28 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

tatkala by tatkala
March 20, 2019
in Khas
“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Mitsuha Abe di Pedawa

“Ko nau di Pedawa?”  

“Aku nau gati di Pedawa!”

“Uba ngupi?”

“Uba!”

“Ngupi apa?”

“Ngupi Pedawa!”

“Misi gula?”

“Misi.”

Jawaban-jawaban dari percakapan sederhana berbahasa Pedawa itu disampaikan Mitsuha Abe saat ditanya seorang pemuda dari Desa Pedawa, Putu Yuli Supriyandana. Mitsuha adalah perempuan Jepang yang sejak 12 Maret 2019 melanglang alam bersama kawan-kawannya di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.

Mitsuha datang ke Pedawa bersama 13 pemuda dan mahasiswa dari Yayasan Rhissi Juku, yakni Kento, Kirina,Taka, Mutu, Owi, Kazhuci, Kakeru, Momo,Yushi,Yasintha, Satoru, Ushi, Saku, dan Kage. Mitsuha yang aktivis dari Tokyo Institute of Teknology itu bertindak selaku koordinator.

Mitsuha bersama kawan dan warga di Desa Pedawa

Di Pedawa, mereka antara lain belajar bahasa asli Desa Pedawa, bahasa yang berbeda dengan bahasa Bali pada umumnya. Dari rombongan itu, Mitsuha memang paling pasih berbahasa Pedawa dan tampak sering terlibat percakapan dengan warga Desa Pedawa, termasuk Yuli Supriyandana si pemuda yang sehari-hari memang dipercaya sebagai pemandu para tamu dari Jepang itu bersama teman-temannya di Komunitas Pemuda Kayoman, Desa Pedawa.

Tentu karena Mitsuha berapa waktu lalu memang sempat datang ke Pedawa untuk urusan penelitian bambu dan rumah adat yang menggunakan bambu. Dulu ia datang sendiri, namun kali ini ia mengajak banyak teman. Urusannya kali ini adalah belajar tentang berbagai kegiatan dan tingkah-polah orang Pedawa, salah satunya adalah belajar bahasa asli Pedawa.

Pemuda Pedawa dan pemuda Jepang main bola voley bersama

Putu Yuli Supriyandana menceritakan, selain Mitsuha, terdapat satu orang lagi yang cukup bisa berbahasa Pedawa. Yang lain, tetap tampak belajar dengan giat meski hanya sedikit-sedikit saja yang berhasil mereka serap.

Dengan  penguasaan bahasa yang sedikit-sedikit itu, bisa diduga, kerap terjadi kelucuan-kelucuan saat anak-anak muda dari Jepang itu dalam berkomunikasi. Tentu, karena warga Desa Pedawa tak juga pasih berbahasa Jepang. Mereka mengandalkan bahasa tubuh dan bahasa isyarat sehingga kesalahpengertian yang sesekali terjadi menciptakan senyum dan tawa.   

Saking ramahnya, warga Desa Pedawa, tua maupun muda, selalu menyambut mereka, menyapa anak-anak Jepang itu, setiap bertemu di jalan, di tegalan atau saat anak Jepang itu main ke rumah warga. Warga bahkan tak segan menawarkan makan atau bahkan ada yang langsung menyuguhkan di atas meja.

Hanya, ya, itu, warga menyapa dengan bahasa Pedawa, dan anak-anak Jepang itu menyahut dengan bahasa Jepang. Selebihnya adalah bahasa tubuh. Jika dianalogikan dalam istilah Bali, mereka seperti “I Kolok dan I Bongol” alias Si Gagu dan Si Tuli. Masing-masing bicara tanpa dimengerti lawan bicaranya.

Pemuda atau mahasiswa Jepang berpose dengan latar rumah tua Desa Pedawa

Selain belajar bahasa anak-anak muda Jepang itu juga melihat proses pembuatan gula aren, belajar menganyam di kelompok Munduk Waban, belajar pengolahan serbuk kopi, meneliti tentang sampah, juga belajar sistem pembagian air di persawahan serta beruapa mengenal berbagai sarana upakara sekaligus ikut terlibat dalam sejumlah prosesi upacara adat di desa itu.

Yang lucu, mungkin karena terlalu besar rasa ingin tahunya, salah satu dari mereka memakan bunga aren yang di Pedawa biasanya digunakan sebagai pakan sapi. Tak terjadi apa-apa pada anak muda Jepang itu, hanya ya lucu saja.

Yang lucu lagi soal makan adalah ketika banyak dari mereka menyantap menu makanan asli Pedawa yang rata-rata rasanya pedas. Saat didera pedas, ekspresi wajah mereka jadi lucu. Warga desa yang menyuguhkan makanan pun tertawa-tawa. Anak-anak Jepang itu tertawa. Suasana pun menjadi akrab.

Anak-anak dari Jepang itu juga sempat mencoba tuak muda atau tuak manis. Mereka senang, apalagi memag untuk pertama kali mereka menikmati tuak. Ada juga yang mencoba tuak wayah, dan ekspresi wajah mereka usai meneguknya sungguh menggelikan Bayangkan sendirilah.

Yuli Supriyandana adalah Ketua Pemuda Kayoman di Desa Pedawa, sebuah kelompok pemuda pecinta lingkungan di desa itu. Ia bersama Pemuda Kayoman dipercaya untuk memandu mereka, terutama ketika mereka harus masuk ke tegalan dan hutan yang lokasinya cukup sulit bagi orang asing.

Pemuda Kayoman mengajak anak-anak Jepang itu tracking sekaligus ikut dalam kegiatan penanaman pohon di sumber air. Yang unik, saat penanaman pohon, anak-anak Jepang itu memberi nama pada pohon yang mereka tanam. Harapannya, mereka bisa datang lagi ke Desa Pedawa dan menemukan pohon yang mereka tanam sudah besar.

Pemuda dan mahasiswa Jepang tracking melihat alam Desa Pedawa

Saat melewati lokasi-lokasi terjal dan licin, anak-anak Jepang yang tak pakai sandal itu tampak kesulitan melakukan perjalanan. Jalannya pelan-pelan. Tapi, dasar anak Jepang, mereka selalu gigih, selalu berupaya dan tak pernah menyerah, sesulit apa pun medannya.

Yang membuat warga Desa Pedawa heran juga adalah keingintahuan mereka yang sangat besar terhadap apa pun. Bahkan tak segan-segan mereka tak cukup hanya tahu saja, melainkan juga turut merasakannya.

Pada saat tracking, di tengah perjalanan mereka menemukan warga sedang melaksanakan upacara penyucuian diri atau melukat ala pedawa. Mereka tak hanya menontonnya dengan takjub tapi juga ikut menyucikan diri dengan sanat antusias.

Mitsuha dan kawan-kawan tak hanya ngendon di Desa Pedawa. Mereka juga berkeliling ke semua esa baliaga yakni di Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri (SCTPB). Di desa itu itu, selain melakukan kegiatan kebersihan mereka juga menyaksikan rumah-rumah tua atau rumah adat yang ada di masing-masing desa.

Warga Kompak

Warga Desa Pedawa memang benar-benar kompak menyambut dan memfasilitasi mahasiswa dari Jepang itu saat berada di Pedawa. Pelaksana berbagai kegiatan adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pedawa dengan ketua panitia pelaksana Wayan Sukrata.

Berbagai kegiatan melibatkan semua ungsur masyarakat  Pedawa. Pemuda  Kayoman Pedawa sebagai petugas untuk menangani kegiatan tracking. Untuk memperkenalkan masalah pertanian ditangani oleh subak yang ada di Pedawa, seperti subak kopi, subak mayung dan subak uma.

Kegiatan yang berkaitan dengan ayaman ditangani kelompok anyaman Dusun Munduk Waban, untuk masalah kopi ditangani oleh  Wiru, gula aren oleh kelompok petani aren Bima Dewa Desa Pedawa, dan untuk permaianan tradisional ditangani oleh kelompok gangsing dengan koordinator Ratwisada. Yang menanggani kosumsi, makan minum, tentu saja ibu-ibu PKK Desa Pedawa.

Untuk penerjemah bahasa Jepang dalam kegiatan itu, pihak panitia  bekerja sama dengan mahasiswa Undiksha jurusan bahasa Jepang. Undiksha menugaskan 5 mahasiswa untuk mendampingi mahasiswa Jepang dalam kegiatan di   Pedawa.

Di Pedawa mahasiswa Jepang itu mengajar bahasa Jepang dengan melibatkan semua sekolah dasar di Pedawa.

Wayan Sukrata mengatakan dalam  kegitan ini ia sangat menyambut baik kedatangan  mahasiswa Jepang karena dengan kedatangan mahasiswa itu masyarakat Pedawa  menjadi percaya diri akan kekayaan budaya Pedawa  yang dipelajari oleh  mahsiswa itu.

Wayan Sukrata tidak mengangap. mahasiswa ini sebagai tamu tetapi ia menganggap saudara yang banyak membantu atas kekuarangan-kekuarangan yang ada di desanya.

“Saya berharap mahasiswa itu tidak melupakan Desa Pedawa dan bisa lagi kembali ke desa Pedawa,” katanya.

Pada Selasa 19 Maret 2019, anak-anak Jepang itu mengakhiri kuliah kerjanya di Desa Pedawa. Mereka harus balik ke Jepang dan suatu saat mereka berjanji akan datang lagi. Warga Desa Pedawa, terutama para anggota Komunitas Kayoman yang setiap hari menemani mereka melepaskan kawan-kawan Jepang mereka dengan rasa haru.

Dengar-dengar bahkan ada yang menangis. Ih, jangan-jangan ada yang jatuh hati. [T/ole/ditulis berdasar cerita Putu Yuli Supriyandana]

Tags: bali agaDesa PedawaJepanglingkunganPendidikan
Share239TweetSendShareSend
Previous Post

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Next Post

Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co