23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Agung Putradhyana

Naga Basuki suki nikang lemah

‘Naga Basuki adalah poros atau pusat rotasi bumi’

(Kakawin Ramayana, 15.31)

 

Etimologi Basuki

Ungkapan tersebut di atas sangat mendalam, punya dua makna, secara geologi dan juga mitologis. Secara mitologis diyakini bahwa ada keyakinan makhluk mitologis bernama Naga Basuki yang menjadi pengendali poros atau pusat rotasi daripada per putaran bumi.

Sementara secara geologis, bisa dipaparkan sebagai berikut.

Dalam bahasa Jawa Kuno kata ba sama dengan wa, yang berarti coal (batu bara), atau piece of burning material which is aglow (benda terbakar yang mana mengeluarkan panas-cahaya-radiasi).[1] Kata suki berarti hub, axle (poros, axis, pusat).[2] Ba-suki dengan demikian berarti pusat atau poros rotasi yang berpijar yang mengeluarkan bara api).

Naga Basuki dengan demikian mempunyai makna etimologis yang cocok dengan ilmu geologi dan pengetahuan modern bahwa pada poros bumi ada pusat api atau magma yang sangat panas. Pusat panas bumi ini disebut dalam bahasa mitologi sebagai Naga Basuki.

Referensi Kesastraan

Tentang Basuki dalam sejarah Kerajaan Bima, disebutkan sebagai berikut.

Sang Yang Tunggal has two sons, Bhatara Indra Guru and Sang Hyang Wenang, but the lineage continues with Bhatara Indra Guru, and not with Sang Hyang Wenang as his parentage comes from evil spirits and devils. Bhatara Indra Guru has one son Bhatara Indra Brahma and a grand- son Maharaja Indra Palasyara. Palasyara bears the title of bhagawan. Bhagawan Palasyara in his turn has two sons, Maharaja Tunggal Pandita and Bhatara Indra. The lineage proceeds with Maharaja Tunggal Pandita who has two sons, named Bhagawan Biyasa and Bhagawan Basugi, who rule over the spirits of the west and the abode of the gods (kahyangan)[3].

Pokok perhatian saya pada nama Bhagawan Basugi, yang di Jawa kata ini tiada lain dari kata basuki. Ba-sugi adalah pengucapan lain dari ba-suki. Istilah bhagawan dengan naga adalah kata sandang untuk makhluk mitologis yang bisa saling menggantikan, kadang disebut Bhagawan Basuki dan atau Naga Basuki, makhluk mitologis yang penjaga “alam bawah” atau yang bersembunyi di bawah bumi menjaga tatanan keseimbangan kosmik, keselamatan.

Naskah Korawagrama menjelaskan ada tiga lapis dunia atau Tri Patala: lapisan pertama dikuasai oleh Baruna, penguasa lautan, yang mana dalam Nawarucci  disebutkan bertahta di Surga; lapis kedua dikuasai oleh Basuki; dan lapisan ketiga, Antabogha, dunia naga, yang menguasai ‘dunia bawah’. Jika gempa bumi terjadi, dalam cerita rakyat Asia dikatakan naga di bumi sedang bergerak. Keseimbangan bumi atau keselamatan identik dengan Basuki, di Jawa sendiri kata basuki berarti selamat. Ada pendapat yang mengatakan pemujaan untuk keselamatan dengan memuja Basuki ini salah satunya menjadi cikal bakal tradisi selametan atau basukihan.

Dalam sejarah Pura Besakih disebutkan bahwa kata Besakih berasal dari kata besuki atau basuki. Diyakini, sebagaimana cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Besakih dan Bali, di titik yang kita kenal sekarang sebagai Pura Besakih itulah upakara suci atau selametan (basukihan) pertama kali dilakukan untuk memulai “peradaban baru” atau membuka tanah hutan menjadi kawasan suci dan pusat kosmik peradaban Bali. Cerita ini terkait dengan cerita rakyat tentang kedatangan penduduk Gunung Raung, Jawa Timur, yang diyakini di awal masehi hijrah ke Bali dan membuka tanah perdikan dan kehidupan baru di Bali.

Perayaan selamatan yaitu basukihan atau basugihan yang kemudian mengalami pemendekan ucapan menjadi Sugihan, punya korelasi kuat bahwa Pura Basukihan (selanjutnya sekarang dikenal nama Pura Besakih), seperti disebutkan dalam banyak literatur (di antaranya dalam lontar Usana Bali), telah menjadi titik spiritual dan cikal-bakal Bali dalam tradisi selamatan atau basukihan-basugihan. Di sana dikatakan telah ditanam panca datu yang punya kekuatan yang secara rohaniah bisa berkontribusi pada keselamatan dan keseimbangan bumi Bali.

Perayaan Sugihan dalam Konteks Pelintangan

Tradisi memuja keselamatan bumi (basugihan atau basukihan) yang telah sedemikian mengakar dan teragendakan dalam perhitungan wariga (kalender Bali) yang siklusnya datang setiap 210 hari sekali, kita kenal sebagai perayaan Sugihan yang tak lepas dari konteks perayaan besar Galungan.

Jika kita melihat makna ritual Sugihan, yang terbagi menjadi Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, maknanya tidak lain daripada upacara selamatan dan penyucian (basugihan atau basukihan). Perayaan Sugihan tidak lepas dari konteks perayaan Galungan di mana Sugihan merupakan momentum untuk menyambut perayaan Galungan dengan sarana Banten Pengresik (Sesaji sarana penyucian) dan Canang Burat Wangi (Bunga persembahan pengarum-arum). Pada saat parayaan Sugihan, Banten Pengeresik dan Burat Wangi menjadi sarana permohonan kesucian dan keselamatan.

Jika ditilik dari pelintangan (perhitungan penanggalan Bali)[4], perayaan Sugihan Jawa jatuh pada hari dimana Aras Kembang–Tunggak Semi: Kembang terbuahi–Batang tumbuh bersemi. Dua istilah ini merujuk pada awal baik melakukan “penanaman dan menghidupkan”, menyemai dan meneguhkan kesadaran untuk tumbuh. Pada Sugihan Jawa, bumi dalam pengaruh Laku Bulan–Wisesa Segara: Benderang cahaya (dan gravitasi) Bulan berpadu kekuatan laut, mereka saling ‘bersapa’. Lantas memuncak pada Galungan yang punya perangai Laku Surya–Lebu Ketiup Angin: Terang benderang Cahaya Matahari (di luar dan di dalam diri)–Debu (keruh pikiran dan kekotoran dunia) ditiup angin.

Perayaan Sugihan menuju Galungan dalam tinjauan pelintangan ini, sangat terang maknanya, dari Aras Kembang–Tunggak Semi menuju Laku Surya –Lebu Ketiup Angin.  Berangkat dari kesadaran menanam dan menghidupkan tunggak dalam diri untuk tumbuh, menuju terang benderang Cahaya Matahari di dalam dan luar diri. Perayaan Sugihan adalah momentum membuka cakrawala diri agar debu pikiran habis ditiup angin. (T)

Catatan:

[1] Lihat Old Javanese-English Dictionary II, karya P.J. Zoetmulder, halaman 2160.

[2] Lihat Old Javanese-English Dictionary II, karya P.J. Zoetmulder, halaman 1840.

[3] The Worship of Bhima, The representations of Bhima on Java during the Majapahit Period, Marijke Duijker, Amsterdam in 1944. Volume I: Text. EON Pers Amstelveen 2010.

[4] Lihat Kalender Bali oleh Bambang Gde Rawi atau Kalender Bali lainnya.

Tags: besakihhari raya galungansugihan
Share161TweetSendShareSend
Previous Post

Musik Fusion – Sejumlah Pertanyaan Sejumlah Jawaban

Next Post

Pemimpin Harus Jadi Panutan Seakan Ia Manusia Setengah Dewa? Ah, Omong Kosong…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Pemimpin Harus Jadi Panutan Seakan Ia Manusia Setengah Dewa? Ah, Omong Kosong…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co