17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
March 20, 2019
in Tualang
Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Dokumentasi pertemuan terakhir foto dengan guru pamong setelah mengajar di kelas dengan siswa

Apa kabar, kawanku se-Indonesia? Lhoh, kok, diam? Tidakkah ada yang menjawabnya?

Baiklah, sepertinya menyapa dengan Bahasa Indonesia di jaman milenial ini, agak kurang greget. Kalau gitu saya coba menyapa dengan bahasa asing saja, how are you today?

Atau biar lebih greget lagi, Swatdi Khrab. Eits… ada yang tahu bahasa apa itu?

Kalau how are you saya yakin pasti teman-teman tahu, bahwa itu Bahasa Inggris, kalau orang jawa bilang khususnya di kampungku biasa menyebut dengan bahasa wengsongseng. Apakah itu? Saya juga kurang tahu.

Bagi yang belum tahu ataukah sudah tahu harap diam dulu. Pura-pura saja belum tahu, biar saya bercerita. Jadi gini, Swatdi Khrab adalah Bahasa Thailand yang mempunyai arti ‘halo’, kalau di Indonesia seperti mengucapkan ‘apa kabar’. Karena saya laki-laki jadi saya mengucapkannya ‘Swasdi Khrab’ jika perempuan ‘Swasdi Kha’.

Bagi yang sering nonton drama atau film Thailand pasti tahu. Oh, ya, apabila ada penulisan bahasa mohon untuk dimaklumi hehehe.

Lanjut saja, kenapa saya bercerita sedikit tentang Bahasa Thailand? Karena saya pernah belajar di sana kurang lebih selama sebulan. Jadi tahu walaupun sedikit. Pepatah mengatakan jika tak kenal maka tak sayang, maka saya akan akan memperkenalkan diri.

Nama saya Mochamad Rifa’i teman-teman sering menyapaku Arif, Fai, atau Rifa’i. Dan lebih familiar lagi sering dikenal dengan Arif James, itu nama julukan dari salah satu teman waktu ospek dulu. Saya asli dari Tuban, Jawa Timur.

Saat ini di tahun 2019 saya duduk di bangku kuliah semester enam, Jurusan Pendidikan Olahraga, Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan di Universitas Pendidikan Ganesha. Itulah sekilas tentangku.

Sedikit bercerita, kenapa saya bisa ke Thailand. Gratisss, lhoh. Ceritanya gini, ini adalah program PPL dan PKL Luar Negeri yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPPPM) Undiksha. Program ini diikuti oleh mahasiswa semester lima dan tujuh se-Undiksha. Yang mana dalam program ini sasarannya ada di Vietnam, Thailand, dan Filipina. Bagaimana, keren bukan? Ya, pasti keren, dong.

Kembali ke pokok bahasan, saya mengikuti serangkaian acara mulai dari test awal hingga akhir. Hinggalah akhirnya saya lolos seleksi dan di tempatkan di Prince of Songkla University, tepatnya di kota Suratthani, Thailand.

Kurang lebih selama sebulan, namun tidak hanya saya sendirian. Ada beberapa teman yang sudah seperti saudara sendiri, diantaranya; Mochamad Abdul Aziz, Muhammad Iqba, dan I Gusti Lanang Agung Angan Byasama, mereka adalah semester lima dari prodi Bimbingan Konseling.

Kemudian ada Gede Pasek, untuk kakak Pasek saya lupa nama lengkapnya, lalu ada Gita Adetian, mereka dari prodi Bahasa Inggris semester tujuh, dan terakhir ada Kadek Angga Heriawan dari prodi Seni Rupa semester tujuh.

Kata yang keluar dari mulutku saat pertama menginjakkan kaki di sekolah tempat saya PPL adalah ‘keren’. Apakah tidak ada kata lain selain keren? Entahlah, pokoknya saya suka aja karena memang benar-benar keren. Nama sekolah tempat kami PPL ini adalah Wittayanusorn Surat Thani School.

Biasanya di Indonesia untuk SD, SMP, dan SMA/SMK sederajat itu terpisah. Namun di Thailand agak sedikit berbeda. Hanya saja tingkat SD sama seperti di Indonesia yaitu belajar selama enam tahun, jadi kelas satu sampai kelas enam.

Kemudian, ini yang membedakannya, di Indonesia untuk SMP yang telah lulus kemudian  melanjutkan ke SMA/SMK, namun jika di Thailand setelah lulus SD mereka langsung melanjutkan ke tingkat sekolah menengah selama enam tahun.          

Artinya gini, untuk SMP dan SMA di sana itu menjadi satu tingkatan. Jadi pembagian kelasnya mulai dari tingkatan satu sampai tingkatan enam. Tidak dipisah seperti di Indonesia SMP sendiri dan SMA/SMK sendiri.

Bahkan untuk seragamnya sama yaitu dengan atasan putih, bawahan hitam itu digunakan setiap hari. Jika misal mereka hanya memiliki satu seragam saja, itu tidak akan ketahuan. Hehehe. Khusus untuk kelas yang mendapat mata pelajaran PJOK, selama sehari itu mereka mengenakan setelan olahraga.


Proses kegiatan belajar mengajar dalam kelas mata pelajaran PJOK

Yang bikin saya terkejut ketika melihat aktivitas siswa dalam kelas. Dalam ruangan yang ber-AC dan tidak memiliki jendela namun tetap sangat enak dipandang. Banyak hiasan dinding hasil karya siswa. Lebih kerennya lagi bantal mini, selimut, boneka ada di dalam ruangan itu. Tergeleng-geleng ketika saya pertama menyaksikan pemandangan yang unik.

Tidak hanya itu saja, selama saya PPL di sana, hampir kebanyakan siswanya aktif. Begitupun fasilitas dalam kelas LCD proyektor, computer, sound disetiap sudut ruangann. Tak ketinggalan pula sarana prasarana yang lain seperti kolam renang, gedung olahraga yang lengkap, lapangan sepak bola, asrama wajib bagi siswa angkatan pertama, dan masih banyak lagi. Pembelajarannya dilaksanakan pada hari Senin sampai Jumat.

Uniknya, mereka melakukan upacara bendera setiap hari. Guru-guru tidak memakai seragam formal namun informal, hanya hari-hari tertentu saja mereka mengenakan seragam formal.

Selama empat minggu di sana, minggu pertama adalah observasi dan pengenalan lingkungan sekolah. Minggu selanjutnya kami mengajar namun masih didampingi oleh guru pamong. Baru menginjak minggu ketiga dan keempat, kami mengajar secara layaknya seoran guru sungguhan tanpa ditemani oleh guru pamong.

Sistem pembelajaran yang unik bagiku, khususnya pada pelajaran PJOK. Jadi waktu itu saya khusus ngajar tenis meja. Karena pelajaran PJOK di sana itu berbeda dengan di Indonesia. Jika di Indonesia pelajaran PJOK misalnya dalam RPP materi Bola Besar didalamnya ada bola basket, sepak bola, volley, dan lainnya. Kemudian pada pertemuan pertama bola basket, lanjut pertemuan selanjutnya bola volley, begitu seterusnya.

Berbeda dengan di Thailand, misalkan SMP kelas 1 semester ganjil, mereka belajar tentang aktivitas akuatik, yaitu renang. Jadi selama satu semester itu mereka hanya fokus belajar renang selama satu semester. Seperti pengalaman saya, ngajar mata pelajaran tenis meja, jadi selama saya praktik PPL di sana fokus dengan mata pelajaran tenis meja. Begitu seterusnya.

Dan bagusnya itu siswanya memiliki wadah untuk mengembangkan bakatnya. Karena memang sekolah fullday dari jam 08.00 sampai 16.30 waktu setempat. Sehingga pada waktu paruh sore digunakan untuk aktivitas pengembangan, seperti ekstrakulikuler, namun tidak berpatokan pada waktu. Intinya, di paruh sore itu siswa diberikan waktu bebas untuk melakukan kegiatan hal yang diminatinya.

Kegiatan Upacara yang dilakukan setiap hari dengan guru memakai seragam informal

Oh ya, ini yang sering ditanyakan teman-teman. Tak sedikt dari mereka bertanya seperti ini, ‘kok, kamu bisa ke Thailand emang kamu bisa Bahasa Inggris?’ Dengan santainya aku jawab, ‘PeDe aja’.

Jujur, jika dikatakan saya mahir dalam berbahasa inggris tidak juga. Bahkan kalau saya ditanya past tense dan tetekbengeknya itu saya tidak begitu paham. Kuncinya, kok, saya bisa pergi ke Thailand itu adalah nekad dan niat. Bahasa Inggris pas-pasan, cuma saya percaya diri saja bahwa ada niat pasti saya akan bisa. IPK saya juga biasa-biasa saja, karena modal nekad dan niat tadi, syukur saya bisa ke Thailand dan balik lagi ke Indonesia dengan selamat.

Saya akui, saya hanya bisa Bahasa Inggris yang dasar-dasar saja. Untungnya saya mengajar lebih dominan ke praktik, jadi ketika saya kesulitan menggunakan Bahasa Inggris yang baik dan benar, saya menggunakan bahasa tubuh. Yang terpenting siswa yang saya ajarkan itu paham. Toh tujuan menjadi seorang guru tidak hanya bisa menjelaskan saja, namun juga mampu membuat siswanya mengerti dan paham dengan apa yang disampaikan oleh seorang guru. Bukankah begitu? [T]

Tags: mahasiswaPendidikanPPLThailandUndiksha
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

5 Sutradara yang Bikin Saya Ingin Terus Nonton Film

Next Post

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Mochamad Rifa’i

Mochamad Rifa’i

Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

Related Posts

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails
Next Post
“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co