30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

tatkala by tatkala
March 20, 2019
in Khas
“Aku Nau Gati di Pedawa!” kata Mitsuha Abe, Perempuan dari Jepang itu…

Mitsuha Abe di Pedawa

“Ko nau di Pedawa?”  

“Aku nau gati di Pedawa!”

“Uba ngupi?”

“Uba!”

“Ngupi apa?”

“Ngupi Pedawa!”

“Misi gula?”

“Misi.”

Jawaban-jawaban dari percakapan sederhana berbahasa Pedawa itu disampaikan Mitsuha Abe saat ditanya seorang pemuda dari Desa Pedawa, Putu Yuli Supriyandana. Mitsuha adalah perempuan Jepang yang sejak 12 Maret 2019 melanglang alam bersama kawan-kawannya di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.

Mitsuha datang ke Pedawa bersama 13 pemuda dan mahasiswa dari Yayasan Rhissi Juku, yakni Kento, Kirina,Taka, Mutu, Owi, Kazhuci, Kakeru, Momo,Yushi,Yasintha, Satoru, Ushi, Saku, dan Kage. Mitsuha yang aktivis dari Tokyo Institute of Teknology itu bertindak selaku koordinator.

Mitsuha bersama kawan dan warga di Desa Pedawa

Di Pedawa, mereka antara lain belajar bahasa asli Desa Pedawa, bahasa yang berbeda dengan bahasa Bali pada umumnya. Dari rombongan itu, Mitsuha memang paling pasih berbahasa Pedawa dan tampak sering terlibat percakapan dengan warga Desa Pedawa, termasuk Yuli Supriyandana si pemuda yang sehari-hari memang dipercaya sebagai pemandu para tamu dari Jepang itu bersama teman-temannya di Komunitas Pemuda Kayoman, Desa Pedawa.

Tentu karena Mitsuha berapa waktu lalu memang sempat datang ke Pedawa untuk urusan penelitian bambu dan rumah adat yang menggunakan bambu. Dulu ia datang sendiri, namun kali ini ia mengajak banyak teman. Urusannya kali ini adalah belajar tentang berbagai kegiatan dan tingkah-polah orang Pedawa, salah satunya adalah belajar bahasa asli Pedawa.

Pemuda Pedawa dan pemuda Jepang main bola voley bersama

Putu Yuli Supriyandana menceritakan, selain Mitsuha, terdapat satu orang lagi yang cukup bisa berbahasa Pedawa. Yang lain, tetap tampak belajar dengan giat meski hanya sedikit-sedikit saja yang berhasil mereka serap.

Dengan  penguasaan bahasa yang sedikit-sedikit itu, bisa diduga, kerap terjadi kelucuan-kelucuan saat anak-anak muda dari Jepang itu dalam berkomunikasi. Tentu, karena warga Desa Pedawa tak juga pasih berbahasa Jepang. Mereka mengandalkan bahasa tubuh dan bahasa isyarat sehingga kesalahpengertian yang sesekali terjadi menciptakan senyum dan tawa.   

Saking ramahnya, warga Desa Pedawa, tua maupun muda, selalu menyambut mereka, menyapa anak-anak Jepang itu, setiap bertemu di jalan, di tegalan atau saat anak Jepang itu main ke rumah warga. Warga bahkan tak segan menawarkan makan atau bahkan ada yang langsung menyuguhkan di atas meja.

Hanya, ya, itu, warga menyapa dengan bahasa Pedawa, dan anak-anak Jepang itu menyahut dengan bahasa Jepang. Selebihnya adalah bahasa tubuh. Jika dianalogikan dalam istilah Bali, mereka seperti “I Kolok dan I Bongol” alias Si Gagu dan Si Tuli. Masing-masing bicara tanpa dimengerti lawan bicaranya.

Pemuda atau mahasiswa Jepang berpose dengan latar rumah tua Desa Pedawa

Selain belajar bahasa anak-anak muda Jepang itu juga melihat proses pembuatan gula aren, belajar menganyam di kelompok Munduk Waban, belajar pengolahan serbuk kopi, meneliti tentang sampah, juga belajar sistem pembagian air di persawahan serta beruapa mengenal berbagai sarana upakara sekaligus ikut terlibat dalam sejumlah prosesi upacara adat di desa itu.

Yang lucu, mungkin karena terlalu besar rasa ingin tahunya, salah satu dari mereka memakan bunga aren yang di Pedawa biasanya digunakan sebagai pakan sapi. Tak terjadi apa-apa pada anak muda Jepang itu, hanya ya lucu saja.

Yang lucu lagi soal makan adalah ketika banyak dari mereka menyantap menu makanan asli Pedawa yang rata-rata rasanya pedas. Saat didera pedas, ekspresi wajah mereka jadi lucu. Warga desa yang menyuguhkan makanan pun tertawa-tawa. Anak-anak Jepang itu tertawa. Suasana pun menjadi akrab.

Anak-anak dari Jepang itu juga sempat mencoba tuak muda atau tuak manis. Mereka senang, apalagi memag untuk pertama kali mereka menikmati tuak. Ada juga yang mencoba tuak wayah, dan ekspresi wajah mereka usai meneguknya sungguh menggelikan Bayangkan sendirilah.

Yuli Supriyandana adalah Ketua Pemuda Kayoman di Desa Pedawa, sebuah kelompok pemuda pecinta lingkungan di desa itu. Ia bersama Pemuda Kayoman dipercaya untuk memandu mereka, terutama ketika mereka harus masuk ke tegalan dan hutan yang lokasinya cukup sulit bagi orang asing.

Pemuda Kayoman mengajak anak-anak Jepang itu tracking sekaligus ikut dalam kegiatan penanaman pohon di sumber air. Yang unik, saat penanaman pohon, anak-anak Jepang itu memberi nama pada pohon yang mereka tanam. Harapannya, mereka bisa datang lagi ke Desa Pedawa dan menemukan pohon yang mereka tanam sudah besar.

Pemuda dan mahasiswa Jepang tracking melihat alam Desa Pedawa

Saat melewati lokasi-lokasi terjal dan licin, anak-anak Jepang yang tak pakai sandal itu tampak kesulitan melakukan perjalanan. Jalannya pelan-pelan. Tapi, dasar anak Jepang, mereka selalu gigih, selalu berupaya dan tak pernah menyerah, sesulit apa pun medannya.

Yang membuat warga Desa Pedawa heran juga adalah keingintahuan mereka yang sangat besar terhadap apa pun. Bahkan tak segan-segan mereka tak cukup hanya tahu saja, melainkan juga turut merasakannya.

Pada saat tracking, di tengah perjalanan mereka menemukan warga sedang melaksanakan upacara penyucuian diri atau melukat ala pedawa. Mereka tak hanya menontonnya dengan takjub tapi juga ikut menyucikan diri dengan sanat antusias.

Mitsuha dan kawan-kawan tak hanya ngendon di Desa Pedawa. Mereka juga berkeliling ke semua esa baliaga yakni di Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan Banyuseri (SCTPB). Di desa itu itu, selain melakukan kegiatan kebersihan mereka juga menyaksikan rumah-rumah tua atau rumah adat yang ada di masing-masing desa.

Warga Kompak

Warga Desa Pedawa memang benar-benar kompak menyambut dan memfasilitasi mahasiswa dari Jepang itu saat berada di Pedawa. Pelaksana berbagai kegiatan adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pedawa dengan ketua panitia pelaksana Wayan Sukrata.

Berbagai kegiatan melibatkan semua ungsur masyarakat  Pedawa. Pemuda  Kayoman Pedawa sebagai petugas untuk menangani kegiatan tracking. Untuk memperkenalkan masalah pertanian ditangani oleh subak yang ada di Pedawa, seperti subak kopi, subak mayung dan subak uma.

Kegiatan yang berkaitan dengan ayaman ditangani kelompok anyaman Dusun Munduk Waban, untuk masalah kopi ditangani oleh  Wiru, gula aren oleh kelompok petani aren Bima Dewa Desa Pedawa, dan untuk permaianan tradisional ditangani oleh kelompok gangsing dengan koordinator Ratwisada. Yang menanggani kosumsi, makan minum, tentu saja ibu-ibu PKK Desa Pedawa.

Untuk penerjemah bahasa Jepang dalam kegiatan itu, pihak panitia  bekerja sama dengan mahasiswa Undiksha jurusan bahasa Jepang. Undiksha menugaskan 5 mahasiswa untuk mendampingi mahasiswa Jepang dalam kegiatan di   Pedawa.

Di Pedawa mahasiswa Jepang itu mengajar bahasa Jepang dengan melibatkan semua sekolah dasar di Pedawa.

Wayan Sukrata mengatakan dalam  kegitan ini ia sangat menyambut baik kedatangan  mahasiswa Jepang karena dengan kedatangan mahasiswa itu masyarakat Pedawa  menjadi percaya diri akan kekayaan budaya Pedawa  yang dipelajari oleh  mahsiswa itu.

Wayan Sukrata tidak mengangap. mahasiswa ini sebagai tamu tetapi ia menganggap saudara yang banyak membantu atas kekuarangan-kekuarangan yang ada di desanya.

“Saya berharap mahasiswa itu tidak melupakan Desa Pedawa dan bisa lagi kembali ke desa Pedawa,” katanya.

Pada Selasa 19 Maret 2019, anak-anak Jepang itu mengakhiri kuliah kerjanya di Desa Pedawa. Mereka harus balik ke Jepang dan suatu saat mereka berjanji akan datang lagi. Warga Desa Pedawa, terutama para anggota Komunitas Kayoman yang setiap hari menemani mereka melepaskan kawan-kawan Jepang mereka dengan rasa haru.

Dengar-dengar bahkan ada yang menangis. Ih, jangan-jangan ada yang jatuh hati. [T/ole/ditulis berdasar cerita Putu Yuli Supriyandana]

Tags: bali agaDesa PedawaJepanglingkunganPendidikan
Share239TweetSendShareSend
Previous Post

Kisah PPL di Thailand: Pakaian Siswa Sama Setiap Hari, Guru Tak Setiap Hari Berseragam

Next Post

Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails
Next Post
Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

Sisi Bali: Video Art Workshop di Bentara Budaya Bali, 21-24 Maret 2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co