3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Dody Widianto by Dody Widianto
March 9, 2024
in Cerpen
Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Ilustrasi tatkala.co

AKU masih terlalu polos untuk mengartikan jika apa yang tersembunyi di dalam selangkangan bukan barang dagangan. Dalam remang, kupeluk kedua lengan dalam dingin. Bawah mataku sembap. Beberapa tetes air yang nakal jatuh di atas rambutku yang kusut. Dari atas, banyak air bocor dari sambungan paralon. Kuremas rok hitam selutut yang basah. Hujan deras mengguyur kota ini sejak siang dan enggan berhenti bahkan ketika langit telah menggulita.

Kugigit bibir berkali-kali. Dalam sorot lampu yang menyilaukan mata, kulihat mobil sedan hitam mengilat mendekatiku perlahan. Sejujurnya aku ingin lari. Namun, perutku tak bisa diajak kompromi. Sudah dari tadi pagi lambungku belum terisi nasi. Hanya teh manis yang berhasil kusesap.

Pintu mobil terbuka, seseorang berjalan mendekatiku yang berdiri kaku di tepi trotoar dalam dingin. Sekali lagi, sejujurnya aku ingin berlari. Kota ini telah menimbulkan luka tak terperi yang tak ada dalam bayanganku dulu-dulu. Entah bisa-bisanya aku terdampar di kota ini. Dalam kebingungan, dalam kesialan. Andai saja aku menurut kata Emak dan mau menikah dengan anak musuh bebuyutan bapak. Kuakui Sajat memang tampan, tetapi aku tak suka dia hobi berjudi dan mabuk-mabukan.

Pria yang keluar dari mobil itu tetiba tersenyum padaku. Entah senyum asli atau palsu. Tak ada manusia yang bisa membaca isi hati. Kulit wajahnya terlalu bersih. Berbanding terbalik denganku yang saban hari di kampung hanya berkutat di kebun karet dan kopi. Ia membetulkan kacamatanya yang melorot, melihatku dengan saksama. Kukira tidak ada lagi yang lebih tampan dari Sajat. Di kota ini, ternyata banyak pria tampan menyaingi dirinya. Namun, barangkali bisa dihitung jari pria yang benar-benar baik dan tulus tak ingin menyakiti wanita.

Lesung pipi kirinya mengembang ketika ia menyapaku. Dalam remang, entah kenapa aku tetiba terpesona oleh senyumnya yang manis, semanis gula. Padahal, sejak aku berlari hingga di bawah kolong tol ini, sudah kukuatkan hati tak percaya lagi dengan yang namanya lelaki.

“Mau ke mana Neng? Kulihat kamu bingung dari tadi? Mana bajumu kuyup begitu.”

Jika aku menjawabnya, apa benar ia akan menolongku. Di kota besar ini, banyak sekali modus yang aku tak tahu. Bahkan aku terdampar di kota ini dalam kesialan juga hasil dari modus perekrutan biro kerja di kotaku. Aku tak ingin sial dua kali. Namun, bagaimana jika beliau di depanku benar-benar orang baik yang mau menolongku?”

“Aku mau pulang Om.”

“Pulang? Ke mana? Mau kuantar? Tak baik malam-malam begini keluyuran.”

Kulihat sekali lagi lelaki di depanku ini. Dia memang tak tinggi-tinggi amat. Namun, bentuk badannya yang sedang, tidak gemuk dan tidak kurus, ditambah matanya yang sipit berkacamata, entah kenapa, begitu cepat seperti tertarik padanya. Padahal, aku sadar diri siapa.

“Kalau mau, kuantar ya.”

Aku mengangguk saja. Masuk di pintu depan setelah dipersilakannya. Ia menyalakan lampu, mengambilkan selimut di kursi tengah, memasangkan sabuk di dadaku dengan perlahan sambil meminta maaf. Bahkan ia meminta maaf untuk memasang sabuk itu? Sedikit aku mulai percaya, barangkali ia lelaki baik-baik.

Mobil melaju, lalu ia menanyakan di mana rumahku. Aku tak tahu aku harus menjawab apa. Ke rumahku butuh enam belas jam perjalanan dari kota ini ditambah naik kapal di penyeberangan Merak-Bakauheni.

“Tidak usah sungkan Neng. Bilang saja nanti kuantar. Saya sering kok mengantar siapa saja yang kebingungan di kota ini. Kota ini mirip labirin atau lorong-lorong jalan membingungkan yang membuat sebagian orang bisa tersesat di dalamnya.”

Labirin? Kukira om ini punya pendapat yang benar. Dua hari aku kabur dari rumah yang menampungku, aku kadang bingung melewati jalanan yang saling tumpang tindih. Kereta di atas, di bawahnya kereta lagi, di bawahnya tol, di bawahnya jalan raya, di bawah lagi ada kolong jalan raya. Aku menggeleng kepala, bisa-bisanya manusia membuat jalan kolong dan lubang di sana-sini mirip tikus.

“Aku mau pulang Om. Tetapi aku tak punya ongkos.”

“Iya. Om antar kamu sekarang.”

“Om mau mengantar saya sekarang ke Lampung?”

Tak ada jawab. Hujan deras di luar tidak bisa membuat senyap di dalam kembali bersuara. Kulihat Om itu seolah bingung. Perlahan, ia memancingku untuk bercerita bagaimana ia terdampar dan tersesat di kota ini.

Maka, kuceritakan saja jika aku melihat temanku Mawar sering menelepon ibuku jika hidup di ibu kota enak. Ia yang dulu dekil dan kumal, sekarang wajahnya glowing dan ia makin cantik dan bohay. Aku tak menanyakan lebih dulu dia kerja sebagai apa. Aku hanya pamitan pada Emak jika aku ingin bekerja dan berusaha mengobati luka karena sering dihina miskin oleh keluarga Sajat pemilik perkebunan karet dan kopi di kampungku.

Hanya dengan bekal tekad, aku mendaftar ke biro jasa pekerjaan yang satu kantor dengan penyalur Mawar. Aku diberangkatkan dengan 12 belas gadis-gadis lain dan bilang akan dipekerjakan di pabrik, mal, atau kafe. Nanti tinggal ikuti tes saja. Namun, sungguh, aku tak menyangka jika tes pertama selalu membuatku ketakutan. Aku tak tahu jika pekerjaanku hanya diharuskan untuk mengangkang. Menjual apa yang tersembunyi dalam selangkangan.

Om itu melihat wajahku dalam serius. Wajah yang tadinya tersenyum manis mirip kecap, kali ini mendadak sayu dan mendung. Entah sedih, entah marah, entah malah senang dengan nasibku dan ia akan menambah kesialan itu jika ia seorang bunglon yang pandai bersandiwara di depanku. Namun, saat ia sering mencuri pandang melihatku, aku makin kikuk. Mendadak rasa takut kembali muncul di dada. Lepas dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Ya Tuhan, aku tak mau itu terjadi lagi.

“Vid. Iya. Aku titip kantor besok. Mungkin bisa tiga hari. Kamu yang pegang semuanya. Konfirmasi saja jika butuh bantuan. Oke. Ya. Terima kasih ya.”

Aku tak tahu ia bicara dengan siapa di teleponnya. Ia terus melajukan mobil di tengah jalan raya yang sedikit lengang di antara kerlip lampu-lampu gedung tinggi di ibu kota.

“Kita ke Lampung sekarang. Kuantar kamu pulang. Subuh semoga sudah sampai Merak. Mudah-mudahan tidak macet.”

Melewati daratan dan lautan, lalu kembali menjajaki daratan pulau Andalas, sejujurnya aku begitu bahagia ada orang asing yang dengan sudi mau membantuku. Bayangkan, aku yang mencoba melarikan diri, tanpa uang, tanpa alat komunikasi, mendadak aku dibelikan baju, disuruh makan di warung makan pinggir jalan. Entah apakah ini balasan doa ibu jika di kampung beliau selalu berkata padaku, “Berbuat baik ke orang lain itu mirip orang menanam pohon. Buah kebaikannya nanti jika bukan Emak yang makan, ya nanti untuk kamu dan anak-anakmu. Emak ingin di mana pun kamu berada saat dalam kesusahan., semoga ada malaikat yang baik hati segera menolongmu. Apa artinya sepiring nasi ini untuk tetangga yang sedang kelaparan. Emak memang tahu beras kita tinggal sedikit. Namun, sekali lagi Emak hanya ingin bilang, semoga kebaikan ini akan bertunas di kemudian hari dan engkau yang akan merasakannya.”

Aku menyeka sudut mata. Sungguh, aku kangen Emak dan mungkin dari doa beliau, aku bisa di posisi ini.

Enam belas jam bukan waktu yang singkat, tetapi itu bukan apa-apa untuk sebuah kata rindu. Maka, ketika sampai di rumah sederhana dengan tembok bata yang belum diplester semen, aku dipersilakannya masuk. Pintu terbuka, ibuku menyapa. Namun, entah kenapa ibuku malah terkejut melihatku. Ada noda darah di pelipisku. Ibuku terus menggeleng. Menggoyang-goyang tubuhku tak percaya. Lalu melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman telah penyok bagian depannya.

***

Seorang ibu bersimpuh di atas rerumputan. Pipinya sembab. Ia diapit dua pusara yang dibangun dengan tumpukan bata merah. Tangannya gesit membersihkan reumputan kecil di atas dua makam. Batu-batu kecil putih di atas makam ia lemparkan, ia rapikan di tengah. Ia sesenggukan. Anak dan menantunya datang lagi dalam mimpi. Ia tak tahu bagaimana mengobati rasa rindunya yang selalu bersembunyi. [T]

BACA cerpen lain di rubrik CERPEN

Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Next Post

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Dody Widianto

Dody Widianto

Lahir di Surabaya. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co