13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musik Fusion – Sejumlah Pertanyaan Sejumlah Jawaban

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
February 2, 2018
in Esai

Foto: FB/Wayan Gde Yudane

It is better to make a piece of music than to perform one, better to perform one than to listen to one, better to listen to one than to misuse it as a means of distraction, entertainment, or acquisitiuon of “culture.” !John Cage (1912-92), U.S. composer. “Forerunners of Modern Music; At Random,” in Tiger’s Eye (New York, March 1949; repr. in Silence, 1961).

MUSIK fusion bukanlah sesuatu pandangan yang baru, tetapi pikiran ini memang memerlukan kejelasan. Istilahnya perlu didiskusikan, untuk menghindari kerancuan, juga untuk membangkitkan pemikiran mengenai arah pergerakan trend ini.Saat ini, permukaan kemungkinannya saja belum terungkap, sehingga kita bisa mengharap bahwa musik fusion telah berperan lebih besar di kancah dunia.

Dalam musik populer, ide fusion biasanya diekspresikan dengan “penyeberangan” dan melibatkan pencampuran jenis musik yang berbeda. Tentu saja, jenis musik populer cenderung dirancang dan disusun dengan jelas, sehingga “penyeberangan” tersebut akan sering membentur batasan- batasan (paling tidak, mendesak batasan tersebut).

Di dalam musik tradisional pun, budaya cenderung mengalir, sehingga batasan lebih bersahabat dan tidak terlalu kaku. Maka, pada hakekatnya fusion itu menyediakan peluang untuk menggabungkan beberapa ide, dengan beberapa cara yang berbeda, untuk menghasilkan karya baru. Ini kadang-kadang terjadi secara natural, kadang-kadang tidak.

Ada kekuatiran yang nyata apakah “karya baru” ini sesungguhnya bagus, terutama kalau mengingat apakah inti tradisi tidak dirusak oleh pencampuran ide dari luar tersebut. Optimisme yang sederhana bisa saja membantah kekuatiran yang kedua, tanpa mengurangi kekuatiran yang pertama. Kita bisa bisa menemukan tema atau alat dari satu tradisi pada tradisi lainnya sepanjang sejarah tradisi musik klasik, selama seratus tahun yang lalu.

Tetapi, banyak penerapan tersebut cenderung naif dan sangat terisolasi, sehingga tidak pantas disebut fusion. Bagi saya, fusion berarti mengambil karakter dari dua atau lebih tradisi, menggabungkan mereka secara fundamental untuk menghasilkan karya baru dengan akar yang masih terhubung pada ke dua tradisi tersebut. Kalau karya yang baru ini terbukti memiliki kehebatan, maka sudah seharusnya dia bisa terus berkembang dengan tetap berpegangan pada akarnya.

Berhubung begitu banyaknya jenis musik dunia tradisional yang tersedia untuk kita sekarang, dan begitu banyaknya gaya musik klasik yang dipergunakan di waktu yang sama, maka kemungkinan dalam musik fusion juga begitu luas. Tetapi dari satu sisi, banyaknya pilihan yang tersedia bisa juga mempersempit kemungkinan, karena pilihan yang begitu banyak bisa membingungkan, dan hanya bisa ditangani dengan cara yang terbatas saja.

Meskipun fusion telah beperan cukup menjolok di dalam musik klasik, aspeknya yang paling signifikan adalah dalam membentuk dan melanjutkan tradisi modern. Fusion bisa dipandang sebagai sebuah fenomena yang sungguh-sungguh postmodern, dimana pikiran-pikiran ditampung dan dipergunakan secara dinamis untuk melahirkan sebuah budaya kreativitas yang nyata. Sesungguhnyalah, postmodernisme sebagai pandangan dunia yang parasit, selalu menuntut suntikan ide-ide baru, sehingga bisa saja fusion dunia akan tetap mendukungnya untuk beberapa windu ke depan. Pemikiran ini menyarankan sesuatu yang “salah” dalam konsep tersebut, sehingga menimbulkan kembali pertanyaan apakah fusion tersebut telah merusak tradisi yang mendasarinya.

Meskipun saya masih mengatakan bahwa pandangan itu sangat pesimistik, penggunaan materi dasar dengan cara ini, sungguh-sungguh membuat tradisi untuk mempertahankan dirinya sediri. Dari banyak sudut, tradisi memang cukup kuat, untuk tidak menimbulkan kekuatiran. Tapi, proses informasi balik dan masukan yang membentuk kekuatan pada tradisi, tidak bisa terjadi secara instant dalam fusion, sehingga secara umum dia akan kurang menarik. Meskipun begitu, itu tidak seharusnya mengurangi semangat bereksperimen, tapi berarti harapan kita harus masuk akal.

Kunci untuk keberhasilan dalam fusion, sesungguhnya ada pada keselarasan organik antara bahan-bahan yang dipergunakan. Musik klasik bisa bermasalah dalam hal ini, tapi musisi yang telah terdidik dengan cara yang khusus, telah mengangkat repertoarnya, sehingga bisa dipahami kalau mereka perlu sedikit memaksakan karya-karya mereka.

Fusion di tempat lain, menggabungkan musisi yang telah dididik dengan gaya berbeda, adalah cara lain, tapi pada akhirnya kita harus menumbuhkan ide fusion itu di dalam pikiran musisi tersebut secara individu, dan bukan hanya konsep saja. Konsep pribadi memang berperan dalam pembentukan gaya baru, tapi dicapai secara lebih sembarangan.

Satu hal yang ingin saya lakukan di masa depan adalah untuk menerapkan usaha yang lebih spesifik, dan saya dengan senang hati menerima saran dalam hal ini. Pikiran dasar fusion sebenarnya sederhana saja, dan begitu banyak contoh yang ada pada musik dunia, walaupun dalam analisa kemungkinan atau penerimaan karya-karya tersebut, dia segera menjadi rumit. Juga pertanyaan mengenai wilayah, karena fusion bisa berada di antara dua gaya yang mirip maupun gaya yang berbeda, dan wilayah musik barat bisa berperan sebagai sebuah topik yang produktif di sini.

Fusion: Yang Tak Terhindarkan & Kekacauan

Dalam membicarakan musik fusion secara eksplisit, saya merasa lebih gampang untuk berbicara berputar-putar di sekitar permasalahannya, sambil melontarkan beragam pandangan dan keluhan tanpa membicarakan fusion itu sendiri secara substantif. Setelah menyatakan bahwa apapun yang terjadi itu, adalah progres, dengan begitu saya bisa menghadapi subjek ini dengan perspektif yang lebih. Fusion akan terjadi, fusion itu sedang berlangsung, bahkan beberapa tradisi “murni” akan lenyap oleh karenanya. Kita sebut saja itu digerogoti ilmu, kalau mau.

Tapi kenyataannya tetap saja, bahwa tradisi itu berubah dan berkembang, dan pengetahuan dari tradisi lain selalu merupakan bagian dari perkembangan tersebut. Kalau kita samakan kemurnian dengan kebodohan, maka segera kita akan menemukan situasi yang buruk. Maka, masalahnya kemudian berada di sekitar mempertahankan kesegaran dan kekokohan unsur tradisi masing-masing, pada musik fusion, ketimbang membiarkan mereka lebur bersama menjadi seperti bubur yang enak dan nyaman. Fusion tak terhindarkan, dan fusion tak bisa dikembalikan.

Pada hakekatnya dia adalah sebuah proses pembangkitan yang entropik, seperti halnya pelepasan energi, kemudian menghancurkan keberadaan yang terdahulu oleh Internet itu sendiri. Baik Internet maupun artistik fusion adalah bagian dari penomena yang lebih besar, yang membuat dunia menjadi kecil, yang akhirnya mengurangi keberagamannya.

Pengurangan tersebut mengakibatkan pengurangan dalam kemungkinan musikal juga, begitulah putaran itu terus bergerak, memindahkan kita dari posisi terdahulu, dimana kita melihat kemungkinan untuk berkembang. Proses ini tidak bisa dilawan, tetapi kita bisa memanfaatkan energi yang dilepasnya dengan cara yang terbaik, penempatan kesempatan pada posisi yang terbaik. Sekarang kita berada pada posisi yang tertentu dalam lingkaran besar ini, dimana tindakan yang tidak begitu diperhitungkan bisa saja mengakibatkan implikasi yang sangat dahsyat.

Kenyataan yang tidak terbantah berikutnya, yang pada mulanya disadari oleh post modernisme dan yang diabadikan di web adalah, bahwa “materi” itupun akan berubah, bahkan “media” itu sendiri akan berubah. Pemikiran untuk mencampur bahan-bahan yang utuh secara individu untuk membentuk bentuk gabungan yang lebih besar, adalah yang pertama disarankan. Ini memberikan satu jalan keluar dalam menghadapi rumitnya relativisme, memberikan percampuran kaleidoscopic, permata kecil yang mempertahankan warna aslinya, collage secara fundamental adalah pandangan postmodern, yang mengabaikan pangamatan langsung, dan yang akan mengarah pada kesejarahan.

Sesungguhnyalah ini adalah sebuah visi, setelah menyadari perubahan medianya, ke tempat kita menuju. Untuk membuat ide-ide itu hidup kembali, kita harus mencampurkan mereka pada level yang lebih dalam dan hiasi mereka dengan perasaan mereka. Mereka tidak bisa duduk di sangkar, atau mereka tidak boleh hanya bisa duduk di sangkar saja.

Saya mengakui ada kesenangan pada museum musik, itu bukanlah kesenian yang menyeluruh, bahkan mayoritas pun tidak, karena interpretasi itu harus dibebaskan untuk memberikan musik itu keabsahannya kembali. Kita sudah memiliki jalur yang siap untuk kebebasan improvisasi, benar kita bisa menerima penggabungan komposer dengan pemusik, sebuah fusion yang sebenarnya sesuai untuk membangun kembali landasan musik tradisional.

Pandangan bahwa fusion menghasilkan ekspresi yang lebih murni, perlu disinggung, terutama kalau mengingat cara yang lebih sopan bagi tradisi dalam membentuk dirinya kini, dan ketegasan yang muncul dari keterbatasan bentuk, seperti halnya musik gamelan yang dipergunakan sebagai dasar penggabungan dengan ide lain.

Masalah yang ada sekarang adalah, bahwa seseorang harus mengambil sikap, dan disertai dengan semangat. Tidak perlu terlalu banyak mempermasalahkan pandangan- pandangan lain yang kita ambil selama ini, tetapi lebih pada sikap untuk mengerjakan sesuatu yang nyata. Potensi musikal yang begitu banyak jumlahnya tidak mesti menghambat terbentuknya sesuatu yang lebih besar, tidak juga untuk menghalangi ekspresi langsung. Percampuran dunia kecil yang energik, dan letupan kemajuan teknologi memungkinkan terbentuknya karya karya baru, meskipun belum terbentuk sebuah formula yang pasti untuk menciptakannya. Sebuah proses yang kacau dan acak untuk membangun ekspresi dalam fusion, sesungguhnya tidak menjadikan kita optimistik.

Meskipun begitu, itulah situasi dan kondisi yang ada, dan sejarah telah membuktikan bahwa sesuatu yang signifikan akan lahir dari sana. Selain dari musik gamelan sebagai pelopor penggabungan gaya, ada kutub kreativitas lain yang muncul: “kompleksitas bunyi” yang sama sekali tidak terikat, fenomena “bunyi”, sebagai penemuan ulang sebuah bentuk dari luar ikatan tradisi apapun. Pikiran mendapat aturan dari keacakannya, dari kondisi tersebut, dan terlebih lagi, bentuk bebas seperti itu biasanya menjadi stabil dan mencapai sebuah aturan (bentuk skala Xenakis, misalnya).

Apabila unsur unsur yang timbul setelah itu ditangkap dan di identifikasi secara retroaktif dengan beragam tradisi dunia, bisakah itu disebut fusion? Saya bisa bilang TIDAK, dan bertahan pada pendapat bahwa fusion itu adalah gabungan beberapa unsur dari gaya berbeda, tanpa menemukannya kembali melalui sebuah proses begitu saja dengan pendekatan monyet mengetik. Saya sebut saja proses itu ‘coalescent’, membiarkannya pada posisi yang berlawanan dengan fusion. Musik coalescent mungkin saja akan menjadi berpengaruh pada tahun-tahun mendatang, meskipun tidak secara langsung bisa dinikmati. Dan kita bisa membayangkan bahwa sumber musik seperti itu muncul dari aktivitas coalescent, dengan segala kepentingannya.

Contoh musik fusion dalam tulisan ini memang tidak mencukupi. Secara umum saya merasa kurang informasi, terlalu dekat pada praktek, atau terlalu bingung untuk berkomentar. Meskipun begitu, saya masih berharap untuk menggarap beberapa fusion secara detil di dalam tulisan yang lain, ini membuktikan betapa tidak stabilnya situasi. Situasi yang kacau ini disebabkan kecelakaan pemahaman yang tidak terhindarkan. Kalau seseorang mendengar cara tertentu dalam penggabungan, mereka langsung percaya cara itu benar.Apa yang pertama kali mereka dengar tidak harus terjadi untuk pertama kalinya, sebab waktu kejadian begitu beragam pula.

Kita bisa yakin bahwa bentuk yang utama (mainstream) dengan suatu cara pasti akan melibatkan fusion, tapi pergerakan, terutama kegiatan yang tidak terevaluasi di bidang ini, membuatnya hampir tidak mungkin untuk menentukan landasan. Bahkan media penyampaiannya pun tidak bisa dipastikan, meskipun begitu kita hanya bisa berharap bahwa pementasan akustik akan tetap hadir di salah satu percampuran tersebut.

Percampuran ini juga dibatasi oleh dorongan untuk menjabarkan karya masterpiece terdahulu dengan perubahan prioritas sosial, yang bisa mengakibatkan fusion secara umum akan terlibat dalam kepentingan politik. Pengamatan ini bukan berarti bahwa seni tidak harus terpisah dari politik, tetapi karena tuntutan politik masa kini yang secara umum menyamaratakan, secara hakekat merupakan pijakan yang lemah untuk pergabungan yang serasi.

Kesadaran politik bisa membayangi eksperimen musik dunia dengan kecemasan. Ini menyarankan bahwa keberhasilan usaha fusion harus muncul dari pilihan yang nyata, dan bukan sekedar variasi buatan. Sesungguhnyalah pilihan baru apa yang bisa diterapkan dalam usaha fusion, menjadi pertanyaan yang bagus, dan paling tidak, bisa ditanggapi dengan jawaban-jawaban awal. (T)

Tags: modernmusikpostmodernSeniTradisi
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Mengembalikan Budaya Maritim di Buleleng – Catatan HUT Kota Singaraja 2017

Next Post

Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post

Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co