Tags: heningkehidupanrenungan
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

Next Post

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co