Ilustrasi diolah dari sejumlah sumber di Google

 

MENJADI seorang mahasiswa, seperti saya, sesungguhnya status yang sangat bergengsi dan dianggap orang yang serba bisa oleh masyarakat. Hadeh capek deh padahal kagak bisa apa-apa hehe.

Ketika kita melepas status siswa menjadi mahasiswa, tentu banyak hal yang berubah dari keseharian kita. Mulai dari hidup yang serba manja kepada orang tua sekarang di tuntut untuk hidup mandiri, terutama mahasiswa perantau. Hidup mahasiswa perantau; makan tidak teratur.

Tentu sekeren apapun kita menyandang status mahasiswa tidak akan bisa bebas dari jeratan tugas-tugas akademis yang siap mendera, bahkan tugas-tugas non akademis siap membelenggu.

Tidak heran jika ada mahasiswa yang awalnya kuliah hanya menyenangkan hati orang tua atau hanya sebatas gengsi, ia harus meratapi nasibnya “dibunuh” perlahan oleh seabrek tugas-tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah dengan ancaman nilai akan jelek, bahkan mengulang semester depan jika tidak menyelesaikannya.

Hal lain yang menjadi momok yang menakutkan, kita juga harus melawan jadwal kuliah yang padat dan begadang menyelesaikan tugas macam kelelawar. Malam menjadi siang, siang iya tetep siang. Kuli-yah coy. Sehingga mereka menyesaikannya dengan cara the power of kepepet .

Sebenarnya esensi dari tugas itu sendiri apa sih? Setahu saya, tugas hanya beban yang menyita banyak waktu kita seperti; membaca, menulis, bahkan makan dan tidur tidak teratur.

Kenapa saya katakan demikian, karena tugas tersebut hanya di nilai dengan bentuk angka dan di sana kita akan diberi anggapan: paham atau tidak dari perkuliahan itu. Tetapi saya tidak terlalu setuju dengan hal tersebut, nilai dengan bentuk angka hanya formalitas dalam kertas yang diwujudkan dalam bentuk IPK.

Memang sudah kacau baik dosen maupun mahasiswa jika berbicara IPK, karena IPK dijadikan acuan nantinya sebagai prasyarat untuk melamar suatu pekerjaan, bahkan dari hal tersebut IPK gede bisa diperoleh dengan cara yang cukup ajaib yaitu menyelesaikan tugas dengan copy paste.

Dan untuk mahasiswa yang suka deadline biasanya menggunakan metode SKS (sistem kebut semalam). Ya.. seperti saya lah, piss.

Dan perlu diketahui hanya orang-orang tertentu yang menggunakan cara seperti. Tetapi, biasanya kekuatan itu muncul karena ada sebuah desakan yang luar biasa. Cara ini sudah menjadi sahabat bagi mahasiswa yang doyang dengan kepepet. Dan kebiasaan ini sebuah anugerah Tuhan Yang Maha Esa tidak semua orang bisa melakukannya, kecuali mahasiswa. Iya lah mahasiswa lo bahas mahasiswa kampret.

Tugas kuliah itu sangat membosankan apalagi jika ada dosen masuk untuk pertama kali ke dalam kelas dan memberikan tugas untuk mengobservasi fenomena sosial yang ada di masyarakat. Sedang bekal teori belum diberikanya, dengan seenaknya saja tugas yang tidak dimengerti mahasiswa, selesai tidak selesai wajib dikumpul.

Dan pasti tahu sendiri lah kalau tugas belum selesai siap-siap sebuah nama dengan lingkaran merah ngulang semerter depan.

Dalam pendidikan kita ada sebuah ritual yang tidak bisa hilang yaitu; UTS (ulangan tengah semester) dan UAS (ulangan akhir semester). Mendengar kedua istilah ini cukuplah horor bagi seorang mahasiswa, kenapa?

Karena dosen akan menentukan nilai kita selama satu semester dengan bobot nilai paling gede yaitu berdasarkan UTS dan UAS. Jadi percuma banyak bacot dalam diskusi kelas, atau aktif bertanya. Karena bobot nilai keaktifan ini lebih kecil dari kedua tradisi tersebut.

Semakin suram lagi ketika pertanyaan UTS dan UAS menuntut kita menjawab dengan bekal hafalan. Semisal; apa yang dimaksud teori? Sebutkan macam-macam teori? Saya pikir cukuplah anak SMA yang menjawab.

Kami mahasiswa butuh pertanyaan yang lebih berat tetapi tidak membutuhkan waktu begadang. Begadang lagi-begadang lagi,, ampun pak!

Perlu diketahui dalam dua tradisi UTS dan UAS biasannya ada yang namanya take home yaitu mengerjakan tugas di rumah. Bagi saya yang tidak mempunyai rumah cukup kerjakan di kost. Hehe .

Jujur, kadang saya benci dengan take home karena memerlukan jawaban panjang kali lebar kali tinggi sama kaki. Jadi rumus segi tiga deh, hadeh gagal fokus. Jika kalian mahasiswa pasti pernah merasakan tangan seperti copot karena menulis dua halaman bahkan lebih kertas double folio dan otak biasa diperas seperti cucian karena harus memecahkan tugas yang penuh teka-teki yang diberikan dosen.

Dan sampai tulisan ini selesai saya ketik, tugas-tugas mulai mengantri meminta jatah saya telanjangi satu persatu. Waduh, ini bisa bikin “mati muda”.  Jadi saya pamit undur diri sebelum “mati muda” dan takut dicari dosen karena tulisan ini. Kaburrrrrrrrrrrrr… (T)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY