12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Fusion – Sejumlah Pertanyaan Sejumlah Jawaban

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
February 2, 2018
in Esai

Foto: FB/Wayan Gde Yudane

It is better to make a piece of music than to perform one, better to perform one than to listen to one, better to listen to one than to misuse it as a means of distraction, entertainment, or acquisitiuon of “culture.” !John Cage (1912-92), U.S. composer. “Forerunners of Modern Music; At Random,” in Tiger’s Eye (New York, March 1949; repr. in Silence, 1961).

MUSIK fusion bukanlah sesuatu pandangan yang baru, tetapi pikiran ini memang memerlukan kejelasan. Istilahnya perlu didiskusikan, untuk menghindari kerancuan, juga untuk membangkitkan pemikiran mengenai arah pergerakan trend ini.Saat ini, permukaan kemungkinannya saja belum terungkap, sehingga kita bisa mengharap bahwa musik fusion telah berperan lebih besar di kancah dunia.

Dalam musik populer, ide fusion biasanya diekspresikan dengan “penyeberangan” dan melibatkan pencampuran jenis musik yang berbeda. Tentu saja, jenis musik populer cenderung dirancang dan disusun dengan jelas, sehingga “penyeberangan” tersebut akan sering membentur batasan- batasan (paling tidak, mendesak batasan tersebut).

Di dalam musik tradisional pun, budaya cenderung mengalir, sehingga batasan lebih bersahabat dan tidak terlalu kaku. Maka, pada hakekatnya fusion itu menyediakan peluang untuk menggabungkan beberapa ide, dengan beberapa cara yang berbeda, untuk menghasilkan karya baru. Ini kadang-kadang terjadi secara natural, kadang-kadang tidak.

Ada kekuatiran yang nyata apakah “karya baru” ini sesungguhnya bagus, terutama kalau mengingat apakah inti tradisi tidak dirusak oleh pencampuran ide dari luar tersebut. Optimisme yang sederhana bisa saja membantah kekuatiran yang kedua, tanpa mengurangi kekuatiran yang pertama. Kita bisa bisa menemukan tema atau alat dari satu tradisi pada tradisi lainnya sepanjang sejarah tradisi musik klasik, selama seratus tahun yang lalu.

Tetapi, banyak penerapan tersebut cenderung naif dan sangat terisolasi, sehingga tidak pantas disebut fusion. Bagi saya, fusion berarti mengambil karakter dari dua atau lebih tradisi, menggabungkan mereka secara fundamental untuk menghasilkan karya baru dengan akar yang masih terhubung pada ke dua tradisi tersebut. Kalau karya yang baru ini terbukti memiliki kehebatan, maka sudah seharusnya dia bisa terus berkembang dengan tetap berpegangan pada akarnya.

Berhubung begitu banyaknya jenis musik dunia tradisional yang tersedia untuk kita sekarang, dan begitu banyaknya gaya musik klasik yang dipergunakan di waktu yang sama, maka kemungkinan dalam musik fusion juga begitu luas. Tetapi dari satu sisi, banyaknya pilihan yang tersedia bisa juga mempersempit kemungkinan, karena pilihan yang begitu banyak bisa membingungkan, dan hanya bisa ditangani dengan cara yang terbatas saja.

Meskipun fusion telah beperan cukup menjolok di dalam musik klasik, aspeknya yang paling signifikan adalah dalam membentuk dan melanjutkan tradisi modern. Fusion bisa dipandang sebagai sebuah fenomena yang sungguh-sungguh postmodern, dimana pikiran-pikiran ditampung dan dipergunakan secara dinamis untuk melahirkan sebuah budaya kreativitas yang nyata. Sesungguhnyalah, postmodernisme sebagai pandangan dunia yang parasit, selalu menuntut suntikan ide-ide baru, sehingga bisa saja fusion dunia akan tetap mendukungnya untuk beberapa windu ke depan. Pemikiran ini menyarankan sesuatu yang “salah” dalam konsep tersebut, sehingga menimbulkan kembali pertanyaan apakah fusion tersebut telah merusak tradisi yang mendasarinya.

Meskipun saya masih mengatakan bahwa pandangan itu sangat pesimistik, penggunaan materi dasar dengan cara ini, sungguh-sungguh membuat tradisi untuk mempertahankan dirinya sediri. Dari banyak sudut, tradisi memang cukup kuat, untuk tidak menimbulkan kekuatiran. Tapi, proses informasi balik dan masukan yang membentuk kekuatan pada tradisi, tidak bisa terjadi secara instant dalam fusion, sehingga secara umum dia akan kurang menarik. Meskipun begitu, itu tidak seharusnya mengurangi semangat bereksperimen, tapi berarti harapan kita harus masuk akal.

Kunci untuk keberhasilan dalam fusion, sesungguhnya ada pada keselarasan organik antara bahan-bahan yang dipergunakan. Musik klasik bisa bermasalah dalam hal ini, tapi musisi yang telah terdidik dengan cara yang khusus, telah mengangkat repertoarnya, sehingga bisa dipahami kalau mereka perlu sedikit memaksakan karya-karya mereka.

Fusion di tempat lain, menggabungkan musisi yang telah dididik dengan gaya berbeda, adalah cara lain, tapi pada akhirnya kita harus menumbuhkan ide fusion itu di dalam pikiran musisi tersebut secara individu, dan bukan hanya konsep saja. Konsep pribadi memang berperan dalam pembentukan gaya baru, tapi dicapai secara lebih sembarangan.

Satu hal yang ingin saya lakukan di masa depan adalah untuk menerapkan usaha yang lebih spesifik, dan saya dengan senang hati menerima saran dalam hal ini. Pikiran dasar fusion sebenarnya sederhana saja, dan begitu banyak contoh yang ada pada musik dunia, walaupun dalam analisa kemungkinan atau penerimaan karya-karya tersebut, dia segera menjadi rumit. Juga pertanyaan mengenai wilayah, karena fusion bisa berada di antara dua gaya yang mirip maupun gaya yang berbeda, dan wilayah musik barat bisa berperan sebagai sebuah topik yang produktif di sini.

Fusion: Yang Tak Terhindarkan & Kekacauan

Dalam membicarakan musik fusion secara eksplisit, saya merasa lebih gampang untuk berbicara berputar-putar di sekitar permasalahannya, sambil melontarkan beragam pandangan dan keluhan tanpa membicarakan fusion itu sendiri secara substantif. Setelah menyatakan bahwa apapun yang terjadi itu, adalah progres, dengan begitu saya bisa menghadapi subjek ini dengan perspektif yang lebih. Fusion akan terjadi, fusion itu sedang berlangsung, bahkan beberapa tradisi “murni” akan lenyap oleh karenanya. Kita sebut saja itu digerogoti ilmu, kalau mau.

Tapi kenyataannya tetap saja, bahwa tradisi itu berubah dan berkembang, dan pengetahuan dari tradisi lain selalu merupakan bagian dari perkembangan tersebut. Kalau kita samakan kemurnian dengan kebodohan, maka segera kita akan menemukan situasi yang buruk. Maka, masalahnya kemudian berada di sekitar mempertahankan kesegaran dan kekokohan unsur tradisi masing-masing, pada musik fusion, ketimbang membiarkan mereka lebur bersama menjadi seperti bubur yang enak dan nyaman. Fusion tak terhindarkan, dan fusion tak bisa dikembalikan.

Pada hakekatnya dia adalah sebuah proses pembangkitan yang entropik, seperti halnya pelepasan energi, kemudian menghancurkan keberadaan yang terdahulu oleh Internet itu sendiri. Baik Internet maupun artistik fusion adalah bagian dari penomena yang lebih besar, yang membuat dunia menjadi kecil, yang akhirnya mengurangi keberagamannya.

Pengurangan tersebut mengakibatkan pengurangan dalam kemungkinan musikal juga, begitulah putaran itu terus bergerak, memindahkan kita dari posisi terdahulu, dimana kita melihat kemungkinan untuk berkembang. Proses ini tidak bisa dilawan, tetapi kita bisa memanfaatkan energi yang dilepasnya dengan cara yang terbaik, penempatan kesempatan pada posisi yang terbaik. Sekarang kita berada pada posisi yang tertentu dalam lingkaran besar ini, dimana tindakan yang tidak begitu diperhitungkan bisa saja mengakibatkan implikasi yang sangat dahsyat.

Kenyataan yang tidak terbantah berikutnya, yang pada mulanya disadari oleh post modernisme dan yang diabadikan di web adalah, bahwa “materi” itupun akan berubah, bahkan “media” itu sendiri akan berubah. Pemikiran untuk mencampur bahan-bahan yang utuh secara individu untuk membentuk bentuk gabungan yang lebih besar, adalah yang pertama disarankan. Ini memberikan satu jalan keluar dalam menghadapi rumitnya relativisme, memberikan percampuran kaleidoscopic, permata kecil yang mempertahankan warna aslinya, collage secara fundamental adalah pandangan postmodern, yang mengabaikan pangamatan langsung, dan yang akan mengarah pada kesejarahan.

Sesungguhnyalah ini adalah sebuah visi, setelah menyadari perubahan medianya, ke tempat kita menuju. Untuk membuat ide-ide itu hidup kembali, kita harus mencampurkan mereka pada level yang lebih dalam dan hiasi mereka dengan perasaan mereka. Mereka tidak bisa duduk di sangkar, atau mereka tidak boleh hanya bisa duduk di sangkar saja.

Saya mengakui ada kesenangan pada museum musik, itu bukanlah kesenian yang menyeluruh, bahkan mayoritas pun tidak, karena interpretasi itu harus dibebaskan untuk memberikan musik itu keabsahannya kembali. Kita sudah memiliki jalur yang siap untuk kebebasan improvisasi, benar kita bisa menerima penggabungan komposer dengan pemusik, sebuah fusion yang sebenarnya sesuai untuk membangun kembali landasan musik tradisional.

Pandangan bahwa fusion menghasilkan ekspresi yang lebih murni, perlu disinggung, terutama kalau mengingat cara yang lebih sopan bagi tradisi dalam membentuk dirinya kini, dan ketegasan yang muncul dari keterbatasan bentuk, seperti halnya musik gamelan yang dipergunakan sebagai dasar penggabungan dengan ide lain.

Masalah yang ada sekarang adalah, bahwa seseorang harus mengambil sikap, dan disertai dengan semangat. Tidak perlu terlalu banyak mempermasalahkan pandangan- pandangan lain yang kita ambil selama ini, tetapi lebih pada sikap untuk mengerjakan sesuatu yang nyata. Potensi musikal yang begitu banyak jumlahnya tidak mesti menghambat terbentuknya sesuatu yang lebih besar, tidak juga untuk menghalangi ekspresi langsung. Percampuran dunia kecil yang energik, dan letupan kemajuan teknologi memungkinkan terbentuknya karya karya baru, meskipun belum terbentuk sebuah formula yang pasti untuk menciptakannya. Sebuah proses yang kacau dan acak untuk membangun ekspresi dalam fusion, sesungguhnya tidak menjadikan kita optimistik.

Meskipun begitu, itulah situasi dan kondisi yang ada, dan sejarah telah membuktikan bahwa sesuatu yang signifikan akan lahir dari sana. Selain dari musik gamelan sebagai pelopor penggabungan gaya, ada kutub kreativitas lain yang muncul: “kompleksitas bunyi” yang sama sekali tidak terikat, fenomena “bunyi”, sebagai penemuan ulang sebuah bentuk dari luar ikatan tradisi apapun. Pikiran mendapat aturan dari keacakannya, dari kondisi tersebut, dan terlebih lagi, bentuk bebas seperti itu biasanya menjadi stabil dan mencapai sebuah aturan (bentuk skala Xenakis, misalnya).

Apabila unsur unsur yang timbul setelah itu ditangkap dan di identifikasi secara retroaktif dengan beragam tradisi dunia, bisakah itu disebut fusion? Saya bisa bilang TIDAK, dan bertahan pada pendapat bahwa fusion itu adalah gabungan beberapa unsur dari gaya berbeda, tanpa menemukannya kembali melalui sebuah proses begitu saja dengan pendekatan monyet mengetik. Saya sebut saja proses itu ‘coalescent’, membiarkannya pada posisi yang berlawanan dengan fusion. Musik coalescent mungkin saja akan menjadi berpengaruh pada tahun-tahun mendatang, meskipun tidak secara langsung bisa dinikmati. Dan kita bisa membayangkan bahwa sumber musik seperti itu muncul dari aktivitas coalescent, dengan segala kepentingannya.

Contoh musik fusion dalam tulisan ini memang tidak mencukupi. Secara umum saya merasa kurang informasi, terlalu dekat pada praktek, atau terlalu bingung untuk berkomentar. Meskipun begitu, saya masih berharap untuk menggarap beberapa fusion secara detil di dalam tulisan yang lain, ini membuktikan betapa tidak stabilnya situasi. Situasi yang kacau ini disebabkan kecelakaan pemahaman yang tidak terhindarkan. Kalau seseorang mendengar cara tertentu dalam penggabungan, mereka langsung percaya cara itu benar.Apa yang pertama kali mereka dengar tidak harus terjadi untuk pertama kalinya, sebab waktu kejadian begitu beragam pula.

Kita bisa yakin bahwa bentuk yang utama (mainstream) dengan suatu cara pasti akan melibatkan fusion, tapi pergerakan, terutama kegiatan yang tidak terevaluasi di bidang ini, membuatnya hampir tidak mungkin untuk menentukan landasan. Bahkan media penyampaiannya pun tidak bisa dipastikan, meskipun begitu kita hanya bisa berharap bahwa pementasan akustik akan tetap hadir di salah satu percampuran tersebut.

Percampuran ini juga dibatasi oleh dorongan untuk menjabarkan karya masterpiece terdahulu dengan perubahan prioritas sosial, yang bisa mengakibatkan fusion secara umum akan terlibat dalam kepentingan politik. Pengamatan ini bukan berarti bahwa seni tidak harus terpisah dari politik, tetapi karena tuntutan politik masa kini yang secara umum menyamaratakan, secara hakekat merupakan pijakan yang lemah untuk pergabungan yang serasi.

Kesadaran politik bisa membayangi eksperimen musik dunia dengan kecemasan. Ini menyarankan bahwa keberhasilan usaha fusion harus muncul dari pilihan yang nyata, dan bukan sekedar variasi buatan. Sesungguhnyalah pilihan baru apa yang bisa diterapkan dalam usaha fusion, menjadi pertanyaan yang bagus, dan paling tidak, bisa ditanggapi dengan jawaban-jawaban awal. (T)

Tags: modernmusikpostmodernSeniTradisi
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Mengembalikan Budaya Maritim di Buleleng – Catatan HUT Kota Singaraja 2017

Next Post

Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post

Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co