17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

tatkala by tatkala
March 20, 2019
in Khas
“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Mitsuha Abe di Pedawa

“Ko nau di Pedawa?”  

“Aku nau gati di Pedawa!”

“Uba ngupi?”

“Uba!”

“Ngupi apa?”

“Ngupi Pedawa!”

“Misi gula?”

“Misi.”

Jawaban-jawaban dari percakapan sederhana berbahasa Pedawa itu disampaikan Mitsuha Abe saat ditanya seorang pemuda dari Desa Pedawa, Putu Yuli Supriyandana. Mitsuha adalah perempuan Jepang yang sejak 12 Maret 2019 melanglang alam bersama kawan-kawannya di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.

Mitsuha datang ke Pedawa bersama 13 pemuda dan mahasiswa dari Yayasan Rhissi Juku, yakni Kento, Kirina,Taka, Mutu, Owi, Kazhuci, Kakeru, Momo,Yushi,Yasintha, Satoru, Ushi, Saku, dan Kage. Mitsuha yang aktivis dari Tokyo Institute of Teknology itu bertindak selaku koordinator.

Mitsuha bersama kawan dan warga di Desa Pedawa

Di Pedawa, mereka antara lain belajar bahasa asli Desa Pedawa, bahasa yang berbeda dengan bahasa Bali pada umumnya. Dari rombongan itu, Mitsuha memang paling pasih berbahasa Pedawa dan tampak sering terlibat percakapan dengan warga Desa Pedawa, termasuk Yuli Supriyandana si pemuda yang sehari-hari memang dipercaya sebagai pemandu para tamu dari Jepang itu bersama teman-temannya di Komunitas Pemuda Kayoman, Desa Pedawa.

Tentu karena Mitsuha berapa waktu lalu memang sempat datang ke Pedawa untuk urusan penelitian bambu dan rumah adat yang menggunakan bambu. Dulu ia datang sendiri, namun kali ini ia mengajak banyak teman. Urusannya kali ini adalah belajar tentang berbagai kegiatan dan tingkah-polah orang Pedawa, salah satunya adalah belajar bahasa asli Pedawa.

Pemuda Pedawa dan pemuda Jepang main bola voley bersama

Putu Yuli Supriyandana menceritakan, selain Mitsuha, terdapat satu orang lagi yang cukup bisa berbahasa Pedawa. Yang lain, tetap tampak belajar dengan giat meski hanya sedikit-sedikit saja yang berhasil mereka serap.

Dengan  penguasaan bahasa yang sedikit-sedikit itu, bisa diduga, kerap terjadi kelucuan-kelucuan saat anak-anak muda dari Jepang itu dalam berkomunikasi. Tentu, karena warga Desa Pedawa tak juga pasih berbahasa Jepang. Mereka mengandalkan bahasa tubuh dan bahasa isyarat sehingga kesalahpengertian yang sesekali terjadi menciptakan senyum dan tawa.   

Saking ramahnya, warga Desa Pedawa, tua maupun muda, selalu menyambut mereka, menyapa anak-anak Jepang itu, setiap bertemu di jalan, di tegalan atau saat anak Jepang itu main ke rumah warga. Warga bahkan tak segan menawarkan makan atau bahkan ada yang langsung menyuguhkan di atas meja.

Hanya, ya, itu, warga menyapa dengan bahasa Pedawa, dan anak-anak Jepang itu menyahut dengan bahasa Jepang. Selebihnya adalah bahasa tubuh. Jika dianalogikan dalam istilah Bali, mereka seperti “I Kolok dan I Bongol” alias Si Gagu dan Si Tuli. Masing-masing bicara tanpa dimengerti lawan bicaranya.

Pemuda atau mahasiswa Jepang berpose dengan latar rumah tua Desa Pedawa

Selain belajar bahasa anak-anak muda Jepang itu juga melihat proses pembuatan gula aren, belajar menganyam di kelompok Munduk Waban, belajar pengolahan serbuk kopi, meneliti tentang sampah, juga belajar sistem pembagian air di persawahan serta beruapa mengenal berbagai sarana upakara sekaligus ikut terlibat dalam sejumlah prosesi upacara adat di desa itu.

Yang lucu, mungkin karena terlalu besar rasa ingin tahunya, salah satu dari mereka memakan bunga aren yang di Pedawa biasanya digunakan sebagai pakan sapi. Tak terjadi apa-apa pada anak muda Jepang itu, hanya ya lucu saja.

Yang lucu lagi soal makan adalah ketika banyak dari mereka menyantap menu makanan asli Pedawa yang rata-rata rasanya pedas. Saat didera pedas, ekspresi wajah mereka jadi lucu. Warga desa yang menyuguhkan makanan pun tertawa-tawa. Anak-anak Jepang itu tertawa. Suasana pun menjadi akrab.

Anak-anak dari Jepang itu juga sempat mencoba tuak muda atau tuak manis. Mereka senang, apalagi memag untuk pertama kali mereka menikmati tuak. Ada juga yang mencoba tuak wayah, dan ekspresi wajah mereka usai meneguknya sungguh menggelikan Bayangkan sendirilah.

Yuli Supriyandana adalah Ketua Pemuda Kayoman di Desa Pedawa, sebuah kelompok pemuda pecinta lingkungan di desa itu. Ia bersama Pemuda Kayoman dipercaya untuk memandu mereka, terutama ketika mereka harus masuk ke tegalan dan hutan yang lokasinya cukup sulit bagi orang asing.

Pemuda Kayoman mengajak anak-anak Jepang itu tracking sekaligus ikut dalam kegiatan penanaman pohon di sumber air. Yang unik, saat penanaman pohon, anak-anak Jepang itu memberi nama pada pohon yang mereka tanam. Harapannya, mereka bisa datang lagi ke Desa Pedawa dan menemukan pohon yang mereka tanam sudah besar.

Pemuda dan mahasiswa Jepang tracking melihat alam Desa Pedawa

Saat melewati lokasi-lokasi terjal dan licin, anak-anak Jepang yang tak pakai sandal itu tampak kesulitan melakukan perjalanan. Jalannya pelan-pelan. Tapi, dasar anak Jepang, mereka selalu gigih, selalu berupaya dan tak pernah menyerah, sesulit apa pun medannya.

Yang membuat warga Desa Pedawa heran juga adalah keingintahuan mereka yang sangat besar terhadap apa pun. Bahkan tak segan-segan mereka tak cukup hanya tahu saja, melainkan juga turut merasakannya.

Pada saat tracking, di tengah perjalanan mereka menemukan warga sedang melaksanakan upacara penyucuian diri atau melukat ala pedawa. Mereka tak hanya menontonnya dengan takjub tapi juga ikut menyucikan diri dengan sanat antusias.

Mitsuha dan kawan-kawan tak hanya ngendon di Desa Pedawa. Mereka juga berkeliling ke semua esa baliaga yakni di Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri (SCTPB). Di desa itu itu, selain melakukan kegiatan kebersihan mereka juga menyaksikan rumah-rumah tua atau rumah adat yang ada di masing-masing desa.

Warga Kompak

Warga Desa Pedawa memang benar-benar kompak menyambut dan memfasilitasi mahasiswa dari Jepang itu saat berada di Pedawa. Pelaksana berbagai kegiatan adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pedawa dengan ketua panitia pelaksana Wayan Sukrata.

Berbagai kegiatan melibatkan semua ungsur masyarakat  Pedawa. Pemuda  Kayoman Pedawa sebagai petugas untuk menangani kegiatan tracking. Untuk memperkenalkan masalah pertanian ditangani oleh subak yang ada di Pedawa, seperti subak kopi, subak mayung dan subak uma.

Kegiatan yang berkaitan dengan ayaman ditangani kelompok anyaman Dusun Munduk Waban, untuk masalah kopi ditangani oleh  Wiru, gula aren oleh kelompok petani aren Bima Dewa Desa Pedawa, dan untuk permaianan tradisional ditangani oleh kelompok gangsing dengan koordinator Ratwisada. Yang menanggani kosumsi, makan minum, tentu saja ibu-ibu PKK Desa Pedawa.

Untuk penerjemah bahasa Jepang dalam kegiatan itu, pihak panitia  bekerja sama dengan mahasiswa Undiksha jurusan bahasa Jepang. Undiksha menugaskan 5 mahasiswa untuk mendampingi mahasiswa Jepang dalam kegiatan di   Pedawa.

Di Pedawa mahasiswa Jepang itu mengajar bahasa Jepang dengan melibatkan semua sekolah dasar di Pedawa.

Wayan Sukrata mengatakan dalam  kegitan ini ia sangat menyambut baik kedatangan  mahasiswa Jepang karena dengan kedatangan mahasiswa itu masyarakat Pedawa  menjadi percaya diri akan kekayaan budaya Pedawa  yang dipelajari oleh  mahsiswa itu.

Wayan Sukrata tidak mengangap. mahasiswa ini sebagai tamu tetapi ia menganggap saudara yang banyak membantu atas kekuarangan-kekuarangan yang ada di desanya.

“Saya berharap mahasiswa itu tidak melupakan Desa Pedawa dan bisa lagi kembali ke desa Pedawa,” katanya.

Pada Selasa 19 Maret 2019, anak-anak Jepang itu mengakhiri kuliah kerjanya di Desa Pedawa. Mereka harus balik ke Jepang dan suatu saat mereka berjanji akan datang lagi. Warga Desa Pedawa, terutama para anggota Komunitas Kayoman yang setiap hari menemani mereka melepaskan kawan-kawan Jepang mereka dengan rasa haru.

Dengar-dengar bahkan ada yang menangis. Ih, jangan-jangan ada yang jatuh hati. [T/ole/ditulis berdasar cerita Putu Yuli Supriyandana]

Tags: bali agaDesa PedawaJepanglingkunganPendidikan
Share239TweetSendShareSend
Previous Post

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Next Post

Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co