25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 8, 2024
in Esai
Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan

Tangkapan layar penulis dari Channel YouTube Ketut Bradut, Lawak Bali: “Hari Raya Kuningan Serba Kuning”

“De, inget siapang sapari kuninge, mani nak Kuningan!” (Nak, ingat siapkan busana adat kuningnya, besok hari suci Kuningan!)

SEPERTI itulah cuitan dari seorang ibu kepada anaknya. Hal yang menandakan bahwa besok Hari Suci Kuningan telah tiba. Hari Suci Kuningan merupakan hari suci Agama Hindu yang jatuh 10 hari setelah hari suci Galungan, tepatnya Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan (Tumpek Kuningan).

Sama seperti Galungan, Kuningan juga menjadi salah satu hari suci yang ditunggu-tunggu oleh umat Hindu. Hal ini berasal dari daya tarik berupa, hadirnya beragam jejahitan yang khas(Anyaman untuk Upacara Khas Agama Hindu), filosofi para Dewata yang akan pulang di pukul 12.00, serta budaya melancong ke pantai di sore harinya. Eitsss… jangan lupakan juga, tradisi Nglawang berupa atraksi Barong Bangkung yang siap memeriahkan jalanan dan perumahan warga.

Dari beragamnya daya tarik, sebenarnya terdapat satu lagi ciri khas yang menjadi tren hari suci Kuninganmasa kini. Meskipun demikian, tren ini jarang disadari oleh umat Hindu, bahkan mungkin selalu luput dari pembahasan secara filosofis.

Tren tersebut adalah pemakaian busana serba kuning. Hal ini bisa direfleksikan lewat perkembangan teknologi di zaman sekarang, di mana media sosial akan langsung dipenuhi foto-foto eksis anak muda yang tampil dengan busana adat berwarna kuning di hari suci Kuningan. Entah kuning dalam hal udengnya, saputnya, saparinya, kebayanya, kamennya, dan hal lainnya (Bradut, 2020). Foto tersebut kemudian akan ditimpali dengan balutan status, caption, dan hastag ‘#’ khas “Selamat Hari Suci Kuningan.”

Dari tren tersebut, beragam pertanyaan pun muncul. Apa sesungguhnya yang melatar belakangi tren ini? Siapa sebenarnya yang memproklamirkan tren ini? dan Apakah memang diwajibkan memakai busana serba ‘kuning’ ini?

Eksis karena Kata Dasar ‘Kuningan’

Sampai sejauh ini, secara legalitas tertulis maupun tidak tertulis, sesungguhnya belum ada yang tahu pasti, kapan tanggal awal munculnya tren pemakaian busana serba kuning di hari suci Kuningan. Dari segi latar belakang, hanya baru muncul sebuah dugaan sementara yang berhubungan dengan kata dasar hari suci ‘Kuningan’ itu sendiri.

Secara etimologi, hari suci Kuningan jika digali dari segi bahasa Indonesia, akan menemukan kata dasar ‘kuning’. Kata dasar Kuning inilah yang banyak dihubungkan dengan warna kuning, sehingga bisa menjadi sebuah hipotesa awal, landasan tren ini muncul di setiap hari suci Kuninganmasa kini. Terlebih hal ini juga didukung oleh perkembangan busana adat yang kian berkembang dari hari keharinya, baik dari sisi inovasi motif maupun kreasi warna.

Dipopulerkan oleh Kalangan Anak Muda

Sama seperti latar belakangnya, nama orang yang memproklamirkan pemakaian tren busana berwarna kuning setiap hari suci Kuninganjuga belum ada yang mengetahui secara pasti. Namun, jika berkaca dari tren ini, yang eksis lewat media sosial, dapat diketahui jawaban sementara bahwa pihak yang mempopulerkan tren ini adalah kalangan anak muda.

Hal ini sesuai dengan refleksi fenomena hari suci Kuninganmasa kini, di mana para anak muda akan berlomba-lomba untuk mengepost foto mereka yang tengah berbusana adat berwarna kuning untuk diperlihatkan kepada teman-temannya. Hal ini pun kemudian berkembang menjadi sebuah tren.

Tren ini kemudian mulai menginvasi pikiran anak muda agar tidak ketinggalan zaman dalam memeriahkan hari suci Kuninganmenggunakan busana adat berwarna kuning. Tidak jarang pula, tren ini mendapatkan legitimasi secara tidak langsung oleh kalangan orang tua. Hal ini menyebabkan orang tua juga turut ingin eksis mengepost foto mereka dengan memakai busana adat berwarna kuning di media sosial, sebagai wujud kebersamaan dengan anak di hari suci Kuningan.

Bukan Sesuatu Hal yang Wajib

Meskipun menjadi sebuah tren di hari suci Kuninganmasa kini, memakai busana adat berwarna kuning di hari suci Kuninganbukanlah sesuatu hal yang wajib. Hal tersebut dikarenakan belum adanya sumber sastra Hindu yang mengamanatkan hal demikian. Ditambah lagi, kata ‘kuning’ dalam kata ‘Kuningan’ bukanlah sesuatu yang serta merta dapat diartikan secara prematur sebagai hari berpakaian serba kuning.

Lebih mendalam selain warna (dalam Sudarsana, 2003: 72), kata ‘kuning’ dalam hari suci Kuninganlebih mengarah pada makna “Amertha” yang memiliki arti sebagai anugrah suci kehidupan. Sementara kata ‘Kuningan’ sesungguhnya berasal dari “Keuningan” yang memiliki arti “Kepradnyanan”.

Untuk itulah, hari suci Kuningansesungguhnya lebih mengarah pada hari umat manusia untuk meminta anugrah (Amertha) dalam bentuk kepradnyanan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Terutama dalam manifestasinya dalam wujud Sang Hyang Mahadewadan para Dewata-Dewati. Hal ini sesuai dengan isi kutipan Lontar Sundarigama (Sudarsana, 2003: 73) sebagai landasan umat Hindu untuk melaksanakan suatu hari suci yang berbunyi sebagai berikut:

“Saniscara Kliwon Wara Kuningan Payoganira Bethara Mahadewa Tumuruna Pepareng Para Dewata Muang Sang Dewa Pitara, Inanggapa Bhaktin Manusa, Amaweha Waranugeraha Amertha Kahuripan….”

Terjemahan:“Hari Sabtu Kliwon Wuku Kuningan merupakan hari beryoga-Nya Sang Hyang Mahadewa dibarengi dengan Para Dewata dan Para Leluhur yang telah disucikan. Dengan sikap bhakti manusia, diperolehlah anugrah kesucian kehidupan…”

Jadi, dapat diketahui bersama bahwa belum ada legitimasi pasti mengenai latar belakang, kapan, dan siapa yang memproklamirkan tren serba kuning di hari suci Kuningan. Hal ini murni hanya sebuah tren yang dikaitkan dengan kata ‘kuning’ pada kata hari suci ‘Kuningan’.

Dari sana dapat disimpulkan juga, tren pemakaian busana berwarna kuning di hari suci Kuninganbukanlah sesuatu hal yang wajib. Sehingga, sudah seyogyanya umat Hindu dapat menanggapi hal ini dengan bijak dan tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk berbusana serba kuning di setiap hari suci Kuningan.

Di satu sisi, eksistensi tren ini sesungguhnya sah-sah saja untuk dilakoni, asal tetap dalam koridor sewajarnya. Hal ini memiliki maksud, tren ini dilakukan murni sebagai wujud cinta kasih kepada Hyang Widhikarena menganugerahi umat manusia hari suci luhur bernama ‘Kuningan’.[T] 

SUMBER REFERENSI

  • Bradut, Ketut. 2020. Lawak Bali, Hari Raya Kuningan Serba Kuning, https://m.youtube.com/watch?v=UZd_Bt6tMKU. Diakses 7-Maret-2024.
  • Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama Edisi II. Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan
Kuningan Tradisi Sunda Kuno?
Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?
Tags: Hari Suci HinduKuningantrend
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dayu Shanti, Sosok Gadis Buleleng Masa Kini

Next Post

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co