6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Hidayat by Hidayat
March 20, 2019
in Esai
5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Foto-foto Google/Wikipedia

Kiranya sudah lebih dari 8 bulan, terhitung sejak pertengahan 2018 saya mulai serius untuk menonton film secara kritis—tentu masih dalam tahap yang bisa dikatakan “pemula”.

Beberapa film yang saya tonton dalam 8 bulan tersebut saya catat di buku khusus dengan judul dan tahun rilis, nama sutradara dan aktor/aktris yang paling berkesan aktingnya. Yang tercatat dalam buku tersebut hanya 32 film. Sebuah prestasi yang sama sekali tidak layak disombongkan bagi cinephile amatir seperti saya.

Menonton film bukan semata-mata sebagai hiburan—alih-alih untuk membunuh kejenuhan di tengah kesibukan sehari-hari. Tapi lebih dari itu, aktivitas menonton film lebih-lebih melatih kepekaan dan terus berdialektika.

Sebagai seseorang yang tidak pernah paham tentang teknik pengambilan gambar, justru saya berkali-kali kagum pada teknik-teknik pengambilan gambar. Dalam scene-scene yang terus bergerak, saya merasa, dalam berbagai teknik pengambilan gambar, ada sesuatu yang memang sengaja dibangun untuk mendorong kepekaan penonton. Dan sialnya, saya tidak pernah mencatat dan mengingat nama sinematografer.

Ketika saya mulai ingin menonton film, saya biasanya melakukan cara-cara berikut:

Pertama, mencari referensi yang layak dari situs di internet, saya hanya akan melihat sinopsis, rating, sutradara, aktor/aktris, pengisi musik, dan melihat penghargaan yang didapatkan dalam kancah perfilman;

Kedua, dengan meminta rekomendasi dari kawan yang saya hormati sebagai senior dalam penilaiannya terhadap film; Ketiga, Jika saya menyukai film garapan sutradara A, misalnya, saya akan mencari film-film garapannya, dan menonton semua film yang disutradarai dan mencari-cari perbedaan dan gaya.

Saya telah terpesona dengan cara kerja sutradara film. Entah seberapa penting peran sutradara, saya curiga, jangan-jangan cinematographer, scoring musik, dan penata busana dalam film juga penting. Tapi perannya selalu tertutup oleh sutradara.

Dan sutradara, bagi saya adalah kemenangan itu sendiri. Sutradara mampu melampaui siapa saja yang terlibat dalam filmnya jika memang filmnya diakui bagus oleh penonton. Tentu, hal tersebut akan merangsang pertanyaan, siapa siematografer, scoring music, dan siapa aktornya?

Seorang sutradara film, bagi saya harus menciptakan sebuah visi tunggal, mampu melampaui zaman, dan menjadikan film garapannya mampu menemukan penonton atau penikmatnya sendiri.

Saya telah memilih 5 sutradara favorit dan merekomendasikan kepada orang-orang yang membaca tulisan ini. Mengingat saya hanya penggemar, ‘bisa saja ini bersifat subjektif’.  Tidak ada alasan lain, saya memilih 5 sutradara ini karena film-filmnya yang menggugah dan mempunyai ciri khas tersendiri dan membuat saya ketagihan menonton film.

1

Stanley Kubrick (1928-1999)

Menonton karya-karya Almarhum Pak Kubrick, Terbukti bahwa beliau memang menunjukkan gaya dan bakat sutradaranya. Saya hanya menonton beberapa filmnya, dan itu cukup kuat meyakinkan bahwa beliau memang layak mendapat predikat sutradara yang handal. Dalam adaptasi karya-karya sastra (Novel), yang kemudian difilmkan dengan gayanya sendiri sangat kental dengan adegan kekerasan dan seksualitas. Seoalah ia jujur dalam melihat situasi kemanusian pada saat itu.

Pada film Lolita (1962), yang diadaptasi dari judul novel yang sama karya Vladimir Nabokov, beliau tidak pernah menghindar dari topik kontroversial untuk mengungkap sisi gelap kemanusiaan. Menceritakan seorang ayah tiri paruh baya yang mencintai anak tirinya sendiri. Di film tersebut, Pak Kubrick, yang meskipun mengangkat cerita menjijikkan, beliau tetap bisa membangun keintiman tanpa adegan yang erotis. Kedekatan Humbert dan Lolita sangat emosional dan jujur.

Lalu, dalam A Clockwork Orange (1971), adaptasi dari Novel A Clockwork Orange karya Anthony Borges, Pak Kubrick sangat piawai merepresentasikan tokoh-tokoh dalam filmnya. Memainkan Malcolm McDowell, Kubrick masih mempertahankan dialog-dialog ala Burgess (kebetulan saya sudah membaca novelnya dalam versi bahasa  indonesia).


Stanley Kubrick (1928-1999) – Foto Google/Wikipedia

Beliau juga menghadirkan visualisasi yang ambigu: menjijikkan sekaligus surealis yang membingungkan penonton, merasa mual atau malah tergugah? Yang terpenting dalam film tersebut adalah pesan kuat yang semata-mata cerita tentang taubatnya seorang berandal. A Clockwork Orange sebenarnya adalah sindiran kepada sains dan peran negara dengan ambisi yang mengerikan dan menghantui kita dalam ambisinya mengontrol manusia.

Dengan latar belakang sebagai fotografer, set panggung dan pencahayaan dalam film-filmnya selalu menarik. Dalam Film The Shining (1980), yang ia adaptasi dari Novel karya Stephen King. Beliau mampu membuat film psikologi horror yang sepenuhnya diwujudkan dalam visualisasi yang khas melalui simbol-simbol.

The Shining memang tidak menjual aksi-aksi sadis ataupun jumpscare yang berlebihan namun Kubrick mampu membangun atmosfir yang sangat mencekam dalam filmnya dan mampu mempengaruhi psikologis para penonton dan memaksa kita untuk membayangkan bagaimana rasanya jadi seorang Jack Torrance. Stephen King sendiri malah membenci film ini karena dianggap terlalu melenceng dari novelnya. Namun tetap saja The Shining (1980) sekarang ini banyak orang yang menganggapnya film horor terbaik.

2

Hayao Miyazaki (1941)

Film-film Studio Ghibli memang menarik dan penuh kedalaman makna. Film-film animasi besutan Ghibli tidak hanya menarik untuk ditonton tetapi juga direnungi. Yang kemudian khas dari Ghibli adalah: Karakter (wanita) yang kuat, tema dewasa, dunia fantasi yang ekspresionis namun serupa dengan dunia nyata.


Hayao Miyazaki (1941) – Foto Google/Wikipedia

Hayao Miyazaki begitu ciamik dalam menempa unsur-unsur biografi, keluarga, romansa, pelualangan, dan drama.

Film-filmnya yang paling sukses antara lain: Princes Mononoke (1997), sebuah film fantasi dengan sentuhan cinta, spiritualitas dan filosofis. Di film tersebut, Hayao Miyazaki sangat piawai dalam mersepon hubungan antara manusia, alam, dan binatang dalam memperjuangkan hidup masing-masing.

Kemudian dalam Spirited Away (2010), yang mengisahkan petualangan gadis kecil yang menawan dan berani. Cukup kuat untuk menggambarkan hakikat kemanusian, terutama tentang eksploitasi dan perbudakan.

3

Alfonso Cuaron (1961)


Alfonso Cuaron (1961) = Foto Google/Wikipedia

Lewat film Children of Men (2006), saya benar-benar terpukau dengan gagasan Pak Cuaron yang tak lazim: manusia kehilangan kemampuan untuk bereproduksi. Berlatar tahun 2027: Perang, kelaparan, kemiskinan. Jelas bahwa Cuaron memang hendak melunturkan gagasan tentang masa depan yang serba cemerlang.

4

Denis Villeneuve (1967)

Melalui Incendies (2015), yang diadaptasi dari drama panggung karya Wajdi Mouawad tentang anak kembar yang bepergian ke Timur Tengah untuk mengungkap misteri siapa ayah mereka. Di sana, Villeneuve berhasil menggambarkan sebuah drama yang pelik dan sangat emosional. Film ini sebenarnya sangat standar soal plot, namun tetap memberikan twist yang lumayan di akhir.

Dalam Film Enemy (2013) yang diadaptasi dari Novel The Double karya Jose Saramago, Dengan menggandeng aktor Jake Gyllenhall, beliau membangun tone yang lebih gelap dan ending yang menyiratkan pesan lebih dalam bagi penontonnya.


Denis Villeneuve (1967) – Foto Google

Di mana dalam film tersebut Adam (Jake Gyllenhall) adalah seorang dosen sejarah yang  secara kebetulan ia direkomendasikan sebuah film oleh rekan kerjanya, ketika ia menononton, ia kaget karena melihat aktor dalam film tersebut mirip dengannya. Adam pun mulai mencari tahu. Namanya adalah Anthony (Jake Gyllenhall). Sampai pada akhirnya mereka salung bertemu dan malah menjadi sebuah bencana bagi kehidupan mereka.

Ini adalah film favorit saya sepanjang 2018, dengan matang sang sutradara pelan-pelan memberikan clue lewat scene-scene di mana Adam mengajar materi Totalitarianisme, juga scene-scene absurd seorang wanita berkepala laba-laba, laba-laba raksasa menginvasi kota.

Dan, Film-film Denis Villeneuve selalu mengesankan.

5

Paul Thomas Anderson (PTA) (1970)

Tidak diragukan lagi, PTA adalah sutradara favorit saya dengan segala hal yang ia miliki: pencipta cerita yang orisinal dan intens dalam hal studi karakter. PTA, dalam film-film garapannya, aktor-aktornya selalu sukses. Ia selalu konsisten dalam memilih aktor yang ia libatkan dalam film-filmnya. Film-filmnya kaya dengan dialog-dialog yang panjang, romantis, dan penuh makna filosofis.

Beliau biasanya menulis screenplay sendiri, tetapi dalam Inherent Vice (2004), beliau memilih untuk mengadaptasi sebuah novel karya Thomas Pyncon. Sebuah kisah detektif dengan karakter hippies dan latar tahun 1970-an. Terbukti menjadi cerita cair dan kaya akan gambaran tentang tahun 70’an. Berkesan berantakan dan aneh namun tetap menarik untuk ditonton.


Paul Thomas Anderson (PTA) (1970) – Foto Google

Beliau mengalahkan dirinya. There Will Be Blood (2007) adalah film PTA yang paling berani, menurut saya. Kisah tentang booming minyak di California menampilkan Daniel Day-Lewis (DDL) sebagai pengusaha minyak sekaligus aktor antagonis. Akting yang memukau dari DDL, beliaulog-beliaulog dibangun tajam. Yang paling memukau adalah beliaulog antara Daniel Plainview (DDL) dan Eli (Paul Dono) seorang tokoh agamis yang rakus. Dalam film tersebut scoring music yang diisi oleh Jonny Greenwood, musisi Radiohead mampu menciptakan ketegangan-ketegangan yang khas.

Film terbarunya, Phantom Thread (2017), adalah kisah cinta yang indah, yang dibangun lewat penghancuran tokoh utama. Lagi-lagi ia memainkan Daniel Day-Lewis (DDL). Sudah tidak diragukan lagi, DDL selalu bisa memainkan peran dengan apik. Seolah DDL mampu melampaui dirinya dengan selalu menjadi orang lain. Kemewahan busana (tata artistic) dan musik yang megah (lagi-lagi scoring oleh Jonny Greenwood), PTA berhasil menghipnotis penonton untuk larut dalam filmnya.

Paul Thomas Anderson terus menantang para penonton film-filmnya dengan studi karakter yang menarik dan orisinal yang menghadirkan penampilan luar biasa dari para aktor pilihannya. [T]

Tags: filmsutradara film
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Kita Cari Adalah Hening

Next Post

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
0
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

Read moreDetails

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
0
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

Read moreDetails

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
0
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

Read moreDetails

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails
Next Post
Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga
Puisi

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

by Angga Wijaya
June 6, 2026
Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali
Lingkungan

Belajar Tentang Laut Bersama Para Ahli di Peninsula Island, Bali

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific...

by Nyoman Budarsana
June 6, 2026
Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?
Esai

Arsitektur Bali Bukan Sekadar Pilihan Desain —Mengapa Begitu?

JIKA seseorang ditanya mengapa datang ke Bali, jarang sekali jawabannya karena ingin melihat gedung tinggi, kawasan bisnis modern, atau deretan...

by I Gede Janitra Rad Winatha
June 6, 2026
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA
Khas

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali
Pameran

Pameran Tabula Rasa Vol 3, Ruang Tumbuh yang Menjaga Nyala Kreativitas Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPMI Bali

DI salah satu sudut ruang pamer lantai dasar gedung Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali, sebuah lukisan terpajang dalam bingkai...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini
Pendidikan

Talkshow Virtual YLAI dan Penerbit Pelangi: Literasi Lingkungan Anak, Peduli Bumi Sejak Dini

PERINGATAN Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan anak di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Yayasan...

by tatkala
June 6, 2026
Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 
Esai

Chairil Anwar Menjaga Bung Karno 

ANTARA Bung Karnodan Chairil Anwar adalah Bung Sjahrir. Chairil Anwar sebagai pengarang berhasil mengintip dan menguntit Bung Sjahrir untuk mengorek...

by I Nyoman Tingkat
June 6, 2026
‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur
Panggung

‘Temurun Warsa’, Tradisi Mendak Hujan di Desa Adat Pecatu yang Menjelma dalam Tabuh Kreasi Baleganjur

DI Desa Adat Pecatu, hujan tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa alam. Ia adalah harapan, doa, sekaligus sumber kehidupan yang dinantikan...

by Dede Putra Wiguna
June 6, 2026
Cerita Rakyat Sebagai Identitas
Khas

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

by I Wayan Artika
June 6, 2026
Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur
Esai

Niels Bohr, Spiritualitas, dan Pancakosha: Ketika Fisika Kuantum Bertemu Kebijaksanaan Timur

Niels Bohr dan Kerendahan Hati di Hadapan Misteri DALAM sejarah sains modern, nama Niels Bohr sering dikaitkan dengan lahirnya mekanika...

by Agung Sudarsa
June 6, 2026
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co