23 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Hidayat by Hidayat
March 20, 2019
in Esai
5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Foto-foto Google/Wikipedia

Kiranya sudah lebih dari 8 bulan, terhitung sejak pertengahan 2018 saya mulai serius untuk menonton film secara kritis—tentu masih dalam tahap yang bisa dikatakan “pemula”.

Beberapa film yang saya tonton dalam 8 bulan tersebut saya catat di buku khusus dengan judul dan tahun rilis, nama sutradara dan aktor/aktris yang paling berkesan aktingnya. Yang tercatat dalam buku tersebut hanya 32 film. Sebuah prestasi yang sama sekali tidak layak disombongkan bagi cinephile amatir seperti saya.

Menonton film bukan semata-mata sebagai hiburan—alih-alih untuk membunuh kejenuhan di tengah kesibukan sehari-hari. Tapi lebih dari itu, aktivitas menonton film lebih-lebih melatih kepekaan dan terus berdialektika.

Sebagai seseorang yang tidak pernah paham tentang teknik pengambilan gambar, justru saya berkali-kali kagum pada teknik-teknik pengambilan gambar. Dalam scene-scene yang terus bergerak, saya merasa, dalam berbagai teknik pengambilan gambar, ada sesuatu yang memang sengaja dibangun untuk mendorong kepekaan penonton. Dan sialnya, saya tidak pernah mencatat dan mengingat nama sinematografer.

Ketika saya mulai ingin menonton film, saya biasanya melakukan cara-cara berikut:

Pertama, mencari referensi yang layak dari situs di internet, saya hanya akan melihat sinopsis, rating, sutradara, aktor/aktris, pengisi musik, dan melihat penghargaan yang didapatkan dalam kancah perfilman;

Kedua, dengan meminta rekomendasi dari kawan yang saya hormati sebagai senior dalam penilaiannya terhadap film; Ketiga, Jika saya menyukai film garapan sutradara A, misalnya, saya akan mencari film-film garapannya, dan menonton semua film yang disutradarai dan mencari-cari perbedaan dan gaya.

Saya telah terpesona dengan cara kerja sutradara film. Entah seberapa penting peran sutradara, saya curiga, jangan-jangan cinematographer, scoring musik, dan penata busana dalam film juga penting. Tapi perannya selalu tertutup oleh sutradara.

Dan sutradara, bagi saya adalah kemenangan itu sendiri. Sutradara mampu melampaui siapa saja yang terlibat dalam filmnya jika memang filmnya diakui bagus oleh penonton. Tentu, hal tersebut akan merangsang pertanyaan, siapa siematografer, scoring music, dan siapa aktornya?

Seorang sutradara film, bagi saya harus menciptakan sebuah visi tunggal, mampu melampaui zaman, dan menjadikan film garapannya mampu menemukan penonton atau penikmatnya sendiri.

Saya telah memilih 5 sutradara favorit dan merekomendasikan kepada orang-orang yang membaca tulisan ini. Mengingat saya hanya penggemar, ‘bisa saja ini bersifat subjektif’.  Tidak ada alasan lain, saya memilih 5 sutradara ini karena film-filmnya yang menggugah dan mempunyai ciri khas tersendiri dan membuat saya ketagihan menonton film.

1

Stanley Kubrick (1928-1999)

Menonton karya-karya Almarhum Pak Kubrick, Terbukti bahwa beliau memang menunjukkan gaya dan bakat sutradaranya. Saya hanya menonton beberapa filmnya, dan itu cukup kuat meyakinkan bahwa beliau memang layak mendapat predikat sutradara yang handal. Dalam adaptasi karya-karya sastra (Novel), yang kemudian difilmkan dengan gayanya sendiri sangat kental dengan adegan kekerasan dan seksualitas. Seoalah ia jujur dalam melihat situasi kemanusian pada saat itu.

Pada film Lolita (1962), yang diadaptasi dari judul novel yang sama karya Vladimir Nabokov, beliau tidak pernah menghindar dari topik kontroversial untuk mengungkap sisi gelap kemanusiaan. Menceritakan seorang ayah tiri paruh baya yang mencintai anak tirinya sendiri. Di film tersebut, Pak Kubrick, yang meskipun mengangkat cerita menjijikkan, beliau tetap bisa membangun keintiman tanpa adegan yang erotis. Kedekatan Humbert dan Lolita sangat emosional dan jujur.

Lalu, dalam A Clockwork Orange (1971), adaptasi dari Novel A Clockwork Orange karya Anthony Borges, Pak Kubrick sangat piawai merepresentasikan tokoh-tokoh dalam filmnya. Memainkan Malcolm McDowell, Kubrick masih mempertahankan dialog-dialog ala Burgess (kebetulan saya sudah membaca novelnya dalam versi bahasa  indonesia).


Stanley Kubrick (1928-1999) – Foto Google/Wikipedia

Beliau juga menghadirkan visualisasi yang ambigu: menjijikkan sekaligus surealis yang membingungkan penonton, merasa mual atau malah tergugah? Yang terpenting dalam film tersebut adalah pesan kuat yang semata-mata cerita tentang taubatnya seorang berandal. A Clockwork Orange sebenarnya adalah sindiran kepada sains dan peran negara dengan ambisi yang mengerikan dan menghantui kita dalam ambisinya mengontrol manusia.

Dengan latar belakang sebagai fotografer, set panggung dan pencahayaan dalam film-filmnya selalu menarik. Dalam Film The Shining (1980), yang ia adaptasi dari Novel karya Stephen King. Beliau mampu membuat film psikologi horror yang sepenuhnya diwujudkan dalam visualisasi yang khas melalui simbol-simbol.

The Shining memang tidak menjual aksi-aksi sadis ataupun jumpscare yang berlebihan namun Kubrick mampu membangun atmosfir yang sangat mencekam dalam filmnya dan mampu mempengaruhi psikologis para penonton dan memaksa kita untuk membayangkan bagaimana rasanya jadi seorang Jack Torrance. Stephen King sendiri malah membenci film ini karena dianggap terlalu melenceng dari novelnya. Namun tetap saja The Shining (1980) sekarang ini banyak orang yang menganggapnya film horor terbaik.

2

Hayao Miyazaki (1941)

Film-film Studio Ghibli memang menarik dan penuh kedalaman makna. Film-film animasi besutan Ghibli tidak hanya menarik untuk ditonton tetapi juga direnungi. Yang kemudian khas dari Ghibli adalah: Karakter (wanita) yang kuat, tema dewasa, dunia fantasi yang ekspresionis namun serupa dengan dunia nyata.


Hayao Miyazaki (1941) – Foto Google/Wikipedia

Hayao Miyazaki begitu ciamik dalam menempa unsur-unsur biografi, keluarga, romansa, pelualangan, dan drama.

Film-filmnya yang paling sukses antara lain: Princes Mononoke (1997), sebuah film fantasi dengan sentuhan cinta, spiritualitas dan filosofis. Di film tersebut, Hayao Miyazaki sangat piawai dalam mersepon hubungan antara manusia, alam, dan binatang dalam memperjuangkan hidup masing-masing.

Kemudian dalam Spirited Away (2010), yang mengisahkan petualangan gadis kecil yang menawan dan berani. Cukup kuat untuk menggambarkan hakikat kemanusian, terutama tentang eksploitasi dan perbudakan.

3

Alfonso Cuaron (1961)


Alfonso Cuaron (1961) = Foto Google/Wikipedia

Lewat film Children of Men (2006), saya benar-benar terpukau dengan gagasan Pak Cuaron yang tak lazim: manusia kehilangan kemampuan untuk bereproduksi. Berlatar tahun 2027: Perang, kelaparan, kemiskinan. Jelas bahwa Cuaron memang hendak melunturkan gagasan tentang masa depan yang serba cemerlang.

4

Denis Villeneuve (1967)

Melalui Incendies (2015), yang diadaptasi dari drama panggung karya Wajdi Mouawad tentang anak kembar yang bepergian ke Timur Tengah untuk mengungkap misteri siapa ayah mereka. Di sana, Villeneuve berhasil menggambarkan sebuah drama yang pelik dan sangat emosional. Film ini sebenarnya sangat standar soal plot, namun tetap memberikan twist yang lumayan di akhir.

Dalam Film Enemy (2013) yang diadaptasi dari Novel The Double karya Jose Saramago, Dengan menggandeng aktor Jake Gyllenhall, beliau membangun tone yang lebih gelap dan ending yang menyiratkan pesan lebih dalam bagi penontonnya.


Denis Villeneuve (1967) – Foto Google

Di mana dalam film tersebut Adam (Jake Gyllenhall) adalah seorang dosen sejarah yang  secara kebetulan ia direkomendasikan sebuah film oleh rekan kerjanya, ketika ia menononton, ia kaget karena melihat aktor dalam film tersebut mirip dengannya. Adam pun mulai mencari tahu. Namanya adalah Anthony (Jake Gyllenhall). Sampai pada akhirnya mereka salung bertemu dan malah menjadi sebuah bencana bagi kehidupan mereka.

Ini adalah film favorit saya sepanjang 2018, dengan matang sang sutradara pelan-pelan memberikan clue lewat scene-scene di mana Adam mengajar materi Totalitarianisme, juga scene-scene absurd seorang wanita berkepala laba-laba, laba-laba raksasa menginvasi kota.

Dan, Film-film Denis Villeneuve selalu mengesankan.

5

Paul Thomas Anderson (PTA) (1970)

Tidak diragukan lagi, PTA adalah sutradara favorit saya dengan segala hal yang ia miliki: pencipta cerita yang orisinal dan intens dalam hal studi karakter. PTA, dalam film-film garapannya, aktor-aktornya selalu sukses. Ia selalu konsisten dalam memilih aktor yang ia libatkan dalam film-filmnya. Film-filmnya kaya dengan dialog-dialog yang panjang, romantis, dan penuh makna filosofis.

Beliau biasanya menulis screenplay sendiri, tetapi dalam Inherent Vice (2004), beliau memilih untuk mengadaptasi sebuah novel karya Thomas Pyncon. Sebuah kisah detektif dengan karakter hippies dan latar tahun 1970-an. Terbukti menjadi cerita cair dan kaya akan gambaran tentang tahun 70’an. Berkesan berantakan dan aneh namun tetap menarik untuk ditonton.


Paul Thomas Anderson (PTA) (1970) – Foto Google

Beliau mengalahkan dirinya. There Will Be Blood (2007) adalah film PTA yang paling berani, menurut saya. Kisah tentang booming minyak di California menampilkan Daniel Day-Lewis (DDL) sebagai pengusaha minyak sekaligus aktor antagonis. Akting yang memukau dari DDL, beliaulog-beliaulog dibangun tajam. Yang paling memukau adalah beliaulog antara Daniel Plainview (DDL) dan Eli (Paul Dono) seorang tokoh agamis yang rakus. Dalam film tersebut scoring music yang diisi oleh Jonny Greenwood, musisi Radiohead mampu menciptakan ketegangan-ketegangan yang khas.

Film terbarunya, Phantom Thread (2017), adalah kisah cinta yang indah, yang dibangun lewat penghancuran tokoh utama. Lagi-lagi ia memainkan Daniel Day-Lewis (DDL). Sudah tidak diragukan lagi, DDL selalu bisa memainkan peran dengan apik. Seolah DDL mampu melampaui dirinya dengan selalu menjadi orang lain. Kemewahan busana (tata artistic) dan musik yang megah (lagi-lagi scoring oleh Jonny Greenwood), PTA berhasil menghipnotis penonton untuk larut dalam filmnya.

Paul Thomas Anderson terus menantang para penonton film-filmnya dengan studi karakter yang menarik dan orisinal yang menghadirkan penampilan luar biasa dari para aktor pilihannya. [T]

Tags: filmsutradara film
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Kita Cari Adalah Hening

Next Post

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co