4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 8, 2024
in Esai
Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan

Tangkapan layar penulis dari Channel YouTube Ketut Bradut, Lawak Bali: “Hari Raya Kuningan Serba Kuning”

“De, inget siapang sapari kuninge, mani nak Kuningan!” (Nak, ingat siapkan busana adat kuningnya, besok hari suci Kuningan!)

SEPERTI itulah cuitan dari seorang ibu kepada anaknya. Hal yang menandakan bahwa besok Hari Suci Kuningan telah tiba. Hari Suci Kuningan merupakan hari suci Agama Hindu yang jatuh 10 hari setelah hari suci Galungan, tepatnya Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan (Tumpek Kuningan).

Sama seperti Galungan, Kuningan juga menjadi salah satu hari suci yang ditunggu-tunggu oleh umat Hindu. Hal ini berasal dari daya tarik berupa, hadirnya beragam jejahitan yang khas(Anyaman untuk Upacara Khas Agama Hindu), filosofi para Dewata yang akan pulang di pukul 12.00, serta budaya melancong ke pantai di sore harinya. Eitsss… jangan lupakan juga, tradisi Nglawang berupa atraksi Barong Bangkung yang siap memeriahkan jalanan dan perumahan warga.

Dari beragamnya daya tarik, sebenarnya terdapat satu lagi ciri khas yang menjadi tren hari suci Kuninganmasa kini. Meskipun demikian, tren ini jarang disadari oleh umat Hindu, bahkan mungkin selalu luput dari pembahasan secara filosofis.

Tren tersebut adalah pemakaian busana serba kuning. Hal ini bisa direfleksikan lewat perkembangan teknologi di zaman sekarang, di mana media sosial akan langsung dipenuhi foto-foto eksis anak muda yang tampil dengan busana adat berwarna kuning di hari suci Kuningan. Entah kuning dalam hal udengnya, saputnya, saparinya, kebayanya, kamennya, dan hal lainnya (Bradut, 2020). Foto tersebut kemudian akan ditimpali dengan balutan status, caption, dan hastag ‘#’ khas “Selamat Hari Suci Kuningan.”

Dari tren tersebut, beragam pertanyaan pun muncul. Apa sesungguhnya yang melatar belakangi tren ini? Siapa sebenarnya yang memproklamirkan tren ini? dan Apakah memang diwajibkan memakai busana serba ‘kuning’ ini?

Eksis karena Kata Dasar ‘Kuningan’

Sampai sejauh ini, secara legalitas tertulis maupun tidak tertulis, sesungguhnya belum ada yang tahu pasti, kapan tanggal awal munculnya tren pemakaian busana serba kuning di hari suci Kuningan. Dari segi latar belakang, hanya baru muncul sebuah dugaan sementara yang berhubungan dengan kata dasar hari suci ‘Kuningan’ itu sendiri.

Secara etimologi, hari suci Kuningan jika digali dari segi bahasa Indonesia, akan menemukan kata dasar ‘kuning’. Kata dasar Kuning inilah yang banyak dihubungkan dengan warna kuning, sehingga bisa menjadi sebuah hipotesa awal, landasan tren ini muncul di setiap hari suci Kuninganmasa kini. Terlebih hal ini juga didukung oleh perkembangan busana adat yang kian berkembang dari hari keharinya, baik dari sisi inovasi motif maupun kreasi warna.

Dipopulerkan oleh Kalangan Anak Muda

Sama seperti latar belakangnya, nama orang yang memproklamirkan pemakaian tren busana berwarna kuning setiap hari suci Kuninganjuga belum ada yang mengetahui secara pasti. Namun, jika berkaca dari tren ini, yang eksis lewat media sosial, dapat diketahui jawaban sementara bahwa pihak yang mempopulerkan tren ini adalah kalangan anak muda.

Hal ini sesuai dengan refleksi fenomena hari suci Kuninganmasa kini, di mana para anak muda akan berlomba-lomba untuk mengepost foto mereka yang tengah berbusana adat berwarna kuning untuk diperlihatkan kepada teman-temannya. Hal ini pun kemudian berkembang menjadi sebuah tren.

Tren ini kemudian mulai menginvasi pikiran anak muda agar tidak ketinggalan zaman dalam memeriahkan hari suci Kuninganmenggunakan busana adat berwarna kuning. Tidak jarang pula, tren ini mendapatkan legitimasi secara tidak langsung oleh kalangan orang tua. Hal ini menyebabkan orang tua juga turut ingin eksis mengepost foto mereka dengan memakai busana adat berwarna kuning di media sosial, sebagai wujud kebersamaan dengan anak di hari suci Kuningan.

Bukan Sesuatu Hal yang Wajib

Meskipun menjadi sebuah tren di hari suci Kuninganmasa kini, memakai busana adat berwarna kuning di hari suci Kuninganbukanlah sesuatu hal yang wajib. Hal tersebut dikarenakan belum adanya sumber sastra Hindu yang mengamanatkan hal demikian. Ditambah lagi, kata ‘kuning’ dalam kata ‘Kuningan’ bukanlah sesuatu yang serta merta dapat diartikan secara prematur sebagai hari berpakaian serba kuning.

Lebih mendalam selain warna (dalam Sudarsana, 2003: 72), kata ‘kuning’ dalam hari suci Kuninganlebih mengarah pada makna “Amertha” yang memiliki arti sebagai anugrah suci kehidupan. Sementara kata ‘Kuningan’ sesungguhnya berasal dari “Keuningan” yang memiliki arti “Kepradnyanan”.

Untuk itulah, hari suci Kuningansesungguhnya lebih mengarah pada hari umat manusia untuk meminta anugrah (Amertha) dalam bentuk kepradnyanan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Terutama dalam manifestasinya dalam wujud Sang Hyang Mahadewadan para Dewata-Dewati. Hal ini sesuai dengan isi kutipan Lontar Sundarigama (Sudarsana, 2003: 73) sebagai landasan umat Hindu untuk melaksanakan suatu hari suci yang berbunyi sebagai berikut:

“Saniscara Kliwon Wara Kuningan Payoganira Bethara Mahadewa Tumuruna Pepareng Para Dewata Muang Sang Dewa Pitara, Inanggapa Bhaktin Manusa, Amaweha Waranugeraha Amertha Kahuripan….”

Terjemahan:“Hari Sabtu Kliwon Wuku Kuningan merupakan hari beryoga-Nya Sang Hyang Mahadewa dibarengi dengan Para Dewata dan Para Leluhur yang telah disucikan. Dengan sikap bhakti manusia, diperolehlah anugrah kesucian kehidupan…”

Jadi, dapat diketahui bersama bahwa belum ada legitimasi pasti mengenai latar belakang, kapan, dan siapa yang memproklamirkan tren serba kuning di hari suci Kuningan. Hal ini murni hanya sebuah tren yang dikaitkan dengan kata ‘kuning’ pada kata hari suci ‘Kuningan’.

Dari sana dapat disimpulkan juga, tren pemakaian busana berwarna kuning di hari suci Kuninganbukanlah sesuatu hal yang wajib. Sehingga, sudah seyogyanya umat Hindu dapat menanggapi hal ini dengan bijak dan tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk berbusana serba kuning di setiap hari suci Kuningan.

Di satu sisi, eksistensi tren ini sesungguhnya sah-sah saja untuk dilakoni, asal tetap dalam koridor sewajarnya. Hal ini memiliki maksud, tren ini dilakukan murni sebagai wujud cinta kasih kepada Hyang Widhikarena menganugerahi umat manusia hari suci luhur bernama ‘Kuningan’.[T] 

SUMBER REFERENSI

  • Bradut, Ketut. 2020. Lawak Bali, Hari Raya Kuningan Serba Kuning, https://m.youtube.com/watch?v=UZd_Bt6tMKU. Diakses 7-Maret-2024.
  • Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama Edisi II. Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan
Kuningan Tradisi Sunda Kuno?
Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?
Tags: Hari Suci HinduKuningantrend
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dayu Shanti, Sosok Gadis Buleleng Masa Kini

Next Post

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co