24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 6, 2024
in Opini
Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

Gambar Kalender Bali Bulan Februari dan Maret 2024

“Ratu Bhatara, sing suud-suud teka rahinane…”

Seperti itulah cuitan yang saya dengarkan beberapa hari lalu. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti cuitan berbahasa Bali tersebut adalah: “Ya Tuhan, tidak selesai-selesai datang Hari Sucinya.”

Tidak mau menyebutkan siapa dan bagaimana ciri-ciri orangnya, untaian kalimat itu cukup membuat saya terhenyak. Dalam pikiran saya yang lulusan berbau sedikit agama: “Bukannya memang lumrah ya, kita di Hindu memiliki banyak hari suci?” Bahkan jika menelisik kembali buku karya Gde Aryantha Soethama yang berjudul “Bali is Bali.” Pulau Bali oleh orang luar bahkan diakronimkan dengan nama alias Bali = ‘Banyak Libur’.

Jika meneropong ke belakang, kedatangan hari suci yang berjejer dimulai dari datangnya Tumpek Wariga di tanggal 3 Februari 2024 lalu. Sebagai awalan dari rangkaian hari suci Galungan, Tumpek Wariga tentu dimaknai sebagai hari suci memuliakan tumbuh-tumbuhan yang dirayakan secara khidmat oleh umat Hindu. Diharapkan dengan merayakan hari suci Tumpek Wariga, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan dapat tumbuh subur untuk dapat digunakan sebagai sarana Upakara dalam melaksanakan Yadnya.

Dapat istirahat sejenak, 3 minggu setelahnya umat Hindu menyambung merayakan hari suci penyucian Alam Semesta (Bhuana Agung) yang dikenal dengan istilah Sugihan Jawa, beserta penyucian manusia sebagai isinya (Bhuana Alit) yang dikenal dengan istilah Sugihan Bali. Hari suci ini secara berturut-turut tiba di hari Kamis dan Jumat, tanggal 22 dan 23 Februari 2024. Begitu istimewanya, karena keesokan harinya di Hari Sabtu, 24 Februari 2024, Purnama Sasih Kesanga juga turut nyempil di tengah persiapan Hari Suci Galungan.

Tibalah umat Hindu di Minggu Wuku Dungulan, dimana rangkaian agung hari suci Galungan dimulai dengan hadirnya hari suci Penyekeban dan Penyajaan di tanggal 25 dan 26 Februari 2024. Disambung kemudian datanglah hari suci Penampahan, hari suci Galungan, dan hari suci Umanis Galungan yang berturut-turut terlaksana dari hari Selasa sampai Kamis, 27 sampai 29 Februari 2024. Hal ini menandai sebagai puncaknya peringatan hari kemenangan Dharma melawan Adharma.

Lebih lanjut, umat Hindu bersiap-siap merayakan hari suci Pemaridan Guru, Ulihan, dan Pemacekan Agung yang hadir secara berturut-turut dari tanggal 2 sampai 4 Maret 2024. Disambung beberapa hari kemudian, beberapa umat Hindu juga perlu menyiapkan dan melaksanakan rangkaian hari suci Nyepi yaitu Melasti dengan pergi ke laut guna mengambil Tirta Amertha untuk menyucikan segala kotoran atau mala di dunia. Hari Jumat per tanggal 8 Maret 2024, umat Hindu melaksanakan hari suci Penampahan Kuningan. Tibalah puncak hari suci Kuningan yang terlaksana di keesokan harinya pada hari Sabtu, 9 Maret 2024.

Tidak berhenti sampai disana, umat Hindu juga perlu merayakan rangkaian hari suci Nyepi, tahun Baru Caka 1946 di minggu kedua bulan Maret. Hal ini diawali dengan adanya Tawur Agung Kesanga yang terlaksana tepat pada hari suci Tilem Sasih Kesanga, 10 Maret 2024. Pada hari tersebut, umat Hindu Nyomya atau mengarahkan energi Bhuta Kala agar mengisi tempat yang semestinya guna tidak mengganggu hidup manusia. Keesokan harinya, umat Hindu melaksanakan hening dan introspeksi diri dengan Catur Bratha Penyepian di Hari Suci Nyepi, tanggal 11 Maret 2024.

Pada akhirnya, rangkaian hari suci yang berjejer di bulan Maret ditutup dengan terlaksananya Ngembak Gni di hari Selasa, 12 Maret 2024. Eitssss, ternyata belum benar-benar selesai. Menyempil di satu minggu kemudian tepatnya hari Selasa, 19 Maret 2024, datang pula hari suci Anggara Kasih Medangsia yang oleh beberapa desa adat, diperingati sebagai Piodalan di salah satu Pura Kahyangan Tiga Desa.

“Bukan maennnn, akhirnya paham mengapa orang tadi berkata demikian.” ujar Sang Citta sambil melihat Kalender Bali dan mengangguk.

Pada bulan Februari sampai pertengahan bulan Maret 2024, ternyata umat Hindu memang menyongsong banyak hari suci secara berjejer dan berturut-turut. Tidak bisa dipungkiri juga, menimbang hari suci memang akan selalu hadir secara terstruktur, sistematis, dan masif selaras dengan perhitungan waktu, yaitu Wariga.

Dalam ajaran agama Hindu, hari suci merupakan bagian yang lekat dengan salah satu kerangka dasar agama Hindu, yaitu Upacara dan ajaran luhur, yaitu Yadnya. Sehingga apabila ditelaah secara esensial, persiapan dan pelaksanaan Yadnya pada hari suci seyogyanya selalu diimbangi dengan adanya unsur mutlak, yaitu Karya (Perbuatan), Sreya (Ketulusan), Budhi (Kesadaran), dan Bhakti (Persembahan).

Kemudian dari sisi kuantitas, persembahan Yadnya dalam pelaksanaan hari suci juga bisa dihaturkan sesuai kemampuan. Dimana Yadnya berdasarkan kuantitasnya, bisa dibuat dan dihaturkan dari yang terkecil hingga terkecil (Nistaning Nista), sampai yang terbesar hingga terbesar (Utamaning Utama). Jelas sudah, bahwa agama Hindu tidak bersifat memaksa dan tidak memberatkan umatnya dari sisi finansial.

Lebih lanjut dari sisi keutamaan, pelaksanaan hari suci pada hakikatnya menjadi sebuah keistimewaan bagi yang merayakannya dengan penuh ketulusan dan kebahagiaan. Rangkaian hari suci yang berjejer, semakin membuat umat Hindu dapat mengingat Yang Maha Kuasa secara intens, serta bersyukur atas nikmat yang telah diberikan. Hal ini selaras dengan tujuan pelaksanaan hari suci dan Yadnya itu sendiri, yakni sebagai cetusan rasa terimakasih, meningkatkan kualitas diri, sebagai sarana penyucian, dan yang paling utama sebagai sarana berhubungan dengan Tuhan melalui cara kesejukan. 

Jadi, apakah berjejernya hari suci tersebut masih bisa disebut sebagai sebuah beban? Atau malah cuitan orang di awal merupakan refleksi dari sebuah keistimewaan? Jawabannya kembali lagi pada diri kawan-kawan umat sedharma yang merayakan. [T]

Sumber Referensi:

Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama (Edisi II). Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.

Suratmini, Ni Wayan. 2016. Buku Penunjang Materi Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk Siswa SMA/SMK Kelas X – Semester Ganjil. Denpasar: Tri Agung.

Memaknai Mesayut Tipat di Tilem Kawulu dari Sisi Penganekaragaman Pangan
Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Tags: hari raya galunganHari Raya Nyepihari suciHari Suci HinduhinduHindu BaliKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bleganjur Kuno, Kini dan Nanti

Next Post

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co