27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Mahasiswa, Dosen, dan Tugas Kampus – Kebenaran dalam Perspektif Thomas Kuhn

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2018
in Opini

 

SEKITAR pukul 13:24 waktu setempat, saya bangun dari tidur siang setelah pulang kuliah. Seperti biasa dan sudah menjadi kebiasaan—handpone—menjadi benda pertama yang wajib saya pegang kemudian saya lihat, periksa.

Benar, banyak sekali informasi yang masuk padahal saya tidur tidak kurang dari satu jam. Mulai dari chat WA di group HMI, kelas, chat pribadi, dan beberapa pemberitahuan di facebook, ada satu juga pemberitahuan dari IG (maklum Kids Jaman Now, semua aplikasi diinstal semua).

Di group HMI, misalnya. Taufikur Rahman, seorang mahasiswa jurusan Sosiologi—kader HMI juga—mengirim tulisannya di group. Judulnya “Tugas Kampus Bisa Bikin Mati Muda”. Tulisan itu dibuat tadi pagi dan sebelum dikirim ke media, sempat kami diskusikan berdua. Isinya kurang lebih kekesalannya dengan tugas-tugas kampus yang dalam perspektifnya dipandang “salah” dan malah menjadi beban bagi mahasiswa.

Sah, Taufik membuat perspektif yang demikian. Sah, dia menyalahkan dosen yang memberikan tugas sampai melampaui batas kemampuan mahasiswa, dan sah juga dosen yang memberikan tugas itu karena sejatinya dosen berpikir mahasiswa mampu menyelesaikan tugas tersebut. Kalian sudah mahasiswa, loh, ucap dosen suatu ketika jika mahasiswanya ada yang mengeluh.

Jujur, saya lumayan kaget ketika membaca tulisan tersebut, walaupun tidak kaget-kaget amat. Kenapa tidak, Taufik, dibalik bahasanya yang guyon, terdapat tamparan keras yang ditujukan kepada dosen yang sering memberikan tugas banyak kepada mahasiswa, walaupun tidak secara langsung tamparan itu ditujukan. Ketar-ketir juga saya membaca tulisannya.

Namun perlu diingat, bahwasanya Taufik menulis hal demikian sah-sah saja, toh, kita sudah merdeka, mau nulis apa saja silahkan. Dan dosen yang memberikan tugas itu juga sah. Artinya, Taufik dan dosen itu sama-sama berada dalam posisi benar menurut mereka masing-masing.

Dalam kasus ini, saya teringat satu nama, seorang pemikir yang membahas tentang kebenaran— Thomas Kuhn. Begini. Kalau berbicara tentang kebenaran, kebenaran itu ada dua, kebenaran relatif dan kebenaran mutlak.

Thomas Kuhn dalam bukunya, The Structure of Scientific Revolution, mengatakan bahwa, semua manusia hanya sanggup menciptakan ‘paradigma’ kebenaran, bukan Wajah Kebenaran itu sendiri; hanya bisa meraih fakta, bukan Realitas.

Apa yang oleh Kuhn dikibarkan sebagai ‘paradigma’ menjadi pisau antitesis paling tajam yang menusuk tubuh pengetahuan ‘kebenaran objektif’ atau ‘wacana objektif’ kaum Positivis. ‘Kebenaran objektif tidak pernah ada, yang ada adalah paradigma (konsep, atau wacana) tentangnya. Sebuah wacana tak lebih dari sebuah kesepakatan paham dalam sebuah komunitas masyarakat,’ kata Kuhn (Iyubenu, 2015).

Tapi, bukankah mengaggap benar sebuah wacana, lalu menganutnya sebagai prinsip hidup, merupakan hukum alam ke-eksistensian-an manusia?

Iya, betul. Manusia seyogyanya memang harus menempuh hidup ini di atas pondasi prinsip yang diyakininya baik, secara teologis maupun antropologis. Banyak nasihat bijak dari orang-orang besar yang menopang urgensi ini. Socrates, misal, mengatakan, ‘Hidup yang tidak direnungkan sungguh bukanlah hidup yang layak dihuni’.

Akan tetapi, buru-buru harus ditandaskan di sini bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar secara epistemologis (pengetahuan) dan aksiologis (perilaku) antara sikap ‘meyakini sebuah wacana sebagai benar dan menjadikannya prinsip hidup’ dan sikap ‘menyakini sebuah wacana sebagai satu-satunya kebenaran dan menjadikannya berhala hidup’.

Sikap pertama akan mengantar seseorang ‘memiliki orientasi hidup tanpa menegasi prinsip hidup orang lain yang berbeda’. Sedangkan sikap kedua sontak akan menjebloskan penganutnya untuk menyatakan diri ‘terbenar dengan menegasi siapa pun yang berbeda’. Sikap pertama itu konstruktif, sikap kedua itu destruktif,” (Iyubenu, 2015).

Apakah di situ letak perbedaannya?

Iya, itulah perbedaan subtansial antara orang yang meletakkan wacana sebagai ‘kebenaran objektif’ dengan ‘kebenaran paradigmatik’. Yang satu berwatak ‘right or wrong is my life’, yang satu lagi bersifat ‘true and untrue is my life’; yang satu berwatak ngotot, satu lagi berwatak ramah.

Nah, dari penjelasan di atas, apa yang dituliskan oleh Taufik dan apa yang dianggap dosen itu sudah benar (memberikan tugas banyak kepada mahasiswa) hanyalah sebuah wacana, atau paradigma belaka. Jika dianggap benar ya silahkan, jika tidak ya tidak apa-apa.

Yang jelas, ketika ada sebuah wacana dilontarkan, kita sebagai generasi milenial harusnya bersikap kritis terhadap segala wacana tersebut. Jangan menelan mentah-mentah suatu informasi, apapun itu. Agar tidak menjadi masalah dikemudian harinya apalagi sampai saling berujar kebencian.

Lalu, apa tujuan saya nulis tulisan ini? Ya saya gak punya tujuan apa-apa, hanya saja saya mengantisipasi aja ketika nanti tulisan Taufik mendapatkan kritik yang keras dari dosen yang tersindir. Makanya nanti, saya sarankan, Taufik harus berterimakasih kepada saya, karena sebelum dia digampar sama dosen, paling tidak setelah membaca tulisan ini, dosen yang tersindir tidak terlalu melumat Taufik.

Tuh, baca ini, Fik. Kamu harus berterimakasih sama saya. Ya, paling tidak es buah Taman Kota atau sepiring nasi capur Jalak Putih-lah. Lalapan Lamongan juga tidak apa-apa. Apalagi bakso, hu, tidak nolak saya. Ingat, ya Fik!

Ya udah itu aja. Sampai berjumpa di warung makan Jalak Putih. Sekarang, saya mau tidur dulu. Melanjutkan mimpi pulang kampung tadi. Bye. (T)

Tags: dosenkampusmahasiswaPendidikan
Share52TweetSendShareSend
Previous Post

Rasa Dongkol Profesor karena Buku – Catatan Aktor Sebelum Pentas Monolog Buku

Next Post

Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co