24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 8, 2024
in Esai
Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan

Tangkapan layar penulis dari Channel YouTube Ketut Bradut, Lawak Bali: “Hari Raya Kuningan Serba Kuning”

“De, inget siapang sapari kuninge, mani nak Kuningan!” (Nak, ingat siapkan busana adat kuningnya, besok hari suci Kuningan!)

SEPERTI itulah cuitan dari seorang ibu kepada anaknya. Hal yang menandakan bahwa besok Hari Suci Kuningan telah tiba. Hari Suci Kuningan merupakan hari suci Agama Hindu yang jatuh 10 hari setelah hari suci Galungan, tepatnya Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan (Tumpek Kuningan).

Sama seperti Galungan, Kuningan juga menjadi salah satu hari suci yang ditunggu-tunggu oleh umat Hindu. Hal ini berasal dari daya tarik berupa, hadirnya beragam jejahitan yang khas(Anyaman untuk Upacara Khas Agama Hindu), filosofi para Dewata yang akan pulang di pukul 12.00, serta budaya melancong ke pantai di sore harinya. Eitsss… jangan lupakan juga, tradisi Nglawang berupa atraksi Barong Bangkung yang siap memeriahkan jalanan dan perumahan warga.

Dari beragamnya daya tarik, sebenarnya terdapat satu lagi ciri khas yang menjadi tren hari suci Kuninganmasa kini. Meskipun demikian, tren ini jarang disadari oleh umat Hindu, bahkan mungkin selalu luput dari pembahasan secara filosofis.

Tren tersebut adalah pemakaian busana serba kuning. Hal ini bisa direfleksikan lewat perkembangan teknologi di zaman sekarang, di mana media sosial akan langsung dipenuhi foto-foto eksis anak muda yang tampil dengan busana adat berwarna kuning di hari suci Kuningan. Entah kuning dalam hal udengnya, saputnya, saparinya, kebayanya, kamennya, dan hal lainnya (Bradut, 2020). Foto tersebut kemudian akan ditimpali dengan balutan status, caption, dan hastag ‘#’ khas “Selamat Hari Suci Kuningan.”

Dari tren tersebut, beragam pertanyaan pun muncul. Apa sesungguhnya yang melatar belakangi tren ini? Siapa sebenarnya yang memproklamirkan tren ini? dan Apakah memang diwajibkan memakai busana serba ‘kuning’ ini?

Eksis karena Kata Dasar ‘Kuningan’

Sampai sejauh ini, secara legalitas tertulis maupun tidak tertulis, sesungguhnya belum ada yang tahu pasti, kapan tanggal awal munculnya tren pemakaian busana serba kuning di hari suci Kuningan. Dari segi latar belakang, hanya baru muncul sebuah dugaan sementara yang berhubungan dengan kata dasar hari suci ‘Kuningan’ itu sendiri.

Secara etimologi, hari suci Kuningan jika digali dari segi bahasa Indonesia, akan menemukan kata dasar ‘kuning’. Kata dasar Kuning inilah yang banyak dihubungkan dengan warna kuning, sehingga bisa menjadi sebuah hipotesa awal, landasan tren ini muncul di setiap hari suci Kuninganmasa kini. Terlebih hal ini juga didukung oleh perkembangan busana adat yang kian berkembang dari hari keharinya, baik dari sisi inovasi motif maupun kreasi warna.

Dipopulerkan oleh Kalangan Anak Muda

Sama seperti latar belakangnya, nama orang yang memproklamirkan pemakaian tren busana berwarna kuning setiap hari suci Kuninganjuga belum ada yang mengetahui secara pasti. Namun, jika berkaca dari tren ini, yang eksis lewat media sosial, dapat diketahui jawaban sementara bahwa pihak yang mempopulerkan tren ini adalah kalangan anak muda.

Hal ini sesuai dengan refleksi fenomena hari suci Kuninganmasa kini, di mana para anak muda akan berlomba-lomba untuk mengepost foto mereka yang tengah berbusana adat berwarna kuning untuk diperlihatkan kepada teman-temannya. Hal ini pun kemudian berkembang menjadi sebuah tren.

Tren ini kemudian mulai menginvasi pikiran anak muda agar tidak ketinggalan zaman dalam memeriahkan hari suci Kuninganmenggunakan busana adat berwarna kuning. Tidak jarang pula, tren ini mendapatkan legitimasi secara tidak langsung oleh kalangan orang tua. Hal ini menyebabkan orang tua juga turut ingin eksis mengepost foto mereka dengan memakai busana adat berwarna kuning di media sosial, sebagai wujud kebersamaan dengan anak di hari suci Kuningan.

Bukan Sesuatu Hal yang Wajib

Meskipun menjadi sebuah tren di hari suci Kuninganmasa kini, memakai busana adat berwarna kuning di hari suci Kuninganbukanlah sesuatu hal yang wajib. Hal tersebut dikarenakan belum adanya sumber sastra Hindu yang mengamanatkan hal demikian. Ditambah lagi, kata ‘kuning’ dalam kata ‘Kuningan’ bukanlah sesuatu yang serta merta dapat diartikan secara prematur sebagai hari berpakaian serba kuning.

Lebih mendalam selain warna (dalam Sudarsana, 2003: 72), kata ‘kuning’ dalam hari suci Kuninganlebih mengarah pada makna “Amertha” yang memiliki arti sebagai anugrah suci kehidupan. Sementara kata ‘Kuningan’ sesungguhnya berasal dari “Keuningan” yang memiliki arti “Kepradnyanan”.

Untuk itulah, hari suci Kuningansesungguhnya lebih mengarah pada hari umat manusia untuk meminta anugrah (Amertha) dalam bentuk kepradnyanan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Terutama dalam manifestasinya dalam wujud Sang Hyang Mahadewadan para Dewata-Dewati. Hal ini sesuai dengan isi kutipan Lontar Sundarigama (Sudarsana, 2003: 73) sebagai landasan umat Hindu untuk melaksanakan suatu hari suci yang berbunyi sebagai berikut:

“Saniscara Kliwon Wara Kuningan Payoganira Bethara Mahadewa Tumuruna Pepareng Para Dewata Muang Sang Dewa Pitara, Inanggapa Bhaktin Manusa, Amaweha Waranugeraha Amertha Kahuripan….”

Terjemahan:“Hari Sabtu Kliwon Wuku Kuningan merupakan hari beryoga-Nya Sang Hyang Mahadewa dibarengi dengan Para Dewata dan Para Leluhur yang telah disucikan. Dengan sikap bhakti manusia, diperolehlah anugrah kesucian kehidupan…”

Jadi, dapat diketahui bersama bahwa belum ada legitimasi pasti mengenai latar belakang, kapan, dan siapa yang memproklamirkan tren serba kuning di hari suci Kuningan. Hal ini murni hanya sebuah tren yang dikaitkan dengan kata ‘kuning’ pada kata hari suci ‘Kuningan’.

Dari sana dapat disimpulkan juga, tren pemakaian busana berwarna kuning di hari suci Kuninganbukanlah sesuatu hal yang wajib. Sehingga, sudah seyogyanya umat Hindu dapat menanggapi hal ini dengan bijak dan tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk berbusana serba kuning di setiap hari suci Kuningan.

Di satu sisi, eksistensi tren ini sesungguhnya sah-sah saja untuk dilakoni, asal tetap dalam koridor sewajarnya. Hal ini memiliki maksud, tren ini dilakukan murni sebagai wujud cinta kasih kepada Hyang Widhikarena menganugerahi umat manusia hari suci luhur bernama ‘Kuningan’.[T] 

SUMBER REFERENSI

  • Bradut, Ketut. 2020. Lawak Bali, Hari Raya Kuningan Serba Kuning, https://m.youtube.com/watch?v=UZd_Bt6tMKU. Diakses 7-Maret-2024.
  • Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama Edisi II. Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan
Kuningan Tradisi Sunda Kuno?
Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?
Tags: Hari Suci HinduKuningantrend
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dayu Shanti, Sosok Gadis Buleleng Masa Kini

Next Post

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co