2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
August 2, 2019
in Kuliner

Jaje leburan bisa dipepes atau dipanggang. /Foto-foto: memulung dari facebook

USAI odalan di Pura atau usai rerahinan gede semisal Galungan dan Kuningan, nasib jaje dan buah surudan alias lungsuran di zaman now ini sungguh mengenaskan. Ia kadang terbuang begitu saja, sama nasibnya dengan sampah janus bekas banten, atau sama apesnya dengan plastik bekas pembungkus buah.

Lebih beruntung jika si empunya jaje surudan punya babi. Jaje (kue khas Bali) itu bisa dicampur dagdag, dedak, dan banyu, sebagai makanan babi yang cukup mewah. Kadang-kadang, yang punya kolam ikan, buah-buah surudan bisa disebar ke kolam dan ikan-ikan akan merasa kaget mendapat makanan sehat sesuai anjuran pemerintah.

Dulu, dulu sekali, pada zaman old, ketika saya kanak-kanak, mungkin sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, jaje leburan adalah menu primadona sehabis hari raya atau seusai odalan. Ayah saya, sebelum pergi ke sawah, biasanya hanya cukup menyantap jaje leburan bersama kopi, tanpa perlu makan nasi lagi. Sore, sebelum tidur, biasanya jaje leburan kembali dibuka, lalu dicuil-cuil sambil ngobrol bersama keluarga.

Saya sendiri, sebelum sekolah pada pagi hari, jaje leburan biasa jadi sarapan. Itu dulu, ketika perut anak-anak desa kebal dengan berbagai makanan.  Kini, jika kids zaman now diberi sarapan jaje leburan mungkin langsung menutup hidung. “Makanan apa ini?” ujarnya. Atau, kalau terpaksa dimakan sebagai sarapan, mungkin perutnya langsung mual. Atau langsung mengidap panas dalam.

Namun jangan salah juga. Sejumlah orang Bali kini masih banyak yang tetap setia melestarikan jaje leburan usai odalan atau setelah Hari Raya Galungan dan Kuningan. Saya sempat menelusuri sejumlah akun facebook orang Bali dan menemukan sejumlah foto jaje leburan. Saya langsung ngiler. Maklum, saya kan generasi zaman old.

Seorang teman, Ni Made Laksanawati, dari Desa Tunjuk, Tabanan, dalam akunnya sempat mengaplud foto pepes jaje leburan. Di keterangan fotonya tertulis: “Niki jaje lungsuran, lebur tyang dados jaje mepes.. .sane berminat ngiring mampir wau lebeng niki…,”  Artinya: “Ini jaje surudan, saya lebur jadi kue pepes… yang berminat silakan mampir, baru matang ini,”.

Dalam akun facebook lain, June Handayani, saya temukan foto kue Bali dan buah-buahan. Lalu di laman ia tulis,  “Dari karangasem, ga berasa capek ketika melihat oleh2 gine xixixi Siap2 ngae jaje leburan”.


Jaje dan buah surudan. /Foto: FB/June Handayani

Wayan Balx Sutama di akun facebook juga sempat menulis, “Jani hari valentine sing ade nak ngemaang bunga ajk coklat..kanggoang gen jaje leburan timpalin ngopi...”. Artinya: “Sekarang hari Valentine, tak ada yang menghadiahi bunga dan coklat, tak apalah jaje leburan dipakai teman ngopi”.

Lalu ada Kris ToniKumbayer, di lamannya menulis, “Ayo kita bikin jaje LEBURAN…. spy sama2 nyaman…”.

Ada juga Komang Bren menulis “Kopi pahit metimpal roko, jaje leburan ken dodol biu…”.

Semua ungkapan yang ditulis di media sosial itu membuktikan bahwa jaje leburan sesungguhnya tak benar-benar terkubur. Banyak lidah orang Bali yang masih merindukan cita-rasa jaje leburan yang khas, tiada duanya. Cita rasa yang tak dimiliki kue lain di seluruh dunia.

Jika jaje leburan mulai ditinggalkan mungkin karena dunia masa kini yang bergerak sedemikian cepat. Karena kesibukan yang padat akibat kebutuhan hidup yang pepat, orang tak mau lagi susah-payah mengolah jaje surudan menjadi jaje leburan, dan lebih suka membeli kue baru di minimarket. Padahal membuat jaje leburan bisa sungguh gampang dan bisa dijadikan ajang rekreasi di dapur modern.

Saya sempat menanyakan resep termudah untuk membikin jaje leburan kepada Ni Made Laksanawati setelah ia mengaplud foto di facebook. Jawabannya sungguh enteng. “Aluh sajan De… Jaja gina, jaja dendeng, sirat, biu, campur, ulet + 5 sendok kanji, cairkan gula bali secukupnya, aduk rata…bungkus daun, kukus. Setelah dikukus panggang bolak balik ..jadi dah.”

Saya terjemahkan resepnya dengan meniru narasi dalam buku resep masakan:

  • Kumpulkan buah dan jaje surudan seperti jaje gina, jaje dendeng, sirat, dan pisang.
  • Setelah terkumpul, semua jaje dan pisang dicampur, diulet, sampai adonan cukup halus. Tapi jangan terlalu halus.
  • Ambil kanji 5 sendok makan (atau disesuaikan) lalu dicampurkan ke adonan.
  • Cairkan gula bali, lalu campurkan ke adonan sampai rata.
  • Adonan dibungkus daun lalu dikukus atau dipanggang bolak-balik.
  • Setelah matang,  jaje leburan siap dihidangkan.
  • Saat menghidangkan, jaje leburan yang dikukus bisa dipotong-potong lalu dihidangkan dengan tambahan parutan kelapa. Atau langsung saja makan.

Adonan jaje leburan yang dipotong tipis-tipis. /Foto: FB/Balix Sutama

Atau ada resep lain:

Setelah adonan dibuat, adonan dibentuk bulat-memanjang (bayangkan bantal guling). Lalu adonan itu dipotong-potong tipis sehingga mirip seperti kerupuk atau seperti daging bacon, daging tipis untuk burger. Potongan tipis-tipis itu bisa dijemur agar kering lalu dipanggang, atau jika berkenan bisa digoreng menggunakan minyak kelapa.


BACA JUGA:

  • “Jaja Leburan” dan Kenangan Yang Tak Lesap


Di zaman now ini, mungkin jaje leburan bisa dihidangkan dengan cara lebih elegan sesuai zaman. Cara pengolahannya bisa juga menggunakan peralatan dapur modern yang canggih.

Misalnya adonan jaje leburan itu dimasukkan ke dalam loyang bundar yang biasa dipakai untuk adonan kue bolu. Atau bisa juga menggunakan peralatan cetakan masa kini yang berbentukhati  (lambang cinta), berbentuk bintang, atau berbentuk bunga mawar. Lalu dimasukkan ke dalam oven.

Setelah matang bisa saja dihidangkan dengan hiasan coklat, susu, dan gula putih kental. Hiasannya bisa meniru kue tart atau kue sejenis yang banyak dipajang di toko kue. Jangan lupa ubah namanya menjadi “Leburan Cake”. (T)

Tags: hari raya galungankulinerupacara
Share1TweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Mahasiswa, Dosen, dan Tugas Kampus – Kebenaran dalam Perspektif Thomas Kuhn

Next Post

Misteri Gunung Agung pada Lukisan Aris Sarmanta

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
0
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails
Next Post

Misteri Gunung Agung pada Lukisan Aris Sarmanta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co