1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 6, 2024
in Opini
Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

Gambar Kalender Bali Bulan Februari dan Maret 2024

“Ratu Bhatara, sing suud-suud teka rahinane…”

Seperti itulah cuitan yang saya dengarkan beberapa hari lalu. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti cuitan berbahasa Bali tersebut adalah: “Ya Tuhan, tidak selesai-selesai datang Hari Sucinya.”

Tidak mau menyebutkan siapa dan bagaimana ciri-ciri orangnya, untaian kalimat itu cukup membuat saya terhenyak. Dalam pikiran saya yang lulusan berbau sedikit agama: “Bukannya memang lumrah ya, kita di Hindu memiliki banyak hari suci?” Bahkan jika menelisik kembali buku karya Gde Aryantha Soethama yang berjudul “Bali is Bali.” Pulau Bali oleh orang luar bahkan diakronimkan dengan nama alias Bali = ‘Banyak Libur’.

Jika meneropong ke belakang, kedatangan hari suci yang berjejer dimulai dari datangnya Tumpek Wariga di tanggal 3 Februari 2024 lalu. Sebagai awalan dari rangkaian hari suci Galungan, Tumpek Wariga tentu dimaknai sebagai hari suci memuliakan tumbuh-tumbuhan yang dirayakan secara khidmat oleh umat Hindu. Diharapkan dengan merayakan hari suci Tumpek Wariga, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan dapat tumbuh subur untuk dapat digunakan sebagai sarana Upakara dalam melaksanakan Yadnya.

Dapat istirahat sejenak, 3 minggu setelahnya umat Hindu menyambung merayakan hari suci penyucian Alam Semesta (Bhuana Agung) yang dikenal dengan istilah Sugihan Jawa, beserta penyucian manusia sebagai isinya (Bhuana Alit) yang dikenal dengan istilah Sugihan Bali. Hari suci ini secara berturut-turut tiba di hari Kamis dan Jumat, tanggal 22 dan 23 Februari 2024. Begitu istimewanya, karena keesokan harinya di Hari Sabtu, 24 Februari 2024, Purnama Sasih Kesanga juga turut nyempil di tengah persiapan Hari Suci Galungan.

Tibalah umat Hindu di Minggu Wuku Dungulan, dimana rangkaian agung hari suci Galungan dimulai dengan hadirnya hari suci Penyekeban dan Penyajaan di tanggal 25 dan 26 Februari 2024. Disambung kemudian datanglah hari suci Penampahan, hari suci Galungan, dan hari suci Umanis Galungan yang berturut-turut terlaksana dari hari Selasa sampai Kamis, 27 sampai 29 Februari 2024. Hal ini menandai sebagai puncaknya peringatan hari kemenangan Dharma melawan Adharma.

Lebih lanjut, umat Hindu bersiap-siap merayakan hari suci Pemaridan Guru, Ulihan, dan Pemacekan Agung yang hadir secara berturut-turut dari tanggal 2 sampai 4 Maret 2024. Disambung beberapa hari kemudian, beberapa umat Hindu juga perlu menyiapkan dan melaksanakan rangkaian hari suci Nyepi yaitu Melasti dengan pergi ke laut guna mengambil Tirta Amertha untuk menyucikan segala kotoran atau mala di dunia. Hari Jumat per tanggal 8 Maret 2024, umat Hindu melaksanakan hari suci Penampahan Kuningan. Tibalah puncak hari suci Kuningan yang terlaksana di keesokan harinya pada hari Sabtu, 9 Maret 2024.

Tidak berhenti sampai disana, umat Hindu juga perlu merayakan rangkaian hari suci Nyepi, tahun Baru Caka 1946 di minggu kedua bulan Maret. Hal ini diawali dengan adanya Tawur Agung Kesanga yang terlaksana tepat pada hari suci Tilem Sasih Kesanga, 10 Maret 2024. Pada hari tersebut, umat Hindu Nyomya atau mengarahkan energi Bhuta Kala agar mengisi tempat yang semestinya guna tidak mengganggu hidup manusia. Keesokan harinya, umat Hindu melaksanakan hening dan introspeksi diri dengan Catur Bratha Penyepian di Hari Suci Nyepi, tanggal 11 Maret 2024.

Pada akhirnya, rangkaian hari suci yang berjejer di bulan Maret ditutup dengan terlaksananya Ngembak Gni di hari Selasa, 12 Maret 2024. Eitssss, ternyata belum benar-benar selesai. Menyempil di satu minggu kemudian tepatnya hari Selasa, 19 Maret 2024, datang pula hari suci Anggara Kasih Medangsia yang oleh beberapa desa adat, diperingati sebagai Piodalan di salah satu Pura Kahyangan Tiga Desa.

“Bukan maennnn, akhirnya paham mengapa orang tadi berkata demikian.” ujar Sang Citta sambil melihat Kalender Bali dan mengangguk.

Pada bulan Februari sampai pertengahan bulan Maret 2024, ternyata umat Hindu memang menyongsong banyak hari suci secara berjejer dan berturut-turut. Tidak bisa dipungkiri juga, menimbang hari suci memang akan selalu hadir secara terstruktur, sistematis, dan masif selaras dengan perhitungan waktu, yaitu Wariga.

Dalam ajaran agama Hindu, hari suci merupakan bagian yang lekat dengan salah satu kerangka dasar agama Hindu, yaitu Upacara dan ajaran luhur, yaitu Yadnya. Sehingga apabila ditelaah secara esensial, persiapan dan pelaksanaan Yadnya pada hari suci seyogyanya selalu diimbangi dengan adanya unsur mutlak, yaitu Karya (Perbuatan), Sreya (Ketulusan), Budhi (Kesadaran), dan Bhakti (Persembahan).

Kemudian dari sisi kuantitas, persembahan Yadnya dalam pelaksanaan hari suci juga bisa dihaturkan sesuai kemampuan. Dimana Yadnya berdasarkan kuantitasnya, bisa dibuat dan dihaturkan dari yang terkecil hingga terkecil (Nistaning Nista), sampai yang terbesar hingga terbesar (Utamaning Utama). Jelas sudah, bahwa agama Hindu tidak bersifat memaksa dan tidak memberatkan umatnya dari sisi finansial.

Lebih lanjut dari sisi keutamaan, pelaksanaan hari suci pada hakikatnya menjadi sebuah keistimewaan bagi yang merayakannya dengan penuh ketulusan dan kebahagiaan. Rangkaian hari suci yang berjejer, semakin membuat umat Hindu dapat mengingat Yang Maha Kuasa secara intens, serta bersyukur atas nikmat yang telah diberikan. Hal ini selaras dengan tujuan pelaksanaan hari suci dan Yadnya itu sendiri, yakni sebagai cetusan rasa terimakasih, meningkatkan kualitas diri, sebagai sarana penyucian, dan yang paling utama sebagai sarana berhubungan dengan Tuhan melalui cara kesejukan. 

Jadi, apakah berjejernya hari suci tersebut masih bisa disebut sebagai sebuah beban? Atau malah cuitan orang di awal merupakan refleksi dari sebuah keistimewaan? Jawabannya kembali lagi pada diri kawan-kawan umat sedharma yang merayakan. [T]

Sumber Referensi:

Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama (Edisi II). Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.

Suratmini, Ni Wayan. 2016. Buku Penunjang Materi Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk Siswa SMA/SMK Kelas X – Semester Ganjil. Denpasar: Tri Agung.

Memaknai Mesayut Tipat di Tilem Kawulu dari Sisi Penganekaragaman Pangan
Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Tags: hari raya galunganHari Raya Nyepihari suciHari Suci HinduhinduHindu BaliKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bleganjur Kuno, Kini dan Nanti

Next Post

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co