3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diskursus Kecil Ala ILC – Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

B. B. Sugiono by B. B. Sugiono
March 19, 2019
in Khas
Diskursus Kecil Ala ILC – Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

Politik. Politik. Politik—dengan maraknya politik yang memanas pada pilpres tahun ini, menimbulkan efek gerah bagi kalangan mahasiswa. Sehingga mereka merasa terpanggil untuk angkat bicara—dan suara-suara mereka baru terealisasi pada: Senin, 18 Maret 2019, dalam agenda acara yang diselenggarakan oleh PC IMM Buleleng.

Dengan bentuk Diskursus Kecil Ala ILC, acara ini mengundang berbagai organisasi-organisasi ekstra kampus dan intra kampus; dengan masing-masing perwakilan pembicara atau sederhananya pematik, seperti PC IMM Buleleng (Dammurrosysyi M), KAMMI Komisariat Singaraja (Abdul Razaq), Al-Hikmah Undiksa (Didin Samsul M), HMI Singaraja (Achmad Halim), PC PMII Singaraja (Mochammad Mahfud), PC KMHDI Buleleng (Putu Esa Purwita), PW PII Bali (Fadzul Afyan), dan Compok Basi (Ahmad Anif Alhaki).

            Acara ini bukan dalam rangka yang gawat-gawat. Tapi ini hanyalah  diskusus-diskusus ringan yang kebetulan ingin mengundang segenap OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) yang ada di lingkungan Undiksha/Singaraja. OKP tersebut bukan hanya mencakup suatu organisasi yang digeluti oleh mahasiswa. Tetapi ada juga OKP yang digeluti oleh siswa, contohnya: PW PII (Pelajar Islam Indonesia) Bali.

Selain itu, adapun tema yang diangkat pada acara ini: Merawat Akal Sehat di Tahun Politik. Tema ini dipilih berdasarkan subjektif anggota-anggota PC IMM Buleleng, yang beranggapan bahwa politik yang terjadi saat ini sangatlah kotor.

Maka dari itu, pemilihan tema yang seperti ini diharapkan dapat menetralisir kekotoran-kekotoran politik tersebut, yang sering dimamahkan kepada masyarakat. Khususnya dalam forum ini yang disasar adalah siswa dan mahasiswa, apanya yang disasar dari mereka?: akal sehatnya. Agar segenap siswa dan mahasiswa tidak terkontaminasi dengan sajian politik kotor yang ada pada pilpres Indonesia tahun ini

Untuk kelancaran diskususnya, acara ini dikawal oleh moderator Samsul Arifin yang berstatus anggota dari PC IMM Buleleng. Meski moderator ini tidak seserak Karny Ilyas suranya, tapi ia dapat mengawal keberlangsungan acara dengan sangat baik, aman, damai, bijaksana.

***

  • Merawat Akal Sehat di Tahun Politik

Memasuki inti dari acara, Samsul Arifin yang berstatus sebagai moderator meminta pembicara dari masing-masing OKP untuk berpendapat mengenai persoalan politik yang sedang terjadi saat ini. Kemudian menunjuklah ia Ketua PC IMM Buleleng (Damurrosysyi M ) untuk berbicara sekaligus memjadi pembuka diskursus pada tadi malam.

Damurrosysyi M berpendapat bahwa politik saat ini memang sangat rusak. Dan tidak lain kerusakan tersebut disebabkan dari dua faktor: pertama, penebaran hoax yang bermunculan. Hal-hal semacam hoax ini sangat merusak pola pikir para pemuda dan secara tidak langsung memaksa mereka untuk terjerusmus dalam pola pikir yang salah. Yang sengaja dibuat-buat oleh oknum-oknum dari masing-masing paslon capres-cawapres untuk kepengentingan-kepentingan mereka dalam pilpres tahun ini.

Kedua, penebaran ketakutan dan ancaman tertentu demi mendapatkan suara dan simpati rakyat. Ini juga perbuatan yang salah dalam berpolitik. Sebab arah kalimat-kalimat yang digunakan kemudian mengarah pada kebencian-kebencian yang dimamahkan dan dipertontonkan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, apabila penerima dan pengonsumsi ancaman-ancaman tersebut tidak kuat dalam bidang literasi atau meneliti benar tidaknya yang disampaikan para oknum-oknum itu, maka yang terjadi adalah munculnya jiwa-jiwa kebencian dan fanatisme yang berlebihan.

Setelah itu Mochammad Mahfud juga berpendapat, bahwa : Mereka-mereka yang menyebabkan kekacauan politik dan pengonsumsi isu-isu hoax sebenarnya mereka akalnya sama-sama sehat. Tapi nalarnya mereka yang terlalu sempit, karena fanatisnya terhadap paslon. Sehingga membuat banyak kegaduhan-kegaduhan yang bermunculan. Sampai-sampai kondisi politik saat ini tidak jauh beda dengan politik masa Orde Baru ; salah satu contohnya adalah terangkatnya isu-isu komunis ke ruang publik. Sehingga yang dicapai bukan lagi persoalan kesejateraan, tetapi lebih keranah pembunuhan moral.

Lanjut Achmad Halim berpendapat : Bahwasannya memang kerusakan politik saat ini banyak dicemari media sosial, media social yang mana? Media sosial yang menggunakan data-data dan berita-berita yang palsu guna untuk merusak akal sehat. Khususnya kerusakan akal sehat terhadap politik. Apalagi jika media-medianya menyebarkan hoax isu-isu agama. Pasti masyarakat akan cenderung aktif terhadap isu itu.

Karena dasar kulturnya memang begitu ; memang begitu kalau sebenarnya masyarakat Indonesia ini memang sensitiffan dan fanatikkan.  Sehingga, dengan adanya gejala-gejala semacam itu akan semakin untuk mencapai yang dinamakan akal sehat—dan terciptanya akal sehat juga bukan dasar telanjang pemikiran setiap pribadi, tetapi juga membutuhkan persepektif -persepektif dari beberapa orang.

Berbeda dengan apa yang disapakan oleh Ahmad Anif Alhaki. Ia lebih menyatakan pendapat terhadap perkumpulannya yaitu, Compok Basi. Katanya, Compok Basi itu hanyalah perkumpulan kecil yang tidak sengaja nyasar ke tempat perkumpulan-perkumpulan yang besar seperti sekarang. Dan ini juga menjadi kebanggaan yang luar biasa bagi saya dan kawan Compok Basi lainnya.

Ia juga berasumsi tentang penggalan tema yang terangkat, yaitu : Merawat akal sehat. Dari kata merawat tentu sudah pasti ada sesuatu yang kita punya dan ada sesuatu yang musti kita jaga. Apa? Akal. Saya yakin semua yang bisa hadir di depan saya ini punya akal semua.

Pertanyaan saya, apakah semua akal kawan-kawan yang ada di depan saya ini sudah sehat atau tidak? Dan untuk mendefinisikan akal sehat pun tidak sekadar mentah-mentah saja. Tetapi akal sehat juga harus teruji secara bentuk yang rill. Jika dalam suatu pengujian sudah lolos, maka bisalah beranggapan bahwa akal tersebut benar-benar sehat. Bukan sebatas cuma-cuma atau ala kadarnya menganggap sesuatu yang tidak sehat dipaksakan untuk sehat. Bukan seperti itu!

Ini juga dapat diperdekatkan terhadap makna cebong dan kampret yang sering diumbar di berbagai media. Dan terkadang, setiap apa yang disampai oleh dua cebong dan kampret ini biasanya menyangkut-pautkan dengan kitab suci yaitu Al Qur’an—dikit-dikit suruh cek Al Qur’an, dikit-dikit suruh cek Hadist. Duh.Duh.Duh. Tapi wajar sih, karena ini memang tahun politik. Jadi semua bisa dipolitisasi, dan kebetulan agama dan kitab suci Al Qur’an adalah suatu senjata yang paling ampuh untuk mencari dan mengikat suara masyarakat. Dalam konteks yang beragama muslim.

Pernyataan yang disampaikan oleh Fadzul Afyan hampir serupa dengan pernyataan sebelumnya dalam memahami: Merawat akal sehat. Ia juga mengemukakan bahwa setiap manusia mempunyai akal yang sekaligus menjadi pembeda dengan mahluk yang lain. Dan dalam forum ini rasanya yang hadir manusia semua. Berarti sudah pasti punya akal meski tidak tahu sehat tidaknya.

Ia juga menyatakan sikap dirinya dan organisasi yang sangat sensitif terhadap politik. Akibat dari kejadian masa silam yang masih menjadi trauma yang membekas sampai saat ini. Bekas ini dimulai sejak PII pada masa Orde Baru diancam untuk bekukankan. Dan akhirnya Soeharto membekukan sungguhan. Sejak saat itulah PII takut dan was-was terhadap politik.

Sambung Putu Esa Purwita, tahun politik sebenar yang jusrtu merusak akal sehat. Dengan banyaknya informasi informasi yangg dikonsumsi secara mentah dan itu adalah hoax. Maka yang terjadi, timbullah bibit-bibit kebencian dan bentuk-bentuk tidak baik lainnya.

Pesan saya hanyalah, pilihlah sesuai hati nurani tanpa merusak demokrasi orang lain atau warga negara yang lain. Mari dukung pemilu tahun 2019 tanpa ada rasisme dan tindakan tindakan radikal lainnya.

Yang terakhir pernyataan yang disampai oleh Abdul Rozaq.

Ngelucu sejenak.

Judul tren merawat akal sehat di tahun politik. Jika arti merawat berarti sudah ada yang tumbuh dan musti dijaga. Maka guna akal sehat sebenarnya adalah untuk memahami suatu keadaan secara autentik. Tanpa dikendalikan doktrin-doktrin apa pun. Dan juga keakalsehatannya juga perlu diuji secara valid. Agar kemudian tidak menciptakan paham sekadar ikut-ikutan.

Adapun juga tentang keadaan saat ini, yang begitu banyak racun-racun yang diperantarai media untuk merusak saraf-saraf akal sehat manusia. Meski, sebenarnya tidak semua media memahkan racun. Tapi justru pada apa yang musti disampaikannya. Entah itu yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.

***

Setelah semua dari masing-masing pembicara usai menyampai pendapat-pendapatnya. Kemudian moderator mengalihwahanakan pada pembahasan mengenai keadaan demokrasi yang sedang terjadi pada menjelang pilpres saat ini.  Karena yang kita ketahui bersama bahwa demokrasi sebenarnya ialah apa yang disampaikan oleh Abraham Lincoln, yaitu: Dari rakyat. Oleh rakyat, dan Untuk rakyat. Dan demokrasi yang masih tercium baunya sampai sekarang ini adalah demokrasi yang muncul sejak runtuhnya masa Orde Baru.

Ahmad Anif alhaki memaknai sebuah demokrasi melalui tiga konsep, yaitu: Cinta (berdasarkan perasaan), Kerendahan Hati (menghargai pendapat orang lain), dan harapan (harus ada hasil yang dirapkan) agar tidak menimbulkan sikap apatis.

Sedangkan Nama Urwah Al Barki seorang anggota KAMMI lebih mengarahkan penjelasannya pada kesalahan demokrasi. Ia beranggapan bahwa kesalahan demokrasi adalah ulah masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang sebenarnya salah dalam memandang demokrasi. Sehingga yang terjadi ialah kecenderungan berpikir buruk terhadap peran demokrasi dan keadaan demokrasi yang terjadi seperti saat ini.

Lanjut Jaswanto yang sebagai anggota HMI menyatakan pandangannya tentang politik dan demokrasi. Katanya, dari hadulu kita telah melewati tiga tahap demokrasi yang pernah dialami bangsa dan masyarakat Indonesia, yaitu demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, dan kemudian yang yang terakhir adalah demokrasi pancasila. Dan keadaan demokrasi saat ini telah menyayat sila keempat yang berbunyi: Kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan. Tapi kondisinya sekarang bagaimana? Pemilu kita bagaimana? Apakah sudah menerapkan permusyawaratan perwakilan itu? Tentu jawabannya tidak!

Kemudian anggota Rodatul Sarifah anggota IMM juga berpendapat tentang demokrasi dan juga dikaitkan pada peran-peran mahasiswa yang katanya agen perubahan. Tapi apakah mahasiswa sekarang bisa dibilang agen perubahan? Atau justru yang mudah bergaul dengan hoax-hoax yang busuk. Sehingga pada akhirnya hanya menimbulkan kontroversi dan terhindar dari kemakmuran rakyat. Karena mereka semua telah rabun literasinya, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang dimainkan oleh pihak-pihak tertentu hanya untuk menginginkan kursi kekuasaan. Bukan kesejateraan. Masyarakat juga sangat tidak sadar bahwa pecahnya bangsa Indonesia ini disebabkan oleh kaum-kaum berdasi yang haus kekuasaan. Bahkan dengan cara menumbalkan masyarakat.

Setelah itu yang Ahmad Nur Amin anggota PMII yang sekaligus menjadi penutup tulisan ini. Ia beranggapan bahwa sebenarnya kedaan demokrasi di Indonesia itu tidak pernah salah. Karena demokrasi yang berjalan sekarang sudah berjalan sebagaimana mestinya. Meski dari pandangan beberapa pihak mengatakan tidak sesuai, karena diperantarai banyaknya aturan-aturan dan batasan-batasan yang harus dipatuhi sebagai warga negara.

Sebenarnya kan bukan begitu. Demokrasi memang konsep kebebasan tapi bukan berarti tanpa aturan. Maka dari itu, sebenarnya demokrasi memang membutuhkan aturan sebagai ukuran batas. Agar tidak semena-mena menghakimi orang lain, agar tidak semena-mena berbuat kriminalitas, agar tidak semena-mene berperilaku yang merugikan orang lain. Maka, demokrasi itu perlu diberi batas. Dengan cara bagaimana? Dengan cara memberikan aturan yang sesuai dan sebagai mana mestinya.

  • Pesan-pesan

Politik adalah sesuatu yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Jadi jangan pernah takut untuk menyatakan diri sebagai orang yang berpolitik. Adapun cuitan-cuitan yang disampaikan dari para pembicara-pembicara: Betapa bangganya Soeharto jika memerintah pada tahun ini, betapa senangnya Soeharto jika memerintah pada masa ini, betapa tertawanya Soeharto jika berbuat zolim pada periode ini. Karena mahasiswa yang sangat ia ditakuti, karena mahasiswa yang selalu membawa berita buruk bagi pemerintahannya, seperti sediakala ketika meledakkan peristiwa 1998 ternyata sekarang sudah tidak lagi ditemukan! Bahkan telah hilang! [T]

Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Law of Attraction: Memanifestasi Harapan

Next Post

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

B. B. Sugiono

B. B. Sugiono

lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo. Kini merantau di Singaraja, Bali; menjadi pekerja teks: penyair dan prosais. Untuk menghubunginya bisa melalui nomor 082301299466. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media massa di Indonesia, cetak maupun elektronik, antara lain: Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Denpasar Post, Malang Post, Kurung Buka, Galeri Buku Jakarta, dan lain-lain. Salah satu pendiri Majalah Lentera Bayuangga (MLB).

Related Posts

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails
Next Post
“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

“Menjeepee” – Cerita Nyepi dalam Catatan Wartawan Amerika Pertama ke Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co