11 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 6, 2024
in Opini
Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

Gambar Kalender Bali Bulan Februari dan Maret 2024

“Ratu Bhatara, sing suud-suud teka rahinane…”

Seperti itulah cuitan yang saya dengarkan beberapa hari lalu. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti cuitan berbahasa Bali tersebut adalah: “Ya Tuhan, tidak selesai-selesai datang Hari Sucinya.”

Tidak mau menyebutkan siapa dan bagaimana ciri-ciri orangnya, untaian kalimat itu cukup membuat saya terhenyak. Dalam pikiran saya yang lulusan berbau sedikit agama: “Bukannya memang lumrah ya, kita di Hindu memiliki banyak hari suci?” Bahkan jika menelisik kembali buku karya Gde Aryantha Soethama yang berjudul “Bali is Bali.” Pulau Bali oleh orang luar bahkan diakronimkan dengan nama alias Bali = ‘Banyak Libur’.

Jika meneropong ke belakang, kedatangan hari suci yang berjejer dimulai dari datangnya Tumpek Wariga di tanggal 3 Februari 2024 lalu. Sebagai awalan dari rangkaian hari suci Galungan, Tumpek Wariga tentu dimaknai sebagai hari suci memuliakan tumbuh-tumbuhan yang dirayakan secara khidmat oleh umat Hindu. Diharapkan dengan merayakan hari suci Tumpek Wariga, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan dapat tumbuh subur untuk dapat digunakan sebagai sarana Upakara dalam melaksanakan Yadnya.

Dapat istirahat sejenak, 3 minggu setelahnya umat Hindu menyambung merayakan hari suci penyucian Alam Semesta (Bhuana Agung) yang dikenal dengan istilah Sugihan Jawa, beserta penyucian manusia sebagai isinya (Bhuana Alit) yang dikenal dengan istilah Sugihan Bali. Hari suci ini secara berturut-turut tiba di hari Kamis dan Jumat, tanggal 22 dan 23 Februari 2024. Begitu istimewanya, karena keesokan harinya di Hari Sabtu, 24 Februari 2024, Purnama Sasih Kesanga juga turut nyempil di tengah persiapan Hari Suci Galungan.

Tibalah umat Hindu di Minggu Wuku Dungulan, dimana rangkaian agung hari suci Galungan dimulai dengan hadirnya hari suci Penyekeban dan Penyajaan di tanggal 25 dan 26 Februari 2024. Disambung kemudian datanglah hari suci Penampahan, hari suci Galungan, dan hari suci Umanis Galungan yang berturut-turut terlaksana dari hari Selasa sampai Kamis, 27 sampai 29 Februari 2024. Hal ini menandai sebagai puncaknya peringatan hari kemenangan Dharma melawan Adharma.

Lebih lanjut, umat Hindu bersiap-siap merayakan hari suci Pemaridan Guru, Ulihan, dan Pemacekan Agung yang hadir secara berturut-turut dari tanggal 2 sampai 4 Maret 2024. Disambung beberapa hari kemudian, beberapa umat Hindu juga perlu menyiapkan dan melaksanakan rangkaian hari suci Nyepi yaitu Melasti dengan pergi ke laut guna mengambil Tirta Amertha untuk menyucikan segala kotoran atau mala di dunia. Hari Jumat per tanggal 8 Maret 2024, umat Hindu melaksanakan hari suci Penampahan Kuningan. Tibalah puncak hari suci Kuningan yang terlaksana di keesokan harinya pada hari Sabtu, 9 Maret 2024.

Tidak berhenti sampai disana, umat Hindu juga perlu merayakan rangkaian hari suci Nyepi, tahun Baru Caka 1946 di minggu kedua bulan Maret. Hal ini diawali dengan adanya Tawur Agung Kesanga yang terlaksana tepat pada hari suci Tilem Sasih Kesanga, 10 Maret 2024. Pada hari tersebut, umat Hindu Nyomya atau mengarahkan energi Bhuta Kala agar mengisi tempat yang semestinya guna tidak mengganggu hidup manusia. Keesokan harinya, umat Hindu melaksanakan hening dan introspeksi diri dengan Catur Bratha Penyepian di Hari Suci Nyepi, tanggal 11 Maret 2024.

Pada akhirnya, rangkaian hari suci yang berjejer di bulan Maret ditutup dengan terlaksananya Ngembak Gni di hari Selasa, 12 Maret 2024. Eitssss, ternyata belum benar-benar selesai. Menyempil di satu minggu kemudian tepatnya hari Selasa, 19 Maret 2024, datang pula hari suci Anggara Kasih Medangsia yang oleh beberapa desa adat, diperingati sebagai Piodalan di salah satu Pura Kahyangan Tiga Desa.

“Bukan maennnn, akhirnya paham mengapa orang tadi berkata demikian.” ujar Sang Citta sambil melihat Kalender Bali dan mengangguk.

Pada bulan Februari sampai pertengahan bulan Maret 2024, ternyata umat Hindu memang menyongsong banyak hari suci secara berjejer dan berturut-turut. Tidak bisa dipungkiri juga, menimbang hari suci memang akan selalu hadir secara terstruktur, sistematis, dan masif selaras dengan perhitungan waktu, yaitu Wariga.

Dalam ajaran agama Hindu, hari suci merupakan bagian yang lekat dengan salah satu kerangka dasar agama Hindu, yaitu Upacara dan ajaran luhur, yaitu Yadnya. Sehingga apabila ditelaah secara esensial, persiapan dan pelaksanaan Yadnya pada hari suci seyogyanya selalu diimbangi dengan adanya unsur mutlak, yaitu Karya (Perbuatan), Sreya (Ketulusan), Budhi (Kesadaran), dan Bhakti (Persembahan).

Kemudian dari sisi kuantitas, persembahan Yadnya dalam pelaksanaan hari suci juga bisa dihaturkan sesuai kemampuan. Dimana Yadnya berdasarkan kuantitasnya, bisa dibuat dan dihaturkan dari yang terkecil hingga terkecil (Nistaning Nista), sampai yang terbesar hingga terbesar (Utamaning Utama). Jelas sudah, bahwa agama Hindu tidak bersifat memaksa dan tidak memberatkan umatnya dari sisi finansial.

Lebih lanjut dari sisi keutamaan, pelaksanaan hari suci pada hakikatnya menjadi sebuah keistimewaan bagi yang merayakannya dengan penuh ketulusan dan kebahagiaan. Rangkaian hari suci yang berjejer, semakin membuat umat Hindu dapat mengingat Yang Maha Kuasa secara intens, serta bersyukur atas nikmat yang telah diberikan. Hal ini selaras dengan tujuan pelaksanaan hari suci dan Yadnya itu sendiri, yakni sebagai cetusan rasa terimakasih, meningkatkan kualitas diri, sebagai sarana penyucian, dan yang paling utama sebagai sarana berhubungan dengan Tuhan melalui cara kesejukan. 

Jadi, apakah berjejernya hari suci tersebut masih bisa disebut sebagai sebuah beban? Atau malah cuitan orang di awal merupakan refleksi dari sebuah keistimewaan? Jawabannya kembali lagi pada diri kawan-kawan umat sedharma yang merayakan. [T]

Sumber Referensi:

Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama (Edisi II). Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.

Suratmini, Ni Wayan. 2016. Buku Penunjang Materi Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk Siswa SMA/SMK Kelas X – Semester Ganjil. Denpasar: Tri Agung.

Memaknai Mesayut Tipat di Tilem Kawulu dari Sisi Penganekaragaman Pangan
Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Tags: hari raya galunganHari Raya Nyepihari suciHari Suci HinduhinduHindu BaliKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bleganjur Kuno, Kini dan Nanti

Next Post

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co