30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
March 20, 2019
in Tualang
Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Dokumentasi pertemuan terakhir foto dengan guru pamong setelah mengajar di kelas dengan siswa

Apa kabar, kawanku se-Indonesia? Lhoh, kok, diam? Tidakkah ada yang menjawabnya?

Baiklah, sepertinya menyapa dengan Bahasa Indonesia di jaman milenial ini, agak kurang greget. Kalau gitu saya coba menyapa dengan bahasa asing saja, how are you today?

Atau biar lebih greget lagi, Swatdi Khrab. Eits… ada yang tahu bahasa apa itu?

Kalau how are you saya yakin pasti teman-teman tahu, bahwa itu Bahasa Inggris, kalau orang jawa bilang khususnya di kampungku biasa menyebut dengan bahasa wengsongseng. Apakah itu? Saya juga kurang tahu.

Bagi yang belum tahu ataukah sudah tahu harap diam dulu. Pura-pura saja belum tahu, biar saya bercerita. Jadi gini, Swatdi Khrab adalah Bahasa Thailand yang mempunyai arti ‘halo’, kalau di Indonesia seperti mengucapkan ‘apa kabar’. Karena saya laki-laki jadi saya mengucapkannya ‘Swasdi Khrab’ jika perempuan ‘Swasdi Kha’.

Bagi yang sering nonton drama atau film Thailand pasti tahu. Oh, ya, apabila ada penulisan bahasa mohon untuk dimaklumi hehehe.

Lanjut saja, kenapa saya bercerita sedikit tentang Bahasa Thailand? Karena saya pernah belajar di sana kurang lebih selama sebulan. Jadi tahu walaupun sedikit. Pepatah mengatakan jika tak kenal maka tak sayang, maka saya akan akan memperkenalkan diri.

Nama saya Mochamad Rifa’i teman-teman sering menyapaku Arif, Fai, atau Rifa’i. Dan lebih familiar lagi sering dikenal dengan Arif James, itu nama julukan dari salah satu teman waktu ospek dulu. Saya asli dari Tuban, Jawa Timur.

Saat ini di tahun 2019 saya duduk di bangku kuliah semester enam, Jurusan Pendidikan Olahraga, Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan di Universitas Pendidikan Ganesha. Itulah sekilas tentangku.

Sedikit bercerita, kenapa saya bisa ke Thailand. Gratisss, lhoh. Ceritanya gini, ini adalah program PPL dan PKL Luar Negeri yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPPPM) Undiksha. Program ini diikuti oleh mahasiswa semester lima dan tujuh se-Undiksha. Yang mana dalam program ini sasarannya ada di Vietnam, Thailand, dan Filipina. Bagaimana, keren bukan? Ya, pasti keren, dong.

Kembali ke pokok bahasan, saya mengikuti serangkaian acara mulai dari test awal hingga akhir. Hinggalah akhirnya saya lolos seleksi dan di tempatkan di Prince of Songkla University, tepatnya di kota Suratthani, Thailand.

Kurang lebih selama sebulan, namun tidak hanya saya sendirian. Ada beberapa teman yang sudah seperti saudara sendiri, diantaranya; Mochamad Abdul Aziz, Muhammad Iqba, dan I Gusti Lanang Agung Angan Byasama, mereka adalah semester lima dari prodi Bimbingan Konseling.

Kemudian ada Gede Pasek, untuk kakak Pasek saya lupa nama lengkapnya, lalu ada Gita Adetian, mereka dari prodi Bahasa Inggris semester tujuh, dan terakhir ada Kadek Angga Heriawan dari prodi Seni Rupa semester tujuh.

Kata yang keluar dari mulutku saat pertama menginjakkan kaki di sekolah tempat saya PPL adalah ‘keren’. Apakah tidak ada kata lain selain keren? Entahlah, pokoknya saya suka aja karena memang benar-benar keren. Nama sekolah tempat kami PPL ini adalah Wittayanusorn Surat Thani School.

Biasanya di Indonesia untuk SD, SMP, dan SMA/SMK sederajat itu terpisah. Namun di Thailand agak sedikit berbeda. Hanya saja tingkat SD sama seperti di Indonesia yaitu belajar selama enam tahun, jadi kelas satu sampai kelas enam.

Kemudian, ini yang membedakannya, di Indonesia untuk SMP yang telah lulus kemudian  melanjutkan ke SMA/SMK, namun jika di Thailand setelah lulus SD mereka langsung melanjutkan ke tingkat sekolah menengah selama enam tahun.          

Artinya gini, untuk SMP dan SMA di sana itu menjadi satu tingkatan. Jadi pembagian kelasnya mulai dari tingkatan satu sampai tingkatan enam. Tidak dipisah seperti di Indonesia SMP sendiri dan SMA/SMK sendiri.

Bahkan untuk seragamnya sama yaitu dengan atasan putih, bawahan hitam itu digunakan setiap hari. Jika misal mereka hanya memiliki satu seragam saja, itu tidak akan ketahuan. Hehehe. Khusus untuk kelas yang mendapat mata pelajaran PJOK, selama sehari itu mereka mengenakan setelan olahraga.


Proses kegiatan belajar mengajar dalam kelas mata pelajaran PJOK

Yang bikin saya terkejut ketika melihat aktivitas siswa dalam kelas. Dalam ruangan yang ber-AC dan tidak memiliki jendela namun tetap sangat enak dipandang. Banyak hiasan dinding hasil karya siswa. Lebih kerennya lagi bantal mini, selimut, boneka ada di dalam ruangan itu. Tergeleng-geleng ketika saya pertama menyaksikan pemandangan yang unik.

Tidak hanya itu saja, selama saya PPL di sana, hampir kebanyakan siswanya aktif. Begitupun fasilitas dalam kelas LCD proyektor, computer, sound disetiap sudut ruangann. Tak ketinggalan pula sarana prasarana yang lain seperti kolam renang, gedung olahraga yang lengkap, lapangan sepak bola, asrama wajib bagi siswa angkatan pertama, dan masih banyak lagi. Pembelajarannya dilaksanakan pada hari Senin sampai Jumat.

Uniknya, mereka melakukan upacara bendera setiap hari. Guru-guru tidak memakai seragam formal namun informal, hanya hari-hari tertentu saja mereka mengenakan seragam formal.

Selama empat minggu di sana, minggu pertama adalah observasi dan pengenalan lingkungan sekolah. Minggu selanjutnya kami mengajar namun masih didampingi oleh guru pamong. Baru menginjak minggu ketiga dan keempat, kami mengajar secara layaknya seoran guru sungguhan tanpa ditemani oleh guru pamong.

Sistem pembelajaran yang unik bagiku, khususnya pada pelajaran PJOK. Jadi waktu itu saya khusus ngajar tenis meja. Karena pelajaran PJOK di sana itu berbeda dengan di Indonesia. Jika di Indonesia pelajaran PJOK misalnya dalam RPP materi Bola Besar didalamnya ada bola basket, sepak bola, volley, dan lainnya. Kemudian pada pertemuan pertama bola basket, lanjut pertemuan selanjutnya bola volley, begitu seterusnya.

Berbeda dengan di Thailand, misalkan SMP kelas 1 semester ganjil, mereka belajar tentang aktivitas akuatik, yaitu renang. Jadi selama satu semester itu mereka hanya fokus belajar renang selama satu semester. Seperti pengalaman saya, ngajar mata pelajaran tenis meja, jadi selama saya praktik PPL di sana fokus dengan mata pelajaran tenis meja. Begitu seterusnya.

Dan bagusnya itu siswanya memiliki wadah untuk mengembangkan bakatnya. Karena memang sekolah fullday dari jam 08.00 sampai 16.30 waktu setempat. Sehingga pada waktu paruh sore digunakan untuk aktivitas pengembangan, seperti ekstrakulikuler, namun tidak berpatokan pada waktu. Intinya, di paruh sore itu siswa diberikan waktu bebas untuk melakukan kegiatan hal yang diminatinya.

Kegiatan Upacara yang dilakukan setiap hari dengan guru memakai seragam informal

Oh ya, ini yang sering ditanyakan teman-teman. Tak sedikt dari mereka bertanya seperti ini, ‘kok, kamu bisa ke Thailand emang kamu bisa Bahasa Inggris?’ Dengan santainya aku jawab, ‘PeDe aja’.

Jujur, jika dikatakan saya mahir dalam berbahasa inggris tidak juga. Bahkan kalau saya ditanya past tense dan tetekbengeknya itu saya tidak begitu paham. Kuncinya, kok, saya bisa pergi ke Thailand itu adalah nekad dan niat. Bahasa Inggris pas-pasan, cuma saya percaya diri saja bahwa ada niat pasti saya akan bisa. IPK saya juga biasa-biasa saja, karena modal nekad dan niat tadi, syukur saya bisa ke Thailand dan balik lagi ke Indonesia dengan selamat.

Saya akui, saya hanya bisa Bahasa Inggris yang dasar-dasar saja. Untungnya saya mengajar lebih dominan ke praktik, jadi ketika saya kesulitan menggunakan Bahasa Inggris yang baik dan benar, saya menggunakan bahasa tubuh. Yang terpenting siswa yang saya ajarkan itu paham. Toh tujuan menjadi seorang guru tidak hanya bisa menjelaskan saja, namun juga mampu membuat siswanya mengerti dan paham dengan apa yang disampaikan oleh seorang guru. Bukankah begitu? [T]

Tags: mahasiswaPendidikanPPLThailandUndiksha
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Next Post

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Mochamad Rifa’i

Mochamad Rifa’i

Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

Related Posts

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
0
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

Read moreDetails

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
0
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post
“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846–1950 | Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co