14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan Dalam Politik Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 10, 2024
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

POLITIK adalah salah satu aspek penentu kebijakan-kebijakan strategis sebuah negara, dan perempuan Indonesia harus lebih banyak terlibat dalam kancah politik di Indonesia. Pada 8 Maret tiap tahunnya, kaum perempuan selalu memperingati Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day. Momen ini menjadi ajang bagi kaum perempuan dalam merefleksikan gerakan-gerakan kesetaraan jender di seluruh belahan dunia.

Telah disahkannya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menjadi salah satu kabar baik bagi gerakan perempuan di Indonesia. Beberapa rancangan undang-undang (RUU) pun menanti untuk disahkan, seperti RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak dan RUU tentang Keadilan dan Kesetaraan Gender. Produk legislasi semacam ini perlu terus dibicarakan agar mendapat perhatian lebih dari publik.

Perjuangan dalam meloloskan produk legislasi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tentu harus diperjuangkan melalui semua cara. Tidak hanya didorong dari luar melalui kelompok-kelompok peduli terhadap isu perempuan, tetapi juga harus diperjuangkan dari dalam. Kaum perempuan juga harus memiliki wakil rakyat yang benar-benar memiliki perhatian khusus terhadap isu-isu perempuan. Mengingat lobi-lobi politik terjadi di dalam lembaga perwakilan rakyat tersebut.

Masih Minimnya Keterlibatan Perempuan

Meski telah meningkat, namun representasi perempuan di lembaga legislatif belum menembus angka 30 persen. Pada periode 2019 – 2024, dari 575 orang anggota DPR RI, 120 orang diantaranya adalah perempuan atau setara dengan 20,87 persen. Jumlah tersebut meningkat dari jumlah anggota DPR RI perempuan pada periode 2014 – 2019. Pada periode tersebut terdapat 97 orang perempuan atau setara dengan 16,86 persen yang berhasil berkantor di Senayan.

Minimnya keterlibatan perempuan di kancah politik nasional kembali terlihat pada Pemilu 2024. Hal ini bisa dilihat dari jumlah perempuan yang terlibat menjadi tim inti di masing-masing pasangan calon yang berkontestasi di Pilpres 2024. Pada Tim Nasional (Timnas) Pemenangan AMIN, dari total 299 nama yang masuk ke jajaran tim inti, jumlah tokoh perempuan yang masuk ke dalam Timnas AMIN hanya berjumlah 42 orang atau sekitar 14 persen. Selanjutnya, pada Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, dari total 270 nama yang masuk ke dalam TKN, hanya terdapat 32 tokoh perempuan yang tergabung di dalamnya atau sekitar 12 persen.

Lebih baik dari dua kompetitornya, jumlah tokoh perempuan di dalam Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud sebanyak 122 orang dari 654 orang, atau setara dengan 18,65 persen. Realitas ini menunjukkan bahwa politik di Indonesia masih terasa kental maskulinitasnya. Padahal berdasarkan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 yang dirilis KPU, jumlah pemilih perempuan masih lebih besar tinimbang jumlah pemilih laki-laki. Jumlah pemilih perempuan sebesar 102.588.719 jiwa, lebih banyak 370.216 jiwa dibandingkan pemilih laki-laki.

Sulitnya partai politik dalam merekrut caleg perempuan pada pemilu juga dapat dirasakan pada edisi 2024. Beberapa teman perempuan dari penulis pun pernah bercerita sempat ditawari untuk menjadi caleg pada Pemilu 2024 dengan tawaran imbalan uang tunai yang jumlahnya tidak sedikit. Upaya-upaya partai politik tersebut tentu untuk memenuhi syarat minimal 30 persen keterwakilan perempuan di setiap daerah pemilihan (dapil). Bahkan dalam proses pendaftaran caleg, masih banyak partai politik yang belum mampu memenuhi syarat minimal 30 persen caleg perempuan di setiap dapilnya.

Fenomena partai politik yang selalu kesulitan merekrut caleg perempuan justru harus dipandang sebagai kegagalan partai politik melakukan fungsinya, yakni fungsi kaderisasi. Apabila melihat kesaksian beberapa teman penulis, maka dapat dipastikan partai politik di Indonesia sangatlah pragmatis, tidak mendahulukan proses. Alih-alih menyiapkan kader-kader perempuan potensial, partai politik justru memilih jalan ‘membayar’ figur-figur perempuan untuk mau dipasang sebagai caleg di dapil-dapil yang masih belum memenuhi syarat.

Menjadi wajar apabila keterlibatan perempuan masih minim di setiap konstelasi politik, melihat cara-cara yang digunakan oleh partai politik sebagai salah satu pilar penting demokrasi pun sangat pragmatis.

Lemahnya Komitmen Kebijakan Afirmasi Keterwakilan Perempuan

Alih-alih penguatan kebijakan afirmasi keterwakilan perempuan, pada Pemilu 2024 justru publik dipertontonkan pelemahan terhadap afirmasi keterwakilan perempuan. Pelemahan tersebut dilakukan secara kolektif oleh pemerintah, lembaga legislatif, dan penyelenggara pemilu. Terbitnya PKPU Nomor 10 Tahun 2023 tentang Pencalonan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota adalah wujud nyata upaya pelemahan tersebut.

Pada peraturan tersebut, khususnya pada Pasal 8 ayat (2) memberi dampak pada keterwakilan perempuan kurang dari 30 persen pada sejumlah dapil, yaitu dapil yang jumlah calegnya 4, 7, 8, dan 11. Pengaturan tersebut dijelaskan lebih detail dalam Keputusan KPU No. 352 Tahun 2023 tentang Pedoman Teknis Pengajuan Bakal Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Dalam perjalanannya, oleh Mahkamah Agung PKPU tersebut dibatalkan dan mengharuskan KPU untuk memperbaiki peraturan tersebut agar sesuai dengan Undang-Undang NO. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, sebagai salah satu payung hukumnya. Meski demikian progress KPU terkesan lambat, justru KPU terlihat gerak cepat saat merespon Putusan Mahkamah Konstitusi No. 90 soal batas usia pencalonan pada Pilpres.

Melihat situasi tersebut, tantangan dalam meningkatkan keterlibatan perempuan dalam kehidupan berpolitik di Indonesia masih menghadapi tembok tinggi nan tebal yang mesti diruntuhkan. Tetapi, meruntuhkan tembok yang mengalangi upaya-upaya peningkatan keterlibatan perempuan dalam politik bukanlah misi yang mustahil—tinggi dan tebalnya tembok Berlin saja bisa runtuh, masak tembok yang ini engga bisa dirobohkan? Hehe.

Penguatan kebijakan-kebijakan afirmasi keterlibatan perempuan dalam politik dan mendorong partai politik berperan aktif dalam menjalankan fungsinya sebagai wadah kaderisasi pemimpin bangsa, khususnya kader perempuan menjadi dua hal penting yang mesti disoroti oleh publik. Panggung politik belum usai, setelah pemilu masih ada pilkada serentak yang menanti. Harus ada figur-figur perempuan potensial yang terlibat dalam kontestasi di masing-masing daerah.

Peran dari tokoh-tokoh politik perempuan yang sudah eksis harus mampu menjadi corong dan role model untuk menggaet tokoh-tokoh perempuan baru untuk terjun ke dunia politik. Tidak hanya sebagai ‘pemanis’ saja, tetapi juga penentu berbagai kebijakan strategis bangsa. Akankah hal tersebut dapat terwujud? [T]


  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Tarung Caleg Berdarah Bali di Luar Kandang
Membaca Masa Depan Koster
Sulit Membayangkan Anies Menang di Bali
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat
Perempuan Bali dalam Politik, Penting Tidak?
Tags: Hari Perempuan Internasional 2024Perempuanperempuan politikusPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Next Post

Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi

Relevansi Kritik Sosial Lagu “Didi Benjol” Karya Doel Sumbang Pada Era  Pasca Reformasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co