23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Fusion – Sejumlah Pertanyaan Sejumlah Jawaban

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
February 2, 2018
in Esai

Foto: FB/Wayan Gde Yudane

It is better to make a piece of music than to perform one, better to perform one than to listen to one, better to listen to one than to misuse it as a means of distraction, entertainment, or acquisitiuon of “culture.” !John Cage (1912-92), U.S. composer. “Forerunners of Modern Music; At Random,” in Tiger’s Eye (New York, March 1949; repr. in Silence, 1961).

MUSIK fusion bukanlah sesuatu pandangan yang baru, tetapi pikiran ini memang memerlukan kejelasan. Istilahnya perlu didiskusikan, untuk menghindari kerancuan, juga untuk membangkitkan pemikiran mengenai arah pergerakan trend ini.Saat ini, permukaan kemungkinannya saja belum terungkap, sehingga kita bisa mengharap bahwa musik fusion telah berperan lebih besar di kancah dunia.

Dalam musik populer, ide fusion biasanya diekspresikan dengan “penyeberangan” dan melibatkan pencampuran jenis musik yang berbeda. Tentu saja, jenis musik populer cenderung dirancang dan disusun dengan jelas, sehingga “penyeberangan” tersebut akan sering membentur batasan- batasan (paling tidak, mendesak batasan tersebut).

Di dalam musik tradisional pun, budaya cenderung mengalir, sehingga batasan lebih bersahabat dan tidak terlalu kaku. Maka, pada hakekatnya fusion itu menyediakan peluang untuk menggabungkan beberapa ide, dengan beberapa cara yang berbeda, untuk menghasilkan karya baru. Ini kadang-kadang terjadi secara natural, kadang-kadang tidak.

Ada kekuatiran yang nyata apakah “karya baru” ini sesungguhnya bagus, terutama kalau mengingat apakah inti tradisi tidak dirusak oleh pencampuran ide dari luar tersebut. Optimisme yang sederhana bisa saja membantah kekuatiran yang kedua, tanpa mengurangi kekuatiran yang pertama. Kita bisa bisa menemukan tema atau alat dari satu tradisi pada tradisi lainnya sepanjang sejarah tradisi musik klasik, selama seratus tahun yang lalu.

Tetapi, banyak penerapan tersebut cenderung naif dan sangat terisolasi, sehingga tidak pantas disebut fusion. Bagi saya, fusion berarti mengambil karakter dari dua atau lebih tradisi, menggabungkan mereka secara fundamental untuk menghasilkan karya baru dengan akar yang masih terhubung pada ke dua tradisi tersebut. Kalau karya yang baru ini terbukti memiliki kehebatan, maka sudah seharusnya dia bisa terus berkembang dengan tetap berpegangan pada akarnya.

Berhubung begitu banyaknya jenis musik dunia tradisional yang tersedia untuk kita sekarang, dan begitu banyaknya gaya musik klasik yang dipergunakan di waktu yang sama, maka kemungkinan dalam musik fusion juga begitu luas. Tetapi dari satu sisi, banyaknya pilihan yang tersedia bisa juga mempersempit kemungkinan, karena pilihan yang begitu banyak bisa membingungkan, dan hanya bisa ditangani dengan cara yang terbatas saja.

Meskipun fusion telah beperan cukup menjolok di dalam musik klasik, aspeknya yang paling signifikan adalah dalam membentuk dan melanjutkan tradisi modern. Fusion bisa dipandang sebagai sebuah fenomena yang sungguh-sungguh postmodern, dimana pikiran-pikiran ditampung dan dipergunakan secara dinamis untuk melahirkan sebuah budaya kreativitas yang nyata. Sesungguhnyalah, postmodernisme sebagai pandangan dunia yang parasit, selalu menuntut suntikan ide-ide baru, sehingga bisa saja fusion dunia akan tetap mendukungnya untuk beberapa windu ke depan. Pemikiran ini menyarankan sesuatu yang “salah” dalam konsep tersebut, sehingga menimbulkan kembali pertanyaan apakah fusion tersebut telah merusak tradisi yang mendasarinya.

Meskipun saya masih mengatakan bahwa pandangan itu sangat pesimistik, penggunaan materi dasar dengan cara ini, sungguh-sungguh membuat tradisi untuk mempertahankan dirinya sediri. Dari banyak sudut, tradisi memang cukup kuat, untuk tidak menimbulkan kekuatiran. Tapi, proses informasi balik dan masukan yang membentuk kekuatan pada tradisi, tidak bisa terjadi secara instant dalam fusion, sehingga secara umum dia akan kurang menarik. Meskipun begitu, itu tidak seharusnya mengurangi semangat bereksperimen, tapi berarti harapan kita harus masuk akal.

Kunci untuk keberhasilan dalam fusion, sesungguhnya ada pada keselarasan organik antara bahan-bahan yang dipergunakan. Musik klasik bisa bermasalah dalam hal ini, tapi musisi yang telah terdidik dengan cara yang khusus, telah mengangkat repertoarnya, sehingga bisa dipahami kalau mereka perlu sedikit memaksakan karya-karya mereka.

Fusion di tempat lain, menggabungkan musisi yang telah dididik dengan gaya berbeda, adalah cara lain, tapi pada akhirnya kita harus menumbuhkan ide fusion itu di dalam pikiran musisi tersebut secara individu, dan bukan hanya konsep saja. Konsep pribadi memang berperan dalam pembentukan gaya baru, tapi dicapai secara lebih sembarangan.

Satu hal yang ingin saya lakukan di masa depan adalah untuk menerapkan usaha yang lebih spesifik, dan saya dengan senang hati menerima saran dalam hal ini. Pikiran dasar fusion sebenarnya sederhana saja, dan begitu banyak contoh yang ada pada musik dunia, walaupun dalam analisa kemungkinan atau penerimaan karya-karya tersebut, dia segera menjadi rumit. Juga pertanyaan mengenai wilayah, karena fusion bisa berada di antara dua gaya yang mirip maupun gaya yang berbeda, dan wilayah musik barat bisa berperan sebagai sebuah topik yang produktif di sini.

Fusion: Yang Tak Terhindarkan & Kekacauan

Dalam membicarakan musik fusion secara eksplisit, saya merasa lebih gampang untuk berbicara berputar-putar di sekitar permasalahannya, sambil melontarkan beragam pandangan dan keluhan tanpa membicarakan fusion itu sendiri secara substantif. Setelah menyatakan bahwa apapun yang terjadi itu, adalah progres, dengan begitu saya bisa menghadapi subjek ini dengan perspektif yang lebih. Fusion akan terjadi, fusion itu sedang berlangsung, bahkan beberapa tradisi “murni” akan lenyap oleh karenanya. Kita sebut saja itu digerogoti ilmu, kalau mau.

Tapi kenyataannya tetap saja, bahwa tradisi itu berubah dan berkembang, dan pengetahuan dari tradisi lain selalu merupakan bagian dari perkembangan tersebut. Kalau kita samakan kemurnian dengan kebodohan, maka segera kita akan menemukan situasi yang buruk. Maka, masalahnya kemudian berada di sekitar mempertahankan kesegaran dan kekokohan unsur tradisi masing-masing, pada musik fusion, ketimbang membiarkan mereka lebur bersama menjadi seperti bubur yang enak dan nyaman. Fusion tak terhindarkan, dan fusion tak bisa dikembalikan.

Pada hakekatnya dia adalah sebuah proses pembangkitan yang entropik, seperti halnya pelepasan energi, kemudian menghancurkan keberadaan yang terdahulu oleh Internet itu sendiri. Baik Internet maupun artistik fusion adalah bagian dari penomena yang lebih besar, yang membuat dunia menjadi kecil, yang akhirnya mengurangi keberagamannya.

Pengurangan tersebut mengakibatkan pengurangan dalam kemungkinan musikal juga, begitulah putaran itu terus bergerak, memindahkan kita dari posisi terdahulu, dimana kita melihat kemungkinan untuk berkembang. Proses ini tidak bisa dilawan, tetapi kita bisa memanfaatkan energi yang dilepasnya dengan cara yang terbaik, penempatan kesempatan pada posisi yang terbaik. Sekarang kita berada pada posisi yang tertentu dalam lingkaran besar ini, dimana tindakan yang tidak begitu diperhitungkan bisa saja mengakibatkan implikasi yang sangat dahsyat.

Kenyataan yang tidak terbantah berikutnya, yang pada mulanya disadari oleh post modernisme dan yang diabadikan di web adalah, bahwa “materi” itupun akan berubah, bahkan “media” itu sendiri akan berubah. Pemikiran untuk mencampur bahan-bahan yang utuh secara individu untuk membentuk bentuk gabungan yang lebih besar, adalah yang pertama disarankan. Ini memberikan satu jalan keluar dalam menghadapi rumitnya relativisme, memberikan percampuran kaleidoscopic, permata kecil yang mempertahankan warna aslinya, collage secara fundamental adalah pandangan postmodern, yang mengabaikan pangamatan langsung, dan yang akan mengarah pada kesejarahan.

Sesungguhnyalah ini adalah sebuah visi, setelah menyadari perubahan medianya, ke tempat kita menuju. Untuk membuat ide-ide itu hidup kembali, kita harus mencampurkan mereka pada level yang lebih dalam dan hiasi mereka dengan perasaan mereka. Mereka tidak bisa duduk di sangkar, atau mereka tidak boleh hanya bisa duduk di sangkar saja.

Saya mengakui ada kesenangan pada museum musik, itu bukanlah kesenian yang menyeluruh, bahkan mayoritas pun tidak, karena interpretasi itu harus dibebaskan untuk memberikan musik itu keabsahannya kembali. Kita sudah memiliki jalur yang siap untuk kebebasan improvisasi, benar kita bisa menerima penggabungan komposer dengan pemusik, sebuah fusion yang sebenarnya sesuai untuk membangun kembali landasan musik tradisional.

Pandangan bahwa fusion menghasilkan ekspresi yang lebih murni, perlu disinggung, terutama kalau mengingat cara yang lebih sopan bagi tradisi dalam membentuk dirinya kini, dan ketegasan yang muncul dari keterbatasan bentuk, seperti halnya musik gamelan yang dipergunakan sebagai dasar penggabungan dengan ide lain.

Masalah yang ada sekarang adalah, bahwa seseorang harus mengambil sikap, dan disertai dengan semangat. Tidak perlu terlalu banyak mempermasalahkan pandangan- pandangan lain yang kita ambil selama ini, tetapi lebih pada sikap untuk mengerjakan sesuatu yang nyata. Potensi musikal yang begitu banyak jumlahnya tidak mesti menghambat terbentuknya sesuatu yang lebih besar, tidak juga untuk menghalangi ekspresi langsung. Percampuran dunia kecil yang energik, dan letupan kemajuan teknologi memungkinkan terbentuknya karya karya baru, meskipun belum terbentuk sebuah formula yang pasti untuk menciptakannya. Sebuah proses yang kacau dan acak untuk membangun ekspresi dalam fusion, sesungguhnya tidak menjadikan kita optimistik.

Meskipun begitu, itulah situasi dan kondisi yang ada, dan sejarah telah membuktikan bahwa sesuatu yang signifikan akan lahir dari sana. Selain dari musik gamelan sebagai pelopor penggabungan gaya, ada kutub kreativitas lain yang muncul: “kompleksitas bunyi” yang sama sekali tidak terikat, fenomena “bunyi”, sebagai penemuan ulang sebuah bentuk dari luar ikatan tradisi apapun. Pikiran mendapat aturan dari keacakannya, dari kondisi tersebut, dan terlebih lagi, bentuk bebas seperti itu biasanya menjadi stabil dan mencapai sebuah aturan (bentuk skala Xenakis, misalnya).

Apabila unsur unsur yang timbul setelah itu ditangkap dan di identifikasi secara retroaktif dengan beragam tradisi dunia, bisakah itu disebut fusion? Saya bisa bilang TIDAK, dan bertahan pada pendapat bahwa fusion itu adalah gabungan beberapa unsur dari gaya berbeda, tanpa menemukannya kembali melalui sebuah proses begitu saja dengan pendekatan monyet mengetik. Saya sebut saja proses itu ‘coalescent’, membiarkannya pada posisi yang berlawanan dengan fusion. Musik coalescent mungkin saja akan menjadi berpengaruh pada tahun-tahun mendatang, meskipun tidak secara langsung bisa dinikmati. Dan kita bisa membayangkan bahwa sumber musik seperti itu muncul dari aktivitas coalescent, dengan segala kepentingannya.

Contoh musik fusion dalam tulisan ini memang tidak mencukupi. Secara umum saya merasa kurang informasi, terlalu dekat pada praktek, atau terlalu bingung untuk berkomentar. Meskipun begitu, saya masih berharap untuk menggarap beberapa fusion secara detil di dalam tulisan yang lain, ini membuktikan betapa tidak stabilnya situasi. Situasi yang kacau ini disebabkan kecelakaan pemahaman yang tidak terhindarkan. Kalau seseorang mendengar cara tertentu dalam penggabungan, mereka langsung percaya cara itu benar.Apa yang pertama kali mereka dengar tidak harus terjadi untuk pertama kalinya, sebab waktu kejadian begitu beragam pula.

Kita bisa yakin bahwa bentuk yang utama (mainstream) dengan suatu cara pasti akan melibatkan fusion, tapi pergerakan, terutama kegiatan yang tidak terevaluasi di bidang ini, membuatnya hampir tidak mungkin untuk menentukan landasan. Bahkan media penyampaiannya pun tidak bisa dipastikan, meskipun begitu kita hanya bisa berharap bahwa pementasan akustik akan tetap hadir di salah satu percampuran tersebut.

Percampuran ini juga dibatasi oleh dorongan untuk menjabarkan karya masterpiece terdahulu dengan perubahan prioritas sosial, yang bisa mengakibatkan fusion secara umum akan terlibat dalam kepentingan politik. Pengamatan ini bukan berarti bahwa seni tidak harus terpisah dari politik, tetapi karena tuntutan politik masa kini yang secara umum menyamaratakan, secara hakekat merupakan pijakan yang lemah untuk pergabungan yang serasi.

Kesadaran politik bisa membayangi eksperimen musik dunia dengan kecemasan. Ini menyarankan bahwa keberhasilan usaha fusion harus muncul dari pilihan yang nyata, dan bukan sekedar variasi buatan. Sesungguhnyalah pilihan baru apa yang bisa diterapkan dalam usaha fusion, menjadi pertanyaan yang bagus, dan paling tidak, bisa ditanggapi dengan jawaban-jawaban awal. (T)

Tags: modernmusikpostmodernSeniTradisi
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Mengembalikan Budaya Maritim di Buleleng – Catatan HUT Kota Singaraja 2017

Next Post

Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post

Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co