24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Yang Kita Cari Adalah Hening

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 19, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hening itu dalam hati masing-masing.

Hening itu dalam pikiran masing-masing. Hening itu pada diri masing-masing. Hening itu pada lingkungan masing-masing. Mana mungkin mencari hening keluar, jika dalam hati dan pikiran hening tidak bermukim. Mana mungkin hati dan pikiran hening, jika di luaran sana situasi sedang keruh. Intinya, hening itu berasal dari dalam dan luar diri masing-masing.

Ngomong selalu gampang. Giliran diuji keadaan, keruh itu-itu juga yang menenggelamkan. Boleh saja bikin puisi sekardus, tapi yang namanya perasaan siapa tahu kan? Biasanya yang namanya perasaan tetap begitu-begitu saja. Sedikit saja lengah, maka dia akan jatuh terpuruk pada kesedihan yang tidak bisa dijelaskan. Kesedihan bisa diterjemahkan begini “yang ditemui bukanlah yang dicari, yang datang bukan yang dinanti”.

Saat kesedihan itu datang, boleh saja bikin tulisan se-bus besar, tapi siapa yang menjamin kalau kesedihan yang keruh itu bisa hilang kemudian? Saya tidak ingin mengatakan kalau perasaan-perasaan semacam itu tidak baik. Bahkan kesedihan bisa menyediakan dirinya sebagai benih banyak hal. Bukan hanya tulisan, tapi juga cara hidup. Contohnya Sutasoma, tokoh sentral pada kakawin Sutasoma atau Purusadhasanta, sedih karena melihat penderitaan orang lain, lalu berhasil mengatasinya dan menjadi Buddha.

Keheningan yang kita bicarakan kali ini, sudah menjadi topik hangat pada jaman dahulu. Seringkali keheningan itu dihubungkan dengan Bulan dan bayangannya. Bulan berada di atas, dan bayangannya ada pada air telaga. Di telaga itu hiduplah seekor burung Cangak. Cangak itu, diam-diam merindukan Bulan. Boleh kan saya rubah sedikit peribahasanya? Cangak merindukan Rembulan. Si Cangak itu, ingin bertanya kepada Bulan. Begini “Apa yang bisa hamba temukan di telaga ini selain bayang-bayang Puan?”.

Bayangan bulan di dalam telaga konon adalah ciri keheningan. Hanya setelah heninglah segala yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa dipikirkan. Segala yang tidak diketahui bisa diketahui. Bahkan segala yang samar-samar bisa menjadi jelas. Begitu rumusnya menurut Mpu Kano. Siapa Mpu Kano? Beliau adalah penanggungjawab kakawin Arjunawiwaha. Beliau lebih dikenal dengan nama Mpu Kanwa.

Selain Mpu Kanwa, ada lagi penyair yang tergila-gila pada rembulan. Namanya Rumi. Dia dengan senang hati menjadi budak bagi Rembulan. Ia berkata “Akulah budak sang bulan. Ini satu-satunya yang ku ingin. Jadi Jangan banyak bicara padaku tentang yang lain daripada bulan, lilin, rasa manis gula”. Begitulah, Bulan dan bayangannya di dalam telaga adalah hening. Hening yang kita cari beramai-ramai.

Ada banyak karya shastra yang lahir dari permenungan terhadap pencarian hening ini. Bahkan ada salah satu jenis karya shastra kakawin yang khusus membicarakan cara mengadakan hening. Apalagi jika membaca teks-teks yang agak tua, seperti teks tutur dan tattwa, itu pembicaraan super duper buanyak. Kebanyakan teks itu berbahasa Jawa Kuna, jadi untuk mengerti, seseorang musti memahami bahasanya.

Salah satu contohnya mari kita baca ungkapan berikut ini; amrati mani karnni yatika ni mesya taya sah. Amrati berarti memberati. Mani berarti permata. Karnni adalah telinga. Yatika berarti itu. Ni adalah partikel penghubung. Mesya berarti berisi. Taya berarti tidak. Sah berarti lepas. Jika digabung menjadi “memberati permata telinga itu berisi tidak lepas”. Apa maksudnya?

Hasil terjemahan sepenggal-sepenggal di atas, akan saya sesuaikan sedikit. Kata taya yang berarti tidak, bisa berafiliasi dengan kata “ketiadaan” atau “kekosongan”. Kata “memberati permata telinga” saya artikan bahwa kemampuan yang dimiliki telinga itulah yang diberatkan atau dikonsentrasikan. Kemampuan telinga tentu saja adalah mendengar. Jadi ungkapan tadi setelah saya sesuaikan, menjadi “telinga mendengar isi ketiadaan yang seolah lepas”. Bagaimana telinga mendengar isi ketiadaan? Jawabannya bisa didapat dengan menutup telinga!

Ungkapan tadi yang kita bicarakan, adalah kata-kata Kresna kepada Nilacandra dalam sebuah karya shastra kakawin berjudul Nilacandra atau Siwa-Buddhakalpa. Ungkapan itu dikatakan oleh Kresna saat membahas tentang tahapan yoga. Penjelasan selanjutnya adalah tentang bagaimana cara-cara beryoga. Penjelasan lanjutan itu tidak saya terangkan pada tulisan ini. Bukan karena pelit, tapi penjelasannya sangat teknis dan panjang. Tangan Cangak saya yang mungil ini pun mulai kelelahan. Maaf.

Maksud saya menunjukkan ungkapan itu, hanya karena saya ingin menunjukkan bahwa keheningan itu memang dicari-cari. Bahwa keheningan itu bisa didapat dengan menutup telinga, adalah salah satu jalannya. Tentu saja, keheningan bisa didapat dengan cara yang lain. Tapi jalan termudah dan terdekat adalah dengan menutup telinga. Bisa juga ditambah dengan menutup mata. Jangan dulu menutup hidung, dan mulut, nanti tidak bisa bernafas.

.

CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali

.

Oh iya. Hampir saya lupa. Saat saya ketik tulisan ini, di luar sedang hujan. Ibu sedang menyapu. Saya tahu itu, bahkan saat saya tidak melihatnya. Saya diberitahu oleh indera yang lain, suara sapunya sampai ketelinga saya. Bapak mungkin sedang di Pura karena besok Purnama. Besok adalah hari dimana bulan bersinar penuh menurut perhitungan wariga. Bulan Purnama Kadasa adalah bulan indah yang saya nanti-nanti.

Pernah sekali waktu saya perhatikan, pendar bulan saat Purnama Kadasa berbeda dengan yang lain. Di sekeliling rembulan, terlihat cahaya lain seperti cahaya berlapis-lapis. Mungkin itu yang disebut makalangan oleh nenek saya dahulu.

Di antara segala bentuk keindahan yang ditawarkan bulan purnama. Pikiran menghianati situasi. Ia jauh-jauh pergi ke New Zealand. Tapi karena ia sangat cepat, jarak menjadi tidak berarti. New Zealand adalah nama tempat yang dari dulu saya dengar penuh kedamaian, tapi di tempat itu pula banyak orang meninggal karena kedamaian itu dikhianati. Entah apa sebabnya. Ada yang bilang karena agama.

Tapi agama adalah akhlak yang bagai perahu untuk menyeberangi lautan tidak hanya dengan pandangan. Setidaknya itu yang dikatakan Syekh Fattaah dalam Gubahan Pecinta (A Travel Guide). Agama adalah Sang Hyang, yang berarti sangat mulia dan dihormati. Setidaknya begitu menurut penuturan teks-teks lontar sehingga ia disebut Sang Hyang Agama. Lalu apa sebabnya? Saya tidak mau berasumsi, atau berspekulasi. Katakanlah saya pengecut, bahkan untuk sekadar spekulasi. 

Belum lagi habis pikiran itu menjelajahi bagian dunia lain, saya hanya bisa melihat berita-berita tentang banjir dan gempa yang melanda. Konon situasi itu, bisa disiasati dengan suatu cara. Jika ada gempa, berlindung pada tanah lapang. Jika ada badai dan petir menyambar, berlindung pada gua. Jika ada banjir, berlindung pada tanah yang tinggi. Jika semua itu datang bersamaan kemana harusnya berlindung? Atau jika segala bencana itu merasuk hingga ke dalam alam pikiran kemana mestinya berlindung?

Terlalu banyak hal-hal yang terjadi di luaran sana. Dan belum ditemukan suatu solusi yang bisa melindungi banyak orang. Ada banyak masalah besar yang belum terselesaikan. Seperti telaga ini, yang kian hari makin mengering. Saya sungguh ingin bertanya pada para bijaksana, haruskah kita tinggalkan telaga ini? Ataukah kita akan menetap disini? Dimanakah telaga baru yang menawarkan kedamaian bagi semua penghuninya?

Dimanakah mestinya dicari segala keheningan? Kita memang mencari hening itu kemana-mana. Tapi di atas semua itu, kita hanya ingin mencari dan menanti sesuatu yang sederhana tapi sulit ditemukan. KEBAHAGIAAN. [T] 

Tags: heningkehidupanrenungan
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

Next Post

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co