25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Dody Widianto by Dody Widianto
March 9, 2024
in Cerpen
Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Ilustrasi tatkala.co

AKU masih terlalu polos untuk mengartikan jika apa yang tersembunyi di dalam selangkangan bukan barang dagangan. Dalam remang, kupeluk kedua lengan dalam dingin. Bawah mataku sembap. Beberapa tetes air yang nakal jatuh di atas rambutku yang kusut. Dari atas, banyak air bocor dari sambungan paralon. Kuremas rok hitam selutut yang basah. Hujan deras mengguyur kota ini sejak siang dan enggan berhenti bahkan ketika langit telah menggulita.

Kugigit bibir berkali-kali. Dalam sorot lampu yang menyilaukan mata, kulihat mobil sedan hitam mengilat mendekatiku perlahan. Sejujurnya aku ingin lari. Namun, perutku tak bisa diajak kompromi. Sudah dari tadi pagi lambungku belum terisi nasi. Hanya teh manis yang berhasil kusesap.

Pintu mobil terbuka, seseorang berjalan mendekatiku yang berdiri kaku di tepi trotoar dalam dingin. Sekali lagi, sejujurnya aku ingin berlari. Kota ini telah menimbulkan luka tak terperi yang tak ada dalam bayanganku dulu-dulu. Entah bisa-bisanya aku terdampar di kota ini. Dalam kebingungan, dalam kesialan. Andai saja aku menurut kata Emak dan mau menikah dengan anak musuh bebuyutan bapak. Kuakui Sajat memang tampan, tetapi aku tak suka dia hobi berjudi dan mabuk-mabukan.

Pria yang keluar dari mobil itu tetiba tersenyum padaku. Entah senyum asli atau palsu. Tak ada manusia yang bisa membaca isi hati. Kulit wajahnya terlalu bersih. Berbanding terbalik denganku yang saban hari di kampung hanya berkutat di kebun karet dan kopi. Ia membetulkan kacamatanya yang melorot, melihatku dengan saksama. Kukira tidak ada lagi yang lebih tampan dari Sajat. Di kota ini, ternyata banyak pria tampan menyaingi dirinya. Namun, barangkali bisa dihitung jari pria yang benar-benar baik dan tulus tak ingin menyakiti wanita.

Lesung pipi kirinya mengembang ketika ia menyapaku. Dalam remang, entah kenapa aku tetiba terpesona oleh senyumnya yang manis, semanis gula. Padahal, sejak aku berlari hingga di bawah kolong tol ini, sudah kukuatkan hati tak percaya lagi dengan yang namanya lelaki.

“Mau ke mana Neng? Kulihat kamu bingung dari tadi? Mana bajumu kuyup begitu.”

Jika aku menjawabnya, apa benar ia akan menolongku. Di kota besar ini, banyak sekali modus yang aku tak tahu. Bahkan aku terdampar di kota ini dalam kesialan juga hasil dari modus perekrutan biro kerja di kotaku. Aku tak ingin sial dua kali. Namun, bagaimana jika beliau di depanku benar-benar orang baik yang mau menolongku?”

“Aku mau pulang Om.”

“Pulang? Ke mana? Mau kuantar? Tak baik malam-malam begini keluyuran.”

Kulihat sekali lagi lelaki di depanku ini. Dia memang tak tinggi-tinggi amat. Namun, bentuk badannya yang sedang, tidak gemuk dan tidak kurus, ditambah matanya yang sipit berkacamata, entah kenapa, begitu cepat seperti tertarik padanya. Padahal, aku sadar diri siapa.

“Kalau mau, kuantar ya.”

Aku mengangguk saja. Masuk di pintu depan setelah dipersilakannya. Ia menyalakan lampu, mengambilkan selimut di kursi tengah, memasangkan sabuk di dadaku dengan perlahan sambil meminta maaf. Bahkan ia meminta maaf untuk memasang sabuk itu? Sedikit aku mulai percaya, barangkali ia lelaki baik-baik.

Mobil melaju, lalu ia menanyakan di mana rumahku. Aku tak tahu aku harus menjawab apa. Ke rumahku butuh enam belas jam perjalanan dari kota ini ditambah naik kapal di penyeberangan Merak-Bakauheni.

“Tidak usah sungkan Neng. Bilang saja nanti kuantar. Saya sering kok mengantar siapa saja yang kebingungan di kota ini. Kota ini mirip labirin atau lorong-lorong jalan membingungkan yang membuat sebagian orang bisa tersesat di dalamnya.”

Labirin? Kukira om ini punya pendapat yang benar. Dua hari aku kabur dari rumah yang menampungku, aku kadang bingung melewati jalanan yang saling tumpang tindih. Kereta di atas, di bawahnya kereta lagi, di bawahnya tol, di bawahnya jalan raya, di bawah lagi ada kolong jalan raya. Aku menggeleng kepala, bisa-bisanya manusia membuat jalan kolong dan lubang di sana-sini mirip tikus.

“Aku mau pulang Om. Tetapi aku tak punya ongkos.”

“Iya. Om antar kamu sekarang.”

“Om mau mengantar saya sekarang ke Lampung?”

Tak ada jawab. Hujan deras di luar tidak bisa membuat senyap di dalam kembali bersuara. Kulihat Om itu seolah bingung. Perlahan, ia memancingku untuk bercerita bagaimana ia terdampar dan tersesat di kota ini.

Maka, kuceritakan saja jika aku melihat temanku Mawar sering menelepon ibuku jika hidup di ibu kota enak. Ia yang dulu dekil dan kumal, sekarang wajahnya glowing dan ia makin cantik dan bohay. Aku tak menanyakan lebih dulu dia kerja sebagai apa. Aku hanya pamitan pada Emak jika aku ingin bekerja dan berusaha mengobati luka karena sering dihina miskin oleh keluarga Sajat pemilik perkebunan karet dan kopi di kampungku.

Hanya dengan bekal tekad, aku mendaftar ke biro jasa pekerjaan yang satu kantor dengan penyalur Mawar. Aku diberangkatkan dengan 12 belas gadis-gadis lain dan bilang akan dipekerjakan di pabrik, mal, atau kafe. Nanti tinggal ikuti tes saja. Namun, sungguh, aku tak menyangka jika tes pertama selalu membuatku ketakutan. Aku tak tahu jika pekerjaanku hanya diharuskan untuk mengangkang. Menjual apa yang tersembunyi dalam selangkangan.

Om itu melihat wajahku dalam serius. Wajah yang tadinya tersenyum manis mirip kecap, kali ini mendadak sayu dan mendung. Entah sedih, entah marah, entah malah senang dengan nasibku dan ia akan menambah kesialan itu jika ia seorang bunglon yang pandai bersandiwara di depanku. Namun, saat ia sering mencuri pandang melihatku, aku makin kikuk. Mendadak rasa takut kembali muncul di dada. Lepas dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Ya Tuhan, aku tak mau itu terjadi lagi.

“Vid. Iya. Aku titip kantor besok. Mungkin bisa tiga hari. Kamu yang pegang semuanya. Konfirmasi saja jika butuh bantuan. Oke. Ya. Terima kasih ya.”

Aku tak tahu ia bicara dengan siapa di teleponnya. Ia terus melajukan mobil di tengah jalan raya yang sedikit lengang di antara kerlip lampu-lampu gedung tinggi di ibu kota.

“Kita ke Lampung sekarang. Kuantar kamu pulang. Subuh semoga sudah sampai Merak. Mudah-mudahan tidak macet.”

Melewati daratan dan lautan, lalu kembali menjajaki daratan pulau Andalas, sejujurnya aku begitu bahagia ada orang asing yang dengan sudi mau membantuku. Bayangkan, aku yang mencoba melarikan diri, tanpa uang, tanpa alat komunikasi, mendadak aku dibelikan baju, disuruh makan di warung makan pinggir jalan. Entah apakah ini balasan doa ibu jika di kampung beliau selalu berkata padaku, “Berbuat baik ke orang lain itu mirip orang menanam pohon. Buah kebaikannya nanti jika bukan Emak yang makan, ya nanti untuk kamu dan anak-anakmu. Emak ingin di mana pun kamu berada saat dalam kesusahan., semoga ada malaikat yang baik hati segera menolongmu. Apa artinya sepiring nasi ini untuk tetangga yang sedang kelaparan. Emak memang tahu beras kita tinggal sedikit. Namun, sekali lagi Emak hanya ingin bilang, semoga kebaikan ini akan bertunas di kemudian hari dan engkau yang akan merasakannya.”

Aku menyeka sudut mata. Sungguh, aku kangen Emak dan mungkin dari doa beliau, aku bisa di posisi ini.

Enam belas jam bukan waktu yang singkat, tetapi itu bukan apa-apa untuk sebuah kata rindu. Maka, ketika sampai di rumah sederhana dengan tembok bata yang belum diplester semen, aku dipersilakannya masuk. Pintu terbuka, ibuku menyapa. Namun, entah kenapa ibuku malah terkejut melihatku. Ada noda darah di pelipisku. Ibuku terus menggeleng. Menggoyang-goyang tubuhku tak percaya. Lalu melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman telah penyok bagian depannya.

***

Seorang ibu bersimpuh di atas rerumputan. Pipinya sembab. Ia diapit dua pusara yang dibangun dengan tumpukan bata merah. Tangannya gesit membersihkan reumputan kecil di atas dua makam. Batu-batu kecil putih di atas makam ia lemparkan, ia rapikan di tengah. Ia sesenggukan. Anak dan menantunya datang lagi dalam mimpi. Ia tak tahu bagaimana mengobati rasa rindunya yang selalu bersembunyi. [T]

BACA cerpen lain di rubrik CERPEN

Tukang Sulih Suara dan Presiden yang Kehilangan Suaranya | Cerpen Hasan Aspahani
Pesan Cinta untuk Seorang Teman | Cerpen Wahyudi Prasancika
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha
Maksan dan Moncong Senapan Belanda | Cerpen Helmy Khan
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi

Next Post

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Dody Widianto

Dody Widianto

Lahir di Surabaya. Karyanya tersebar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Suara Merdeka, Kompas.id, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co